NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:117.3k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagoda Serpihan Surga

Sha Nuo berdiri di sisi kanan goa dengan napas sedikit lebih berat, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena besarnya volume harta yang baru saja ia masukkan ke dalam cincin ruangnya. Ia menatap sekeliling.

Ruangan yang sebelumnya dipenuhi gunungan kekayaan kini terasa lapang. Batangan emas telah lenyap. Peti harta hilang. Kristal dan koin emas yang menumpuk seperti gunung juga tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah batuan goa yang kasar… serta satu benda di ujung ruangan. Sebuah cermin berlapis emas.

Sha Nuo melangkah pelan mendekati Boqin Changing. Pandangannya sempat beralih pada pagoda kecil di tangan pria itu, namun ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri di sampingnya.

“Aku sudah selesai,” ucapnya.

Boqin Changing mengangguk tipis. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju pojok ruangan. Langkahnya tenang, gema kecil sepatu pada lantai batu terdengar jelas di goa yang kini kosong.

Ia berhenti tepat di depan cermin emas itu. Permukaannya masih tampak seperti lembaran air keemasan yang tak bergelombang. Tidak menunjukkan kedalaman. Namun fluktuasi energi ruang yang samar tetap terasa.

Boqin Changing menatapnya beberapa saat. Hanya diam. Seolah menimbang sesuatu yang bahkan tidak diketahui Sha Nuo. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya. Kilau cincin ruang muncul.

Sret!

Cermin besar itu menghilang begitu saja, tersedot ke dalam ruang penyimpanan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Sha Nuo berkedip. Keningnya langsung berkerut. Ia memandang sudut ruangan yang kini kosong, lalu menoleh pada Boqin Changing.

Kebingungan jelas terpancar di wajahnya. Jika cermin itu adalah gerbang menuju dunia lain… lalu mengapa justru dimasukkan ke cincin ruang. Sekarang mereka akan pergi ke mana?

Namun sebelum pertanyaan itu keluar, Sha Nuo melihat sesuatu. Tatapannya jatuh pada artefak kecil yang masih berada di telapak lain Boqin Changing. Sebuah Pagoda.

Aura yang dipancarkannya sangat tipis, hampir seperti benda mati. Namun justru karena itu, Sha Nuo merasa tidak nyaman. Instingnya mengatakan bahwa artefak yang tampak sederhana itu… jauh dari sederhana.

Sha Nuo membuka mulut. Lalu menutupnya kembali. Ia tahu Boqin Changing. Jika pria itu belum menjelaskan, berarti waktunya belum tiba.

Benar saja, Boqin Changing tiba-tiba berbicara.

“Paman melihatnya, bukan?”

Sha Nuo tidak menyangkal. Ia mengangguk. Boqin Changing mengangkat pagoda kecil itu sedikit lebih tinggi, membiarkan cahaya api kecil di telapak tangannya menyinari detail ukiran pada permukaannya.

“Aku menamainya… Pagoda Serpihan Surga.”

Sha Nuo mengulang dalam hati nama itu. Namun nama tersebut tidak memicu ingatan apa pun. Tidak ada legenda. Tidak ada cerita kuno. Tidak ada manuskrip yang pernah ia baca yang menyebutkannya.

Boqin Changing seolah mengetahui apa yang dipikirkan Sha Nuo.

“Tidak ada catatan sejarah tentangnya,” lanjutnya tenang. “Tidak ada kitab kuno yang menyebutnya. Bahkan dalam kehidupanku sekarang… benda ini masih misteri.”

Ia menatap pagoda itu. Tatapannya dalam.

“Pagoda Serpihan Surga juga alam lain.”

Sha Nuo langsung menegang.

“Bukan alam seperti dunia yang kita kenal. Ini adalah patahan ruang dan waktu. Sepotong kecil realitas… yang entah bagaimana terlepas dari asalnya dan terjebak di dunia manusia.”

Suasana goa yang hening membuat setiap kata terdengar sangat jelas. Sha Nuo merasakan bulu kuduknya meremang. Boqin Changing melanjutkan,

“Di dalamnya terdapat langit. Tanah. Energi langit dan bumi. Segalanya nyata. Namun ruang itu tertutup. Terisolasi dari dunia luar.”

Ia berhenti sebentar, lalu berkata perlahan,

“Pagoda ini dapat menjadi tempat pelatihan tertutup.”

