DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Rumah Sakit
Fattah tiba di parkiran rumah sakit terlebih dahulu, setelah melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya dan langsung berlari ke arah depan lobby, menyambut ambulance yang datang.
Tiba di rumah sakit, Aqqela segera turun dari ambulance, sementara Fattah membantu petugas untuk mendorong brankar menuju IGD. Panik dan khawatir terpampang di wajah tampannya. Sekalipun Oliver musuh bebuyutannya, Fattah juga masih memiliki hati untuk ini.
Sementara Aqqela berlari ke bagian resepsionis untuk mendaftar.
Kehadiran mereka semua tentu saja di jadikan pusat perhatian banyak orang. Menatap ngeri Oliver yang sudah bersimbah darah.
"Gimana Oliver, Fat?" tanya Aqqela mendekat.
Fattah menoleh, "Masih di tangani dokter di dalam."
Aqqela menghela napas dan duduk di samping Fattah sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan.
"Gue pulang dulu, ambilin lo baju." Fattah berdiri.
"Nggak usah!" Tahan Aqqela meraih tangannya, "Lo di sini aja!" pintanya membuat Fattah terdiam sebentar dan mengangguk kemudian.
Aqqela menggigit bibir, menatap pintu IGD yang tertutup dengan mata berkaca-kaca.
"Dingin, ya?" tanya Fattah.
Aqqela menoleh, "Dikit. Gue masih bisa tahan, kok."
"Sini!"
Fattah mengambil tangan Aqqela. Gadis itu tertegun saat Fattah menggosok tangannya dengan tangan Fattah sendiri, supaya lebih hangat dan meniup-niupnya beberapa kali.
Fattah merapatkan bibir, dengan pandangan merunduk melihat tangan Aqqela yang dia pegang.
"Maaf!" ucapnya serak membuat Aqqela menatap Fattah sepenuhnya.
"Kenapa?"
"Gara-gara gue...cowok yang lo cinta terluka di dalam," kata Fattah tanpa melihat Aqqela dan masih menunduk.
Aqqela tertegun dan terpaku begitu saja, "Fat, ini bukan-"
"Kalau Oliver nggak lihat gue cium lo, dia nggak akan se-marah itu."
Fattah benar-benar takut Aqqela membencinya setelah ini.
"Gue sama Oliver emang mau ketemu. Gue mau ngaku soal kita. Jadi bukan salah lo."
Fattah mendongak sepenuhnya menatap Aqqela.
Dia tertegun begitu saja.
"A-apa?"
Aqqela merapatkan bibir sebentar, "Udah nggak ada alasan lagi kenapa harus di tutup-tutupi. Sejak awal, gue sengaja nutupi dari Oliver karena gue sayang sama dia. Waktu itu gue masih berharap kalau hubungan gue sama lo nggak akan berlanjut setelah gue mutusin pergi."
Fattah menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
Aqqela menunduk dengan mata berkaca-kaca, "Gue pergi waktu itu, karena gue pilih Oliver."
Aqqela menelan ludah tercekat, "Tapi gue justru terima kejutan besar. Gue jadi tau kalau ternyata selama ini cuma di jadiin taruhan dan alat balas dendam."
Fattah terdiam begitu saja.
Aqqela mengalihkan wajah, di susul air mata yang merembes dari kedua matanya. Lalu memberanikan diri menatap Fattah lagi.
"Tapi setelah kejadian itu, gue nggak berniat datang ke elo lagi. Gue mikir, pergi ke elo, gue juga bakal menderita kayak yang udah-udah."
Aqqela menghapus air matanya sebentar.
"Gue selalu berdo'a sama Tuhan, supaya di beri takdir yang lebih baik. Gue capek karena selalu jadi korban dari penebusan dosa-dosa papa. Tapi lo justru datang sendiri ke gue waktu itu, buat jemput gue pulang."
Aqqela menatap Fattah sambil menarik kedua sudut bibirnya ke bawah dan mulai terisak pelan, membuat Fattah meneguk ludah susah payah.
