Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Hezlyn tanpa ragu memeluk leher Kay. “Papah akhilnya atang uga! Enapa Papah ndak kembali cama Mamah? Malah cama engan Akek tua ini?”
“Sudah aku duga! Bocah cadel ini memang menyebalkan,” geram Noah yang rupanya perkiraan ia memang tidak melesat.
Kay reflek menangkap tubuh kecil itu agar tidak terjatuh. Ia menatap Hezlyn dengan sorot tanya yang dalam dan tajam, seolah menuntut jawaban.
“Papah?” ulangnya pelan.
Noah segera melangkah maju. “Hai bocah, jangan sembarangan memanggil orang seperti itu. Tidak sopan tahu… aku masih sangat muda dan tadi memanggilku dengan sebutan apa? Kakek? Kau ingin mencari masalah denganku atau bagaimana, Hah?”
“Tapi kau emang milip cekali engan foto Akek di buku yang pelnah Mama pelihatkan padaku!” bantah gadis kecil itu polos. Kay berusaha menahan diri agar tawanya tidak lepas, dengan pertengkaran yang dilakukan Noah dengan Hezlyn.
“Foto? Foto mana yang kau maksud, Hah? Sini tunjukan, biar aku bakar semuanya. Enak saja, memanggilku Kakek!” cecar Noah tak kuasa menahan rasa kesalnya.
Cukup lama terdiam dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Axlyn lantas kembali mendekat dan menggenggam tangan gadis kecil itu, mencoba melepaskan pelukannya dengan lembut. “Nona, tidak baik memanggil orang yang masih muda dengan sebutan Kakek. Seharusnya Nona memanggilnya Kakak atau Paman Noah.”
“Ndak!” gadis itu menggeleng keras. “Mama pelnah enangis liat foto itu… dan bilang, ‘Dia Akekmu, Elyn.’”
Kata-kata itu jatuh seperti palu godam, pukulan telak mengenai relung hati Noah. Dia bahkan belum pernah menikah, punya anak saja belum apalagi memiliki cucu. Inilah salah satu alasan mengapa ia tidak ingin mengikuti Kay ke Negara B, sebab ia tidak ingin bertemu dengan bocah cadel bernama Hezlyn yang sangat menyebalkan baginya.
Setelah dipikirkan Noah merasa ada yang aneh. “Tunggu? Kapan Tante Hera menangis sambil mengatakan aku adalah ayahnya? Atau jangan-jangan bocah cadel itu hanya membuat alasan saja?”
Tatapan sengit seketika Noah lontarkan pada Hezlyn yang membuat gadis itu semakin memeluk erat Kay untuk meminta perlindungan. Kay bangkit perlahan, masih menggendong gadis kecil itu. Tatapannya tak lepas dari Axlyn yang terkesan menghindari tatapan matanya.
Disaat itu juga, Noah mulai menyadari perubahan raut wajah Axlyn. Dan Noah mengira Axlyn terlihat sedih karena selama lebih dari lima tahun hingga detik ini, Kay masih melupakan semua tentangnya. Pikiran Noah tidak sampai kalau Axlyn sedang salah paham dengan menyimpulkan Hezlyn adalah anak kandung Kay.
“Kita perlu bicara,” kata Noah pelan, namun nadanya tak bisa dibantah. “Ikut aku sebentar, kita bicara di sana.”
Axlyn menahan napas. “Jika ada yang perlu dibicarakan. Silakan bicarakan di sini saja, Tuan Noah.”
“Tidak bisa!” balas Noah cepat.
“Kenapa tidak bisa?” Tatapan Kay menajam.
“Apakah aku tidak boleh mendengar apa yang ingin kau bicarakan dengannya?”
Belum sempat Noah menjawab, langkah kaki terdengar dari arah teras. Spencer muncul bersama anak buahnya, ekspresi dingin dan penuh wibawanya seketika berubah ketika melihat sosok Axlyn di antara Kay dan Noah.
“Kau…” Nada bicara Spencer jelas terdengar ia sangat mengenalnya.
“Apa kau juga mengenalnya?” tanya Kay dengan tatapan penuh menyelidik.
