"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Benteng di Atas Tebing
LANGIT Kythira yang biasanya cerah kini tertutup selapis tipis awan kelabu, seolah-olah alam pun sedang menahan napas menyambut badai yang akan datang. Di dermaga pribadi yang tersembunyi di bawah tebing curam, sebuah kapal cepat tanpa lampu navigasi merapat dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar.
Dante berdiri di sana, tangannya bersedekap, matanya tajam mengamati siluet pria yang melompat turun dari kapal. Begitu pria itu melangkah ke area yang terkena cahaya senter redup, Dante melepaskan napas yang telah ia tahan sejak pesan ancaman itu datang.
"Kau terlihat lebih tua, Marco," ucap Dante, suaranya parau namun membawa nada kehangatan yang langka.
Marco, dengan bekas luka baru yang melintang di pipi kirinya, tertawa pendek. Ia memberikan hormat militer sebelum memeluk Dante dengan erat. "Dan kau terlihat lebih... damai, Bos. Meskipun aku tahu itu tidak akan bertahan lama setelah kau meneleponku."
Di belakang Marco, empat pria bertubuh tegap dengan tas taktis besar keluar dari kapal. Mereka adalah unit elit The Reapers, kelompok pengawal pribadi yang dulu dibubarkan Dante saat ia memutuskan untuk menghilang. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki nama di catatan negara mana pun—hanya loyalitas yang dibayar dengan nyawa.
"Bawa senjatanya ke atas," perintah Dante pada tim itu. "Gunakan jalur terowongan. Aku tidak ingin ada satelit yang menangkap pergerakan kita di jalan utama."
Kembali ke dalam vila, suasana telah berubah total. Ruang makan yang biasanya digunakan untuk makan malam romantis kini dipenuhi dengan monitor komputer, perangkat pengacak sinyal, dan tumpukan magasin peluru. Aria duduk di depan meja, wajahnya serius saat ia meninjau daftar logistik yang dibawa Marco.
"Selamat malam, Nyonya Moretti," sapa Marco dengan hormat saat ia masuk. Matanya sempat melirik perut Aria yang membuncit, dan ada kilatan tekad baru di sana. "Senang melihat Anda dalam keadaan sehat."
Aria tersenyum tipis. "Terima kasih, Marco. Aku harap kau membawa lebih dari sekadar senapan."
"Aku membawa jawaban, Nyonya," Marco meletakkan sebuah map hitam tebal di meja. "Tentang Il Monarca."
Dante menarik kursi di samping Aria, menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Katakan pada kami, siapa bajingan yang berani mengklaim nama itu?"
Marco mengaktifkan proyektor kecil di tengah meja. Sebuah foto buram dari kamera keamanan di Jenewa muncul di dinding. Di sana terlihat seorang pria dengan jas abu-abu perak, berdiri di depan sebuah gedung bank privat. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun ada sebuah tanda lahir yang sangat spesifik di pangkal lehernya.
"Namanya adalah Valerio Moretti," ucap Marco, suaranya merendah.
Dante seketika membeku. Cengkeramannya pada tangan Aria mengerat secara tidak sadar. "Valerio? Itu tidak mungkin. Valerio mati di kecelakaan helikopter bersama ayahku sepuluh tahun lalu. Aku sendiri yang mengidentifikasi... sisa-sisanya."
"Ternyata sisa-sisa itu bukan miliknya, Bos," sahut Marco. "Valerio adalah sepupu jauhmu, anak dari Alessandro yang konon 'dibuang' karena dianggap terlalu lemah. Namun kenyataannya, dia adalah otak di balik semua sistem pencucian uang klan Moretti yang paling dalam. Dia tidak mati. Dia memalsukan kematiannya untuk membangun kekuasaan di luar bayang-bayang Lorenzo."
Aria mengernyit, otaknya mulai bekerja cepat membedah informasi ini. "Jadi, dia bukan hanya ingin membangun kembali The Circle. Dia ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, Alessandro, yang kau eksekusi di Palermo?"
"Lebih dari itu, Nyonya," lanjut Marco. "Valerio menganggap Dante sebagai kegagalan genetik. Dia percaya bahwa Dante telah mencemari darah Moretti dengan menikahi Anda, seorang Vane. Bagi Valerio, bayi yang Anda kandung adalah ancaman bagi kemurnian klan, sekaligus alat tawar-menawar yang paling sempurna untuk menyatukan kembali faksi-faksi yang tercerai-berai."
Dante berdiri, ia berjalan menuju jendela, menatap kegelapan Mediterania. "Dia menggunakan taktik yang sama dengan kakekku. Memurnikan garis keturunan dengan kekerasan. Valerio selalu membenciku karena aku adalah pewaris sah, sementara dia hanya dianggap sebagai 'pelayan' administrasi."
"Sekarang dia bukan lagi pelayan," ucap Aria, suaranya tenang namun tajam. "Jika dia mengontrol dana Project Phoenix, dia memiliki pengaruh atas politisi-politisi di Roma yang baru saja kita jatuhkan. Dia adalah pemulih. Orang yang menjanjikan mereka kembalinya kekuasaan jika mereka membantunya menangkap kita."