"Gue nggak tau apapun tujuan lo waktu itu. Entah lo tulus atau emang lo marah karena anak pembunuh ini harus hilang dari lo-"
"Sshh udah-udah!" Fattah menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, membuat tangis Aqqela kian pecah di dada Fattah.
Ceklek!
Pintu terbuka, membuat keduanya menoleh.
Sosok dokter keluar bersama suster membuat Aqqela dan Fattah segera menghampiri.
"Tolong kamu infokan ke PMI kalau stok darah kita sudah habis. Segera!"
"Baik, dok." Suster segera beranjak pergi.
Aqqela mengerjap, "Dok, gimana keadaan teman saya?"
Dokter menghela napas, "Pasien kritis.
Kecelakaan yang dia alami cukup fatal. Pasien kehilangan banyak sekali darah, sementara rumah sakit sedang kehabisan stok darahnya."
Aqqela membulatkan mata, "Golongan darahnya apa, dok?"
"Golongan darahnya O rhesus negative. Mungkin sama dengan golongan darah kamu?"
Aqqela menggeleng pelan, sementara Fattah di sebelahnya merapatkan bibir sok kalem.
"Bagaimana sama kamu?" tanya dokter menunjuk Fattah.
Cowok itu tersentak dan menggeleng cepat, "Saya nggak punya darah," jawabnya cepat membuat Aqqela dan dokter menatapnya bingung, "A-anu, maksud saya, golongan darah saya sama Oliver nggak sama."
"Baik. Kalau begitu saya permisi! Tolong kabari kalau keluarga pasien sudah datang."
Fattah menghembuskan napas lega dan kembali duduk dengan kakinya terasa melemas.
Ya Tuhan, selamat gue!
Aqqela menyenderkan tubuhnya ke tembok sambil menggigit bibir.
Sementara Fattah memainkan jari-jemarinya-gelisah dan gugup sendiri. Apalagi saat dokter suster berlarian keluar masuk IGD dengan wajah panik. Kedua kakinya bahkan bergetar tidak jelas.
"Fat, lo kenapa?" tanya Aqqela.
"H-hah? Oh, nggak papa." Fattah menggeleng cepat.
"Lo sakit, ya?" tanya Aqqela mendekat dan memegang kening cowok itu.
"Enggak, gue nggak sakit."
"Kok muka lo pucat gitu?"
Fattah menggeleng lagi dengan wajah cemas, "Nggak kok."
Aqqela memicingkan mata curiga, melihat ekspresi gugup dan ketakutan dari wajah Fattah.
"Lo bohong sama dokter, ya?" tebak Aqqela membuat Fattah tersentak kaget.
Kok...tau?
KOK TAU?
Fattah meruntuk. Seharusnya dia tidak lupa Aqqela adalah murid grade A yang pintar dan cerdas.
"Astaga!" Aqqela membekap mulutnya syok, "Jadi lo beneran bohong?"
"Ck, Aza..." Fattah mengerang dan menaruh wajahnya di bahu Aqqela-serupa rengekan, "Gue takut sama jarumnya."
Aqqela ternganga melihat kelakuannya.
"Jadi golongan darah lo O rhesus negative?"
"Ssssttt jangan keras-keras! Nanti dokternya denger za," kata Fattah gemas membuat Aqqela mendelik tidak habis pikir.
Fattah meruntuk kecil. Bingung kenapa semua yang ada di dirinya menurun dari gen sang ayah.
Bahkan keduanya sama-sama phobia jarum suntik.
"Apanya yang bikin lo takut? Nggak sakit kok," kata Aqqela.
"Bohong," kata Fattah mendecak kesal.
"Ya udah iya, nggak usah kalau nggak mau."
Aqqela mengalihkan wajah dan melihat dokter yang lewat, "Gimana, dok? Sudah ada?"
"Sudah mbak, tapi kami masih butuh beberapa kantong darah lagi."
