Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUBUNGAN YANG MULAI MEMANAS LAGI
Setelah malam itu, sesuatu di antara Anela dan Rico berubah.
Bukan sesuatu yang mereka bicarakan.
Tapi sesuatu yang terasa… setiap kali mereka berada di ruangan yang sama.
Tatapan mereka jadi lebih lama.
Jarak di antara mereka selalu terasa lebih pendek dari seharusnya.
Dan setiap kali kesempatan muncul… mereka seperti tidak bisa berhenti saling mendekat.
Suatu pagi, Anela sedang membuat sarapan.
Ziyo masih mandi di kamar.
Rico berdiri di dekat meja dapur, membantu memotong buah. Sesuatu yang dulu terasa aneh, sekarang justru mulai terlihat biasa.
Anela mengambil piring dari rak atas.
Kaosnya sedikit terangkat.
Rico yang berdiri di belakangnya tiba-tiba terdiam.
“Kenapa?” tanya Anela tanpa menoleh.
“Tidak apa-apa.”
Tapi ketika Anela berbalik, ia langsung menyadari cara Rico menatapnya.
“Jangan lihat aku seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti kamu mau…”
Anela tidak menyelesaikan kalimatnya.
Rico tersenyum tipis.
Ia melangkah mendekat.
Sangat dekat.
Tangan Rico menyentuh pinggang Anela pelan.
“Seperti ini?”
Anela mencoba menahan senyum.
“Rico…”
Namun kalimat itu hilang ketika Rico mencium bibirnya cepat.
Satu kali.
Lalu sekali lagi.
Ciuman kecil yang cepat berubah menjadi lebih lama.
Anela hampir bersandar pada meja dapur ketika—
“MAAA!”
Suara Ziyo dari kamar mandi.
Keduanya langsung menjauh.
Anela buru-buru merapikan rambutnya.
Rico menahan tawa kecil sambil kembali memotong buah.
“Setiap kali,” gumam Anela.
“Timing kita buruk,” jawab Rico santai.
Beberapa hari kemudian, mereka berada di dalam mobil Rico.
Hujan turun cukup deras.
Ziyo tertidur di kursi belakang setelah latihan basket anak-anak.
Mobil parkir di depan rumah Anela.
Namun tidak ada yang keluar.
Mereka hanya duduk.
Sunyi.
Rico menoleh.
Anela juga menoleh.
Tatapan itu lagi.
Yang selalu membuat jantung Anela berdetak terlalu cepat.
“Kenapa kamu lihat aku seperti itu?” tanya Anela pelan.
Rico tidak langsung menjawab.
Ia hanya mendekat sedikit.
Tangannya menyentuh pipi Anela.
Ciuman mereka bertemu lagi.
Hangat.
Pelan.
Lalu semakin dalam.
Tangan Anela tanpa sadar mencengkeram jaket Rico ketika pria itu menariknya lebih dekat di kursi.
Udara di dalam mobil terasa semakin panas.
Napas mereka mulai tidak teratur.
Rico berhenti sebentar, dahinya menempel pada dahi Anela.
“Kalau kita lanjut…”
Anela menatapnya.
“…aku tahu,” bisiknya.
Tangan Rico hampir menariknya kembali ketika—
“Ko Rico…”
Suara kecil dari belakang.
Keduanya langsung menoleh.
Ziyo setengah bangun.
“Udah sampai?”
Anela langsung keluar dari mobil.
Rico menutup mata sebentar sambil menghela napas.
“Serius…” gumamnya.
Suatu malam lain.
Ziyo sudah tidur di kamar.
Lampu rumah redup.
Anela dan Rico duduk di sofa menonton sesuatu di TV, tapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan layar.
Anela bersandar sedikit ke bahu Rico.
Hal sederhana yang dulu tidak pernah ia lakukan.
Rico memutar tubuhnya sedikit.
Ciuman lain.
Pelan.
Lalu lebih lama.
Tangan Rico bergerak ke punggung Anela, menariknya lebih dekat.
Anela hampir naik ke pangkuannya ketika—
DING DONG.
Bel rumah berbunyi.
Keduanya langsung membeku.
Anela menatap pintu.
“Siapa malam-malam begini?”
Rico menghela napas panjang.
“Semesta memang suka mengganggu.”
Ketika Anela membuka pintu…
ternyata tetangganya hanya ingin meminjam gula.
Ketegangan yang Terus Bertambah
Hari-hari berikutnya menjadi seperti itu.
Ciuman di dapur.
Ciuman di mobil.
Ciuman di ruang tamu.
Selalu semakin panas.
Selalu hampir melangkah lebih jauh.
Namun selalu ada sesuatu yang menghalangi.
Ziyo.
Tetangga.
Telepon kerja.
Atau situasi yang tidak tepat.
Dan justru karena selalu hampir terjadi…
ketegangan di antara mereka semakin kuat.
Suatu malam ketika Rico hendak pulang, ia berhenti di depan pintu.
Menatap Anela dengan tatapan yang sekarang sudah sangat ia kenal.
“Aku mulai curiga,” kata Rico pelan.
“Curiga apa?”
“Alam semesta sengaja mempermainkan kita.”
Anela tersenyum kecil.
“Kenapa?”
Rico mendekat sedikit.
“Karena setiap kali kita hampir kehilangan kendali…”
selalu ada yang menghentikan.”
Ia menatap Anela dalam-dalam.
“Padahal aku sudah hampir tidak bisa menahan diri lagi.”
Jantung Anela berdetak keras.
Ia berdiri sangat dekat dengan Rico sekarang.
“Kalau suatu hari tidak ada yang mengganggu…” bisiknya.
Rico tersenyum tipis.
“Itu yang aku tunggu.”
Dan entah kenapa…
Anela juga mulai menunggu malam itu.
---------