Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Angin musim gugur Boston berhembus tajam, menyapu dedaunan kering di sepanjang jalan berbatu Commonwealth Avenue. Di dalam sebuah Apartemen mewah bergaya brownstone di kawasan Back Bay, Rose Moore berdiri di depan cermin besar setinggi plafon.
Malam ini adalah peringatan dua tahun pernikahannya dengan Asher Hudson.
Rose, wanita berusia 26 tahun dengan kecantikan yang sering membuat orang menoleh dua kali, rambut pirang madu yang jatuh di bahu dan mata hijau sedalam samudera telah menghabiskan waktu tiga jam untuk bersiap. Ia mengenakan lingerie sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulit putih susunya. Aroma parfum peony kesukaan Asher memenuhi kamar mereka yang hangat.
Suara pintu depan terbuka. Jantung Rose berdebar. Ia tersenyum, membayangkan ekspresi wajah suaminya saat melihat kejutan kecil yang ia siapkan: botol Chateau Margaux tahun 2015 dan lilin-lilin aromaterapi yang menyala temaram.
Asher Hudson masuk ke kamar dengan setelan jas tailored yang tampak sedikit kusut. Sebagai Direktur Pemasaran di salah satu firma teknologi terbesar di Boston, Asher selalu tampak berwibawa. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun malam ini, matanya tampak jauh.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang," bisik Rose, melangkah mendekat dan melingkarkan lengannya di leher Asher.
Asher memaksakan senyum tipis. Ia mengecup dahi Rose—hanya dahi. "Maaf aku pulang terlambat, Rose. Rapat dengan klien dari London memakan waktu lebih lama dari perkiraan."
Rose mencoba mengabaikan rasa kecewa yang mulai menyusup. "Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita bisa merayakannya sekarang..." Rose menarik lembut tangan Asher menuju tempat tidur, suaranya merendah penuh harap.
Namun, Asher melepaskan pegangan itu dengan gerakan halus yang terasa seperti tamparan bagi Rose. Ia menghela napas panjang dan mulai melonggarkan dasinya.
"Rose, aku benar-benar lelah, Sayang. Maaf ya," ucap Asher dengan nada lembut yang biasa ia gunakan untuk menenangkan klien. "Pikiranku sedang kacau karena proyek baru ini. Lain kali saja, ya? Aku butuh tidur."
Lain kali. Kata itu bergema di telinga Rose seperti lonceng kematian bagi keintiman mereka.
Sudah tiga bulan. Sembilan puluh hari sejak Asher terakhir kali menyentuhnya dengan gairah.
Sebagai istri yang suportif, Rose selalu berusaha mengerti. Ia tahu tekanan menjadi Direktur Pemasaran di kota kompetitif seperti Boston sangatlah besar. Ia selalu menelan kekecewaannya, menggantinya dengan senyum manis dan segelas air hangat setiap malam. Namun, malam ini berbeda. Ini adalah malam perayaan mereka.
Rose menatap punggung Asher yang sudah berbaring membelakanginya. Suaminya itu memejamkan mata, atau mungkin hanya berpura-pura tidur. Keheningan di kamar itu terasa menyesakkan, lebih dingin daripada badai salju Boston di bulan Januari.
"Asher?" panggil Rose pelan. "Apakah ada sesuatu yang salah? Antara kita?"
"Hanya capek, Rose. Tolong biarkan aku tidur," jawab Asher tanpa berbalik. Suaranya datar, tanpa emosi.
Rose berbaring di sisi tempat tidur yang jauh, menatap langit-langit. Pikirannya melayang ke masa-masa awal mereka bertemu di Public Garden. Saat itu, Asher tidak bisa melepaskan pandangan dan tangan darinya. Sekarang, ia merasa seperti pajangan mahal di rumah yang megah namun kosong.
Keesokan harinya, mendung menggelayuti langit Boston. Rose memutuskan untuk membawakan makan siang kejutan ke kantor Asher di kawasan Seaport. Ia ingin meminta maaf jika semalam ia terlalu menuntut, sekaligus ingin memperbaiki suasana.
Dengan kotak makan berisi salmon panggang kegemaran Asher, Rose melangkah masuk ke lobi gedung perkantoran kaca yang menjulang tinggi itu. Resepsionis sudah mengenalnya dan mempersilakannya naik ke lantai 42.
Saat menuju ruangan Asher, Rose berpapasan dengan sekretaris Asher, Sarah. Wajah Sarah tampak sedikit terkejut, bahkan mungkin... gugup?
"Oh, Nyonya Hudson. Pak Asher sedang... sedang ada rapat tertutup," ujar Sarah cepat.
"Rapat tertutup? Di jam makan siang?" Rose mengerutkan kening. "Tidak apa-apa, aku akan menunggu di ruangannya."
"Tapi—"
Rose tidak menghiraukan kegagapan Sarah. Ia berjalan menuju pintu kayu ek besar bertuliskan Asher Hudson - Marketing Director. Ia memutar knop pintu dengan perlahan, tidak ingin mengganggu jika memang ada pembicaraan serius.
Namun, pemandangan di dalam ruangan itu bukan tentang strategi pemasaran atau grafik penjualan.
Apa yang ia temukan di balik pintu kayu ek ruangan Asher menghancurkan dunianya.
Asher tidak sendirian. Di sana, seorang wanita muda berambut legam bernama Mia Ruller sedang bersandar mesra di dada Asher. Mia bukan sekadar staf biasa. Dia adalah wanita yang dinikahi Asher secara siri, atas paksaan kedua orang tua Asher—tepat tiga bulan yang lalu.
"Rose..." Asher terpaku. Wajahnya yang tampan berubah pucat pasi.