Fattah menggaruk pelipisnya, gelisah sendiri. Di lain sisi, dia sangat ketakutan dengan berbagai jenis jarum-entah jarum suntik atau apapun. Tapi di lain sisi, dia merasa kasihan dengan Oliver.
Fat, elo kan jagoan, masa donor darah doang nggak berani?
Fattah menggeleng cepat. Nggak, gue nggak berani.
Dokter dan suster masih berkeliaran di depannya.
"Tolong di tanyakan di beberapa rumah sakit yang terdekat dari sini, apakah mereka ada persediaan kantung darah yang sesuai atau tidak," kata dokter panik.
"Baik, dokter."
Fattah memejamkan mata rapat-rapat dengan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
"Dok!" Fattah berdiri membuat Aqqela menoleh kaget, "Saya siap buat donor darah."
Aqqela membulatkan mata begitu saja.
"Loh, golongan darah kalian sama?" tanya dokter kaget.
"Iya, golongan darah saya O rhesus negative."
"Fat!" Aqqela berdiri menarik tangannya, "Lo gila? Bukannya lo ada phobia jarum?"
"Nggak papa. Daripada Oliver nggak ketolong," kata Fattah membuat Aqqela tertegun.
***
Keduanya berdiri di depan ruangan unit transfusi darah rumah sakit.
"Ayo mas, silahkan masuk!" kata suster mempersilakan.
Fattah menoleh cemas dengan kerlipan berubah, "Temenin..." pintanya pada Aqqela yang terkejut, "Takut darah gue di ambil semua. Nanti kalau gue mati gimana?"
"Suster, ini boleh di temenin?" tanya Aqqela.
"Boleh, mbak."
Aqqela langsung menarik lengan Fattah, "Ya udah, kuy!"
Fattah melirik sinis, "Kayaknya lo seneng banget mau lihat penderitaan gue," sindirnya tajam.
Aqqela tertawa pelan, "Gue masih nggak nyangka, bosgeng garang kayak lo takut jarum-"
"Diem lo!" katanya galak lalu merenggut saat dokter menyuruhnya duduk.
"Kita cek dulu ya darahnya!" kata dokter mulai mengeluarkan jarum Lancet di tangannya.
Fattah membelalak lebar dan mulai panik setengah mati.
"Ayo, tangannya mana!"
Fattah dengan gemetar memajukan tangan kirinya, membuat Aqqela yang paham segera mendekap kepalanya.
"Kalau takut, nggak usah di lihat!" katanya membuat mata Fattah memejam di pelukan Aqqela.
Dokter mulai meraih jari tengah Fattah untuk mengecek, apakah darahnya bisa di donorkan atau tidak.
СТІК!!!
"Aw!" Fattah terlonjak kaget saat jarum Lancet berhasil membuat lubang kecil dari jari tengahnya agar mengeluarkan darah.
"Nggak sakit, kan?" tanya Aqqela.
"Nggak sakit apa? Ini sakit," kata Fattah memprotes kesal membuat Aqqela menahan tawa.
Dokter mulai mengambil sampel darah Fattah dan mulai di cek.
"Ya salah sendiri mau donor darah," bantah Aqqela tak mau kalah.
"Oliver sekarat di sana. Gini-gini gue masih punya hati," balasnya dengan wajah masam.
"HB-nya normal. Kita bisa langsung melakukan transfusi darah sekarang," kata dokter membuat Fattah menarik napas dalam-dalam dan menggandeng tangan Aqqela.
"Lo jangan kemana-mana! Tetep di sini! Di samping gue," kata Fattah tegas membuat Aqqela tergelak.
"Iya-iya. Bawel lo! Sana rebahan!" suruhnya membuat Fattah segera membaringkan tubuhnya di brankar.
"Tenang saja, ini nggak sakit kok," kata dokter tersenyum.
"Saya bukan anak kecil yang bisa di bohongin dok," dumel Fattah, lalu menoleh ke Aqqela, "Gandengan! Takut di apa-apain dokternya," pintanya memelas.
"Jijik Fat," kata Aqqela heran sendiri.
