Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Cerai di Tanganku
“Hans, ini perjanjian cerai yang sudah disiapkan oleh Nona Rasheed. Kamu tinggal tanda tangan.”
Di kantor presiden Emerald Group, sekretaris Rachel Shawari meletakkan selembar kertas di atas meja. Seorang pria berpakaian sederhana duduk di hadapannya.
“Cerai? Maksud kamu apa?”
Hans Rinaldi tertegun.
“Kamu gak paham apa yang aku bilang? Pernikahan kamu dengan Nona Rasheed sudah berakhir. Sekarang kalian bahkan gak berada di level yang sama. Keberadaan kamu cuma jadi noda bagi reputasi presiden!”
Rachel berbicara tanpa menyaring kata-katanya.
“Noda bagi reputasinya?” Hans mengernyit. “Jadi begitu cara dia memandangku?”
Saat mereka pertama kali menikah, keluarga Rasheed terlilit utang besar. Dialah yang membantu mereka di titik terendah. Sekarang, setelah mereka kaya, Tiffany Rasheed siap menendangnya keluar.
“Kurang lebih begitu.” Rachel mengangguk ke arah majalah di atas meja. Foto seorang wanita cantik terpampang di halaman depan. “Lihat judul majalah ini, Hans. Kekayaan Nona Rasheed menembus 100 Triliyun hanya dalam tiga tahun. Sebuah pencapaian yang nyaris seperti keajaiban. Sekarang dia jadi wanita paling diidamkan di Jakarta! Dengan semua ini, dia ditakdirkan untuk hal-hal besar. Sementara kamu? Kamu cuma orang biasa. Kamu sama sekali gak pantas untuknya. Aku harap kamu bisa sadar dan melakukan hal yang benar.”
Ketika Hans tetap diam, Rachel mengernyit.
“Aku tahu kamu gak senang,” lanjutnya, “Tapi ini kenyataan. Mungkin dulu kamu membantu Nona Rasheed saat dia kesulitan, tapi selama tiga tahun terakhir dia sudah membalas semua yang kamu lakukan. Bahkan sekarang, justru kamu yang berutang padanya!”
“Jadi, pernikahan kita cuma kesepakatan bisnis buat dia?” Hans menarik napas panjang, berusaha menekan gejolak emosinya. “Kalau dia mau cerai, suruh dia ngomong langsung sama aku.”
“Nona Rasheed sangat sibuk. Hal sepele seperti ini gak perlu merepotkannya.”
“Hal sepele?” Hans terpaku, lalu tertawa pahit. “Begitu ya? Buat dia, perceraian itu hal sepele? Bahkan dia gak punya waktu buat bicara langsung sama aku. Luar biasa. Sekarang dia sudah setinggi itu sampai tak terjangkau!”
“Hans, jangan menunda lagi.” Rachel kembali mendorong berkas perceraian ke arahnya. “Tanda tangan saja di sini dan kamu akan dapat mobil dan rumah sebagai kompensasi. Selain itu, kamu juga akan menerima 200 Miliar. Jumlah itu bahkan lebih besar dari yang bisa kamu hasilkan seumur hidup!”
“200 Miliar memang banyak, tapi aku gak butuh. Aku akan tanda tangan kalau dia datang sendiri. Kalau gak, aku gak akan tanda tangan apa pun,” kata Hans dingin.
“Jangan keterlaluan, Hans!” Rachel menepuk meja. “Jangan bilang aku gak memperingatkan kamu. Dengan kekuasaan dan sumber daya yang dia punya, Nona Rasheed bisa menceraikan kamu dengan mudah. Dia hanya menghargai hubungan kalian di masa lalu, makanya dia masih memberi kamu kesempatan menjaga martabat. Jangan memprovokasi dia!”
“Martabat aku?” Hans merasa geli.
Dia bahkan tidak mau berbicara langsung untuk menceraikannya. Martabat macam apa itu?
Lagi pula, kalau dia benar menghargai hubungan mereka, kenapa sekarang justru mengancamnya?
“Sepertinya kita gak punya hal lain untuk dibicarakan.” Tak ingin berdebat, Hans berdiri dan hendak pergi.
“Hans Rinaldi! kamu—”
Saat Rachel hampir kehilangan kesabaran, seorang wanita berlekuk indah dengan gaun hitam panjang berjalan masuk. Kulitnya putih seperti salju, wajahnya lembut dan halus. Aura anggun dan tubuhnya yang proporsional membuatnya tampak seperti dewi yang keluar dari lukisan.
