Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tetesan Kehidupan Berbalut Dendam
Malam berkuasa penuh ketika Arya menginjakkan kakinya di lorong sunyi Rumah Sakit Pusat Emerald. Setelan jas kebesarannya telah ditanggalkan, digantikan jaket katun sederhana yang menyembunyikan botol kecil Eliksir Penjaga Jiwa di sakunya.
Melalui koneksi rahasia Han Shixiong, Arya mendapatkan akses bebas ke lantai VVIP. Langkah kakinya tak bersuara, sebuah teknik ringan dari Sembilan Transformasi Naga Langit yang membuatnya bergerak bak hembusan angin malam.
Di ujung koridor, lampu berkedip redup di atas pintu bertuliskan Kamar 01 - Darma Kusuma.
Saat Arya meraih gagang pintu, indranya yang tajam menangkap percakapan lirih dari dalam ruangan. Ia menahan napas, menempelkan telinganya ke pintu mahoni yang tebal itu.
"Burhan, berapa lama lagi obat dari luar negeri itu bekerja?" Itu suara Rina, ibu mertuanya. Nadanya bukan cemas, melainkan penuh antisipasi serakah.
"Sabar sedikit," jawab suara berat milik Burhan. "Racun peluruh organ dari Dokter Schmidt ini dirancang agar tidak meninggalkan jejak medis. Jantungnya akan melemah secara alami, dan lusa, kita bisa menguasai penuh Grup Kusuma sebelum Nadia menyadarinya."
"Gadis keras kepala itu mulai susah diatur sejak krisis perusahaannya tiba-tiba diselamatkan oleh Emerald Group," desis Rina sinis. "Jika Darma mati, saham mayoritas akan jatuh ke tanganku sesuai wasiat lamanya. Aku akan segera menceraikannya dengan si benalu Arya dan memaksanya menikahi seseorang yang lebih berguna dari Keluarga Atmaja."
Di balik pintu, mata Arya memancarkan seberkas cahaya keemasan yang dingin dan menusuk.
Binatang. Bahkan dunia kultivasi yang paling kejam sekalipun mengutuk pengkhianatan di dalam lingkaran keluarga.
Arya mundur selangkah. Dengan satu gerakan telapak tangan yang nyaris tak terlihat, energi spiritualnya meretas kunci elektronik pintu tanpa merusak alarm.
Klik.
Pintu terbuka lebar, mengejutkan Rina dan Burhan yang sedang berdiri di kedua sisi ranjang Darma Kusuma. Wajah mereka pucat pasi melihat sosok yang menjulang di ambang pintu.
"K-kau?! Sedang apa kau di sini, sampah?!" pekik Rina tertahan, takut suaranya memancing perawat di luar.
Burhan segera menutupi sebuah botol kecil ke dalam sakunya, matanya menatap tajam ke arah Arya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke lantai VVIP? Penjaga!"
"Penjaga tidak akan datang," jawab Arya datar. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. "Hanya ada kita bertiga... dan pria yang berusaha kalian bunuh ini."
Warna di wajah Burhan memudar seketika, namun ia berusaha menutupi kepanikannya dengan kesombongan. "Membunuh? Jangan bicara sembarangan! Kami sedang menjenguk saudaraku. Kau hanyalah orang luar, segera keluar sebelum kupanggil polisi!"
Arya tidak menghiraukan gertakan itu. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap ayah mertuanya. Darma adalah pria paruh baya yang dulu memiliki wajah tegas penuh wibawa, kini terbaring tak berdaya dengan wajah cekung dan kulit sedikit kebiruan. Aroma busuk yang tak tertangkap hidung manusia biasa merembes dari pori-pori kulitnya—aroma kematian.
Tiga tahun lalu, saat Arya pertama kali terbangun di tubuh pemuda jalanan yang linglung ini, Darma adalah satu-satunya orang di Keluarga Kusuma—selain almarhum sang Kakek—yang memberikannya tempat berteduh. Meski dingin dan tegas, Darma menolak membiarkan Rina mengusir Arya ke jalanan.
Hutang budi harus dibayar tuntas. Hutang darah harus ditebus nyawa. "Kau punya dua pilihan, Burhan," ucap Arya, mengeluarkan botol berisi cairan keemasan miliknya. "Berdiri di sudut sana dan diam, atau aku akan membuatmu koma lebih lama dari pria di ranjang ini."
"Beraninya kau mengancamku?!" Burhan meledak. Ia maju, mengangkat tangannya untuk mencengkeram kerah jaket Arya.
Namun, sebelum jari-jarinya menyentuh kain, tangan Arya melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal, mencekik leher Burhan dan mengangkat tubuh pria gempal itu beberapa sentimeter dari lantai.
