Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
Pagi hari di kediaman keluarga Oberyn diselimuti cahaya musim semi yang lembut.
Kabut tipis masih menggantung di atas taman luas di belakang mansion, membuat bunga-bunga mawar musim semi tampak seperti lukisan yang hidup.
Di salah satu kamar tamu yang luas, seorang gadis perlahan membuka matanya.
Elara Ravens.
Sinar matahari menembus tirai tipis dan jatuh lembut di wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya duduk perlahan di tempat tidur.
"Hmm ..." Elara mengusap matanya dengan punggung tangan.
Rambut hitam panjangnya terurai sedikit berantakan di punggung.
Kepalanya terasa agak berat.
"Apa aku terlalu lelah kemarin?" ucap sang gadis. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sehari sebelumnya.
Yang ia ingat terakhir adalah kelas praktik rapalan sihir bersama Profesor Calestine.
Setelah itu ... kosong.
Seolah-olah ada satu hari penuh yang hilang dari ingatannya.
Elara mengerutkan kening. "Aneh."
Ia mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur. Membersihkan diri dan berganti seragam akademi seperti rutinitas biasanya.
Begitu ia membuka pintu kamar untuk sarapan, seorang pelayan yang kebetulan lewat langsung berhenti.
Pelayan itu menatap Elara. Lalu matanya tiba-tiba berbinar.
"Oh! Nona Elara sudah bangun!" Nada suara sang pelayan terdengar ... terlalu bersemangat.
Elara mengangguk pelan. "Pagi."
Pelayan itu menutup mulutnya sambil menahan senyum. "Selamat pagi, Nona."
Elara sedikit mengernyit. Tatapan pelayan itu aneh untuk Elara. Bukan aneh dalam arti buruk.
Lebih seperti ... gemas.
Seolah pelayan itu sedang melihat sesuatu yang sangat menggemaskan.
Elara tidak terlalu memikirkannya. Ia berjalan menuju ruang makan.
Namun hal yang sama terjadi lagi. Para pelayan yang melihatnya langsung berhenti bekerja.
Beberapa menatapnya dengan mata berbinar. Beberapa bahkan menahan tawa kecil.
Elara berhenti di tengah lorong. "Apa yang terjadi dengan mereka?"
Ia melanjutkan langkah.
Begitu ia memasuki ruang makan, Aaron sudah duduk di sana.
Pemuda berambut pirang itu tampak santai meminum teh pagi.
Di sampingnya duduk Duke Arram dan Duchess Daria.
Begitu melihat Elara Daria langsung tersenyum sangat lebar.
"Elara?!" Daria bangkit dan mendekati gadis itu dan memeluk Elara. "Tidurmu nyenyak?"
Elara mengangguk. "Nyenyak, Bibi."
Namun tatapan Daria juga sama seperti pelayan tadi; penuh kegemasan.
Elara semakin bingung.
Duke Arram bahkan menahan tawa ketika melihatnya.
Aaron hanya menatapnya dengan senyum samar.
Elara menyipitkan mata. "Ada apa?"
Tidak ada yang menjawab.
Daria hanya menepuk kepala Elara dengan lembut. "Tidak ada apa-apa."
Arram menambahkan sambil tertawa kecil, "Kau hanya terlihat sangat segar hari ini."
Aaron memalingkan wajahnya sambil menahan senyum.
Elara menatap mereka satu per satu.
Perasaannya tidak enak.
Namun ia tidak tahu kenapa.
Beberapa waktu kemudian, Elara sudah berada di Akademi Sihir Oberyn.
Ia berjalan melewati gerbang utama seperti biasa.
Namun hari ini suasana akademi terasa berbeda.
Begitu ia melangkah ke halaman, beberapa murid langsung berhenti berjalan.
Mereka menatap Elara.
Kemudian ...
"ELARAAA?!"
Teriakan kegirangan tiba-tiba pecah.
Sekelompok murid perempuan berlari ke arah Elara.
"Elara!"
"Kau sudah kembali normal!"
"Dia tinggi lagi!"
Elara mundur satu langkah. "A-ada apa?"
Beberapa murid bahkan menahan diri agar tidak memeluk Elara.
"Ahh, kemarin kamu sangat lucu!"
"Benar-benar seperti boneka hidup!"
Elara membeku. "Kemarin?"
