Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: NYANYIAN MAWAR DI TENGAH MALAM
Juliet tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya yang luas dan sejuk karena pendingin ruangan terbaik itu mendadak terasa menyesakkan. Di atas meja riasnya, mawar layu pemberian Gaara tadi siang masih tergeletak di sana. Kelopaknya sudah kecokelatan, tapi aromanya yang samar masih tercium—aroma kematian yang puitis.
Pikiran Juliet melayang pada kejadian di taman tadi. Bayangan Vina yang mendekati Gaara di kegelapan, memberikan sebuah bungkusan misterius, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Kenapa aku harus peduli?" gumam Juliet pada kegelapan. "Dia hanya tukang kebun. Dan Vina? Dia memang selalu haus perhatian."
Juliet bangkit dari tempat tidur king size-nya. Ia meraih jubah sutranya, melilitkannya ke tubuh, lalu melangkah ke balkon. Matanya tertuju pada paviliun kecil di sudut terjauh taman—tempat tinggal para pekerja pria. Lampu di sana sudah padam.
Namun, di bawah sana, di tengah taman mawar, ia melihat sebuah titik cahaya kecil. Bukan lampu taman yang terang, melainkan cahaya dari sebuah senter kepala.
Juliet mengernyit. Apa yang dilakukan pria itu tengah malam begini?
Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Juliet keluar dari kamarnya, menuruni tangga melingkar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia melewati lorong-lorong sunyi yang dipenuhi lukisan mahal koleksi ayahnya, lalu membuka pintu kaca menuju taman.
Udara malam yang lembap menyambut kulitnya. Suara jangkrik bersahut-sahutan, menciptakan simfoni alam yang jarang ia dengarkan. Juliet berjalan mengendap-endap, mengikuti titik cahaya di antara rumpun mawar.
Ia menemukan Gaara sedang berlutut di tanah. Pria itu tidak menyadari kehadiran Juliet. Gaara sedang memegang sebuah botol semprot kecil dan sebuah sikat halus. Dengan sangat teliti, ia mengoleskan sesuatu ke daun-daun mawar Juliet Rose yang sedang sekarat.
Yang membuat Juliet terpaku bukan apa yang Gaara lakukan, melainkan apa yang ia dengar.
Gaara sedang bersenandung. Sebuah melodi rendah, dalam, dan sangat tenang. Bukan lagu populer yang sering terdengar di radio, melainkan sebuah nada yang terdengar seperti doa.
"Apa yang kau lakukan?" suara Juliet memecah keheningan malam.
Gaara tersentak. Ia mematikan senter kepalanya dan berdiri dengan cepat. Dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya bulan, wajahnya terlihat lebih lembut, namun tetap waspada.
"Nona? Apa yang Anda lakukan di luar jam begini? Ini hampir jam dua pagi."
"Aku pemilik rumah ini. Aku bebas keluar kapan saja," jawab Juliet, mencoba mengembalikan wibawanya meski jantungnya berdegup kencang. "Kau sendiri? Apa bungkusan dari Vina tadi itu racun untuk bungaku?"
Gaara terdiam sejenak. Ia menyalakan kembali senternya, mengarahkannya ke tanah agar tidak menyilaukan mata Juliet. "Bungkusan? Oh, itu."
Ia meraba saku celana kargo-nya yang kotor dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. "Ini bukan racun. Ini pupuk organik khusus yang diracik dari sisa fermentasi buah. Vina membantuku mengambilnya dari gudang belakang karena aku tidak punya akses ke sana."
Juliet merasa wajahnya panas karena malu. Jadi, kecurigaannya selama ini salah? Vina hanya membantunya mengambil pupuk?
"Kenapa harus tengah malam?" tanya Juliet, suaranya sedikit melunak.
"Mawar jenis ini sangat sensitif, Nona. Sinar matahari pagi akan menguapkan nutrisinya sebelum meresap ke pori-pori daun. Malam hari adalah waktu terbaik bagi mereka untuk makan. Mereka seperti manusia; butuh ketenangan untuk memulihkan diri."
Gaara kembali berlutut, melanjutkan pekerjaannya seolah Juliet tidak ada di sana. Sikap acuhnya itu selalu berhasil memancing emosi Juliet.
"Kenapa kau melakukannya dengan cara seperti ini? Maksudku... menyanyi? Kau terlihat seperti orang gila."
Gaara berhenti menyikat daun. Ia menatap mawar di depannya dengan tatapan yang sangat dalam. "Ibu saya dulu sering bilang, tumbuhan bisa merasakan getaran suara. Mereka tidak mengerti kata-kata, tapi mereka mengerti niat. Jika kita merawatnya dengan hati yang tenang, mereka akan membalasnya dengan keindahan."
Juliet terpaku. Ibu. "Ibuku juga sangat mencintai mawar ini," bisik Juliet tanpa sadar.
Gaara mendongak, menatap Juliet yang berdiri di bawah cahaya bulan. Jubah sutranya tertiup angin malam, membuatnya terlihat seperti dewi yang tersesat di tengah rimba duri. Untuk pertama kalinya, Gaara melihat sisi lain dari Juliet—bukan nona besar yang sombong, melainkan seorang anak perempuan yang merindukan ibunya.
