Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Dinding kaca ruanganku terasa semakin menghimpit. Bayangan bunga mawar di tempat sampah dan tatapan nanar Arlan terus berputar di kepalaku, membuat fokusku pada laporan bulanan hancur berantakan. Aku butuh udara. Aku butuh seseorang yang mengenalku sebelum aku menjadi "Si Ratu Es".
Aku meraih ponsel, jemariku dengan cepat mencari nama Arunika.
"Nika, kafe depan gedung kantor sekarang. Aku butuh kamu," ucapku tanpa basa-basi begitu sambungan telepon terhubung.
"Ran? Kamu oke? Suaramu kedengaran... kacau," sahut Arunika di seberang sana, nadanya penuh kekhawatiran.
"Aku tunggu sepuluh menit lagi," aku langsung mematikan sambungan, meraih tas tanganku, dan melangkah keluar ruangan tanpa menoleh pada siapa pun, termasuk Arlan yang tampak ingin berdiri dari kursinya saat melihatku lewat.
Kafe di seberang kantor itu bernuansa kayu hangat dengan aroma biji kopi yang menenangkan. Aku memilih meja di sudut paling gelap, membelakangi jendela besar agar tidak ada orang kantor yang melihatku.
Tak lama, Arunika muncul. Dia masih sama—rambut pendeknya yang berantakan dan senyumnya yang selalu cerah. Dia adalah saksi hidup saat aku menangis sejadi-jadinya di kereta dari Jogja menuju Jakarta tiga tahun lalu.
"Oke, katakan padaku. Siapa yang harus aku hantam hari ini? Arlan? Atau pria-pria kiriman ayahmu?" tanya Arunika sambil duduk di hadapanku.
Aku menghela napas panjang, bahuku yang sejak pagi tegang akhirnya sedikit melandai. "Dua-duanya, Nik. Arlan pindah ke kantorku. Dia jadi bawahanku sekarang."
Arunika tersedak es cokelatnya. "Apa?! Dunia ini sempit atau memang Tuhan lagi hobi bercanda? Arlan di kantormu? Terus gimana?"
"Aku memperlakukannya seperti orang asing. Tapi Siska... dia muncul semalam di lobi. Dia masih sama, Nik. Angkuh dan merasa menang," suaraku merendah, rasa mual itu samar-samar muncul lagi. "Dan Rendra... dia makin nekat. Dia tahu alamat apartemenku karena Ayah."
Arunika menggenggam tanganku yang dingin di atas meja. "Ran, kamu sudah hebat bisa bertahan sampai sejauh ini. Tapi kamu nggak bisa terus-terusan lari dengan cara membekukan diri begini. Kamu kelihatan capek banget."
"Aku memang capek, Nika. Tapi kalau aku nggak jadi es, aku bakal hancur jadi debu. Kamu tahu sendiri gimana hancurnya aku dulu," aku menatap keluar jendela, melihat gedung kantorku yang menjulang tinggi. Di salah satu lantai itu, ada pria yang dulu adalah napasku, tapi kini adalah racunku.
"Terus rencana kamu apa? Mau resign?" tanya Arunika hati-hati.
"Nggak akan. Ini karierku, usahaku. Aku nggak akan membiarkan seorang pengkhianat mengusirku dari tempat yang aku bangun dengan keringatku sendiri," tegasku. "Aku sudah bilang ke Ayah buat stop kasih jalan ke Rendra. Aku cuma pengen tenang, Nik. Kenapa itu susah banget?"
Arunika terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan iba yang paling aku benci. "Mungkin karena kamu belum benar-benar selesai sama masa lalu itu, Ran. Kamu cuma menguburnya hidup-hidup, tapi belum membunuhnya."
Kalimat Arunika menamparku telak. Aku ingin membantah, tapi suaraku tertahan di tenggorokan.
Tiba-tiba, pintu kafe berdenting. Aku menoleh secara refleks dan jantungku mencelos. Arlan berdiri di sana, matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti tepat di mataku. Dia tidak sendiri, dia bersama seorang pria lain yang tampak seperti klien kantorku.
"Dia di sini," bisikku pada Arunika, tubuhku kembali kaku.
Arlan melangkah mendekat ke arah meja kami, mengabaikan pria di sampingnya sejenak. "Rania, maaf mengganggu. Pak Bram mencari kamu, ada revisi mendadak untuk presentasi sore ini."
Tatapan Arlan beralih ke Arunika, dia tampak mengenali sahabatku itu. "Halo, Arunika."
Arunika hanya mengangkat satu alisnya, ekspresinya berubah dingin—setia kawan. "Nggak usah basa-basi, Lan. Rania lagi istirahat."
Aku berdiri, merapikan blazernya dengan gerakan elegan namun sangat berjarak. "Terima kasih informasinya, Arlan. Saya akan kembali ke kantor sekarang. Dan lain kali, jangan ganggu waktu istirahat saya kecuali ini masalah hidup dan mati perusahaan."
Aku melangkah pergi melewati Arlan, sengaja menyenggol bahunya dengan keras. Namun, saat aku berada tepat di sampingnya, dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa kudengar.
"Siska sudah pulang ke Jogja pagi ini, Ran. Aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Tolong dengerin aku sekali aja."
Aku tidak berhenti. Aku terus berjalan keluar kafe dengan jantung yang berdegup kencang. Kebohongan baru apalagi yang ingin dia susun?