Gadis itu bingung, lalu ia mencoba bertanya. "Tunggu, maksud kalian apa-"
Namun para murid itu justru semakin heboh.
"Elara kecil!"
"Suara cadelmu benar-benar menggemaskan!"
"Kami ingin melihatnya lagi!"
"Apa mantra yang diucapkan saat itu, ya?"
Elara berkedip tak mengerti, "Apa yang kalian bicarakan?"
Ia mundur perlahan. Perasaan tidak enak itu semakin kuat.
Akhirnya Elara melarikan diri dari kerumunan itu. Ia berjalan cepat menyusuri koridor akademi.
"Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" gumamnya heran.
Saat itulah seseorang memanggilnya.
"Elara?!"
Elara menoleh.
Leonhart Draven berdiri di ujung koridor.
Pemuda berambut merah itu menyapanya dengan senyum aneh. Bukan senyum mengejek. Lebih seperti senyum seseorang yang baru melihat sesuatu yang sangat lucu.
"Elara~"
Elara langsung berjalan ke arahnya.
"Senior Leonhart. Katakan padaku," tuntut Elara.
Leonhart mengangkat alis. "Apa?"
"Kenapa semua orang melihatku seperti itu hari ini?" tanya Elara akhirnya.
Leonhart menahan tawa.
Elara menyipitkan mata. "Jangan tertawa."
Leonhart akhirnya menghela napas. "Baiklah. Kau benar-benar tidak ingat apa pun?"
Elara menggeleng.
Leonhart menatapnya beberapa detik. Lalu berkata dengan santai, "Kemarin saat kelas rapalan sihir. Kau berubah menjadi anak kecil."
Keheningan jatuh.
Elara berkedip. "Apa?"
Leonhart melanjutkan dengan nada santai. "Tubuhmu menyusut menjadi Elara usia empat tahun karena kesalahan rapalan mantra partner praktikmu. Ah~kemarin kau sangat menggemaskan."
Elara membeku. "Aku jadi anak kecil?"
Leonhart mengangguk. "Selama dua puluh empat jam. Dan percayalah. Kau sangat luar biasa cerewet."
Wajah Elara langsung memerah. "Apa?!"
Leonhart tertawa dan menggoda Elara, "Seluruh akademi melihatnya. Kau menjadi pusat perhatian, La.La~"
Elara menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tidak mungkin ...."
Namun Leonhart masih belum selesai. "Dan suara cadelmu, Lala ini ... Lala itu ..."
"Agh! Cukup." Elara berbalik dan berlari karena malu.
Leonhart tertawa keras di belakang sang gadis.
Beberapa menit kemudian, Elara membuka pintu kelas Vanguard dengan keras.
BRAK!
Seluruh kelas langsung terdiam dan menatap ke arah Elara.
Elara berdiri di depan pintu. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam.
"Jadi ... benarkah kemarin aku berubah menjadi bocah empat tahun?" tuntut Elara.
Tidak ada yang menjawab.
Namun tiba-tiba ...
Suara kecil terdengar dari sudut kelas.
"Dadah, kakak tantik!"
Elara membeku.
Suara itu ... suaranya sendiri. Namun sangat kecil dan cadel.
Ia menoleh perlahan ke sumber suara.
Di tengah kelas sebuah bola kristal sedang diputar.
Dan di dalam bola kristal itu tampak rekaman dirinya dalam versi empat tahun.
Elara kecil sedang menggembungkan pipinya sambil memprotes sesuatu.
"Lala tidak cuka diliatin cepelti itu!"
Seluruh kelas meledak tertawa.
Elara memerah padam. "A-APA ITU?!"
Seorang murid mengangkat bola kristal itu.
"Harta karun Vanguard!"
Seluruh kelas bersorak.
"Elara mini adalah yang terbaik!"
"Kita harus menyimpannya!"
Elara mencabut pedangnya setengah.
"AKU AKAN MENEBAS KALIAN SEMUA!"
Namun para murid sudah siap.
Beberapa orang langsung mengambil bola kristal itu dan berlari keluar kelas.
"LARI!"
"Jangan sampai Elara merebutnya!"
Elara mengamuk. "KEMBALIKAN ITU!"
Ia mengejar mereka keluar kelas.
Koridor akademi langsung berubah kacau.
Murid-murid Vanguard berlari sambil tertawa.