Malam itu, vila putih di Kythira berubah menjadi benteng yang mematikan. Tim Marco memasang sensor tekanan di sepanjang tebing dan kamera termal di setiap sudut yang tersembunyi. Dante sendiri yang mengawasi pemasangan jammer frekuensi untuk mencegah serangan drone.
Di tengah kesibukan itu, Aria tidak hanya tinggal diam. Ia kembali ke meja kerjanya, meneliti catatan dari klinik lokal tempat ia melakukan pemeriksaan kehamilan.
"Dante, kemari," panggil Aria.
Dante mendekat, ia tampak lelah namun tetap waspada. "Ada apa?"
"Aku menemukan siapa yang membocorkan informasiku," Aria menunjuk ke sebuah nama di daftar staf klinik. "Elena. Dia adalah asisten perawat yang baru bergabung dua bulan lalu. Aku ingat dia selalu sangat tertarik dengan detail asuransi kesehatan 'Anna'."
Aria melakukan pencarian cepat di laptopnya, menggunakan akses yang diberikan Marco. "Lihat ini. Rekening Elena menerima transfer sebesar lima puluh ribu Euro dari sebuah perusahaan cangkang di Panama yang terkait dengan Valerio. Dia masih di pulau ini, Dante."
Dante menatap layar itu dengan mata yang berkilat jahat. "Marco! Siapkan mobil. Kita punya tikus yang perlu diinterogasi."
"Jangan, Dante," Aria menahan tangan suaminya. "Jika kau menangkapnya sekarang, Valerio akan tahu kita sudah menyadari keberadaannya. Biarkan dia tetap di sana. Gunakan dia untuk mengirim informasi palsu."
Dante terdiam, menatap istrinya dengan rasa kagum yang tumbuh kembali. "Kau ingin melakukan counter-intelligence?"
"Berikan dia kesan bahwa kita sedang bersiap untuk melarikan diri ke daratan Yunani besok malam," Aria tersenyum miring—senyuman yang menunjukkan bahwa dia adalah pasangan yang sepadan bagi Sang Penjagal dari Milan. "Biarkan Valerio mengarahkan pasukannya ke pelabuhan umum, sementara kita menjebak mereka di jalur tebing yang sempit."
Dante tertawa kecil, ia mencium kening Aria. "Aku sering lupa bahwa kau adalah pengacara korporasi yang paling licik di New York. Baiklah, kita gunakan rencanamu."
Pukul 02.00 dini hari.
Keheningan vila dipecahkan oleh suara dengung halus dari langit. Sensor termal di monitor Marco tiba-tiba menyala merah terang.
"Drone pengintai," lapor Marco melalui radio. "Dua unit. Mereka sedang memetakan posisi kita."
"Jangan tembak jatuh," perintah Dante dari ruang kontrol. "Biarkan mereka melihat apa yang ingin kita tunjukkan."
Di layar monitor, terlihat Aria sedang mengemasi tas-tas besar ke dalam bagasi mobil SUV mereka, sementara beberapa pria (anggota tim Marco yang menyamar) tampak sibuk memindahkan peti-peti kayu. Ini adalah pertunjukan untuk Elena dan drone Valerio.
"Mereka tertelan umpannya," bisik Aria, ia berdiri di dekat bagasi mobil, memastikan wajahnya tertangkap kamera drone sejenak sebelum ia masuk kembali ke dalam rumah.
Namun, di tengah sandiwara itu, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan. Bukan ledakan besar, melainkan sebuah ledakan pengalih perhatian.
"Bos! Kita punya penyusup di perimeter selatan!" teriak salah satu anggota The Reapers.
Dante segera meraih senapan serbunya. "Aria, masuk ke ruang aman bawah tanah. Sekarang!"
"Dante, aku bisa membantu—"
"Tidak untuk kali ini, Aria! Ini bukan politik, ini adalah tim pembunuh!" Dante memegang wajah Aria, mencium bibirnya dengan kasar dan cepat. "Jaga bayi kita. Aku akan membereskan sampah-sampah ini."
Aria mengangguk, ia tahu kapan harus mundur. Ia berlari menuju dapur, menarik tuas rahasia di balik lemari pendingin yang membuka jalan menuju bunker baja yang dibangun Dante di dalam tebing.
Begitu pintu bunker tertutup, Aria duduk di depan deretan monitor cadangan. Ia bisa melihat melalui kamera luar: delapan pria berpakaian serba hitam, bergerak dengan formasi militer yang sangat rapi, mulai mendaki tebing menggunakan tali peluncur.
Ini bukan Scorpion XIII biasa. Ini adalah Sombra Unit, tentara bayaran elit dari Amerika Selatan yang dibawa Valerio.
