NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Lantai 22 gedung perkantoran di kawasan Sudirman ini seharusnya terasa dingin karena AC yang menderu, namun bagiku, udara mendadak hilang. Aku meremas ujung blus kerjaku, mencoba mengatur napas sebelum melangkah masuk ke ruang rapat besar untuk proyek kolaborasi perdana perusahaan kami.

"Aruna, perkenalkan, ini perwakilan dari divisi analisis data yang akan membantu tim kita," ujar manajerku, Pak Hendra, sambil menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki itu terdengar mantap. Sosok pria dengan kemeja navy yang pas di tubuhnya masuk dengan ekspresi datar. Jantungku yang dulu tidak pernah berdesir selama dua tahun bersamanya, kini justru mencelos jatuh ke dasar perut.

Dia adalah Baskara.

Setahun lalu, pria ini adalah orang yang selalu mengirimiku pesan "Sudah makan?" yang selalu kuabaikan. Pria yang rela menungguku di depan gerbang kampus meski aku sengaja pulang lewat gerbang belakang bersama pria lain.

"Selamat pagi. Saya Baskara," suaranya terdengar berat dan sangat profesional. Tidak ada lagi nada lembut yang dulu selalu memuja namaku.

Aku terpaku. Tatapannya padaku sangat kosong. Ia menatapku seolah aku hanyalah selembar kertas putih yang tak sengaja lewat di hadapannya. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam, dan yang paling menyakitkan: tidak ada lagi cinta di sana.

"Aruna? Bisa dimulai presentasinya?" tegur Pak Hendra menyadarkanku.

"Ah, i-iya. Baik," jawabku gugup. Tanganku gemetar saat menyambungkan kabel HDMI ke laptop. Aku bisa merasakan tatapan Baskara, tapi bukan tertuju padaku, melainkan pada layar di depanku.

Selama presentasi, aku sesekali mencuri pandang. Baskara sibuk mencatat, sesekali memperbaiki letak kacamata yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan berwibawa dibanding saat kuliah dulu. Dia tampak sangat bersinar di dunianya yang sekarang. Dunia yang tidak lagi melibatkan aku di dalamnya.

Selesai rapat, aku memberanikan diri mendekatinya saat yang lain sudah mulai keluar ruangan.

"Bas..." panggilku lirih. Suaraku tercekat di tenggorokan.

Baskara berhenti merapikan berkasnya. Ia mendongak sebentar, menatapku dengan tatapan yang sangat asing. "Ada yang kurang jelas dari data tadi, Bu Aruna? Jika ada, silakan kirim melalui email resmi kantor agar bisa kami tindak lanjuti."

Kata-kata itu bagaikan tamparan. Dia memanggilku 'Bu Aruna'. Dia membangun tembok setinggi langit di antara kami.

"Aku... aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini," lanjutku, mencoba mencari celah untuk percakapan yang lebih manusiawi.

Baskara menyampirkan tas laptopnya ke bahu. Ia melangkah mendekat, namun hanya untuk mengambil pulpen yang tertinggal di meja dekat tempatku berdiri.

"Dunia ini kecil, Aruna," ucapnya dingin tanpa menoleh. "Tapi tenang saja. Aku di sini untuk bekerja, bukan untuk memutar kembali kaset lama yang sudah rusak."

Dia berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkanku yang berdiri mematung. Gema suaranya yang dingin terus terngiang, mengingatkanku bahwa satu tahun ternyata tidak cukup untuk menghapus dosa, justru ia hanya mengubah pria hangat itu menjadi es yang mustahil untuk kulelehkan.

Lantai 22 yang dingin itu mendadak mengabur, tergantikan oleh bayangan masa lalu yang menyesakkan. Pikiranku terlempar kembali ke lorong kampus tiga tahun lalu, saat aku masih menjadi Aruna yang egois dan merasa dunia berputar hanya untukku.

Aku ingat sore itu. Hujan deras mengguyur Jakarta, dan Baskara berdiri di depan lobi fakultasku dengan payung biru di tangan. Ia sudah menungguku selama satu jam hanya untuk mengantarku pulang.

"Na, ayo. Aku sudah pesan taksi juga kalau kamu nggak mau naik motor kehujanan," ucapnya dengan senyum tulus yang selalu berhasil membuat orang lain luluh—kecuali aku.

Aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselku. Aku sedang bertukar pesan dengan Rian, teman sekelasku yang baru kukenal tiga bulan. Dengan Rian, aku merasa tertantang, merasa hidup, meskipun aku tahu itu hanya obsesi sesaat.

"Aku pulang bareng teman, Bas. Kamu balik duluan aja," jawabku ketus tanpa menatap matanya.

"Tapi ini sudah malam, Na. Temanmu siapa?"

"Bukan urusanmu! Jangan terlalu mengekangku, bisa tidak?" bentakku. Aku masih ingat bagaimana binar di matanya meredup seketika. Namun, bukannya marah, dia justru melipat payungnya dan memberikan jaketnya padaku.

"Pakai ini, di sini dingin. Aku duluan ya, hati-hati."

Setiap kebaikannya adalah beban bagiku. Aku merasa bersalah karena tidak bisa mencintainya, namun rasa bersalah itu justru kuubah menjadi kekejaman untuk menutupi kelemahanku. Aku sengaja tidak membalas pesannya selama berhari-hari. Aku sengaja menerima telepon dari pria lain di depannya. Aku ingin dia menyerah, aku ingin dia membenciku agar aku punya alasan untuk pergi.

Puncaknya adalah saat aku benar-benar menjalin hubungan dengan Rian di belakangnya. Aku pikir Baskara tidak tahu, atau mungkin aku memang ingin dia tahu agar drama ini berakhir. Sampai suatu siang di sebuah kafe dekat kampus, aku tertawa lepas sambil menggandeng lengan Rian, tepat saat pintu kafe terbuka dan Baskara berdiri di sana.

Dia tidak memaki. Dia tidak melabrak Rian. Dia hanya menatapku dengan luka yang begitu dalam, seolah aku baru saja menghancurkan seluruh dunianya. Dan aku? Aku justru memalingkan wajah, berpura-pura tidak mengenalnya.

Hingga sebulan kemudian, keadaan berbalik. Rian mencampakkanku setelah bosan dalam tiga bulan, persis seperti prediksiku. Di titik terendah itu, aku justru melihat Baskara berjalan di pusat perbelanjaan dengan seorang wanita yang tampak begitu serasi dengannya. Senyumnya kembali ada, tapi bukan untukku.

Rasa sesak yang menyerangku saat itu membuatku memutuskan untuk menghilang. Aku mengganti nomor, berhenti mencari tahu tentangnya, dan tenggelam dalam pelarian selama satu tahun.

"Bu Aruna? Anda baik-baik saja?"

Suara asistenku memecah gema masa lalu itu. Aku tersentak, kembali ke ruang rapat yang kosong. Baskara sudah pergi. Pria yang dulu memberiku jaket saat hujan, kini memanggilku dengan sebutan formal yang membekukan darahku.

Penyesalan itu datang terlambat, dan suaranya mulai bergema semakin kencang di dadaku.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!