NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.2 Jalan Pulang ke Desa yang Hilang

Pagi itu dingin sekali, meski matahari sudah naik setinggi pohon-pohon di pinggir kota.

Aku berdiri di depan penginapan The Golden Inn, tangan memegang tali kekang kuda cokelat tua yang Lyre pinjamkan. Kuda itu tenang, tapi napasnya kelihatan putih di udara pagi yang masih menusuk. Dua tas ransel sudah terikat rapi di punggungnya—satu berisi makanan, air, selimut tebal, dan obat sederhana dari Lyre; satu lagi berisi pakaian ganti dan perlengkapan kecil. Katana satu-satunya—yang aku bawa dari Bumi waktu ekskul kendo dulu—masih tergantung di pinggangku, sarungnya sedikit berdebu setelah festival malam itu.

Nyx berdiri di sampingku, mantel cokelat tuanya ditarik rapat sampai ke dagu. Topi kelinci palsu yang Cae kasih kemarin masih dipakai, meski telinga aslinya sedikit terlihat di ujungnya karena angin. Dia pegang tali kekang kuda kecilnya sendiri—kuda putih yang lebih pendek dan jinak, Lyre bilang cocok buat anak kecil. Tapi tangan Nyx gemetar sedikit saat memegang tali itu, seperti sedang menahan sesuatu yang berat di dada.

Lyre berdiri di ambang pintu, tangannya memeluk celemek seperti sedang menahan angin agar nggak masuk ke penginapan. Matanya merah karena kurang tidur, tapi senyumnya tetap ada—senyum yang sudah jadi kebiasaan setiap kami mau pergi.

“Kalian hati-hati ya,” katanya pelan. “Jalan ke Nocturne nggak terlalu jauh, tapi hutan di pinggir kota lagi sepi setelah kejadian festival. Kalau ada apa-apa, langsung balik. Aku tunggu kalian pulang.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Lyre. Kami nggak akan lama. Paling tiga hari.”

Nyx menoleh ke Lyre, suaranya kecil tapi jelas. “Aku… janji bakal balik. Terima kasih sudah izinkan aku pergi. Dan… terima kasih sudah jadi seperti keluarga buat aku.”

Lyre maju selangkah, lalu peluk Nyx pelan. Nyx kaku sebentar—dia masih belum terbiasa dipeluk orang selain aku—tapi akhirnya balas peluk. Aku lihat bahu Lyre bergetar sedikit, seperti sedang menahan tangis. Dia usap rambut Nyx sebelum lepas.

“Jangan lupa makan. Dan jangan lupa pulang. Penginapan ini sepi kalau kalian nggak ada.”

Kami naik kuda. Aku di depan, Nyx di belakangku. Dia peluk pinggang aku erat-erat, seperti takut jatuh—atau takut sesuatu yang lain. Kami mulai berjalan pelan keluar kota. Gerbang Eldoria Luminaris sudah terbuka, penjaga mengangguk hormat saat kami lewat. Salah satunya bilang pelan, “Hati-hati di hutan. Ada rumor penyusup jubah hitam masih berkeliaran.” Penjaga mengatakan itu karena kudaku mengarah ke Hutan.

Aku cuma mengangguk. Nyx cengkeram lebh erat, napasnya terasa cepat di punggungku.

Jalan tanah di luar kota masih basah karena embun pagi. Pohon-pohon mulai menipis, diganti padang rumput luas yang hijau tapi sepi. Angin bertiup pelan, membawa bau rumput basah dan tanah. Kuda kami berjalan santai, derap kaki mereka terdengar ritmis di tanah. Nyx diam lama sekali, cuma sesekali menoleh ke belakang, seolah memastikan Eldoria masih terlihat di kejauhan.

“Kak Ely…” akhirnya dia bicara, suaranya hampir hilang di angin. “Desa Nocturne… aku nggak pernah balik sejak… sejak itu. Aku takut lihat lagi. Takut kalau rumahnya masih bau hangus… takut kalau aku ingat semuanya.”

Aku nggak langsung jawab. Aku biarkan kuda jalan pelan, lalu bilang dengan suara yang sengaja dibuat tenang.

“Kita nggak harus masuk kalau kau nggk siap. Kita cuma cari tahu. Kalau terlalu berat, kita balik. Aku nggak akan paksa. Kau yang putuskan.”

Dia diam lagi. Lalu pelan-pelan kepalanya bersandar di punggungku. Aku bisa rasain napasnya yang hangat lewat kain baju, dan tangannya yang mencengkeram lebih erat.

“Terima kasih… Kak Ely. Aku… nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Kak Ely. Kalau sendirian… aku pasti lari lagi.”

Aku tersenyum kecil, meski dia nggak lihat. “Kau juga yang bikin aku nggak sendirian di dunia ini. Jadi kita imbang.”

