NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pijakan Pertama di Benua Tengah

Kaki Zian akhirnya menyentuh tanah merah Benua Tengah.

​Seketika, beban tak kasat mata seberat puluhan batu gilingan menghantam pundaknya. Gravitasi di tempat ini benar-benar tidak masuk akal. Tekanannya nyaris sepuluh kali lipat lebih berat dari benua kecil kampung halamannya.

​Di belakang Zian, suara muntahan dan erangan kesakitan terdengar bersahut-sahutan.

​"Aaaargh! Organ dalamku rasanya mau pecah!" jerit Pangeran Feng.

​Pemuda sombong itu langsung jatuh merangkak di atas pecahan geladak kapal. Wajahnya pucat. Hidungnya mengucurkan darah segar. Jangankan untuk berdiri, bernapas saja dia harus mengerahkan seluruh sisa energi sihir apinya.

​Bukan hanya Pangeran Feng, puluhan jenius lain dari benua kecil juga mengalami hal yang sama. Mereka bergelimpangan di tanah seperti ikan yang kehabisan air. Kesombongan mereka sebagai kultivator elit lenyap seketika dihantam kerasnya hukum alam Benua Tengah.

​Hanya tiga orang yang masih berdiri tegak di sisa bangkai kapal itu. Bai Chen sang utusan, Jian si pendekar pedang gila, dan Zian.

​Bai Chen membuka kipasnya dengan santai. "Selamat datang di pinggiran Benua Tengah, anak-anak manis. Gravitasi di sini memang sedikit kasar untuk ukuran benua buangan."

​Jian meludah ke tanah berbatu. Matanya menatap para jenius yang merangkak dengan tatapan sangat jijik. "Kumpulan sampah. Belum mulai bertarung saja sudah mau mati."

​Tatapan Jian lalu beralih tajam ke arah punggung Zian. Matanya memicing tertarik.

​Zian sama sekali tidak menggunakan energi sihir untuk menahan gravitasi yang meremukkan itu, karena dia memang tidak memilikinya. Namun, postur tubuhnya tetap tegak lurus bak tombak baja.

​Beban gravitasi raksasa ini justru membuat Tulang Asuranya bersorak kegirangan. Zian bisa merasakan otot-otot pahanya memadat cepat, menyerap tekanan liar alam tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.

​"Hei, Tikus Tanpa Aura!" teriak pemimpin bandit berbadan raksasa dari depan sana.

​Pria penuh codet itu memutar kapak besarnya dengan gaya mengancam.

​"Kau tuli atau bodoh? Cepat berlutut dan serahkan semua barang berhargamu! Kalau kau berani melawan, aku akan membelah kepalamu jadi dua dan merampas semua perempuan di kapalmu!"

​Ratusan bandit di belakangnya tertawa terbahak-bahak. Mereka memandang Zian layaknya sepotong daging segar yang tidak berdaya.

​Zian memutar lehernya pelan. Bunyi tulang berderit nyaring terdengar jelas di tengah keheningan ngarai tandus itu.

​"Berlutut?" Zian tersenyum dingin.

​Dia mengambil satu langkah maju. Tanah berbatu merah di bawah sepatunya langsung retak dan amblas sedalam mata kaki akibat bobot tubuhnya yang berlipat ganda.

​"Kenapa kau tidak ke sini dan memaksaku berlutut sendiri, Babi Gemuk?" tantang Zian santai.

​Wajah pemimpin bandit itu langsung memerah karena murka. Harga dirinya sebagai penguasa dataran tandus diremehkan mentah-mentah oleh pemuda kurus berbaju compang-camping.

​"Bocah keparat cari mati! Habisi dia! Cincang dagingnya untuk makanan anjing liar!" raung pemimpin bandit itu.

​Mendengar perintah tersebut, sekitar dua puluh bandit tingkat Jenderal langsung melesat maju. Mereka membawa pedang, tombak, dan rantai besi berlumuran racun. Aura pembunuh mereka menyatu, menciptakan tekanan udara yang cukup mencekik.

​"Mati kau, Sampah!" teriak bandit terdepan sambil menebaskan pedang besarnya ke arah leher Zian.

​Zian bahkan tidak berkedip. Dia tidak mundur selangkah pun.

​Saat mata pedang itu tinggal beberapa inci dari kulit lehernya, tangan kiri Zian melesat secepat kilat. Dia menangkap bilah pedang baja itu murni dengan telapak tangan kosong.

​Trang!

​Langkah bandit itu terhenti mendadak. Matanya melotot lebar. Dia berusaha menarik pedangnya dengan seluruh tenaga energi kultivasinya, tapi senjata itu tertahan kokoh seperti terjepit di antara dua gunung es.

​"Senjatamu ringan sekali," ejek Zian pelan. "Kau ini mau bertarung atau mau menari?"

​Zian meremas telapak tangannya tanpa ampun.