Tapi Aqqela langsung memajukan satu tangannya dan menggenggam tangan kanan Fattah.
Cowok itu memejamkan mata saat jarum sudah akan di tusukkan, membuat Aqqela segera menutup mata Fattah dengan telapak tangannya.
"AAAAAA МАМІНН!"
"Belum," omel Aqqela melotot, "Orang belum di apa-apain kok teriak."
Wajah Fattah langsung murung. Dia menoleh ke Aqqela, "Peluk!"
"Iya-iya, gue peluk." Fattah mati-matian menahan senyum.
Asik juga sekalian modus gini.
Sementara Aqqela membungkuk ke arah Fattah-meraih lembut pipi cowok itu agar tidak melihat jarumnya dan memeluk kepalanya.
"Sakitnya bentaran aja kok. Di tahan, ya!" kata Aqqela membuat Fattah mengangguk pelan.
Fattah meringis kesakitan dengan wajah memucat saat jarum mulai di tusukkan dengan darahnya mulai mengalir ke kantong darah yang sudah di siapkan.
"Eh-eh Fattah, tau nggak?" kata Aqqela tiba-tiba membuka obrolan.
Fattah menatapnya, "Apa?"
"Lucu, deh. Jadi, gue punya temen dari SMA Starlight, namanya Jolina. Waktu itu ada acara donor darah di sekolah gitu. Dia sama kayak lo nih, phobia jarum suntik haha."
Fattah melebarkan mata, "Oh, ya?"
"Iya. Waktu itu anak-anak di kumpulin di aula semuanya. Eh, dia-nya malah sibuk kejar-kejaran sama pak Raji sampai nangis, manjat pohon mangga segala, nggak mau turun-turun, karena dia nggak mau ikutan donor darah," katanya sambil tertawa geli.
"Terus gimana?" tanya Fattah.
"Guru-guru heboh nge-bujuk, biar dia nggak usah ikutan donor darah, yang penting mau turun, soalnya bahaya naik pohon mangga gitu. Bahkan gue dan Oliver sampai ikutan nge-bujuk juga. Eh, dia nangisnya malah makin kenceng banget."
Fattah mengeryit, "Kenapa?"
"Karena dia nggak tau caranya turun ahahahahaha," katanya di akhiri tawa geli, membuat Fattah ikut terkekeh.
"Tapi bisa turun, kan?"
"Bisa. Di bantuin anak-anak cowok. Habis itu dia kapok nggak mau naik pohon mangga sekolah lagi."
"Mbak, mas, ini sudah, ya!" kata dokter membuat keduanya menoleh.
"Eh, udah?" Fattah tersentak kaget.
"Wih, hebat! Bosgeng sekolah nggak takut buat donor darah lagi," ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Fattah membuat cowok itu mendongak samar, "Nah gini dong, Fat. Harus ngelawan rasa ketakutan. Walaupun lo tadi masih takut, tapi elo udah keren banget hehehe," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Fattah tanpa sadar agak merunduk.
Menikmati usapan tangan Aqqela sambil tersenyum samar, merasa ketakutannya seketika menghilang.
Hm, Aqqela Calista.
Setiap bersamanya, Fattah selalu merasa berbeda.
***
Aqqela keluar dari dalam toilet setelah selesai mengganti baju basahnya dengan baju kering-selesai Fattah menyuruh ajudannya membawakan dua pasang baju ganti.
Aqqela segera menghampiri Fattah yang menunggunya di depan. Cowok itu sudah mengganti seragamnya jadi kaos hitam dan celana panjang.
"Kenapa nggak dari tadi aja sih lo suruh ajudan lo bawain baju ganti? Gue udah hampir mati kedinginan dan mereka baru datang," omelnya.
Fattah mendelik, "Kan tadi elo yang nggak mau di ambilin."
"Itu kan elo yang mau pergi, makanya nggak gue bolehin."
"Kenapa? Lo udah sayang gue banget ya, sampai nggak mau gue tinggal?"
"Anjir!" Aqqela segera menjambak rambut pemuda itu dengan sebal.
