NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia istriku yang Sah

Gia baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur sutra yang terasa terlalu tipis di kulitnya. Kain seperti itu bahkan baru pertama kali melekat pada tubuhnya. Rambutnya yang basah tergerai, memberikan kesan alami yang jauh berbeda dari riasan tebal saat di altar tadi.

​Saat ia ragu-ragu untuk mendekati ranjang, sebuah dering ponsel memecah keheningan.

​Ares, yang tadi berdiri di balkon sambil menyesap rokok, segera merogoh sakunya. Ia melihat layar ponselnya, dan rahangnya mengeras. Ia tidak mengangkatnya segera, namun ponsel itu terus berdering dengan gigih.

​Gia terpaku di tempatnya. Ia bisa melihat nama yang tertera di layar karena ponsel itu tergeletak di meja nakas saat Ares hendak mengambil pengisi daya.

​Siska.

​Ares akhirnya mengangkat telepon itu. Ia tidak menjauh, seolah ingin menunjukkan pada Gia bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan atau mungkin, ia ingin menyakiti Gia secara tidak sengaja.

​"Halo" suara Ares terdengar datar, namun ada getaran emosi yang tertahan.

​Suara isak tangis Siska terdengar cukup nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Ares... maafkan aku. Aku melakukan kesalahan besar. Aku terjebak, Ares... Aku diancam Rendy. Aku mau pulang, aku mau balik sama kamu, aku mohon tolong aku Res..."

​Gia meremas jemarinya, hatinya mencelos. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah di rumah orang lain. Ia berbalik, hendak masuk kembali ke kamar mandi untuk memberi privasi, namun suara Ares menghentikannya.

​"Mau ke mana, Gia?" tanya Ares tanpa menoleh pada Gia, namun tetap terhubung dengan Siska.

​"Gia? Kamu sama dia? Ares, kamu benar-benar menikahinya? Anak gundik itu hanya mau uangmu saha Res!" Suara Siska di telepon berubah menjadi histeris.

​Ares menatap Gia dengan tajam, namun kata-katanya ditujukan untuk Siska.

"Dia istriku sekarang, Siska. Kamu yang memilih untuk pergi, jadi jangan bicara seolah-olah kamu adalah korbannya!" Suara Ares masih begitu datar namun terdapat emosi di dalamnya.

​"Tapi aku mencintaimu!"

​"Cinta tidak meninggalkan orang di pernikahan!" Balas Ares dengan dingin.

"Jangan hubungi aku lagi. Urusan kita sudah selesai!"

​Ares memutuskan sambungan telepon dengan kasar dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Suasana yang tadi canggung kini berubah menjadi tegang dan penuh amarah yang tertahan.

​Gia ketakutan sendiri melihat ponsel yang dilempar bagaikan barang tak berguna. Namun dia memberanikan diri untuk bersuara.

"Kalau Tuan masih mau sama Kak Siska, saya bisa pergi, Tuan. Kita bisa membatalkan ini sebelum semuanya terlambat!" Hanya mengatakan itu saja sudah membuat seluruh badan Gia gemetar, hakan telapak tangannya terasa basah karena keringat.

​Ares berjalan mendekat, langkahnya berat. Ia berhenti tepat di depan Gia, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Kamu pikir pernikahan Ardiansyah adalah mainan yang bisa dibatalkan begitu saja?" Ares mencengkeram bahu Gia pelan, namun tegas.

"Bagiku Siska sudah mati sejak dia memutuskan untuk pergi dengan laki-laki lain. Jangan pernah tawarkan dirimu untuk pergi lagi, kecuali aku yang memintamu untuk pergi!"

​Ares melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju sofa, meninggalkan Gia yang berdiri mematung di samping ranjang besar itu. Malam itu, Gia menyadari satu hal, ia tidak hanya harus berhadapan dengan tembok es di hati Ares, tapi juga bayang-bayang Siska yang akan terus menghantuinya selama hidup disekitar Aresta Ardiansyah.

🌹🌹🌹

Pagi pertama di mansion Ardiansyah tidak terasa seperti bulan madu bagi Gia. Ia turun ke ruang makan dengan langkah ragu, mengenakan terusan selutut berwarna soft peach yang membuatnya tampak sangat muda dan polos.

