NovelToon NovelToon
DINIKAHI MANTAN MERTUA

DINIKAHI MANTAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
​Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir Cinta yang Dipilih

​Gerimis tipis menyapu pelataran masjid pesantren yang tenang itu, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi kayu cendana dari dalam ruang utama. Di bawah naungan pilar-pilar kokoh yang berwarna gading, Farhady berdiri mematung. Dadanya bergemuruh, sebuah sensasi yang jarang ia rasakan bahkan saat menghadapi krisis perusahaan paling pelik sekalipun. Ia datang ke sini dengan satu tujuan: mencari kebenaran yang mutlak, bukan sekadar pembenaran atas keinginannya.

​Langkah kakinya yang berat membawanya menuju ruang tamu kyai. Namun, sebelum ia mencapai pintu, sosok yang sangat ia kenal terlihat baru saja keluar dari area khusus muslimah. Andini.

​Wanita itu mengenakan gamis berwarna abu-abu lembut dengan kerudung lebar yang menutup dada, wajahnya tampak pucat namun menyiratkan sebuah ketenangan yang dipaksakan. Mata mereka bertemu di tengah selasar yang sunyi. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Ada kejutan, ada rasa sakit, dan ada kerinduan yang tak terkatakan dalam tatapan itu.

​"Ayah?" suara Andini nyaris berupa bisikan, tertelan oleh suara azan asar yang mulai berkumandang dari menara.

​Farhady terpaku. "Dini... kenapa kamu ada di sini?"

​"Mencari jawaban yang tidak bisa aku temukan dalam logikaku sendiri, Yah," jawab Andini lirih. Matanya berkaca-kaca, memantulkan bayang-bayang kegelisahan yang sama dengan yang dirasakan Farhady.

​Tanpa banyak kata, mereka berjalan berdampingan menuju taman kecil di samping masjid. Di sana, di bawah pohon kamboja yang bunganya berguguran, Farhady akhirnya membuka suara.

​"Aku menemui Tony kemarin," ujar Farhady pelan. "Dia menuntutku untuk menjauhimu. Dia bilang, hubungan kita adalah penghinaan bagi memori Keenan. Dia bilang... ini menjijikkan bagi dunia."

​Andini tersentak. Genggamannya pada tas kecilnya mengerat. "Apa kata dunia, Yah? Pertanyaan itu yang membuatku tidak bisa tidur berhari-hari. Aku sudah bicara dengan Ustazah. Secara hukum asalnya memang mahram, tapi karena status Mas Keenan adalah anak angkat dan tidak ada hubungan darah atau persusuan antara Ayah dan aku, secara fiqih ada celah yang membolehkan. Tapi..."

​"Tapi beban moralnya terlalu berat, bukan?" potong Farhady, suaranya terdengar sangat lelah. "Dunia tidak akan peduli pada status hukum angkat atau biologis. Di mata mereka, aku adalah ayah yang mengambil istri anaknya. Label itu akan melekat padamu seumur hidup jika kamu bersamaku. Kamu akan dianggap janda yang tidak tahu malu, dan aku akan dianggap orang tua yang tidak punya harga diri."

​Andini menunduk, air matanya jatuh membasahi ubin batu. "Aku takut, Yah. Aku sangat takut. Tapi setiap kali aku mencoba membayangkan hidup tanpa Ayah, rasanya seperti aku sedang berjalan menuju kegelapan yang abadi. Apakah cinta kita memang sebuah kutukan?"

​Farhady mendekat, namun ia tidak menyentuh Andini. Ia menjaga jarak suci itu di rumah Tuhan ini. "Aku ke sini untuk menanyakan hal yang sama kepada Kyai. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kehinaan. Jika bersatu denganku berarti menghancurkan martabatmu, maka aku lebih baik mati dalam kesendirian."

​Percakapan mereka terhenti saat seorang santri memanggil Farhady untuk masuk menemui sang Kyai. Andini hanya bisa berdiri di sana, menatap punggung Farhady yang perlahan menghilang di balik pintu kayu jati yang besar. Ia merasa jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Inilah saatnya. Jawaban dari pria berilmu itu akan menentukan apakah mereka bisa membangun istana di atas tanah yang halal, ataukah mereka harus mengubur rasa itu dalam-dalam sebagai sebuah dosa yang tak termaafkan.