Fattah mengaduh beberapa saat dan mendecak kesal sambil menatapnya sengit, "Kalau salting nggak usah jambak juga."
"Tadi elo mau pergi pas hujan. Kalau kenapa-napa di jalan gimana? Lo mau apa kayak Oliver? Apalagi lo bawa motor gitu."
Fattah mati-matian mengulum bibir, menahan senyumnya.
"Lo khawatir sama gue?"
"Nggak, dih." Aqqela mendelik sepenuhnya.
Fattah mendecak tak suka, "Bohong."
"Loh, Fattah?"
Fattah tersentak kaget setengah mati dan menoleh. Matanya melebar melihat wanita ber-jas dokter terlihat menghampirinya.
"Tante Ambar?"
"Ya ampun, kamu apa kabar?" Ambar segera memeluknya dan mencium pipi kanan kiri Fattah.
Aqqela mengeryit menatap wanita itu.
"Fattah baik tante."
"Kok lama sih nggak main ke rumah tante?
Sendi bulan depan pulang, loh. Kamu main ke rumah, ya! Dia suka nanyain kamu ke tante."
Fattah menggaruk pelipisnya sesaat dan tersenyum paksa.
"Aku usahain tante."
Ambar tersenyum dan membuang pandang ke Aqqela. Alis wanita itu terangkat sebelah, menatapnya dari ujung rambut sampai kaki dengan lekat.
"Ini...siapa Fattah?" tanya Ambar penuh selidik.
"Eh Za, kenalin ini tante Ambar..." Fattah meraih lengan Aqqela agar mendekat, "Mamanya.. .Sandrina."
Aqqela membulatkan mata begitu saja.
Tubuhnya menegang kaku di tempat dengan wajah pias.
Aqqela berdehem pelan, berusaha menguasai diri dan tersenyum ramah.
"Aqqela tante," sapanya sopan.
Ambar tersenyum singkat dan melihat Fattah, "Bukan...pacar kamu, kan?"
"Dia emang pacar Fattah tante," katanya membuat tatapan Ambar ke Aqqela langsung menajam.
Mendapatkan tatapan begitu, membuat Aqqela mendelik dan segera merapat pada Fattah, agak bersembunyi di bahu cowok itu.
"Oh, pacar..." Tante Ambar mengangguk-angguk, "Kirain tante, Fattah masih sayang sama Sandrina. Padahal tante berharap, Fattah bisa sama Sendi loh," lanjut tante Ambar menyebut nama kakak Sandrina.
"Maaf tante, kayaknya aku harus balik duluan. Permisi! Ayo, Za!" katanya menarik pergelangan tangan Aqqela dan membawa gadis itu pergi. Sadar jika Aqqela tidak nyaman dengan sikap wanita itu.
"Sumpah ya, mukanya kayak tante-tante jahat di FTV Indosiar tau. Ya Tuhan jantung gue," kata Aqqela sudah panik sendiri.
Fattah terkekeh pelan, "Lebay lo."
"Beneran. Lagian kenapa sih, lo tuh malah ngenalin gue sebagai cewek lo? Judes banget anjir mukanya."
"Terus mau gue kenalin jadi apa? Istri gue? Ya udah nanti."
"Ck, serius!" Aqqela memukul lengan Fattah kesal.
Fattah mengulum senyum dan merangkul pundak Aqqela sambil memainkan pipi cewek itu gemas.
"Udah dong, nggak usah takut gitu! Kan ada gue. Tante Ambar nggak akan berani jahat sama lo."
"Dia masih ngarep elo jadi mantunya sampai di jodohin sama anaknya yang lain gitu."
Fattah menahan tawa, "Cemburu, eh?"
"Dih?" Aqqela mendorong sebal muka Fattah dengan telapak tangannya.
Fattah terkekeh pelan, "Tenang, gue maunya cuma sama Aza doang kok."
Aqqela menoleh kaget. Kemudian sok mencibir sambil mengembungkan kedua pipinya yang memerah tanpa bisa di cegah.
