Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mogok Makan
“Kamu malu punya wali seperti Om?” tanya Arman saat Gisel mengantarkannya ke gerbang sekolah.
“Tidak,” jawab Gisel singkat.
“Lalu kenapa kau menghentikanku di dalam tadi?”
Gisel menatap aspal sejenak, lalu beralih ke pamannya. “Di mata mereka, kita akan tetap sama, Om. Untuk apa buang tenaga kalau keputusannya sudah final? Mereka tidak akan mendengar penjelasan kita.”
“Om bisa saja membuat mereka tutup mulut.”
“Di rumah mungkin iya, karena semua orang takut pada Om. Tapi di sini?” Gisel tersenyum getir. “Om tidak bisa menggunakan kekuasaan Om di sekolah ini.”
Arman terdiam. Dadanya sesak. Ia yang selama ini menjaga Gisel dengan nyawanya, harus menelan hinaan saat keponakannya dicap sebagai "ani-ani" oleh orang-orang berseragam rapi itu. Ia merasa gagal menjadi pelindung.
“Aku tidak apa-apa, Om. Sudah biasa,” bisik Gisel dengan senyum termanis yang ia punya.
Arman tahu, di balik keceriaan itu, Gisel sedang mengubur lukanya dalam-dalam. Ia mengusap kepala keponakannya itu dengan kasar namun penuh kasih. “Belajar yang baik. Om pulang dulu.”
Gisel melambaikan tangan hingga motor Arman hilang di tikungan. Masalah pagi itu berakhir dengan hukuman: Gisel harus membersihkan toilet selama seminggu karena dianggap sebagai pemicu perkelahian. Di sudut lain, Karin bersorak kemenangan karena hanya dihukum empat hari.
Sementara itu, di sisi lain kota, Arlan Bramantyo sedang berada di ambang frustrasi.
Sejak pagi, Keira tidak mau makan, tidak mau mandi, dan mengunci diri di kamar. Gadis kecil itu hanya duduk di lantai, menyusun puzzle berulang kali dengan botol minum yang tak tersentuh. Panik karena harus segera ke kantor, Arlan melakukan panggilan video dengan ibunya di Kota Flora.
“Cucu Nenek yang cantik, kenapa tidak mau makan, Sayang?” tanya sang nenek lembut melalui layar.
Keira mengambil ponsel itu, tersenyum tipis melihat wajah neneknya, namun tetap bungkam. Ia justru asyik memainkan filter wajah pada layar, mengabaikan bujukan sang nenek.
“Katakan, Sayang, kamu mau apa? Papa harus bekerja,” desak Arlan.
“Ma… ma…” gumam Keira lirih.
Wajah Ibu Arlan di layar berubah sendu. “Sayang, kamu boleh minta apa saja, asal bukan Mama.”
“Sudahlah, Bu! Aku bawa dia ke kantor saja. Aku sudah telat,” Arlan mematikan sambungan dengan perasaan campur aduk. Ia menggendong Keira yang berontak dan berteriak histeris, membawanya paksa ke bank.
Sepanjang jam kerja, Arlan tidak bisa fokus. Keira yang biasanya tenang, kini terus mengamuk. Puncaknya, gadis kecil itu mulai memukul dirinya sendiri sambil berteriak histeris, “MAMA! MAMA! MAMA!”
Arlan terpaku. Keira tidak pernah tahu apa itu "Mama". Selama ini, dunianya hanya berisi Papa, Kakek, Nenek, dan pengasuh. Teriakan Keira sampai terdengar ke luar ruangan, membuat beberapa nasabah saling berbisik. Setelah setengah jam mengamuk, Keira akhirnya tumbang karena kelelahan dan tertidur di pangkuan Arlan.
Saat terbangun, Keira kembali menghilang dari pengawasan Arlan. Arlan segera memeriksa CCTV dan jantungnya nyaris berhenti. Ia menemukan putrinya berdiri mematung di trotoar, tepat di depan gerobak es doger kemarin.
“Apa 'Mama' yang dia maksud adalah bocah kemarin?” batin Arlan sangsi.
Ia mendekati Keira dengan perlahan. “Sayang, dokter tidak bolehkan makan manis. Kita beli buah saja, ya?”
Keira mendongak, matanya yang sembab menatap Arlan penuh tuntutan. “Mama…”
“Maksudmu… Kakak yang kemarin?” Arlan mencoba peruntungannya.
