NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: NYALA API DI LAYAR KACA

Malam itu, Jakarta terasa lebih gerah dari biasanya. Di dalam kamar tidurnya yang megah, Juliet duduk mematung di pinggir tempat tidur. Pintu kamarnya dikunci dari luar. Dua penjaga berbadan tegap berdiri di koridor, memastikan sang putri tidak lagi menyelinap ke ruang kerja ayahnya.

Juliet menatap jam dinding yang berdetak nyaring. Pukul delapan malam. Ia meraih remote televisi yang tergeletak di nakas dengan tangan gemetar. Ia tahu, jika rencananya berhasil, berita itu seharusnya sudah mulai meledak sekarang.

Ia menyalakan televisi. Layar datar besar itu menampilkan siaran berita utama Kabar Investigasi Malam.

"...Berita utama malam ini datang dari sektor properti tanah air. Sebuah skandal besar yang melibatkan Grup Wijaya baru saja terkuak melalui dokumen rahasia yang diterima redaksi kami..."

Jantung Juliet seolah berhenti berdetak. Suara penyiar berita itu terdengar seperti musik kemenangan di telinganya.

"...Dokumen tersebut mengungkap adanya manipulasi kontrak, pencurian hak cipta desain lanskap milik mendiang Arsitek Baskara sepuluh tahun silam, hingga dugaan suap kepada pejabat pemerintah untuk memuluskan proyek perumahan elit di Menteng dan Serpong..."

Wajah Pak Wijaya muncul di layar kaca, bersanding dengan foto lama Ayah Gaara yang tampak kusam. Kontras yang menyakitkan.

"...Hingga saat ini, pihak Grup Wijaya belum memberikan pernyataan resmi. Namun, bursa saham mencatat penurunan drastis pada aset perusahaan hanya dalam waktu satu jam setelah dokumen ini bocor ke publik..."

Tiba-tiba, suara teriakan murka terdengar dari lantai bawah. Itu suara Ayahnya. Disusul suara benda pecah—mungkin vas kristal atau gelas wiski mahal yang dilemparkan ke dinding.

"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?! SIAPA YANG MENGIRIM DATA ITU?!"

Gedoran langkah kaki yang berat menaiki tangga. Juliet mencengkeram sprei tempat tidurnya kuat-kuat. Ia tahu badai baru saja sampai di depan pintunya.

BRAK!

Pintu kamar Juliet dibuka paksa. Pak Wijaya masuk dengan wajah yang mengerikan. Matanya merah, urat-urat di lehernya menonjol, dan napasnya memburu seperti banteng yang terluka. Di belakangnya, Adam mengekor dengan wajah pucat pasi. Vina berdiri di ambang pintu, tampak ketakutan melihat pamannya yang biasanya tenang kini berubah menjadi monster.

"Kau..." suara Pak Wijaya rendah namun penuh racun. Ia menunjuk layar televisi yang masih menyala. "Kau yang melakukannya, kan? Kau masuk ke ruang kerjaku dan mengirimkan sampah itu ke media!"

Juliet berdiri. Ia tidak menunduk. Ia menatap mata ayahnya dengan keberanian yang ia pinjam dari bayangan Gaara. "Sampah? Ayah menyebut kebenaran sebagai sampah?"

"KAU MENGHANCURKAN KELUARGAMU SENDIRI, JULIET!" teriah Pak Wijaya, ia melangkah maju dan mencengkeram bahu Juliet hingga gadis itu meringis. "Uang yang kau pakai untuk membeli gaun-gaun mahallmu itu, rumah yang kau tinggali ini... semuanya berasal dari sana! Jika perusahaan hancur, kau juga hancur!"

"Aku sudah hancur sejak Ayah membunuh nurani Ayah sendiri demi uang!" balas Juliet dengan suara parau. "Ayah mencuri masa depan keluarga Gaara. Ayah membiarkan Ayahnya mati dalam kehinaan. Apa Ayah pikir aku bisa tidur nyenyak mengetahui semua itu?"