"Dih, salting?" goda Fattah.
"Enggak!" Aqqela menutup wajahnya dengan telapak tangan dan memukul Fattah kesal.
"Itu pipinya merah," kata Fattah terkekeh.
"Enggak Fat, apaan, sih?"
***
Mereka masih menunggu di depan IGD-sementara sampai detik ini, dokter belum memberikan keterangan terkait kondisi Oliver di dalam sana.
Sampai mata Aqqela menoleh ke arah sesuatu dan melebar melihat seorang pria ber-jas hitam datang bersama empat ajudannya.
"Om Ravi?" gumamnya pelan.
Raviandra Roberts-ayah dari Oliver Glenn Roberts.
Tatapan datar pria itu langsung jatuh ke Aqqela yang sedang duduk.
"Aqqela, bagaimana keadaan Oliver?" tanya Ravi.
"Masih di dalam om. Dokter belum kasih keterangan apa-apa."
"Gimana bisa dia kecelakaan dan ada di Jakarta Selatan?" tanya Ravi, lalu matanya menangkap Fattah di samping Aqqela.
"Tadi itu, Oliver-"
"Pasti kamu, ya?" tuduh Ravi ke Fattah membuat cowok itu tersentak, "Gara-gara kamu makanya Oliver seperti ini?"
Aqqela menggeleng cepat, "Om, bukan salah Fattah-"
"BRENGSEK!" Kepalan tangan Ravi mendarat keras ke wajah Fattah, membuat cowok itu tersungkur ke lantai dengan sudut bibirnya kini langsung berdarah.
"OM!" Aqqela menjerit histeris dan segera mendekati Fattah, "Om, udah om!" paniknya.
"Aqqela, minggir kamu! Bocah seperti ini harus di beri pelajaran," kata Ravi dengan tajam dan menarik kasar tangan gadis itu.
"Nggak, nggak mau." Aqqela menggeleng dan mati-matian menutupi kepala Fattah dari jangkauan Ravi.
Aqqela merunduk, dengan gemetaran melihat wajah Fattah, "Lo nggak papa, kan?" tanyanya cemas dan tak tega dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak sakit, kan?" tanya Aqqela sambil meraih kedua pipi Fattah dan hati-hati memegang sudut bibir cowok itu yang luka.
Fattah merintih kecil dan menggeleng pelan.
"Aqqela, om bilang awas!"
"UDAH OM, CUKUP!" sentak Aqqela membuat Ravi terdiam, kemudian Aqqela membantu Fattah untuk berdiri.
"Ayo kita pulang!" kata Aqqela membuat Fattah tersentak.
"Aqqela, apa-apaan kamu?" omel Ravi, "Dia saja yang pulang. Kamu harus tetap di sini. Kalau nanti Oliver sadar dan nyari kamu gimana?"
Aqqela menggeleng, "Aku-"
"Udah, lo di sini aja! Gue pulang sendiri," kata Fattah membuat Aqqela menatapnya kaget.
"Fat...?"
"It's okay, gue nggak papa. Duluan!" Fattah mengusap kepala Aqqela sebentar sambil menyentuh sudut bibirnya yang luka dan melangkah pergi, di iringi tatapan dingin Ravi.
Tatapan Aqqela menyayu, menatap punggung cowok itu menjauh dengan raut wajah tak tega.
***
"Gimana bisa Oliver kecelakaan, Qell?" tanya om Ravi.
"Aku nggak tau. Tadi aku mau pulang dan lihat mobil dia udah kecelakaan," kata Aqqela serak dengan mata memerah, "Om!" panggilnya.
"Ya?"
"Om harusnya nggak se-jahat itu sama Fattah. Mau gimana pun, dia yang udah bantu selametin Oliver."
"Bantu? Cih, nggak mungkin. Fattah itu musuhnya Oliver dari lama-"
"Tapi dia yang donor-in darahnya buat Oliver."
Ravi tersentak diam.
