Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia bukan sahabatku
Suasana di ruang rapat mendadak mencekam. Suara AC yang menderu pelan kalah oleh aura dingin yang terpancar dari ujung meja, tempat Arlan duduk dengan rahang mengeras. Di depannya, sepuluh kepala divisi menunduk, tak berani menatap sang CEO yang sedang dalam mode "eksekutor".
Arlan melemparkan bolpoin mahalnya ke atas meja kaca. Prak! Suaranya memicu lonjakan adrenalin di dada Raia.
"Data yang kalian sajikan ini sampah," desis Arlan, suaranya rendah namun penuh penekanan. Matanya yang tajam kemudian beralih, mengunci pandangan pada Raia yang duduk di barisan tengah.
"Raia. Maju ke depan. Jelaskan prospek proyek ini sekarang juga," perintah Arlan tanpa emosi.
Raia tersentak. "Tapi Pak, saya bukan penanggung jawab materi ini. Saya hanya—"
"Saya tidak tanya jabatanmu!" Arlan menggebrak meja, membuat semua orang di ruangan itu berjengit. "Saya tanya, apa kamu punya otak untuk menjelaskan ini? Atau sepuluh tahun terakhir cuma membuatmu ahli dalam mencari alasan?"
Raia merasa dunianya runtuh. Arlan yang berdiri di depannya bukan lagi Arlan yang dulu rela mengerjakan tugas keseniannya agar Raia bisa tidur siang. Ini adalah pria asing yang menggunakan sejarah mereka sebagai senjata untuk mempermalukannya di depan umum.
Dengan tangan gemetar, Raia berdiri dan melangkah ke depan layar proyektor. Saat ia mulai berbicara, Arlan terus memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan teknis yang menjebak, seolah sengaja ingin melihat Raia hancur.
"Cukup," potong Arlan kasar saat Raia baru bicara tiga menit. "Keluar. Semua keluar, kecuali Raia."
Setelah ruangan kosong, Arlan melonggarkan dasinya, namun tatapannya masih sekaku es.
"Kamu tahu kenapa aku begini, Raia? Karena aku benci melihatmu masih terlihat sama seperti sepuluh tahun lalu—polos dan tidak berdaya. Sementara aku? Aku harus menjadi monster untuk sampai di posisi ini."
Ia melangkah mendekat, mengurung Raia di antara meja rapat dan tubuhnya. "Jangan harap ada belas kasihan sahabat di sini. Di mata saya, kamu hanya pion yang tidak berguna jika tidak bisa bekerja."
Momen itu merubah segalanya. Raia menyadari bahwa Arlan yang ia cintai telah benar-benar mati, digantikan oleh ambisi yang haus kekuasaan.
Raia tidak bisa lagi menahan sesak yang membakar dadanya. Di ruang rapat yang dingin itu, ia menghentakkan dokumen di tangannya ke meja. Suara hantamannya memecah keheningan yang mencekam.
"Cukup, Arlan! Cukup!" teriak Raia, suaranya bergetar antara amarah dan tangis. "Oh, jadi sekarang kamu selalu menyalahkan aku terus? Kamu menuntutku jadi profesional yang sempurna, sementara kamu sendiri adalah pengecut terbesar yang pernah aku kenal!"
Arlan terpaku, matanya menyipit tajam, tapi Raia tidak mundur selangkah pun.
"Kamu bicara soal sepuluh tahun? Kamu tidak pernah menjelaskan kenapa tidak ada kabar darimu selama itu! Katamu dulu hanya dua tahun untuk kuliah, ternyata sepuluh tahun kamu menghilang seperti ditelan bumi!" Raia melangkah maju, menantang tatapan dingin Arlan. "Dan ingat ini, Lan... baru satu tahun kamu di luar negeri, saat aku masih setia menunggu kabarmu, tiba-tiba kamu mengunggah foto dengan cewek lain di Instagram-mu tanpa penjelasan apa pun. Kamu pikir aku batu? Kamu pikir aku tidak punya hati?"
Wajah Arlan yang tadinya keras perlahan berubah pucat. Kilat otoritas di matanya goyah sejenak.
"Raia, itu urusan pribadi, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan—"
"Jangan bawa-bawa pekerjaan saat kamu sendiri yang merusak batasan itu dengan menghinaku di depan semua orang!" potong Raia tajam. "Kamu berubah menjadi monster ini bukan karena ambisi, tapi karena kamu terlalu takut mengakui bahwa kamu sudah mengkhianati janji kita. Arlan yang aku kenal sepuluh tahun lalu tidak akan pernah bersembunyi di balik jas mahal dan jabatan untuk menyakiti sahabatnya sendiri."