"Saya tahu," ucap Gaara lirih. "Setiap tanaman di sini punya sidik jari perasaan seseorang. Ibu Anda pasti orang yang sangat penyabar."
Juliet merasakan matanya memanas. Ia segera memalingkan wajah, tidak ingin pria asing ini melihat kerapuhannya. "Sudahlah. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan hal aneh."
Juliet berbalik untuk pergi, namun kakinya tersangkut akar pohon yang menonjol di jalan setapak.
"Ah!"
Ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke arah rumpun mawar berduri. Juliet memejamkan mata, bersiap merasakan tajamnya duri menusuk kulitnya.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Sepasang lengan yang kuat dan hangat menangkap pinggangnya. Juliet membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam pelukan Gaara. Wajah mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Juliet bisa merasakan hembusan napas Gaara di keningnya.
Dunia seolah berhenti berputar. Aroma tanah, keringat, dan sabun batangan murah dari tubuh Gaara terasa begitu nyata. Mata gelap pria itu mengunci tatapannya, tidak ada lagi ejekan di sana, yang ada hanyalah sebuah perlindungan yang tulus.
Tangan Gaara yang kasar namun hangat masih melingkar di pinggang Juliet, sementara tangan Juliet tanpa sadar mencengkeram bahu kokoh pria itu. Detak jantung mereka seolah beradu dalam sunyi.
"Hati-hati, Nona," bisik Gaara. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Duri mawar tidak akan memilih siapa yang mereka lukai, sekalipun itu pemiliknya sendiri."
Juliet menelan ludah. Ia merasa tenggorokannya kering. Keberadaan Gaara terasa begitu mendominasi, membuatnya merasa kecil dan... terlindungi. Perasaan yang tidak pernah ia dapatkan dari Adam, yang selalu memperlakukannya seperti pajangan mahal.
Juliet dengan cepat melepaskan diri, merapikan jubahnya dengan gugup. "Aku... aku bisa jalan sendiri."
"Tentu saja Anda bisa," balas Gaara, kembali ke mode datarnya. Ia memungut senternya yang terjatuh. "Silakan kembali ke atas, Nona. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Anda."
Juliet mengangguk kaku dan segera berjalan setengah berlari menuju rumah. Ia tidak menoleh lagi.
Sesampainya di kamar, ia bersandar di balik pintu yang tertutup rapat. Jantungnya masih berpacu gila-gilaan. Ia menyentuh pinggangnya, tempat di mana tangan Gaara tadi mendekapnya. Ada sensasi panas yang tertinggal di sana, sebuah sensasi yang membuatnya takut sekaligus rindu.
Keesokan paginya, suasana di ruang makan terasa tegang. Ayah Juliet, Pak Wijaya, sudah duduk di kepala meja dengan koran bisnis di tangannya. Vina duduk di samping Juliet, tampak segar dengan riasan tipisnya.
"Juliet, Ayah dengar tukang kebun baru itu sudah mulai bekerja?" suara berat Pak Wijaya memecah keheningan.
"Iya, Yah. Dia sedang dalam masa percobaan," jawab Juliet sambil mengaduk sereal tanpa nafsu.
"Bagus. Jangan sampai taman itu rusak. Itu satu-satunya peninggalan ibumu yang masih tersisa. Oh ya, Adam menelpon Ayah tadi pagi. Dia bilang kalian sudah mulai membicarakan tentang pernikahan di Australia?"
Juliet terdiam. Ia melirik Vina yang tampak tersenyum sinis.
"Kami belum memutuskan tanggal pastinya, Yah," jawab Juliet pelan.
"Ayah ingin segera. Setelah proyek di Sydney selesai, Adam akan menjadi bagian dari keluarga kita sepenuhnya. Itu akan memperkuat saham perusahaan. Kamu mengerti, kan?"
Selalu soal saham. Selalu soal perusahaan. Juliet merasa dadanya sesak. Baginya, pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan tentang penggabungan aset.
"Iya, Yah. Aku mengerti."
"Oh ya, Paman," sela Vina dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Tukang kebun baru itu, Gaara namanya, kan? Dia rajin sekali. Tadi malam aku melihatnya bekerja sampai larut. Bahkan Juliet juga ikut turun menemani, ya kan, Jul?"
Juliet tersedak kopinya. Ia menatap Vina dengan tatapan membunuh. Pak Wijaya menurunkan korannya, matanya menatap Juliet dengan tajam.
"Kamu turun ke taman tengah malam, Juliet? Untuk apa?"
"Aku... aku hanya ingin memastikan dia tidak mencuri apa pun, Yah. Vina berlebihan," bela Juliet, suaranya sedikit gemetar.
"Jangan terlalu sering berinteraksi dengan orang-orang seperti dia, Juliet," ucap Pak Wijaya dingin. "Ingat siapa dirimu. Ingat siapa tunanganmu. Orang-orang rendahan hanya akan membawa masalah jika diberi celah."