Pak Wijaya hendak melayangkan tangannya, namun Adam menahan lengan pria itu.

"Paman, jangan. Kita tidak punya waktu untuk ini," ucap Adam cepat. Matanya melirik ke arah jendela yang mulai dipenuhi kilatan lampu blitz dari arah gerbang depan. "Wartawan sudah mulai mengepung rumah ini. Polisi mungkin akan datang sebentar lagi untuk meminta keterangan. Kita harus membawa Juliet pergi sekarang juga."

Adam menatap Juliet dengan tatapan yang sangat asing. Tidak ada lagi cinta palsu di sana, yang ada hanya ambisi yang terancam. "Pesawat jet pribadiku sudah siap di bandara Halim. Kita tidak menunggu besok pagi. Kita berangkat malam ini juga, ke Sydney. Di sana, hukum Indonesia tidak akan bisa menyentuh kita dengan mudah."

"Aku tidak mau pergi denganmu, Adam!" Juliet meronta.

"Kau tidak punya pilihan!" Adam menarik paksa tangan Juliet. "Penjaga! Bawa dia ke mobil! Pakai jalan belakang!"

Dua penjaga masuk dan memegangi lengan Juliet. Gadis itu diseret menuruni tangga rahasia yang terhubung langsung ke garasi bawah tanah. Ia melihat Vina berdiri mematung di koridor, memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Vina tampak sadar bahwa kehancuran Juliet juga berarti kehancuran gaya hidup mewahnya.

Sementara itu, di kantor polisi sektor Menteng, suasana mendadak riuh.

Kepala penyidik masuk ke ruang interogasi tempat Gaara duduk dengan tangan terborgol. Sang penyidik meletakkan sebuah ponsel di atas meja, menampilkan siaran berita yang sama.

"Kau lihat ini?" tanya penyidik itu.

Gaara menatap layar tersebut. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Itu bukan kerjaan saya, Pak. Saya di sini sejak semalam, kan?"

"Kami baru saja menerima laporan dari jurnalis Kabar Investigasi. Mereka bilang narasumber anonim mengirimkan bukti-bukti yang sangat valid. Dan bukti itu... persis dengan apa yang kau ceritakan saat kami menangkapmu semalam."

Penyidik itu menghela napas, lalu merogoh kantongnya untuk mengambil kunci borgol. "Jaksa wilayah memerintahkan penundaan proses hukummu atas tuduhan penculikan. Sebaliknya, kami punya surat perintah untuk membawa Pak Wijaya. Dan sepertinya, kau adalah saksi kunci yang kami butuhkan."

Borgol itu terlepas. Gaara mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

"Di mana Juliet?" tanya Gaara segera.

"Kami menerima laporan dari informan di kediaman Wijaya. Tampaknya Adam sedang mencoba membawa Nona Juliet melarikan diri ke Australia lewat bandara Halim Perdanakusuma. Mereka lewat jalur tikus untuk menghindari kerumunan wartawan di depan."

Gaara berdiri. Matanya kembali tajam seperti elang. "Berikan saya tumpangan ke sana, Pak. Saya tahu cara menghentikan mereka."

Di dalam mobil sedan hitam yang melaju kencang menembus kemacetan Jakarta Timur, Juliet duduk diapit oleh dua penjaga di kursi belakang. Adam duduk di kursi depan, terus-menerus menelpon seseorang, koordinasi tentang izin terbang jet pribadinya.

"Ya, pastikan mesin sudah panas! Kita sampai sepuluh menit lagi!" teriak Adam ke ponselnya.

Juliet menatap ke luar jendela. Hujan mulai turun lagi, membasahi kaca mobil. Ia meraba saku kaosnya. Flashdisk itu sudah tidak ada di sana, tapi ia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk mawar yang pernah diberikan ibunya dulu.

Ia teringat kata-kata Gaara: "Jangan takut pada duri. Lawan!"

Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari arah belakang. Bukan hanya satu, tapi tiga mobil polisi dengan lampu biru yang berputar-putar.