Raia mengambil tasnya, menatap Arlan untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang penuh luka namun tegas. "Simpan saja amarahmu untuk tunanganmu yang sempurna itu. Aku selesai."
Suasana ruangan itu merubah segalanya. Arlan terdiam seribu bahasa, sementara tembok tinggi yang ia bangun selama sepuluh tahun mulai retak oleh kejujuran Raia yang menghantam tepat di jantungnya.
Arlan hanya terdiam. Rahangnya kembali mengeras, menelan semua kata yang nyaris keluar dari tenggorokannya. Ia tidak membela diri, tidak menjelaskan siapa wanita di foto itu, apalagi meminta maaf soal sepuluh tahun yang hilang.
"Keluar, Raia," ucap Arlan dingin, matanya kembali menatap layar laptop seolah-olah Raia tidak lebih dari sekadar gangguan kecil. "Kerjakan revisimu. Saya tidak punya waktu untuk drama masa lalu."
Keputusan Arlan untuk bungkam merubah segalanya. Raia menyadari bahwa pria di depannya ini benar-benar telah mematikan sisi kemanusiaannya. Tidak ada penjelasan, tidak ada penyesalan. Arlan memilih untuk membiarkan luka itu tetap menganga, membiarkan asumsi Raia menjadi kebenaran yang pahit.
Hari-hari berikutnya di kantor berubah menjadi siksaan yang sunyi. Mereka bekerja dalam satu ruangan, namun ada jurang tak kasat mata yang sangat dalam di antara mereka. Arlan tetap menjadi bos yang diktator, sementara Raia bekerja seperti robot, mematikan seluruh perasaannya.
Cinta yang dulu tumbuh dari persahabatan kini telah bermutasi menjadi kebencian yang dingin. Arlan membiarkan waktu yang menjawab, tapi ia lupa bahwa waktu juga bisa menghapus sisa-sisa rasa yang pernah ada.
Raia membanting pintu ruang rapat dengan keras, mengabaikan tatapan bingung rekan-rekan kantornya yang masih berdiri di koridor. Kakinya melangkah cepat menuju meja kerja, menyambar tas dan kunci mobilnya tanpa mempedulikan barang-barangnya yang masih berantakan.
Di sepanjang jalan pulang, cengkeraman tangannya pada setir mobil memutih. Amarahnya membuncah, bercampur dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Bayangan Arlan yang duduk angkuh di kursi kebesarannya, menolak memberikan penjelasan sepatah kata pun, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Sepuluh tahun, Lan... dan kamu bahkan tidak merasa aku layak mendapatkan satu kalimat penjelasan?" isaknya pelan, namun nadanya penuh kebencian.
Sesampainya di apartemen, Raia melempar tasnya ke sembarang arah. Ia berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Wajahnya merah padam, matanya sembap. Di sana, ia melihat sosok wanita yang selama ini tertahan oleh bayang-bayang masa lalu.
Ia segera meraih ponselnya. Dengan jari yang gemetar namun pasti, ia membuka akun Instagram Arlan. Ia melihat foto lama itu—foto yang menghancurkan harapannya bertahun-tahun lalu—dan foto-foto terbaru Arlan bersama tunangannya yang tampak begitu elegan.
"Cukup," bisiknya tegas.
Raia tidak lagi menangis. Keputusan Arlan untuk membiarkan segalanya "berjalan dengan sendirinya" adalah jawaban paling nyata yang pernah ia terima. Arlan memilih untuk menjadi asing, maka Raia akan mengabulkannya.
Malam itu, di tengah keheningan kamarnya, Raia membuka laptop. Bukan untuk merevisi laporan yang diminta Arlan, melainkan untuk mengetik sesuatu yang sudah lama seharusnya ia lakukan: Surat Pengunduran Diri.
Perubahan sikap Arlan yang dingin benar-benar telah membunuh sisa-sisa sahabat yang ia kenal sepuluh tahun lalu. Persahabatan itu resmi mati malam ini.
Suasana di apartemen Raia yang tadinya sunyi mendadak pecah oleh denting notifikasi ponsel. Sebuah pesan singkat dari Arlan masuk, menghancurkan keberanian Raia yang baru saja terkumpul untuk mengirim surat pengunduran diri.
