NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Setelah hampir dua jam mengelilingi toko bayi, tumpukan tas belanjaan menumpuk di kasir. Baju bayi, perlengkapan mandi, selimut kecil dengan motif hewan lucu, hingga satu set box musik yang bisa menggantung di atas tempat tidur bayi, semuanya dipilih dengan penuh pertimbangan-meski sesekali diselingi debat kecil antara Arya dan Raya.

Arya berdiri di depan kasir, membayar semua barang tanpa sekalipun membiarkan Raya mengeluarkan dompet dari tasnya. Sementara itu, Raya berdiri di sampingnya, sesekali melirik daftar belanjaan mereka yang ternyata jauh lebih banyak dari perkiraan awal.

"Beneran nggak nyesel belanja sebanyak ini?"

tanya Raya setengah khawatir.

Arya meliriknya sekilas, lalu tersenyum.

"Nggak. Bahkan kalau kamu minta satu toko ini, aku masih mikir buat nyari cabangnya."

Raya tertawa pelan, matanya menyiratkan kebahagiaan yang sederhana.

"Kamu tuh bisa banget bikin orang nggak enak nolak."

"Makanya jangan nolak. Biar aku ngerasa berguna dikit." Arya menggoda sambil membawa tas-tas besar itu menuju mobil.

Sesampainya di mobil, Arya membuka pintu untuk Raya terlebih dahulu. Setelah semua barang dimasukkan ke bagasi, mereka pun melaju kembali ke rumah dengan suasana hati yang jauh lebih hangat dibanding saat pergi tadi.

Di tengah perjalanan, lampu-lampu kota mulai

menyala, membias indah di kaca jendela mobil. Raya duduk sambil memegang satu kantong berisi boneka kecil, matanya masih berbinar karena

belanjaan mereka.

"Arya..." katanya pelan.

"Ya?"

"Makasih ya... buat hari ini. Buat semuanya."

ucapnya tulus, tanpa basa-basi.

Arya melirik sejenak sebelum kembali fokus ke jalan.

"Buat perlengkapan bayi? Atau karena aku ganteng?"

Raya mendengus geli. "Serius."

"Aku juga serius," jawab Arya, lalu menambahkan dengan nada lembut, "Itu tugasku, Ra. Menjaga kamu. Menjaga anak kita. Kamu nggak perlu berterima kasih. Tapi kalau kamu senang, itu cukup buat aku."

Raya terdiam sejenak. Kata-kata Arya bukan sekadar manis, tapi juga dalam. Ada ketulusan yang membuat dadanya hangat.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman, sebelum akhirnya Arya kembali membuka percakapan.

"Kamu tahu nggak, ibu hamil itu gampang stres. Jadi... besok kita jalan-jalan yuk. Aku tahu satu tempat bagus, sejuk, tenang. Kamu pasti suka."

Raya menoleh. Wajahnya berubah sedikit ragu.

"Arya... kita itu belum muhrim. Nggak baik kalau pergi berdua ke tempat sepi."

Mendengar itu, Arya justru tersenyum. Ia tidak marah, tidak juga kecewa. Justru ia semakin menghargai Raya.

"Aku tahu, dan aku senang kamu ingatkan itu. Aku nggak akan maksa. Nanti kita ajak Bapak sama Ibu, ya?" jawabnya dengan nada penuh pengertian.

Raya mengangguk pelan, lega karena Arya tidak menanggapi keberatannya dengan emosi.

"Kalau gitu, aku nggak sabar buat besok." ucapnya sambil tersenyum manis.

"Bagus. Soalnya tempatnya memang cocok buat nyari ketenangan. Alamnya masih asri banget."

"Hmm... kira-kira ada es kelapa muda nggak di sana?"

Arya tertawa kecil. "Aku bawa sendiri kalau perlu. Mau satu gerobak juga aku sanggup."

"Nggak usah lebay, Pak."

"Aku bukan lebay. Aku serius. Demi kamu dan anak kita."

Raya tertawa kecil, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Langit malam terasa lebih indah malam itu. Bintang-bintang terlihat jelas, dan entah kenapa, hatinya tidak lagi dihantui oleh perkataan orang-orang yang sempat melukai.

Dia merasa aman.

Dia merasa dimengerti.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa diterima dan disayangi... tanpa syarat.

Sinar matahari sore menembus tirai tipis di kamar ibu pasca bersalin, menciptakan suasana hangat di dalam ruangan. Laras yang terbaring lemah di ranjang, tampak memancarkan aura bahagia saat seorang suster masuk dengan senyum ramah sambil membawa bayi mungil yang baru saja lahir. Bayi itu dibedong rapi, wajahnya kemerahan, dan sesekali mengeluarkan suara lembut, nyaris seperti bisikan napas kehidupan baru.

Suster mendekatkan bayi itu ke pelukan Laras.

"Ini anak ibu, sehat, hanya perlu pengawasan beberapa hari karena berat badannya sedikit di bawah normal. Tapi sejauh ini semuanya baik."

Air mata Laras menetes pelan saat ia menyentuh pipi bayinya dengan penuh kasih. "Akhirnya... Anakku... Anakku akhirnya lahir juga," ucapnya pelan sambil tersenyum lemah.