"Sial! Mereka mengikuti kita!" umpat Adam. "Cepat! Injak gasnya!"

Sopir Adam memacu mobil lebih kencang, menerobos lampu merah dan menyalip kendaraan lain dengan berbahaya. Juliet terlempar ke kanan dan kiri di kursi belakang. Jantungnya berdegup kencang antara rasa takut dan harapan.

Mobil Adam memasuki area bandara lewat pintu kargo yang sepi. Di sana, sebuah jet pribadi kecil dengan tangga yang sudah turun sedang menunggu.

"Turunkan dia! Cepat!" perintah Adam saat mobil berhenti mendadak di depan pesawat.

Juliet diseret keluar. Angin kencang dari mesin jet yang menyala membuat rambutnya berantakan. Namun, saat mereka hendak mencapai tangga pesawat, sebuah mobil patroli polisi melakukan manuver drift dan memblokir jalan mereka.

Pintu mobil patroli terbuka. Gaara keluar dari sana.

Ia tidak mengenakan seragam polisi, hanya kaos hitamnya yang sudah kotor dan celana kargonya. Tapi di mata Juliet, pria itu terlihat lebih berwibawa daripada Adam dengan setelan jas mahalnya.

"Lepaskan dia, Adam!" suara Gaara menggelegar di antara deru mesin jet.

Adam mengeluarkan sebuah benda dari balik jasnya. Sebuah senjata api kecil. "Jangan mendekat, Tukang Kebun! Atau aku akan menembak kepalanya sekarang juga!"

Adam menarik Juliet ke depan dadanya, menjadikan gadis itu sebagai tameng. Laras senjata itu menempel dingin di pelipis Juliet.

"Jangan lakukan itu, Adam! Kau hanya akan memperburuk keadaan!" teriak petugas polisi yang keluar di belakang Gaara.

Gaara melangkah maju satu langkah. Matanya tetap tenang, tidak ada ketakutan di sana. "Kau tidak akan menembaknya, Adam. Karena jika Juliet mati, kau tidak punya lagi alasan untuk menguasai saham Grup Wijaya. Kau hanya peduli pada uangnya, bukan orangnya."

"TUTUP MULUTMU!" teriak Adam histeris. Tangannya gemetar.

Juliet merasakan getaran ketakutan dari tubuh Adam. Ia teringat teknik yang pernah diajarkan Gaara saat mereka merawat mawar—bahwa mawar yang paling tajam pun memiliki titik lemah di pangkal batangnya.

Saat Adam sedikit teralih oleh gerakan polisi di sisi kiri, Juliet menggunakan tumit sepatunya untuk menginjak kaki Adam sekuat tenaga, lalu menyikut ulu hati pria itu dengan sikutnya.

Ugh!

Adam terhuyung. Senjatanya terlepas dari tangannya.

Dalam sepersekian detik, Gaara berlari menerjang dan memukul rahang Adam dengan satu pukulan telak yang membuat pria itu jatuh tersungkur di aspal bandara yang basah.

Polisi segera menyergap Adam dan memborgolnya.

Juliet jatuh terduduk di aspal, napasnya tersengal-sengal. Gaara segera berlutut di sampingnya, menarik Juliet ke dalam pelukannya. Hujan membasahi mereka berdua, namun kali ini rasa dingin itu tidak lagi menakutkan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Gaara, suaranya parau karena cemas.

Juliet menangis sesenggukan di bahu Gaara. "Aku... aku sudah mengirim datanya, Gaara. Aku sudah melakukannya."

Gaara mencium puncak kepala Juliet. "Aku tahu. Kau hebat, Juliet. Kau jauh lebih kuat dari mawar mana pun yang pernah kutanam."

Di kejauhan, Pak Wijaya yang baru saja sampai di bandara dengan mobil lain, hanya bisa melihat dari jauh saat polisi mendekatinya dengan surat perintah penangkapan. Kerajaan emasnya runtuh malam itu, bukan karena musuh dari luar, tapi karena kebenaran yang ditanamkan oleh putrinya sendiri.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!