Keira mengangguk mantap, menunjuk kursi kayu tempat Gisel menyuapinya kemarin. Arlan mengembuskan napas panjang. Keira memang istimewa; ingatannya tentang tempat dan arah sangat tajam. Namun, fakta bahwa Keira—yang bahkan sering menolak pengasuhnya sejak bayi—bisa begitu melekat pada Gisel dalam satu pertemuan, benar-benar di luar nalar Arlan.
“Nanti kita cari Kakak itu. Sekarang, kita kembali dulu, ya?”
Seolah paham papanya telah berjanji, Keira menurut. Ia mau makan dengan tenang hingga jam kantor usai. Arlan yang tak punya pilihan lain, akhirnya mengemudikan mobilnya kembali ke Jalan Bunga. Mereka menunggu di dekat halte bus, tempat yang sama saat ia menurunkan Gisel kemarin.
Mata Keira terus menyisir setiap orang yang turun dari bus. Hingga tiba-tiba, gadis kecil itu berteriak kencang sambil menunjuk ke satu arah.
“MAMA!”
Keira dengan gesit melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil, dan berlari sekencang mungkin ke arah seorang gadis berseragam abu-abu yang baru saja melangkah masuk ke dalam gang.
Gisel yang sedang membenarkan letak tasnya terlonjak kaget saat merasakan sepasang lengan kecil memeluk pinggangnya dengan erat.
“Mama!” teriak Keira. Suara melengking itu membekukan langkah Gisel dan teman-temannya di depan gang.
Gisel membelalak, wajahnya memanas seketika. Di depannya, Arlan berdiri dengan wajah yang tak kalah bingungnya.
Genggaman tangan Keira di kakinya begitu erat, seolah takut kehilangan nyawa jika dilepaskan. Teman-teman Gisel tak bisa menahan tawa, mulai melontarkan godaan pedas.
“Ciye... diam-diam Gisel punya simpanan om-om,” ejek salah satu dari mereka.
“Jangan sembarangan! Kalian pulang duluan sana,” usir Gisel ketus.
“Kamu nggak takut Om Arman marah? Tahu sendiri dia gimana,” bisik temannya yang lain sebelum akhirnya mereka melenggang pergi, meninggalkan Gisel dalam kecanggungan luar biasa saat Arlan mendekat.
“Apa maksudnya ini?” Gisel menghunuskan tatapan tajam pada pria itu.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Arlan dengan ekspresi datar yang menyebalkan.
“Tidak tahu? Kalau tidak tahu, kenapa dibawa kemari? Tempat ini bukan untuk anak kecil!”
Arlan menghela napas. “Keira yang memaksa. Dia mogok makan seharian hanya untuk mencarimu.”
Belum sempat Arlan menjelaskan lebih jauh, Gisel sudah menggendong Keira dan membawanya masuk ke sebuah kafe kecil di pinggir jalan demi menghindari tontonan warga. Ia nyaris memesan es krim favoritnya, sebelum teringat pantangan Keira. “Air mineral saja satu, Mbak.”
Penjaga kafe yang mengenal Gisel menggoda, “Siapa ini, Sel? Kalau dapet yang modelan begini, kenalin dong ke Tante.”
“Tante Arin kalau mau, kenalan sendiri,” sahut Gisel ketus, membuat sang penjaga kafe terkekeh.
Di dalam kafe, Arlan menceritakan betapa kacau harinya karena Keira terus-menerus memanggil "Mama". Gisel tertegun. Ia tahu tempat tinggalnya bukan lingkungan yang sehat untuk anak sekecil Keira, apalagi anak "istimewa".
“Kamu tahu tempat apa ini, kan?” tanya Gisel lagi, memastikan.
“Aku tahu,” jawab Arlan singkat.
“Kalau tahu, kenapa—”
“GISELLA!”
Suara menggelegar dari pintu kafe memutus kalimat Gisel. Om Arman berdiri di sana dengan wajah merah padam. Tanpa bicara, ia menyambar lengan Gisel dan menariknya keluar. Keira yang menempel di tubuh Gisel ikut terseret, membuat suasana makin ricuh.
Sesampainya di teras rumah, Om Arman melepaskan cengkeramannya. Matanya melotot melihat anak kecil yang masih menggelayut di leher Gisel.
“Siapa ini?!” bentaknya.
“Keira, anak Om Arlan,” jawab Gisel gemetar sambil menunjuk Arlan yang mengekor di belakang.
“Mama... takut...” Keira merintih, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gisel.