Tak lama kemudian, Bu Rina dan Lestari masuk ke dalam kamar. Bu Rina langsung mendekat, menepuk bahu Laras dengan lembut.

"Selamat ya, Nak... akhirnya kamu resmi jadi seorang ibu. Anakmu laki-laki, cucu pertama kami. Semoga jadi anak yang saleh dan sehat selalu."

Laras mengangguk lemah. "Terima kasih, Ma..." lirihnya, pelan namun tulus.

Lestari berdiri di dekat pintu, tidak bergerak, hanya menatap Laras dan bayinya dengan pandangan dingin dan sinis. Tatapan yang tidak bisa disembunyikan, seolah keberadaan bayi itu adalah ancaman bagi eksistensinya sendiri. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya diam namun tajam.

Beberapa menit kemudian, suara langkah tergesa menggema di lorong rumah sakit. Pintu kamar terbuka. Daffa masuk. Wajahnya tampak gelap, tegang, dan tidak menunjukkan sedikit pun kebahagiaan atas kelahiran anaknya.

"Hmmm, Daffa, akhirnya datang juga," sapa Bu Rina, berusaha menghangatkan suasana.

Namun Daffa hanya melirik dingin. Tatapannya tertuju pada Laras dan bayi yang digendongnya. Dia tidak tersenyum. Dia tidak berkata 'selamat'. Dia hanya berdiri di tempat dengan kedua tangan disilangkan di depan dada.

Laras merasa ada yang tidak beres. Dengan suara pelan, ia memanggil,

"Mas... sini deh, lihat anak kita. Laki-laki, Mas... kamu harus lihat betapa gantengnya dia. Mirip kamu..."

Tapi Daffa tidak bergerak. Tatapannya menusuk, dingin dan penuh keraguan.

"Bayi siapa itu?" tanyanya datar, namun seperti petir yang menyambar dalam kesunyian.

Laras membeku. Bu Rina memandang Daffa dengan ekspresi tercengang, sementara Lestari, tanpa bisa menyembunyikan ekspresinya, tersenyum tipis seolah sudah menebak ke arah mana arah percakapan itu akan bergulir.

"Apa maksud kamu?" tanya Laras, nyaris tak percaya dengan telinganya sendiri.

"Ini anak kita, Mas. Anak kamu... Anak kita..."

Daffa menggeleng perlahan, ekspresinya penuh kecurigaan.

"Jangan bohong, Laras. Aku sudah bicara dengan dokter. Katanya anak ini lahir cukup bulan. Tapi menurut semua hasil kontrol sebelumnya, kamu baru masuk bulan ketujuh. Berarti, sebelum bersamaku, kamu sudah..."

"Mas!" seru Laras, hampir menjerit. "Kamu menuduh aku seperti itu? Kamu pikir aku selingkuh?"

"Fakta nggak bisa bohong, Laras. Anak ini lahir cukup bulan, tapi kamu baru tujuh bulan hamil sejak kita menikah. Hitung sendiri."

Bu Rina melangkah maju, mencoba menengahi.

"Daffa, kamu dengar dulu penjelasan Laras. Jangan menuduh tanpa bukti!"

"Saya sudah dengar penjelasan dari dokter. Anak ini lahir cukup bulan, berat badan rendah, iya. Tapi tetap saja, tanggalnya nggak masuk akal!"

"Berarti kamu nggak percaya aku?!" tangis Laras pecah. "Kamu pikir aku wanita murahan yang menjual diri sebelum menikah dengan kamu? Sumpah Percaya padaku Mas, anak ini anak kamu, Mas Daffa!"

"Sumpah saja nggak cukup, Laras. Banyak yang bisa bersumpah tapi tetap bohong!"

"Daffa!" Bu Rina mulai meninggikan suara. "Ini istrimu sendiri! Baru saja melahirkan, kamu malah menuduh seperti ini!"

"Saya cuma butuh penjelasan logis, Ma!" jawab Daffa tegas. "Kalau memang benar anak ini anak saya, kenapa semua perhitungannya nggak cocok?"

Laras menangis keras. Tangannya bergetar saat memeluk bayi mungil itu.

"Aku nggak akan jawab apa-apa lagi. Kalau kamu tetap nggak percaya, kamu bisa pergi. Tapi jangan pernah menyakiti hati anak ini karena dia nggak salah apa-apa."

Suasana kamar hening. Bayi Laras merengek pelan, seolah merasakan energi buruk di sekitarnya. Suster masuk, sedikit panik melihat keributan.

"Tolong jangan terlalu tegang, Bu. Ibu Laras butuh istirahat, dan bayinya juga butuh ketenangan," ucap suster itu lembut, namun tegas.

Bu Rina menatap Daffa tajam.

"Kamu pikir baik-baik ya, Daffa. Kamu boleh ragu, tapi jangan sampai kamu menyakiti istrimu yang baru saja bertaruh nyawa melahirkan anakmu."

Lestari tidak berkata apa-apa. Namun senyumnya seolah berkata, "Aku tahu ini akan terjadi." Hatinya puas. Tapi di balik itu, ia lupa bahwa luka yang dibuat pada seorang ibu bisa berdampak seumur hidup.

Daffa tak menjawab. Ia hanya menatap bayi itu sekali lagi, kemudian berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Laras yang menangis dalam pelukan bayinya sendiri.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!