Dante dan Marco sudah berada di posisi. Mereka membiarkan para penyusup itu melewati garis sensor pertama. Saat para pembunuh itu berada di tengah jalan setapak tebing yang sempit, Dante menekan tombol detonator.
BOOOOM!
Bagian dari jalan setapak itu runtuh, mengirim dua penyerang jatuh bebas ke dasar laut yang gelap. Sisanya segera berlindung di balik bebatuan, melepaskan tembakan balasan yang gencar.
Suara tembakan RAT-TAT-TAT memecah kesunyian malam Kythira. Peluru-peluru menghantam dinding vila, menghancurkan kaca-kaca jendela yang selama ini menjadi saksi kedamaian mereka.
Dante bergerak seperti bayangan di antara pilar-pilar vila. Ia tidak menembak secara membabi buta. Setiap kali senjatanya menyalak, satu nyawa musuh melayang. Marco memberikan perlindungan dari lantai dua, menggunakan senapan runduk untuk melumpuhkan siapa pun yang mencoba mendekati pintu masuk utama.
Di dalam bunker, Aria memperhatikan monitor dengan napas tertahan. Ia melihat salah satu penyerang berhasil mencapai balkon kamarnya. Pria itu memegang granat, siap untuk melemparkannya ke dalam ruangan tempat ia mengira Aria berada.
"Dante! Di balkon!" teriak Aria melalui interkom.
Dante bereaksi seketika. Ia tidak menembak; ia menerjang pria itu dari arah samping, menghantamnya hingga mereka berdua jatuh ke lantai balkon. Dante mencengkeram tangan pria itu yang memegang granat, memutar lengannya hingga terdengar suara tulang retak yang mengerikan.
Dante merebut granat itu, menarik pinnya, dan menendang pria itu jatuh dari balkon sebelum melempar granat tersebut ke arah kelompok penyerang yang tersisa di bawah.
BOOOM!
Ledakan itu mengakhiri pertempuran kecil tersebut. Sisa-sisa penyerang yang masih hidup segera melarikan diri menuju kapal mereka yang menunggu di kejauhan.
Dante masuk ke dalam bunker sepuluh menit kemudian. Napasnya masih memburu, bajunya robek di beberapa tempat, dan ada luka goresan di lengannya. Namun matanya, mata abu-abu itu, tampak puas.
Aria segera berlari memeluknya. "Kau terluka?"
"Hanya goresan kecil," jawab Dante, ia memeluk Aria erat, mengabaikan bau mesiu yang menempel di tubuhnya. "Mereka hanya tim pengintai. Valerio ingin menguji seberapa kuat pertahanan kita sebelum dia mengirim pasukan utamanya."
"Tapi sekarang dia tahu kita ada di sini dan kita siap," ucap Aria.
"Tidak," Dante melepaskan pelukannya dan menatap mata Aria. "Sekarang dia tahu bahwa menyerang kita di sini adalah bunuh diri. Dia akan mengubah taktiknya. Dia akan mencoba memancing kita keluar dari pulau ini."
Dante mengambil sebuah ponsel dari saku salah satu penyerang yang ia bunuh tadi. Ponsel itu bergetar. Sebuah pesan video masuk.
Dante membukanya. Di layar muncul wajah Valerio Moretti. Pria itu tampak tenang, duduk di sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku hukum. Di belakangnya, terlihat sebuah jendela yang menampilkan pemandangan yang sangat dikenal Aria.
Itu adalah kantor yayasan sosial Aria di New York.
"Dante, Aria," suara Valerio terdengar halus namun penuh ancaman. "Pertunjukan kembang api di Kythira sangat indah. Tapi kalian harus tahu bahwa aku tidak suka bermain di satu tempat saja. Jika kalian tidak menyerahkan diri di pelabuhan Piraeus dalam empat puluh delapan jam, yayasan ini akan meledak bersama semua orang di dalamnya. Dan percayalah, aku punya banyak 'hadiah' lain di seluruh Eropa."
Video itu berakhir.
Aria terduduk lemas di kursi bunker. Stafnya di New York adalah orang-orang baik yang tidak tahu apa-apa tentang dunianya.
"Dia menyerang apa yang aku bangun untuk menebus dosaku," bisik Aria, air mata amarah mulai mengalir.
Dante mengepalkan tangannya. "Dia ingin perang total, Aria. Dan dia akan mendapatkannya. Tapi kita tidak akan pergi ke Piraeus. Kita akan pergi ke tempat yang tidak pernah dia duga."
"Ke mana?"
Dante menatap istrinya dengan tatapan yang paling gelap. "Ke sarang aslinya. Kita kembali ke Sisilia. Kita akan mengumpulkan klan-klan tua yang dulu setia pada kakekku. Jika Valerio ingin menjadi Sang Penguasa, kita akan tunjukkan siapa raja yang sebenarnya."
Perang internal Moretti telah mencapai tahap yang paling mematikan. Dan kali ini, Aria menyadari bahwa untuk melindungi nyawa baru di dalam dirinya, dia harus benar-benar melepaskan sisi kemanusiaannya sekali lagi.