​Krak! Prang!

​Pedang baja pusaka itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan besi. Sebelum bandit itu sempat menjerit kaget, Zian sudah melayangkan tinju kanannya lurus ke depan.

​Bugh!

​Tinju Zian menghantam telak dada bandit tersebut. Suara tulang rusuk yang hancur terdengar sangat mengerikan. Tubuh bandit itu melesat mundur dengan kecepatan peluru, menabrak sepuluh temannya yang sedang berlari di belakangnya.

​Brak! Brak! Brak!

​Gelombang efek domino terjadi. Sebelas bandit tingkat Jenderal itu langsung terkapar di tanah, memuntahkan darah segar dan pingsan seketika. Pertahanan mereka runtuh hanya oleh satu pukulan fisik murni.

​Sisa bandit yang sedang merangsek maju langsung mengerem langkah mereka secara paksa. Mulut mereka ternganga. Keringat dingin mulai membasahi punggung dan dahi mereka.

​"Monster macam apa dia?!" teriak salah satu bandit dengan suara gemetar.

​"Dia tidak punya aura kultivasi! Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu di bawah gravitasi kita?!" timpal bandit lainnya panik.

​Zian tidak memberi mereka waktu untuk berpikir panjang. Niat membunuhnya sudah terlanjur mendidih.

​"Giliran tanganku yang gatal," gumam Zian.

​Bum!

​Tanah di bawah kaki Zian meledak. Pemuda itu melesat maju bagai bayangan maut. Dia menerobos masuk ke tengah kerumunan puluhan bandit itu sendirian.

​Pukulan, tendangan, sikuan, dan hantaman lutut. Zian bergerak layaknya mesin pembantai tanpa belas kasihan. Setiap kali anggota tubuhnya bersentuhan dengan musuh, selalu terdengar dentuman udara kosong, bunyi tulang patah, dan jeritan kesakitan.

​Seorang bandit mencoba menusuk punggung Zian dengan tombak api sihir dari titik buta. Zian hanya memutar tubuhnya sedikit, membiarkan mata tombak itu menghantam keras bahunya.

​Trang!

​Alih-alih menembus daging, bilah tombak itu justru bengkok seketika. Zian langsung mencengkeram leher bandit itu dengan satu tangan dan membantingnya ke tanah berbatu hingga kawah retakan terbentuk.

​"Aaaargh! Kakiku patah!"

​"Tolong! Lepaskan aku, Iblis!"

​"Lari! Dia bukan manusia sungguhan!"

​Jeritan pilu bergema di seluruh penjuru ngarai tandus itu. Dalam waktu kurang dari dua menit, lebih dari lima puluh bandit elit tergeletak tak berdaya di atas tanah yang kini berubah menjadi merah pekat.

​Zian berdiri tegak di tengah tumpukan tubuh mereka. Napasnya masih teratur dan tenang. Uap panas tipis mengepul perlahan dari kulitnya. Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan, matanya justru menyala semakin buas.

​Di atas sisa bangkai Kapal Penembus Awan, Pangeran Feng dan para jenius lainnya sampai melupakan rasa sakit gravitasi mereka. Mereka menatap Zian dengan rasa ngeri yang sangat luar biasa. Pemuda yang mereka hina dan remehkan selama perjalanan ternyata adalah malaikat maut yang sesungguhnya.

​"Dia... dia benar-benar monster," gumam Pangeran Feng dengan bibir bergetar pucat pasi.

​Pemimpin bandit raksasa itu mundur selangkah tanpa sadar. Tangannya yang memegang gagang kapak mulai berkeringat dingin. Separuh pasukannya dibantai tanpa sisa oleh satu bocah tanpa menggunakan sedikit pun energi sihir.

​"Kau... kau pasti menggunakan sihir ilusi, kan?!" teriak pemimpin bandit itu mencoba menutupi rasa takutnya yang meledak. "Jangan sombong, Bocah! Aku adalah petarung tingkat Raja Awal! Kulitku sekeras besi abadi!"

​Pemimpin itu memusatkan seluruh energi sihir elemen tanah ke sekujur tubuhnya. Kulitnya perlahan berubah warna menjadi abu-abu gelap, memancarkan kilau logam pelindung yang sangat kuat.

​Dia melompat setinggi belasan meter ke udara, mengayunkan kapak raksasanya dengan kekuatan penuh langsung ke arah dahi Zian.

​"Mati kau, Tikus Cacat! Belahan Kapak Gunung Besi!" raung pria raksasa itu.

​Tekanan angin dari tebasan kapak tersebut membuat debu merah beterbangan ke segala arah. Serangan mematikan ini cukup kuat untuk membelah bukit kecil menjadi dua bagian.

​Zian mendongak menatap kapak yang meluncur turun. Dia menyeringai iblis.

​"Besi abadi?" bisik Zian pelan dan sangat meremehkan.