Mata Rina melotot hingga nyaris keluar dari sarangnya. Pria yang selama tiga tahun ini ia jadikan pesuruh dan target makiannya, kini mengangkat pria dewasa dengan satu tangan tanpa usaha sedikit pun.
"L-lepaskan... ugh..." Burhan meronta, wajahnya memerah, kakinya menendang udara.
"Diam," desis Arya. Suaranya tidak keras, tetapi memuat tekanan energi spiritual yang membuat jiwa Burhan bergetar ketakutan. Dengan satu sentakan pelan, Arya melempar Burhan ke sudut ruangan hingga pria itu menabrak sofa dan terbatuk hebat, tak mampu bangkit.
Rina langsung mundur, merapat ke dinding sambil menutupi mulutnya yang gemetar. "A-apa yang kau inginkan, Arya? K-kau monster..."
Arya tak lagi mempedulikan mereka. Ia mencondongkan tubuhnya ke atas Darma. Dengan hati-hati, ia membuka masker oksigen ayah mertuanya. Ia meneteskan tiga tetes Eliksir Penjaga Jiwa tepat ke dalam mulut Darma yang terbuka.
Begitu cairan murni itu menyentuh lidahnya, Arya segera meletakkan kedua telapak tangannya di dada Darma. Ia memfokuskan energi spiritual dari Sembilan Transformasi Naga Langit untuk mendorong khasiat eliksir itu mengalir ke seluruh pembuluh darah, menyapu racun sintetis yang bersarang di organ dalam.
Semenit berlalu. Monitor jantung yang tadinya berdetak pelan dan tak teratur, perlahan mulai menemukan ritme yang stabil dan kuat.
Dua menit. Rona kebiruan di kulit Darma memudar, digantikan oleh warna kemerahan yang sehat.
Tiga menit. Jari-jari Darma bergerak perlahan.
Burhan dan Rina, yang menyaksikan dari sudut ruangan, tak bisa mempercayai mata mereka. Dokter spesialis terbaik di negara ini mengatakan Darma tak punya harapan, namun beberapa tetes cairan aneh dari pria benalu itu...
Tiba-tiba, mata Darma terbuka dengan napas panjang, seolah baru saja ditarik dari dasar lautan. Ia berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu. Pandangannya perlahan fokus pada wajah pemuda yang berdiri di atasnya.
"A... Arya?" suara Darma serak dan lemah, tetapi cukup jelas untuk didengar seisi ruangan.
Arya tersenyum tipis. Ia menarik tangannya kembali dan membiarkan energi spiritualnya mereda. "Selamat malam, Ayah. Anda tidur cukup lama."
Darma berusaha mengangkat tangannya, merasa aneh. "Dadaku... tidak lagi sakit. Apa yang terjadi?"
Arya melirik ke arah sudut ruangan tempat Burhan dan Rina masih mematung dalam kengerian absolut. "Mungkin Ayah ingin menanyakannya pada paman dan bibi di sana. Kurasa mereka punya banyak cerita menarik tentang dokter luar negeri dan wasiat perusahaan."
Mendengar itu, Darma memalingkan wajahnya ke arah istri dan adiknya. Meskipun baru sadar dari koma, naluri bisnisnya yang tajam segera menangkap aura kepanikan dan rasa bersalah dari wajah mereka berdua.
"Burhan... Rina..." Suara Darma kini mendingin, memancarkan aura pemimpin yang sempat hilang selama setahun. "Apa yang kalian lakukan padaku?"
Sebelum Burhan bisa menyusun alasan, Arya berjalan ke arah sofa, merogoh saku Burhan dengan cepat, dan mengeluarkan botol kecil berisi cairan tak berwarna—racun sisa dari Dokter Schmidt. Ia meletakkannya di atas nakas di samping ranjang Darma.
"Bukti pertama," kata Arya tenang. "Dan jika Ayah butuh bukti kedua, periksalah rekening bank Paman Burhan ke rekening sebuah klinik di Jerman bulan lalu."
Darma menatap botol itu, lalu beralih ke Burhan yang kini bersujud di lantai sambil menangis memohon ampun. Pengkhianatan itu tergambar jelas, tak bisa disangkal.
Arya berbalik, melangkah menuju pintu. Tugasnya di sini sudah selesai.
"Tunggu, Arya," panggil Darma, matanya menyiratkan kebingungan yang mendalam melihat sisi menantunya yang belum pernah ia lihat ini. "Kau... siapa kau sebenarnya?"
Arya berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit dari atas bahunya.
"Aku? Aku hanyalah menantu yang kau pungut dari jalanan, Ayah," jawabnya dengan senyum penuh teka-teki. "Sekarang, izinkan saya pulang. Nadia pasti sedang menunggu teh paginya."
Dan dengan langkah senyap, Arya menghilang ke dalam koridor yang sunyi.