“Apa kau sudah lupa, Kay? Kita pernah bertemu dengannya saat di restaurant kecil begitu kau datang ke Negara ini,” jelas Spencer, menutup mulut pada kenyataan yang sebenarnya.
“Ouhya, benar juga! Pantas saja, aku merasa tidak asing dengannya,” ujar Kay baru teringat kembali akan pertemuan itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Spencer yang ditunjukan langsung kepada Axlyn, “Kenapa kau bisa ada di Mansion keluargaku?”
Tanpa peduli dengan situasinya, Hezlyn menoleh ceria. “Akak! Papah Kay udah atang!”
Keheningan berubah menjadi ketegangan yang nyaris kasatmata. Spencer menatap Kay, lalu Axlyn dan Noah seolah menuntut penjelasan. “Papah… Kay?”
“Ouh… biar aku saja yang menjelaskan.” Noah mengambil alih dengan cepat, “tapi kita bicarakan di tempat lain.”
Noah langsung menyeret Spencer ke tempat lain untuk bicara, menyisakan Kay dan Axlyn dalam suasana canggung dan penuh tanya satu sama lain. Noah membawa Spencer ke sebuah gazebo yang berada di tengah taman tersebut.
...****************...
Kini mereka berdua sudah duduk berdampingan di bangku kayu yang mulai lapuk. Angin berdesir pelan, membawa bau tanah basah sehabis hujan dan kegelisahan yang tak kunjung reda.
“Kita tidak bisa terus terang kepada Kay maupun Axlyn,” gumam Noah, suaranya serak. “Kalau mereka sampai tahu… semuanya bakal hancur. Kita tahu sendiri bahwa saat ini Kay sedang mencari keberadaan wanita yang tengah mengandung anaknya di Praha.”
Spencer menatap Noah cukup lama. Mereka sudah berteman memang tidak terlalu lama untuk berbagi rahasia, mimpi, dan kegagalan. Namun rahasia yang satu ini terasa jauh lebih berat dari apa pun yang pernah mereka tanggung.
“Jadi, itu alasan Kay dan kalian semua memaksimalkan pencarian di Praha,” jawab Spencer pelan. “Aku pikir Kay pada akhirnya akan bersama Axlyn, meski sudah lama melupakannya. Siapa sangka masih ada wanita lain yang masih bisa mendapatkannya.”
“Jangan mengalihkan topik pembicaraan. Masalahnya saat ini Axlyn muncul di saat, Kay telah meniduri seorang wanita di Praha dan kemungkinan besar wanita itu sedang mengandung benihnya,” sentak Noah memaksa Spencer untuk serius.
“Hmm, sebaiknya untuk sekarang… biarkan Kay tetap tidak mengingat tentang Axlyn. Dan sebaliknya, biarkan Axlyn tetap mengira bahwa Kay sudah menikah dan Hezlyn adalah putri kandungnya bersama wanita yang dinikahinya itu.”
“Ck, kau tidak sedang berusaha memanfaatkan situasi ini demi kepentinganmu sendiri, bukan? Katakan saja kalau kau takut Kay akan mengingat kembali ingatannya sewaktu di Kota Xennor,” cecar Noah menampilkan kecurigaan kepada Spencer.
“Aku tidak masalah Kay mengingat kembali kejadian saat itu atau tidak. Bukankah masalahnya sekarang Kay harus bertanggung jawab terhadap wanita di Praha itu, jika benar wanita itu tengah mengandung anaknya. Maka kehadiran Axlyn saat ini cukup menjadi masalah, apalagi kalau Kay sampai tiba-tiba mengingat tentangnya,” jelas Spencer.
“Benar juga!” Noah membenarkan. “Baiklah, kalau begitu seperti ini saja… Kita biarkan Axlyn tetap berpikir bahwa Hezlyn adalah anak kandung Kay. Namun, jika suatu saat dia menanyakannya secara langsung, maka kita katakan kebenarannya.”
“Seperti itu juga bagus! Atau perlu aku batalkan kontrak kerjanya?” Spencer menawarkan cara yang lebih mudah.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