"Tadi Oliver butuh banyak kantung darah. Dan Fattah mau sumbangin darah dia buat musuhnya."
Ravi tertegun begitu saja, sementara Aqqela menghapus air matanya.
"Aku pamit pulang dulu, ya! Besok aku ke sini lagi," kata Aqqela sopan, membuat Ravi melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 11 malam.
"Iya, hati-hati, ya!" kata Ravi mengusap kepala Aqqela, kemudian menoleh ke ajudannya, "Antar Aqqela pulang!"
"Baik tuan."
Aqqela berjalan ke arah pintu dan menatap Oliver dari bingkai kaca, dengan tatapan sayu.
Tubuh pemuda itu sudah di penuhi banyak alat medis dengan masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya, sementara kepalanya di tutup perban.
Keadaannya masih kritis. Dia juga mengalami patah tulang di bagian kaki kanannya.
Oliver Glenn Roberts, aku udah ngelakuin semua yang aku bisa. Aku udah sayang kamu semampu aku. Dan sekarang, aku lagi capek.
"Kamu cepat sembuh!" kata Aqqela pelan dengan mata berkaca-kaca, sambil menyentuh bingkai kaca.
"Aku pulang dulu, ya!" pamitnya dan berbalik badan.
Dia berjalan murung di koridor rumah sakit, di ikuti dua ajudan ayah Oliver yang bersiap mengantarnya pulang.
***
Aqqela menekan tombol password unit apartemennya.
Ceklek!
Dia melangkah masuk ke dalam dengan perasaan berkecamuk.
Matanya langsung jatuh ke Fattah yang sedang tertidur di sofa sambil memeluk bantal.
Aqqela bergegas ke kamar, mengambil selimut dan kotak P3K. Menyelimuti cowok itu dan segera berjongkok di sebelahnya, mengobati luka di wajahnya dengan telaten.
Mata Aqqela memerah, menatap cowok itu tidak tega.
"Lo cowok baik. Kenapa dunia selalu jahat sama lo?" tanya Aqqela pelan.
Tangannya mengusap kepala Fattah lembut, lalu menyentuh ngilu sudut bibir Fattah yang selesai di obati.
Fat, gue pulang. Karena di sini adalah tempat yang seharusnya gue tinggali, bukan di sana. Oliver bukan lagi prioritas gue sekarang. Gue nggak mau jahat sama lo terus-terusan.
Aqqela menatap nanar wajah seseorang yang sempat sangat dia benci. Wajah seseorang yang sudah bersumpah pada Tuhannya untuk selalu menjaga dan melindunginya seumur hidup.
Seseorang yang tidak pernah Aqqela harapkan keberadaannya, namun dia yang selalu melindungi.
Aqqela merunduk dan terisak pelan.
Betapa jahatnya dia, karena tidak pernah menghargai keberadaannya.
Gadis itu menghapus air matanya cepat dan segera melangkah pergi menuju ke kamarnya untuk mandi.
***
Aqqela selesai mengganti bajunya menjadi piyama tidur hello kitty. Dia memeluk bantal dan berjalan keluar menuju ruang tengah.
"Kok pulang?" tanya Fattah, membuat Aqqela tersentak.
Mata gadis itu memandang Fattah yang sedang berbaring di sofa sambil merubah posisinya jadi miring dan menahan kepalanya dengan tangan.
"Tadi bukannya lo tidur?"
"Udah bangun. Kok lo nggak di rumah sakit?"
Aqqela merapatkan bibir, "Besok ke sana lagi."
"Oh..." Fattah mengangguk-angguk, lalu menepuk-nepuk pelan tempat di depannya, "Sini duduk!"
Aqqela mengangguk dan memutuskan melangkah ke arah Fattah dan duduk di sofa menatap ke layar TV yang menyala, sementara Fattah berbaring di belakangnya.
"Lo...udah makan?" tanya Aqqela pelan tanpa melihat Fattah, sambil memeluk bantalnya dan menatap TV yang memperlihatkan kartun Spongebob.