"Siapa dia, Asher?" suara Rose bergetar, namun matanya tetap tajam.
Mia Ruller, dengan tatapan penuh kemenangan, menjawab lebih dulu. "Aku istrinya, Rose. Istri yang diinginkan keluarganya. Istri yang akan memberikan ahli waris bagi keluarga Hudson."
Kalimat itu menghujam jantung Rose. Selama dua tahun pernikahan, mereka memang belum dikaruniai anak. Mereka telah memeriksanya ke dokter terbaik di General Hospital, dan hasilnya jelas: kandungan Rose sangat sehat dan subur. Masalahnya bukan pada biologis, melainkan pada keengganan Asher yang tiba-tiba muncul sejak orang tuanya mulai mengintervensi.
"Kau menikahinya?" bisik Rose, menatap Asher dengan tak percaya. "Tiga bulan yang lalu? Saat kau bilang kau sedang dinas ke Chicago?"
Asher menunduk, tak berani menatap mata hijau istrinya. "Orang tuaku mengancam akan memutus garis warisan, Rose. Mereka ingin darah murni... mereka tahu tentang masa lalumu."
Kata-kata Asher membuat napas Rose tercekat. Masa lalu. Dua kata yang selalu ia coba kubur dalam-dalam di bawah tumpukan salju Boston.
Sebelum menjadi desainer sukses di Boston, Rose adalah seorang gadis yatim piatu yang mencoba bertahan hidup di Texas. Di sana, ia pernah mencintai seseorang dengan begitu membabi buta hingga ia memberikan segalanya—termasuk kesuciannya. Namun, hubungan itu berakhir menjadi mimpi buruk yang membuatnya harus melarikan diri melintasi negara bagian, mengganti identitasnya secara sosial, dan membangun hidup baru dari nol.
Rose Moore bukan lagi seorang perawan saat ia berjalan menyusuri altar menuju Asher dua tahun lalu. Ia mengira Asher adalah pria modern yang menerima jiwanya, bukan sekadar selaput daranya. Asher memang pernah berkata ia tidak peduli, namun di bawah tekanan kolot orang tuanya, janji itu menguap seperti embun pagi.
"Jadi ini alasannya?" Rose tertawa getir, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. "Kau menghukumku karena aku pernah mencintai orang lain sebelum bertemu denganmu? Kau merasa dikhianati oleh masa laluku, lalu kau membalasnya dengan pengkhianatan yang nyata?"
Mia melangkah maju, tangannya dengan angkuh mengusap perutnya yang masih rata. "Keluarga Hudson butuh wanita bersih, Rose. Bukan wanita pelarian dari Texas yang membawa noda."
Rose merasakan kemarahan yang membakar kesedihannya. Ia bukan lagi gadis yatim piatu yang ketakutan di Texas. Ia adalah Rose Moore, wanita yang mendesain berlian paling keras di dunia. Ia tahu nilai dirinya.
"Bersih?" Rose menatap Mia dengan hina, lalu beralih ke Asher. "Kau bicara tentang kebersihan, Asher? Kau menikahi dua wanita sekaligus demi harta orang tuamu. Kau adalah orang paling kotor yang pernah kutemui di Boston."
Asher mencoba meraih tangan Rose. "Rose, aku masih mencintaimu. Aku hanya... aku terjepit. Aku tetap ingin kau menjadi istriku di rumah ini. Mia hanyalah kewajiban bagi keluargaku."
"Kewajiban?" Rose menyentakkan tangannya. "Tiga bulan kau membiarkan aku meragukan diriku sendiri. Tiga bulan kau membuatku merasa tidak berharga sebagai wanita. Dan ternyata, kau sedang bermain rumah tangga dengan wanita lain di belakangku."
Rose melepaskan cincin pernikahannya—sebuah karya seni yang ia desain sendiri dengan berlian murni. Ia meletakkannya di atas meja kerja Asher dengan denting yang memekakkan telinga.
"Cincin ini melambangkan sesuatu yang abadi, Asher. Sesuatu yang tidak kau miliki," ucap Rose dingin. "Kau bisa menyimpan apartemen ini, hartamu, dan istri barumu yang 'bersih' itu. Aku pergi."
Rose berjalan keluar dari gedung pencakar langit itu dengan kepala tegak. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jalanan Boston yang sibuk. Ia tidak tahu harus ke mana, namun ia tahu satu hal: ia tidak akan lari lagi seperti yang ia lakukan di Texas.
Ia menuju ke studionya di kawasan Design Center. Di sana, di antara sketsa perhiasan dan logam mulia, ia menemukan kekuatannya kembali. Ia adalah wanita mandiri. Karirnya sukses bukan karena nama Hudson, melainkan karena bakatnya yang luar biasa.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi pengacara perceraian terbaik di kota itu. Jika Asher menginginkan perang yang didukung oleh orang tuanya, maka Rose akan memberikan perang yang akan menghancurkan reputasi keluarga Hudson di seluruh Boston.
Malam itu, Rose berdiri di depan jendela studionya. Masa lalu di Texas mungkin telah mengambil kesucian fisiknya, dan Asher mungkin telah menghancurkan kepercayaannya, namun tidak ada yang bisa mengambil masa depannya.
Pengkhianatan ini bukan akhir dari cerita Rose Moore. Ini adalah awal dari bab di mana ia tidak lagi membutuhkan pria untuk menentukan nilainya. Di bawah langit Boston yang kelabu, Rose tersenyum tipis. Berlian hanya terbentuk setelah melewati tekanan yang luar biasa, dan malam ini, Rose Moore baru saja menjadi berlian yang paling bersinar.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