“Kau akhirnya datang.”
Perasaan Hans bercampur aduk ketika melihat wanita cantik itu. Selama tiga tahun pernikahan mereka, keduanya saling memperlakukan satu sama lain dengan perhatian dan rasa hormat. Namun, semua berakhir seperti ini. Ia masih tidak mengerti apa kesalahannya.
“Maaf terlambat, aku terhambat urusan lain.”
Tiffany Rasheed duduk. Ekspresinya tetap datar seperti biasa.
“Kamu benar-benar sibuk sampai perceraian pun harus diurus sekretarismu,” kata Hans.
Mendengar itu, Tiffany sedikit mengernyit. Namun ia tidak memberi penjelasan. Sebaliknya, ia berkata, “Karena kamu sudah di sini, mari langsung ke pokok masalah. Kita akhiri ini dengan baik-baik. Aku minta maaf harus melakukan ini. Kamu bisa mengambil mobil dan rumah itu, ditambah 200 Miliar sebagai tunjangan. Bagaimana?”
Ia meletakkan sebuah kartu di atas meja.
“Kamu benar-benar mengira hubungan kita bisa diukur dengan uang?” tanya Hans.
“Kurang?” Tiffany tetap tenang. “Gak masalah. Katakan apa yang kamu inginkan. Selama masih dalam kemampuanku, akan kuberikan.”
“Sepertinya kamu salah paham. Aku ulangi. Apakah uang dan kekuasaan sepenting itu buat kamu?” Hans benar-benar bingung.
Tiffany berjalan ke jendela dan memandang kota di luar. Ada tekad di matanya saat ia berkata, “Bagiku, ya. Itu sangat penting.”
“Kamu sudah menghasilkan cukup untuk hidup nyaman seumur hidup. Kenapa masih melakukan semua ini?”
“Hans, di situlah perbedaan cara pandang kita. Kamu tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan.” Tiffany menggeleng kecewa.
Bukan hanya status dan kekuasaan yang membuat mereka tak sejalan, prinsip hidup mereka pun berbeda. Yang terpenting, dia tidak melihat harapan masa depan apa pun dalam diri pria itu.
“Kamu benar. Mana mungkin aku tahu apa yang kamu pikirkan?” Hans tertawa pahit. “Yang aku tahu cuma masak buat kamu saat kamu lapar, nyiapin jaket waktu udara dingin, dan gendong kamu ke rumah sakit saat kamu sakit.”
“Gak ada gunanya membahas itu sekarang.” Ekspresi Tiffany sempat menyiratkan emosi yang rumit, tetapi segera tertutup oleh ketegasan.
“Kamu benar.” Hans mengangguk tanpa ekspresi. “Aku dengar kamu akhir-akhir ini dekat dengan pewaris keluarga Nolan. Karena dia?”
Tiffany sempat ingin menyangkal. Namun setelah berpikir sejenak, akhirnya ia mengangguk.
“Bisa dibilang begitu.”
“Baiklah. Semoga kamu bahagia sama dia.” Hans tersenyum lalu menandatangani perjanjian cerai tanpa ragu lagi. Yang tersisa dalam dirinya hanya kekecewaan.
Ironisnya, hari itu juga adalah hari jadi pernikahan mereka. Ada semacam lelucon kejam dalam keputusan menceraikannya tepat di hari mereka dulu mengikat janji.
“Aku gak mau uangnya. Aku cuma mau kalung kristal itu kembali. Ibu aku ninggalin itu sebelum meninggal, supaya nanti bisa aku kasih ke istri aku.”
“Baik.”
Tiffany mengangguk dan menyerahkan kalung kristal tersebut.
“Mulai hari ini, kita gak ada hubungan apa-apa lagi.”
Hans mengenakan kalung itu lalu berbalik pergi. Tak ada lagi kelembutan di wajahnya. Yang tersisa hanya sikap dingin.
“Aku melakukan hal yang benar, kan, Rachel?” tanya Tiffany ragu.
Meskipun dialah yang mengajukan perceraian, saat semuanya benar-benar selesai, ia sama sekali tidak merasa bahagia.
“Tentu saja!” Rachel mengangguk tegas. "Kamu berhak mengejar kebahagiaan. Hans sama sekali gak pantas buat kamu. Dia cuma akan menjatuhkan martabatmu. Kamu ditakdirkan jadi wanita paling berkuasa di Jakarta!”
Tiffany tidak menjawab. Saat ia memandang punggung Hans yang semakin menjauh, ada perasaan seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.