​Alih-alih menghindar menyamping, Zian justru membusungkan dadanya dan memusatkan tenaga ke lengan kanannya. Dia melayangkan tinju lurus ke atas, menyambut mata kapak raksasa tingkat Raja itu hanya dengan kepalan tangan kosong.

​Bummmm!

​Benturan keras bergema memekakkan telinga. Gelombang kejut menyapu bersih sisa-sisa awan debu di sekitar mereka.

​Pemimpin bandit itu membelalakkan matanya ngeri maksimal. Kapak pusaka kebanggaannya tertahan telak di udara oleh tinju Zian. Tidak ada satu pun goresan yang tercipta di kulit pemuda berbaju hitam tersebut.

​"Ternyata besimu cuma rongsokan murah," ucap Zian sedingin es.

​Tanpa menarik tangannya, Zian memutar pinggangnya dan langsung melepaskan pukulan sonik kedua dengan tangan kirinya lurus ke arah perut pemimpin bandit itu.

​Bugh!

​Pukulan itu menghantam telak. Pertahanan sihir tanah yang sangat dibanggakan oleh pemimpin bandit itu retak dan hancur berkeping-keping seperti porselen murahan.

​"Urrrgh!" Pemimpin bandit itu memuntahkan banyak darah segar.

​Matanya hampir melompat keluar. Organ dalamnya terasa hancur lebur dihantam palu gunung. Tubuh raksasa itu terlempar ganas ke belakang, terbang sejauh puluhan meter, lalu menabrak tebing ngarai dengan sangat keras.

​Brak!

​Tebing batu merah itu runtuh perlahan, mengubur pemimpin bandit tersebut hidup-hidup di bawah tumpukan bebatuan tebal.

​Sisa bandit yang masih hidup dan berdiri di pinggiran langsung membuang senjata tajam mereka. Mereka berlutut serentak dan bersujud ke tanah sambil menangis memohon ampun.

​"Ampun, Tuan! Kami salah orang!"

​"Biarkan kami hidup! Kami hanya mengikuti perintah babi gemuk itu! Kami tidak tahu apa-apa!"

​Zian sama sekali tidak mempedulikan mereka. Dia mengibaskan sisa debu dari tangannya. Latihan peregangan ototnya sudah cukup membuat Tulang Asuranya beradaptasi nyaman dengan tarikan gravitasi Benua Tengah.

​Pemuda itu membalikkan badan, bersiap berjalan kembali ke arah Bai Chen untuk menanyakan arah jalan menuju kota terdekat.

​Namun, baru saja Zian melangkah satu pijakan, langkahnya tiba-tiba membeku.

​Bulu kuduk di tengkuknya mendadak berdiri tegak. Tulang Asuranya bergetar hebat tak terkendali, membunyikan alarm bahaya tertinggi yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

​Bukan hanya Zian, Bai Chen dan Jian pun seketika memasang wajah sangat tegang. Mereka bertiga refleks menatap lurus ke arah ujung ngarai tandus yang perlahan menggelap.

​Suhu udara di sekitar mereka anjlok drastis ke titik beku. Langit daratan yang tadinya cerah mendadak tertutup oleh awan kelabu yang sangat pekat. Suara langkah kaki yang sangat lambat namun berat terdengar bergema.

​Tap... Tap... Tap...

​Setiap kali langkah misterius itu menyentuh tanah, gravitasi di seluruh ngarai bertambah mematikan. Para jenius di kapal langsung muntah darah dan jatuh pingsan di tempat. Puluhan bandit yang sedang bersujud di tanah langsung tewas seketika karena pembuluh darah mereka meledak tak sanggup menahan tekanan udara.

​Dari balik bayangan kabut debu ngarai, sesosok pria tua bungkuk berjalan keluar perlahan. Dia mengenakan jubah abu-abu lusuh dan membawa sebatang tongkat kayu rapuh. Matanya buta sebelah, tapi mata yang satunya memancarkan cahaya hitam pekat yang seolah menelan semua cahaya matahari.

​Pria tua itu menghentikan langkahnya. Dia mengendus udara dengan rakus, lalu tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang hitam kotor.

​"Bau darah yang sangat, sangat manis," suara pria tua itu terdengar kering seperti gesekan batu padas, namun anehnya menggema langsung menusuk ke dalam sumsum tulang Zian.

​"Sudah ratusan tahun aku tidak mencium bau ras Asura yang murni berkeliaran bebas. Malam ini... aku akan makan malam dengan sangat mewah."

​Zian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap ke telapak. Keringat dingin menetes pelan dari pelipisnya.

​Ini bukan lagi musuh setingkat Raja. Aura pria tua bungkuk ini berada di dimensi yang sama sekali tidak masuk akal, sebuah anomali maut dari Benua Tengah yang tak terbayangkan baru saja memblokir jalan keluarnya.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!