Juliet menunduk. Kata-kata 'orang rendahan' itu entah kenapa terasa menyakitkan di telinganya sekarang. Ia teringat bagaimana Gaara menyentuh daun mawar dengan lembut, bagaimana ia bernyanyi untuk mawar yang sekarat. Apakah orang seperti itu pantas disebut 'membawa masalah'?
Sore harinya, Juliet memutuskan untuk kembali ke taman. Bukan untuk berdebat, melainkan untuk membuktikan sesuatu. Ia membawa sebuah kamera Polaroid tua milik ibunya.
Ia menemukan Gaara sedang membersihkan kolam kecil di dekat mawar. Pria itu tampak lelah. Bajunya basah kuyup karena air kolam.
"Gaara," panggil Juliet.
Gaara menoleh. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan lengan baju. "Ada apa lagi, Nona? Ingin menampar saya lagi?"
Juliet menghela napas. "Bukan. Aku... aku ingin meminta maaf soal tadi malam. Dan soal Ayahku jika dia berkata sesuatu yang buruk padamu."
Gaara terdiam. Ia naik dari kolam dan duduk di pinggirannya, membiarkan kakinya menggantung. "Ayah Anda tidak bicara pada saya. Dia hanya lewat dan memandang saya seolah saya adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Tapi tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa."
Juliet duduk di bangku taman, tidak jauh dari Gaara. "Kenapa kau bertahan di sini? Kau punya kemampuan lebih dari sekadar mengurus taman. Caramu bicara... kau berpendidikan, kan?"
Gaara menatap air kolam yang tenang. Sebuah senyum pahit muncul di wajahnya. "Pendidikan tidak selalu menjamin masa depan, Nona. Terkadang, takdir lebih suka bermain-main dengan kita."
"Ceritakan padaku," pinta Juliet, suaranya tulus.
Gaara menatap Juliet cukup lama, mencoba mencari tahu apakah gadis ini hanya sekadar ingin tahu atau benar-benar peduli.
"Dulu, ayah saya punya perusahaan arsitektur lanskap yang cukup besar. Saya kuliah di bidang yang sama. Tapi... sebuah pengkhianatan dari rekan bisnis membuat semuanya hancur dalam semalam. Ayah saya jatuh sakit dan meninggal, meninggalkan hutang yang sangat banyak. Saya harus berhenti kuliah dan melakukan apa pun untuk membayar biaya rumah sakit ibu saya."
Juliet tertegun. "Siapa rekan bisnis itu?"
Gaara menatap Juliet dengan tatapan yang sulit diartikan. "Seseorang yang sangat kaya. Seseorang yang mungkin Anda kenal."
Sebelum Juliet bisa bertanya lebih lanjut, Vina muncul dari balik tanaman pagar. Wajahnya tampak merah padam, matanya berkaca-kaca—tapi bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tertahan.
"Juliet! Berani-beraninya kau!" teriak Vina.
Juliet dan Gaara berdiri bersamaan. "Ada apa, Vina?"
"Aku melihat semuanya tadi malam! Aku melihatmu dipelukan tukang kebun ini! Aku akan memberitahu Adam! Aku akan memberitahu Paman!"
Vina menunjuk-nunjuk wajah Gaara dengan jari gemetar. "Dan kau! Kau hanya memanfaatkan sepupuku agar bisa naik kasta, kan? Dasar licik!"
"Hentikan, Vina! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" Juliet mencoba meraih tangan Vina, tapi Vina menepisnya dengan kasar.
"Tidak seperti yang kupikirkan? Aku mencintainya, Juliet! Aku yang pertama kali menyukainya di sini! Tapi kau... kau selalu mendapatkan semua yang kau mau! Kau punya Adam, kau punya harta, kenapa kau harus mengambil miliku juga?!"
Juliet terpaku. Vina mencintai Gaara?
Gaara berdiri diam, wajahnya kembali mengeras seperti batu. Ia tidak membela diri, tidak juga menyerang. Ia hanya menatap Vina dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Nona Vina," suara Gaara terdengar sangat tenang namun penuh penekanan. "Saya bukan milik siapa pun. Dan cinta... bukanlah sesuatu yang bisa Anda beli dengan bungkusan pupuk organik."
Vina menjerit histeris dan berlari masuk ke dalam rumah.
Hening kembali menyelimuti taman. Juliet menatap Gaara dengan perasaan hancur. "Ini akan menjadi masalah besar."
Gaara menarik napas panjang. Ia mengambil cangkulnya kembali. "Masalah sudah ada sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di sini, Nona. Sekarang, tinggal Anda yang memilih. Apakah Anda akan membiarkan duri-duri itu menusuk Anda, atau Anda akan belajar bagaimana cara memangkasnya?"
Juliet menatap punggung Gaara yang mulai menjauh. Ia tahu, mulai hari ini, kehidupannya yang tenang dan teratur telah berakhir. Perang baru saja dimulai, dan ia tidak yakin siapa yang akan menang—dirinya, Adam, atau tukang kebun yang telah mencuri detak jantungnya itu.
...****************...