"Udah." Fattah mengangguk dengan pandangan tak lepas dari TV, "Kalau lo?"
"Udah juga."
Fattah merapatkan bibir, "Aza!"
"Hm?" Aqqela bergumam pelan.
"Kenapa lo pulang? Bukannya cowok yang lo sayang ada di rumah sakit?" tanyanya serak.
Raut wajah Aqqela langsung berubah. Gadis itu melirik ke belakang sesaat.
"Lo pengen gue di sana?"
"Gue tau lo khawatir sama Oliver. Buat sekarang, gue nggak akan egois dulu," kata Fattah tenang, "Tapi bukan berarti gue bakalan lepas lo buat dia, ya. Gue tetep nggak mau."
Aqqela mengulum bibir, menahan senyum. Sifatnya yang tidak mau mengalah tetap tidak berubah.
"Sini!" Fattah menarik lengan Aqqela, meminta gadis itu untuk tidur di sebelahnya.
Aqqela agak tersentak saat tubuhnya di tarik mendekat, dengan Fattah menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan di belakang leher Aqqela.
"Tidur, udah malam," ucapnya serak sambil memeluk tubuh Aqqela dari belakang, membuat tubuh Aqqela sontak menegang.
Tetapi dekapan hangatnya membuat Aqqela merasa tenang dan ikut mengantuk.
"Besok ikut ke rumah sakit, ya!" pinta Aqqela melirik tangan Fattah yang mendekap perut ratanya.
"Nggak janji. Bokapnya Oliver galak," balas Fattah dengan suara beratnya dan napas hangatnya menerpa leher Aqqela.
Aqqela menyikut perut keras Fattah sebentar, "Nyebelin lo. Ikut, ya?!"
Fattah terkekeh, "Iya-iya," katanya sambil menempelkan pipi kirinya ke pipi Aqqela, sementara mata cowok itu tak lepas dari TV karena posisi dia miring, "Dingin, ya?"
Aqqela meruntuk kecil, "Hmm..." Dia mengangguk pelan, "Fattah!"
"Hmmm?"
"Lo pernah benci gue nggak karena gue anaknya pembunuh pacar lo?"
"Awalnya," balas Fattah.
"Kalau sekarang?"
"Udah enggak. Pengennya jagain lo terus sekarang," balas Fattah.
"Kenapa?" Aqqela tanpa sadar membiarkan jari-jemari Fattah menggenggam tangannya di depan perutnya.
"Nggak tau, ya! Gue terlalu baik mungkin."
Aqqela mencibir pelan, "Boleh tanya satu lagi nggak?"
"Apa?"
"Elo...kangen Odit nggak?"
Fattah mengangkat sebelah alis dan terdiam sebentar.
"Kalau sekarang sih udah nggak."
Aqqela mengatupkan bibir dan sedikit menoleh ke Fattah, "Kalau aja papa gue nggak jahat, pasti kalian masih bahagia dan ketawa bareng sampai sekarang. Cewek yang lo peluk sekarang, mungkin bukan gue tapi Sandrina," katanya pelan.
Fattah menelan ludah tercekat. Entah kenapa merasa tertohok oleh kalimat itu.
"Kok lo ngomong gitu, sih?" tanya Fattah tak suka.
"Faktanya kayak gitu. Kalau Sandrina masih hidup, lo pasti jauh lebih bahagia."
"Tidur!"
"Gue belum selesai ngomong. Pasti lo sempat marah sama takdir, ya? Karena takdir, elo dan Sandrina pisah buat selama-lamanya."
Fattah terkekeh dan mencium pipi cewek itu gemas, membuat Aqqela tersentak kaget.
"Night!" katanya dan memeluknya kian erat, membuat Aqqela mendecak pelan dengan bibir mencuat.
Fattah diam. Menatap gadis yang ada di dekapannya sekarang.
Gue pernah membenci takdir sebelumnya. Karena dia udah ambil cewek yang gue sayang.
Tapi sekarang gue sadar tentang satu hal, karena Sandrina, gue bisa ketemu sama lo.
***