Kami jalan terus sampai siang. Matahari sudah tinggi, panas mulai terasa di kulit. Kami berhenti di bawah pohon besar di pinggir jalan, kasih kuda minum dari sungai kecil yang mengalir pelan. Aku buka bekal dari Lyre—roti tebal, daging asap, apel segar, dan sebotol kecil madu. Nyx duduk di rumput, makan pelan, tapi matanya terus menatap ke arah hutan di kejauhan.

“Desa Nocturne… masih jauh lagi?” tanyanya sambil menggigit apel.

“Setengah hari lagi, kalau kuda nggak capek. Kita istirahat dulu di sini, biar nggak terlalu lelah.”

Dia mengangguk. Lalu tiba-tiba dia bicara pelan, seperti sedang mengumpulkan keberanian.

“Kak Ely… di mimpi kemarin… bayangan itu bilang darahku kunci. Aku… takut itu bener. Takut kalau aku bawa bahaya ke Kak Ely, ke Lyre, ke Cae… takut kalau mereka datang lagi karena aku.”

Aku taruh apel yang lagi aku gigit, lalu duduk di depannya supaya mata kami sejajar. Rumput basah menyentuh telapak kakiku, dingin tapi menyegarkan.

“Nyx. Dengar aku. Kalau darahmu memang kunci buat sesuatu… berarti kau punya kekuatan yang mereka takutin. Bukan karena kau bahaya, tapi karena kau bisa hentikan mereka. Dan aku… aku nggak takut bahaya kalau itu artinya lindungi kau. Kau nggak bawa bahaya. Kau bawa harapan.”

Dia menatap aku lama. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini dia nggak usap. Dia cuma biarkan jatuh ke rumput.

“Aku… mau jadi kuat. Aku nggak mau jadi beban. Aku mau… bantu Kak Ely, bukan cuma dilindungi.”

“Kau nggak pernah beban,” kataku tegas, tapi pelan. “Kau partner aku. Buff-mu sudah selamatin kita berkali-kali. Dan kalau kita sampai desa… kita cari tahu bareng. Apa pun yang ada di sana, kita hadapi bareng. Kau nggak sendirian lagi.”

Nyx mengangguk pelan. Dia tersenyum kecil—senyum yang lemah, tapi tulus. Lalu dia maju sedikit, peluk aku dari depan. Aku kaget sebentar—biasanya dia yang dipeluk—tapi aku balas peluk pelan. Tubuhnya kecil dan hangat, napasnya terasa di leherku.

“Bareng…” bisiknya.

Kami lanjut perjalanan setlah istirahat. Matahari mulai condong ke barat saat hutan mulai terlihat di kejauhan. Pohon-pohon tinggi menjulang, daunnya gelap karena bayangan. Jalan tanah semakin sempit, rumput liar mulai menutupi. Aroma tanah basah dan lumut tercium kuat, bercampur bau daun kering.

Nyx tiba-tiba menegang di belakangku. Napasnya jadi lebih cepat.

“Kak Ely… aku… mulai ingat bau hutan ini. Bau daun basah… dan api… bau hangus lama…”

Aku pegang tangannya yang memeluk pinggangku. “Kalau terlalu berat, bilang. Kita bisa balik kapan saja.”

Dia menggeleng. “Nggak. Aku mau tahu. Aku mau… pulang. Meski cuma sebentar.”

Kami masuk hutan. Chaya matahari mulai redup, diganti bayangan pohon yang menjulang. Udara jadi lebih dingin, bau tanah basah dan lumut tercium lebih kuat. Nyx mulai gemetar lagi, tapi dia nggak bilang apa-apa. Aku cuma percepat langkah kuda sedikit, supaya cepat sampai.

Saat senja mulai turun, kami keluar dari hutan. Di depan kami, reruntuhan Desa Nocturne terlihat.

Rumah-rumah kayu yang dulu berdiri sekarang tinggal tiang gosong dan atap roboh. Lapangan kecil di tengah desa penuh rumput liar dan batu-batu retak. Di tengah, ada sumur batu yang masih berdiri, tapi gayungnya sudah hilang. Bau hangus lama masih samar-samar tercium, seperti kenangan yang nggak pernah benar-benar hilang.

Nyx turun dari kuda dengan kaki gemetar. Dia berdiri di depan reruntuhan, matanya berkaca-kaca.

“Ini… rumahku dulu…”

Aku turun juga, pegang bahunya pelan. “Kita cari pelan-pelan. Kalau terlalu berat, kita istirahat dulu.”

Dia mengangguk. Tapi langkahnya maju pelan, seperti sedang kembali ke tempat yang dia hindari bertahun-tahun.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!