​Di ujung meja panjang yang terbuat dari marmer mewah, Nyonya Ardiansyah, Ibu Aresta, sudah duduk dengan anggun, menyesap tehnya. Matanya yang tajam langsung menilai penampilan Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Duduklah!" Perintah Nyonya Ardiansyah tanpa senyum.

"Di rumah ini, sarapan dimulai pukul tujuh tepat. Saya harap besok kamu tidak terlambat lagi!"

​"Maaf, Ma!" Bisik Gia sambil menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

​"Jangan panggil saya Mama dulu. Statusmu di sini masih sangat baru!" Sahut wanita itu dingin.

Gia mengutuk mulutnya begitu lancang. Dia seolah lupa dengan statusnya karena berani memanggil Nyonya besar Ardiansyah dengan sebutan Mama. Seharusnya Kakaknya yang pantas memanggilnya Mama.

"Saya masih tidak habis pikir kenapa Aresta memilih melanjutkan pernikahan ini sama kamu setelah penghinaan yang dilakukan keluarga kamu. Kamu tahu, kan? Kamu hanyalah pengganti untuk menutupi rasa malu!"

​Gia menunduk, meremas serbet di pangkuannya. Kata-kata itu menghujam jantungnya, meski ia tahu itu benar.

​Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Aresta muncul dengan setelan kerja yang sangat rapi. Bukannya langsung duduk di kursinya, Aresta justru berjalan mendekati Gia.

​"Pagi, Gia!" ucap Aresta dengan suara bariton yang hangat, kontras dengan suasana dingin tadi.

​Sebelum Gia sempat menjawab, Aresta membungkuk sedikit dan mengecup kening Gia di depan ibunya. Kecupan itu singkat, tapi terasa sangat protektif.

​"Aresta, apa yang kamu lakukan?" tegur Nyonya Ardiansyah, mengerutkan kening tidak suka.

​Aresta duduk di samping Gia, bukan di ujung meja seperti biasanya. Ia meraih tangan Gia yang gemetar di atas meja dan menggenggamnya erat.

​"Aku sedang menyapa istriku, Ma!" jawab Aresta tenang sambil menatap ibunya.

"Dan soal status Gia, dia bukan pengganti. Dia adalah Nyonya Ardiansyah yang sah. Jadi, aku minta sama Mama untuk memperlakukannya dengan rasa hormat yang sama seperti Mama memperlakukanku!"

​"Tapi keluarganya sudah menipu kita!"

​"Yang melakukan kesalahan adalah Siska, bukan Gia!" Potong Aresta tegas. Ia kemudian menoleh pada pelayan.

"Bawa jus jeruk segar untuk istriku. Dia terlihat pucat pagi ini!"

​Aresta kemudian beralih pada Gia, suaranya melunak.

"Makanlah yang banyak. Setelah ini, aku akan mengajak kamu ke butik. Aku tidak mau istriku memakai pakaian lama yang terlihat tidak nyaman seperti ini!"

​Gia menatap Aresta dengan rasa tidak percaya. Pria yang semalam begitu dingin dan memilih tidur di sofa, kini berdiri seperti benteng di depannya. Meskipun Gia tahu ini mungkin hanya sandiwara di depan Mamanya, kehangatan tangan Aresta yang belum dilepaskan memberikan keberanian kecil di hatinya.

​"Terima kasih... Mas Ares!" ucap Gia lirih, mencoba memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab. Lebih tepatnya memberanikan diri entah nanti Ares akan menganggapnya salah atau tidak.

​Aresta tampak tertegun sejenak mendengar panggilan itu, namun sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

"Sama-sama, sayang!"

Gia tersentak, jantungnya seperti berhenti bekerja secara optimal karena panggilan sayang dari Ares. Apalagi usapan tangan di kepala Gia, rasanya hangat dan nyaman.

Ternyata mendapatkan perlakukan manis dan pembelaan di depan orang lain bisa membuat dirinya lebih tenang dan nyaman. Pantas saja selama ini Siska selalu terlihat percaya diri.

​Nyonya Ardiansyah hanya bisa mendengus kesal, menyadari bahwa putranya yang keras kepala itu telah menetapkan pilihannya.

1
Esther
Ares cemburu berat sama Satria🤭
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!