Elara mengejar di belakang mereka dengan wajah merah padam.
"BERHENTI!"
Dua murid yang membawa bola kristal itu berbelok ke gedung divisi lain.
"Elara tidak akan menyusul kita!"
Namun mereka salah.
Elara berlari cepat mengejar mereka.
Sampai ...
DUK!
Elara menabrak seseorang. Ia mundur satu langkah.
Ketika ia mengangkat kepala, Elara melihat wajah yang sangat familiar.
Aaron Oberyn.
Aaron mengangkat alis. "Lala? Kenapa kau berlari-lari seperti badai?"
Elara menunjuk ke arah dua murid yang kabur.
"Aku mengejar mereka! Mereka merekamku saat aku berubah jadi bocah!"
Aaron menahan senyum.
Namun Elara tiba-tiba berhenti bicara. Ia menyipitkan mata. Lalu menatap Aaron tajam.
"Tunggu," ucap Elara tajam.
Aaron merasa firasat buruk.
Elara melangkah mendekat. "Kau tahu tentang itu, kan?"
Aaron langsung memalingkan wajah. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
Elara menunjuknya. "KAU TAHU!"
Aaron berusaha tetap tenang. Namun gagal, tiba-tiba Ia tertawa.
Elara membeku. "Kau tertawa?"
Aaron menatapnya dengan senyum hangat. "Kau memang selalu sama ya. Mau kecil atau besar. Lala tetap Lala."
Wajah Elara langsung memerah. "Apa maksudmu, huh?! Kau ingin bilang aku biang keributan?!"
Aaron tersenyum mengejek. "Nah, itu tahu.”/"
Elara langsung memegang gagang pedangnya. "Kurasa kau ingin merasakan aku mencincangmu."
Aaron mengangkat kedua tangan. "Aku bercanda! Aku bercanda!"
Elara menatapnya kesal.
Aaron mendekat sedikit. Ia mengambil sejumput rambut Elara. Kemudian mencium rambut itu.
"Maksudku, mau saat kau kecil atau besar seperti sekarang..Kau tetap sama-sama menggemaskan," ucap Aaron.
Elara membeku..Wajahnya kembali merah.
Aaron melanjutkan dengan santai. "Rasanya entah kau versi kecil atau besar. Aku ingin mengurungmu hanya untuk diriku saja. Aku tidak rela mereka melihat betapa menggemaskannya dirimu. Baru sebentar mereka melihatmu kemarin. Sekarang mereka sudah jadi fans. Atau mungkin aku harus menyingkirkan mereka."
Elara langsung menendang kaki Aaron. "Berhenti berkata yang aneh-aneh!"
Aaron meringis. Namun ia tertawa kecil.
"Lala tetap Lala," ucap Aaron.
Elara menghela napas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan rasanya.
Namun Aaron tiba-tiba mendekat. Ia membelai pipi Elara dengan cepat.
Elara membeku.
Aaron berkata santai, Kebetulan aku bertemu denganmu. Aku sebenarnya ada urusan denganmu."
Elara mengerutkan dahi.
Aaron melanjutkan, "Luna ingin bertemu denganmu."
Elara berkedip. "Bertemu denganku?"
Aaron mengangguk dan menjawab, "Dia ingin melihat cara kerja sihirmu. Sihir yang tidak ada di era ini. Elara langsung serius. Dia ingin membantu meneliti cara menekan ledakan sihirmu. Jangan khawatir. Keluarga Luna memang ahli penelitian sihir. Mereka yang menciptakan banyak rapalan modern."
Elara berpikir sejenak. Lalu mengangguk, "Baik."
Aaron tersenyum. Kalau begitu datanglah ke ruang Student Council. Luna ada di sana. Aku harus menemui Profesor Calestine dulu untuk memberikan laporan."
Elara mengangguk. "Oke."
Aaron melangkah pergi.
Namun sebelum benar-benar pergi pria itu kembali mendekat. Ia mencium pipi Elara sekali lagi.
"Jangan nakal selama aku tidak ada," Aaron berbisik pelan. "Dan jangan dekat-dekat dengan Edgar."
Elara merengut.
Aaron hanya tersenyum. Ia melambai santai. "Aku akan ke sana setelah laporanku selesai."
Elara hanya mendengus lalu berjalan menuju ke gedung lain, tempat ruangan Student Council berada.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