Sha Nuo masih mendengarkan, tetapi ekspresinya belum berubah banyak. Sampai Boqin Changing mengucapkan kalimat berikutnya.

“Satu tahun di dalam pagoda… hanya setara dengan satu hari di luar.”

Sha Nuo membeku. Matanya melebar. Untuk pertama kalinya sejak memasuki goa ini, ia benar-benar kehilangan kendali ekspresi.

“Itu… mustahil.”

Bisiknya keluar tanpa sadar. Perbedaan waktu sebesar itu melanggar hukum alam. Bahkan ahli formasi tertinggi pun hanya mampu memperlambat atau mempercepat waktu dalam skala sangat kecil.

Satu tahun berbanding satu hari? Itu bukan sekadar teknik tingkat tinggi. Itu… pelanggaran realitas.

Boqin Changing tersenyum tipis.

“Benar. Mustahil.”

Ia menggenggam pagoda itu.

“Namun benda ini ada.”

Sha Nuo menatap artefak kecil itu seperti melihat makhluk hidup baru. Di seluruh dunia persilatan, tidak ada artefak lain yang mampu menandingi kemampuan seperti ini.

Boqin Changing menurunkan tangannya.

“Aku berniat melakukan pelatihan tertutup terlebih dahulu di dalamnya sebelum kita memasuki dunia di balik cermin.”

Sha Nuo langsung memahami maksudnya. Persiapan. Penguatan. Menutup celah risiko sebelum melangkah ke alam yang tidak dikenal.

Boqin Changing menoleh padanya.

“Kau juga ikut, Paman.”

Tidak ada nada bertanya. Hanya pernyataan. Namun kali ini, Sha Nuo tidak merasa diperintah. Ia justru merasakan sesuatu yang lain, gairah.

Ia tersenyum.

“Satu tahun pelatihan dalam satu hari… siapa yang akan menolak kesempatan seperti itu?”

Boqin Changing tidak menjawab. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Keheningan kembali menyelimuti goa yang kini kosong.

Aura emas samar dari artefak yang telah menghilang masih terasa seperti bayangan yang belum sepenuhnya lenyap. Hanya dua sosok yang tersisa di ruangan itu, Boqin Changing dan Sha Nuo.

Boqin Changing memutar pagoda kecil di jemarinya dengan gerakan santai, seolah benda yang mampu memutar hukum waktu itu hanyalah mainan biasa. Lalu, tanpa menoleh, ia berbicara.

“Paman.”

Sha Nuo mengangkat kepala. Boqin Changing melirik ke arahnya, tatapannya tajam namun tidak menekan.

“Kau sudah lama, bukan… terjebak di ranah pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit?”

Kata-kata itu sederhana. Namun bagi Sha Nuo, kalimat tersebut terasa seperti anak panah yang menembus pertahanan batinnya.

Ia tidak langsung menjawab. Tidak menyangkal. Karena itu adalah fakta.

Boqin Changing melanjutkan dengan nada datarnya yang khas.

“Mungkin,” katanya pelan. “Aku bilang mungkin… mungkin aku bisa membantumu meraih ranah itu.”

Waktu seakan berhenti. Sha Nuo membeku. Benar-benar nampak membeku. Tatapannya kosong beberapa saat sebelum perlahan kembali fokus pada sosok di depannya. Ia menatap Boqin Changing seolah ingin memastikan bahwa kalimat tadi benar-benar diucapkan.

Ranah pendekar langit. Batas yang selama ini gagal ia sentuh. Batas yang selalu terasa begitu dekat… namun tidak pernah dapat ia gapai.

Dada Sha Nuo naik turun perlahan. Ia tidak menyangka. Tidak pernah.

Dalam hidupnya yang panjang, ia telah menerima banyak tawaran, aliansi, kekuasaan, harta, bahkan posisi penting di berbagai kelompok. Namun tidak ada satu pun yang mampu menggoyahkan hatinya seperti kalimat barusan.

Karena tawaran itu bukan kekuasaan. Bukan kekayaan. Melainkan jalan menuju puncak kultivasi. Sesuatu yang selama ini ia cari sendirian.

Sha Nuo menundukkan kepala sedikit. Kenangan masa lalu melintas di benaknya seperti bayangan yang berkelebat cepat. Ia tidak memiliki guru selain ayahnya yang telah dilampauinya.

Tidak ada senior yang membimbingnya menapaki jalan kultivasi. Tidak ada kelompok yang menaunginya.