“Mama? Kamu jangan macam-macam, Gisel! Sejak kapan kamu punya anak?!”
“Bukan anakku, Om! Tolong dengarkan dulu,” potong Gisel cepat. “Dia anak spesial, sama seperti Rangga.”
Mendengar nama Rangga—pemuda autis di lingkungan mereka—kemarahan Om Arman sedikit mereda, berganti dengan kebingungan. Arlan segera mengambil alih pembicaraan.
“Maafkan saya. Keira memang sulit didekati, tapi sejak kemarin dia hanya mau bersama Gisel. Saya tidak bermaksud buruk.”
“Kenapa tidak kamu serahkan pada ibunya saja? Kenapa harus keponakanku?” tanya Arman dengan nada mengancam.
“Ibunya... meninggal saat melahirkannya.”
Hening sejenak. Gisel dan Arman terkesiap. Mereka tidak menyangka status duda Arlan adalah karena kehilangan istri selamanya. Namun, Arman tetaplah Arman. Baginya, keselamatan Gisel di atas segalanya.
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau Gisel terlibat denganmu. Bawa anakmu pulang sekarang!”
Gisel mencoba melepaskan pelukan Keira untuk menyerahkannya pada Arlan. Namun, Keira justru semakin histeris. Ia menjerit dan mencengkeram seragam Gisel begitu kuat hingga Gisel mengaduh kesakitan. Mendengar rintihan Gisel, Keira justru menangis kencang, merasa bersalah sekaligus ketakutan.
Om Arman mengacak rambutnya frustrasi. Suara tangis itu mengingatkannya pada Gisel saat masih kecil. Gisel yang cekatan segera menggendong Keira kembali, menepuk punggungnya sambil menyanyikan lagu Cicak-Cicak di Dinding. Ia menunjuk seekor cicak yang merayap di plafon ruang tamu untuk mengalihkan perhatian Keira.
Setelah Keira mulai tenang, Gisel menatap Om Arman penuh permohonan. “Om, boleh aku mengantarnya pulang? Hanya sampai dia tenang. Aku janji akan langsung pulang setelah itu.”
Melihat mata Keira yang sembab dan ketulusan di wajah Gisel, hati baja sang preman akhirnya luluh. Ia mengangguk pelan. Saat Gisel masuk ke kamar untuk berganti pakaian, ia berpapasan dengan Tante Ira yang baru bangun. Setelah memberikan penjelasan singkat dan janji untuk kembali sebelum jam masak makan malam, Gisel keluar.
“Om ikut di belakang,” tegas Arman.
“Tidak perlu, Om. Aku bisa naik bus setelah ini.”
“Om. Ikut.”
Akhirnya, mereka berangkat dengan formasi aneh: Gisel dan Keira di dalam mobil Arlan, sementara Om Arman membuntuti dengan motor besarnya di belakang, seperti pengawal sekaligus ancaman.
“Om kamu sangat protektif. Di mana orang tuamu?” tanya Arlan memecah kesunyian di dalam mobil.
“Sudah meninggal. Om Arman yang membesarkanku sejak aku masih sangat kecil.”
“Maaf, aku tidak bermaksud lancang.”
“Tidak apa-apa.”
Tak ada lagi suara hingga mereka sampai di sebuah rumah minimalis bercat biru muda di kawasan perumahan elit. Keira sudah tertidur pulas di pangkuan Gisel. Dengan sangat hati-hati, Gisel membawa Keira masuk ke kamarnya dan merebahkannya di tempat tidur. Ia memberikan tepukan lembut di pinggang Keira sampai napas gadis kecil itu teratur kembali.
Tanpa membuang waktu, Gisel berpamitan. Ia keluar dan langsung naik ke boncengan motor Om Arman. Arlan hanya bisa menatap punggung mereka yang menjauh dengan perasaan campur aduk.
Gadis itu punya kehidupan yang keras, namun hatinya begitu lembut untuk putrinya. Arlan segera merogoh ponselnya, menghubungi seseorang.
“Bagaimana dengan pengasuh yang aku minta?”
“Ada tiga kandidat, Pak. Saya bawa besok.”
“Bagus. Aku butuh seseorang secepatnya,” tegas Arlan. Ia harus menjauhkan Keira dari Gisel sebelum semuanya menjadi semakin rumit. Namun dalam hatinya, Arlan sangsi; apakah ada pengasuh yang bisa menggantikan ketenangan yang diberikan Gisel bagi Keira?
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