​Di dalam ruangan, Farhady duduk bersimpuh di depan Kyai yang sudah sepuh. Ia menceritakan segalanya dengan kejujuran yang paling murni. Tentang bagaimana ia membesarkan Keenan, tentang kematian tragis putranya, dan tentang rasa cinta yang tumbuh tanpa ia undang kepada Andini.

​Sang Kyai mendengarkan dengan mata terpejam, jemarinya perlahan menggeser butiran tasbih. "Farhady," suara Kyai terdengar sangat berwibawa. "Agama itu memudahkan, bukan menyulitkan. Jika memang tidak ada hubungan darah dan persusuan, maka pintu pernikahan itu halal. Namun, perhatikanlah 'urf' atau adat kebiasaan masyarakatmu. Menikah bukan hanya tentang dua orang, tapi tentang menjaga kehormatan agama di mata manusia."

​"Tapi apakah saya salah jika mencintainya, Kyai?" tanya Farhady dengan suara serak.

​"Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah jika cinta itu melahirkan fitnah yang merusak nama baik syariat. Kamu harus siap, Farhady. Jika kamu memilih jalan ini, kamu tidak hanya butuh cinta, tapi butuh kesabaran seluas samudera untuk menghadapi cercaan. Dan yang paling penting, tanyakan pada wanitamu, apakah dia siap menjadi 'bahan pembicaraan' demi bersamamu?"

​Saat Farhady keluar dari ruangan, ia menemukan Andini masih menunggunya di bawah hujan yang kian deras. Wajah Andini tampak begitu rapuh di tengah badai. Farhady menghampirinya, memayungi wanita itu dengan jaket yang ia lepaskan.

​"Kyai bilang, pintunya terbuka, Dini. Tapi jalannya penuh dengan duri dan api," ujar Farhady, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Andini. "Sekarang keputusannya ada padamu. Aku tidak akan memaksamu. Jika kamu ingin kita berhenti di sini, aku akan pergi sejauh mungkin agar kamu bisa memulai hidup baru tanpa beban namaku. Apa kata dunia adalah beban yang sangat berat untuk dipikul oleh pundak sekecil milikmu."

​Andini menatap Farhady, lalu menatap ke arah masjid yang agung itu. Ia merasa degdegan luar biasa. Pilihan di depannya hanya dua: hidup dalam kepatuhan pada 'kata orang' namun kehilangan separuh nyawanya, atau hidup dalam cinta yang halal namun harus siap dicaci maki sepanjang hayat.

​"Ayah..." suara Andini terdengar sangat tenang secara tidak terduga, meski air matanya masih mengalir. "Berikan aku waktu satu malam lagi. Biarkan aku bicara dengan Keenan di dalam doaku. Besok pagi, datanglah ke Lembang. Apapun jawabanku, itulah takdir kita."

​Malam itu, Bandung dan Lembang terasa sangat mencekam bagi siapa pun yang mengikuti kisah mereka. Pembaca akan dibuat penasaran setengah mati; apakah Andini akan memilih keselamatan martabatnya ataukah ia akan nekat menantang arus dunia demi cinta pada mantan ayah mertuanya?

​Di kejauhan, Tony sedang menenggak kopi pahit di balkon apartemennya, menunggu kabar dengan perasaan dendam yang membara. Sementara Cindy hanya bisa berdoa agar tidak ada hati yang hancur terlalu dalam. Dan Magdalena, ia sudah mengemas koper terakhirnya, siap terbang ke Milan tanpa pernah tahu bahwa di sebuah pesantren di Bandung, sebuah keputusan besar sedang dipertaruhkan di atas sajadah panjang.

​Kabut di Lembang malam itu benar-benar menutupi segala arah. Rahasia hati Andini terkunci rapat, menyisakan tanya yang akan terjawab saat fajar menyingsing di lereng Maribaya.

1
ayu cantik
sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!