Segala teknik yang ia kuasai adalah hasil coba-coba. Segala terobosan yang ia capai adalah buah dari luka, kegagalan, dan eksperimen berbahaya yang hampir merenggut nyawanya berkali-kali.

Ia berjalan sendiri. Selalu sendiri. Dan ketika akhirnya ia mencapai ranah pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit… langkahnya berhenti.

Buntu. Seolah ada dinding tak terlihat yang menghalangi jalannya.

Ia mencoba berbagai metode. Meditasi panjang. Teknik rahasia yang diperjualbelikan di pasar gelap. Bahkan mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran demi memicu pencerahan. Namun tidak ada yang berhasil.

Waktu terus berlalu. Hingga akhirnya… ia disegel. Terperangkap dalam kegelapan tanpa kesadaran, sebelum dunia kembali membangunkannya di era yang berbeda.

Sha Nuo mengangkat kepala. Matanya kini tidak lagi kosong. Namun juga tidak sepenuhnya percaya.

“Tuan Muda…” gumamnya pelan, suaranya serak tanpa ia sadari. “Kau tahu apa yang kau katakan?”

Boqin Changing menatapnya tenang.

“Aku tahu.”

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada pembuktian. Hanya dua kata. Namun justru itulah yang membuat Sha Nuo terdiam.

Karena tatapan Boqin Changing tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Bukan tatapan seseorang yang sedang membual. Melainkan seseorang yang telah melihat puncak… dan memilih kembali turun.

Sha Nuo menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah ruang kosong tempat gunungan harta sebelumnya berada. Semua kekayaan itu kini terasa tidak berarti.

Ranah pendekar langit. Setengah langkah. Hanya setengah langkah. Namun jarak itu terasa lebih jauh daripada langit dan bumi.

“Kau tahu,” kata Sha Nuo perlahan, “aku pernah berpikir… mungkin bakatku memang berhenti di sini.”

Ia tersenyum tipis, namun senyum itu getir.

“Tidak ada yang membimbingku. Tidak ada yang menjelaskan di mana letak kesalahanku. Aku hanya berjalan… sampai kakiku tidak bisa melangkah lagi.”

Keheningan menggantung. Boqin Changing tidak menyela.

Sha Nuo menatapnya kembali.

“Dan sekarang,” lanjutnya, “kau… mengatakan bisa membantuku menembus ranah itu.”

Sudut bibirnya bergerak. Bukan mengejek. Melainkan takjub.

Boqin Changing mengangkat pagoda kecil di tangannya sedikit.

“Kau tidak buntu, Paman,” katanya tenang. “Kau hanya berjalan di jalan yang tidak lengkap.”

Sha Nuo menegang halus.

“Pagoda ini memberi kita waktu,” lanjut Boqin Changing. “Dan aku… memberi arah.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada sombong. Namun keyakinannya terasa absolut. Sha Nuo menatap pagoda itu lama. Satu tahun di dalam. Satu hari di luar.

Jika itu benar… Jika benar ia mendapat bimbingan… Jika benar jalannya dapat diluruskan… Dada Sha Nuo bergetar halus. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sesuatu yang hampir ia lupakan muncul kembali di dalam dirinya, Harapan.

Ia tertawa pelan. Bukan tawa keras. Namun tawa seseorang yang baru saja menemukan jalan di tengah kabut.

“Baiklah,” katanya akhirnya, menatap Boqin Changing lurus. “Jika kau gagal… mungkin aku hanya kehilangan beberapa hari saja.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi jika kau berhasil…”

Tatapannya berubah tajam.

“Maka aku akan berutang kembali, sesuatu yang bahkan nyawaku pun mungkin tidak cukup untuk membayarnya.”

Boqin Changing tersenyum tipis.

“Itu bukan urusan sekarang.”

Ia menutup telapak tangannya.

Pagoda Serpihan Surga berkilau lembut.

“Ayo masuk.”

1
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
Eko
selamat paman Nuo sudah jadi pendekar langit 👍👍😄😄😄
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍 semangat Thor 💪💪
andi widya
oke lanjutkan
hanim ahmad
katanya sudah berada di ranah bumi puncak,swlangkah ke ranah lpendakar lagi,loh kok Masih naiki ranah bumi puncak...gimana thor?
Pandeka Garang: iya pernah di beberapa chapter sebelumnya bahwa boqin changing sudah di pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit
total 1 replies
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!