Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Belajar di Ambang Maut(fix)
Lorong sempit itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari atap tua.
Pria raksasa itu, yang dikenal sebagai Hu Besar, merasakan urat di pelipisnya berdenyut marah.
Baginya, kata-kata Fang Yuan bukan sekadar ejekan, melainkan penghinaan terhadap eksistensinya sebagai penguasa jalanan.
"Kau ingin pukulan lembut?" Hu Besar menyeringai, menunjukkan barisan giginya yang kuning. "Akan kuberikan pukulan yang begitu lembut sampai kau tidak akan bangun lagi untuk merasakannya! Hajar dia!"
Tiga anak buahnya menerjang sekaligus.
Namun, Fang Yuan melakukan sesuatu yang di luar nalar.
Di tengah kepungan itu, ia merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan buku kumal "Tinju Penghancur Batu" yang baru saja ia beli. Dengan tenang, ia membukanya tepat di halaman pertama.
"Satu detik ... biarkan aku membaca paragraf pembuka." gumam Fang Yuan.
"Mati kau, gila!" Salah satu anak buah Hu Besar melayangkan tendangan ke arah lambung Fang Yuan.
SRET!
Tanpa mengalihkan mata dari halaman buku, Fang Yuan menggeser kakinya hanya beberapa sentimeter.
Tendangan itu hanya mengenai udara kosong. Mata Fang Yuan bergerak cepat menyapu tulisan di buku tersebut: 'Qi mengalir dari Dantian, melewati meridian lengan, dan bergetar di ujung buku jari ...'
"Oh, begitu caranya." bisik Fang Yuan.
Anak buah kedua melayangkan pukulan beruntun.
Fang Yuan bergerak seperti bayangan, meliuk-liuk di antara kepalan tangan mereka dengan presisi yang menakutkan. Setiap gerakan mereka di matanya tampak seperti gerak lambat.
"Halaman dua ... 'Gunakan berat tubuh untuk menambah momentum, ledakkan energi dalam satu titik.'" Fang Yuan menutup bukunya dengan suara 'TAK' yang tajam.
Ia menoleh ke arah anak buah pertama yang kembali menyerang. Kali ini, Fang Yuan tidak menghindar.
Ia memusatkan Qi dari pusarannya, mengalirkannya ke lengan kanan yang terasa memanas.
"Percobaan pertama," ucap Fang Yuan dingin.
BUGH!
Tinju Fang Yuan bertemu dengan dada pria itu. Bukan pukulan biasa, melainkan ada getaran aneh yang merambat saat tinju itu mendarat.
Terdengar suara 'KREK' yang mengerikan—tulang rusuk pria itu retak seketika. Tubuhnya terpental tiga meter, menghantam tumpukan tong kayu hingga hancur.
"Argh ... dadaku ..." Pria itu pingsan dengan mulut berbusa.
Dua anak buah lainnya gemetar. Hu Besar melotot. "Kenapa kalian diam?! Gunakan senjata!"
Mereka mencabut belati karatan dan menyerang dengan membabi buta.
Fang Yuan merasa adrenalinnya terpompa, namun pikirannya tetap sedingin es. Ia mengingat ilustrasi di buku tadi—posisi kaki, sudut serangan.
Ia menghindar ke samping, menangkap pergelangan tangan salah satu penyerang, lalu menggunakan teknik 'Penghancur Batu' tepat di sendi siku pria tersebut.
KRAK!
"AAAAAAGH!"
Lengan itu tertekuk ke arah yang salah. Fang Yuan tidak berhenti.
Ia menendang lutut penyerang lainnya hingga ia jatuh tersungkur, lalu memberikan satu pukulan penghancur di tengkuknya.
Sunyi kembali turun. Dua menit. Tiga orang tumbang.
Hu Besar kini berdiri sendirian. Ia menyadari bahwa pemuda di depannya bukan hanya orang gila, tapi seorang Kultivator yang sedang menjadikannya kelinci percobaan.
"Kau ... kau menggunakan kami untuk melatih teknikmu?!" Hu Besar meraung ketakutan yang dibalut amarah. Ia menghantamkan tinjunya sendiri ke telapak tangannya, mencoba memanggil keberaniannya. "Aku akan membunuhmu!"
Hu Besar menerjang dengan seluruh berat tubuhnya, tinjunya yang sebesar kepala manusia meluncur ke arah wajah Fang Yuan.
Fang Yuan menatap tinju itu. Ia merasakan Qi di Dantiannya bergejolak hebat. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah yang dijelaskan di halaman terakhir buku tersebut.
"Penghancur Batu: Getaran Puncak."
Fang Yuan melepaskan pukulannya. Tinju kecilnya bertemu dengan tinju raksasa Hu Besar di udara.
BOOM!
Gelombang udara tipis terpental dari titik benturan.
Hu Besar membeku. Matanya melotot saat ia merasakan Qi liar Fang Yuan merayap masuk ke tulang tangannya, bergetar dengan frekuensi yang menghancurkan.
KRAK! KRAK! KRAK!
Tulang dari jari hingga bahu Hu Besar pecah berkeping-keping di dalam dagingnya. Raksasa itu tumbang ke tanah, melolong kesakitan yang tak tertahankan.
Fang Yuan berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Ia menatap tangannya yang sedikit memerah. "Teknik ini ... lumayan. Tapi aku butuh seribu kali latihan lagi agar bisa menguasainya secara sempurna."
Ia berjalan mendekati tubuh Hu Besar yang mengerang lemas.
Dengan tatapan dingin, Fang Yuan merogoh saku dan kantong pinggang pria raksasa itu, lalu melakukan hal yang sama pada tiga anak buahnya yang pingsan.
Satu per satu, koin-koin logam berjatuhan ke telapak tangan Fang Yuan. Ia menghitungnya dengan teliti.
"Sepuluh ... lima belas ... dua puluh."
Dua puluh koin perak.
Fang Yuan menyimpan koin-koin itu ke dalam kantong kainnya. Sebuah harta karun kecil bagi seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
"Terima kasih atas 'pukulan lembutnya', Tuan-tuan." Fang Yuan membungkuk sedikit dengan seringai anehnya yang khas, lalu melangkah pergi meninggalkan lorong berdarah itu.
Dua puluh koin perak di kantongnya, sebuah teknik baru di kepalanya, dan jalanan Kota Awan Putih yang luas membentang di depannya.
Fang Yuan tahu, untuk mendaki langit, ia membutuhkan jutaan koin lagi—dan ia tidak keberatan mencarinya dengan cara yang sama.
Fang Yuan kini memiliki modal untuk menginap di tempat yang lebih baik atau membeli pil tambahan.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.