"Jangan gegabah, Raia. Ingat siapa yang membayar biaya rumah sakit dan cuci darah ayahmu setiap bulan selama setahun terakhir ini."
Jantung Raia serasa berhenti berdetak.
Tangannya gemetar hebat hingga ponselnya nyaris terjatuh. Selama ini, ia mengira bantuan biaya pengobatan ayahnya datang dari program asuransi kantor yang sangat loyal. Ia tidak pernah menyangka bahwa itu adalah uang pribadi Arlan—tali kekang yang sengaja dipasang pria itu untuk mengikatnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama "Arlan" terpampang di layar. Dengan napas memburu, Raia mengangkatnya.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah semua yang aku berikan?" suara Arlan di seberang telepon terdengar sangat tenang, namun mematikan. Tidak ada lagi sisa-sisa sahabat di sana. "Satu langkah kamu keluar dari perusahaan itu, detik itu juga bantuan untuk ayahmu berhenti. Kamu tahu sendiri berapa biaya yang harus kamu tanggung tanpa aku."
"Kamu jahat, Lan... Kamu memanfaatkan kondisi ayahku untuk menginjak-injak hargadiriku?" teriak Raia dengan tangis yang pecah.
"Aku menyebutnya investasi, Raia. Aku sudah kehilanganmu selama sepuluh tahun, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, meskipun aku harus menjadi monster di matamu," jawab Arlan dingin. "Besok pagi, saya tunggu laporan revisi itu di meja saya. Jam 8 tepat. Jangan terlambat."
Klik. Sambungan terputus.
Malam itu merubah segalanya. Cinta yang dulu suci kini berubah menjadi obsesi yang beracun. Raia menyadari bahwa ia bukan lagi sahabat, bukan lagi karyawan, melainkan tawanan di bawah bayang-bayang pria yang dulu pernah ia puja.
Raia membanting pintu rumah dengan napas memburu. Amarah yang tadi ia tumpahkan pada Arlan kini beralih menjadi kebingungan yang menyesakkan dada. Di ruang tengah, ia mendapati ibunya sedang duduk merajut, tampak tenang seolah tidak ada badai yang sedang menghantam hidup putri tunggalnya.
"Bu, kenapa?" suara Raia bergetar, menahan tangis yang siap pecah lagi.
Ibunya mendongak, terkejut melihat mata Raia yang sembap. "Kenapa apa, Nak? Kamu baru pulang?"
"Kenapa Ibu minta bantuan ke Arlan? Kenapa biaya rumah sakit Ayah selama ini ternyata dari dia?" Raia melangkah mendekat, menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan ancaman Arlan. "Dia mengancamku, Bu! Dia bilang kalau aku keluar dari kantornya, pengobatan Ayah berhenti. Kenapa Ibu membiarkan dia mengikat kita seperti ini?"
Ibunya terdiam, perlahan meletakkan rajutannya. Matanya berkaca-kaca, raut wajahnya penuh rasa bersalah yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Ibu minta maaf, Raia... Ibu tidak punya pilihan lain," bisik ibunya parau. "Tahun lalu, saat kondisi Ayah kritis dan tabungan kita habis, Arlan datang ke rumah. Dia bilang dia ingin menebus kesalahannya karena menghilang sepuluh tahun.
Dia memohon pada Ibu untuk membiarkannya membantu."
"Tapi kenapa harus rahasia, Bu?"
"Arlan yang memintanya. Dia bilang kamu tidak akan mau menerima bantuannya kalau kamu tahu itu dari dia. Dia bilang... ini satu-satunya cara supaya dia bisa tetap menjagamu dari jauh tanpa kamu merasa berhutang budi," Ibu meraih tangan Raia yang dingin. "Ibu tidak tahu kalau sekarang dia berubah jadi sekasar itu padamu. Ibu kira dia masih Arlan yang dulu sayang padamu."
Raia tertawa getir di sela tangisnya. Ternyata, kebaikan Arlan selama ini hanyalah sebuah perangkap halus. Arlan merencanakan segalanya—kemunculannya sebagai bos, bantuannya yang "tulus", hingga jeratan yang kini mencekik leher Raia.
"Dia bukan Arlan yang kita kenal, Bu. Dia monster," ucap Raia datar, emosinya kini mendingin menjadi dendam yang pekat.
Malam itu merubah segalanya. Kepercayaan Raia pada ibunya retak, dan cintanya pada Arlan sepenuhnya mati, berganti menjadi tekad untuk lepas dari sangkar emas yang diciptakan pria itu.