tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Frekuensi yang Terbelah
Hujan di Manchester beralih menjadi gerimis tipis yang menyesakkan, jenis cuaca yang membuat paru-paru terasa berat. Elara dan Arlo berjalan cepat meninggalkan kafetaria, tidak berani menoleh ke belakang. Pria dari "The Resonance Seekers" tadi telah menanamkan duri baru dalam pikiran mereka: mereka bukan lagi manusia, melainkan properti spiritual bagi orang-orang yang kehilangan arah.
"Kita tidak bisa kembali ke toko buku," bisik Elara saat mereka tiba di tikungan jalan yang gelap. "Jamie akan aman jika kita tidak ada di sana. Jika kita kembali, kita hanya akan membawa kawanan serigala itu ke pintunya."
Arlo menarik napas panjang, aroma aspal basah dan asap industri menusuk indranya. "Lalu ke mana? Jika dunia sudah menganggap suara kita sebagai 'kitab suci', maka tidak ada tempat di bumi ini yang cukup sunyi untuk kita bersembunyi."
"Ke tempat di mana suara tidak ada harganya, Arlo. Ke tempat yang penuh dengan kebisingan yang tidak berarti," jawab Elara. Ia menarik tangan Arlo, menuntunnya menuju stasiun Piccadilly.
Pelarian ke Dalam Kebisingan
Di dalam kereta komuter yang sesak menuju London, mereka hanyalah dua orang asing yang kelelahan di antara ratusan pekerja kantoran yang menunduk menatap layar ponsel. Di sinilah ironinya: di tengah kerumunan, mereka merasa lebih aman daripada di dalam loteng yang sunyi. Elara terus mengamati sekeliling, waspada jika ada lensa kamera yang mengarah ke mereka.
Arlo duduk menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang bergetar. Getaran mesin kereta menciptakan frekuensi rendah yang biasanya akan ia analisis, namun kali ini ia menutup matanya rapat-rapat.
"El," panggil Arlo pelan, hampir tenggelam oleh suara pengumuman stasiun. "Pria di kafetaria tadi benar. Kita tidak bisa memalsukannya. Jika kita berbohong dan mengatakan itu semua hoax, mereka justru akan menggali lebih dalam. Mereka akan mencari bukti-bukti laboratorium di Skotlandia, mereka akan melacak setiap senar gitar yang pernah kusentuh. Kebohongan itu akan menjadi magnet baru."
Elara menoleh, menatap wajah Arlo yang pucat di bawah lampu neon kereta yang berkedip. "Jadi kita harus bagaimana? Membiarkan mereka memuja rasa sakitmu selamanya?"
"Bukan memuja," Arlo membuka matanya, ada kilatan tekad yang mulai muncul menggantikan keputusasaan. "Kita harus menghancurkan frekuensi itu dengan frekuensi lain. 'About You' adalah tentang kerinduan yang merusak. Kita harus membuat sesuatu yang... membosankan. Sesuatu yang sangat biasa hingga mereka kehilangan minat."
Apartemen Tersembunyi di Greenwich
Mereka berakhir di sebuah apartemen studio kecil di Greenwich yang disewa Elara menggunakan nama samaran lama sebelum semua kegilaan ini dimulai. Apartemen itu terletak di lantai empat, menghadap ke arah Sungai Thames yang kelabu. Tidak ada alat musik, tidak ada radio, hanya sebuah laptop tua dan tumpukan buku catatan kosong.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa jam. Saat Elara menyalakan laptop untuk memeriksa berita, jantungnya seolah berhenti detak.
Sebuah situs web baru muncul: TheLastResonance.com. Di sana, terdapat hitung mundur digital dengan latar belakang suara detak jantung yang sangat dikenali Elara. Itu adalah rekaman detak jantung Arlo saat mereka berada di mercusuar, frekuensi yang seharusnya sudah dihancurkan oleh Jamie.
"Arlo, lihat ini," suara Elara bergetar.
Arlo mendekat dan melihat layar itu. Di bawah hitung mundur itu tertulis sebuah kalimat:
“Suara yang menyatukan kita tidak bisa mati. Kami memiliki sisa-sisa terakhir dari 'About You' yang tidak pernah dirilis. 24 jam lagi, dunia akan mendengar akhir dari tragedi ini.”
"Itu bohong," kata Arlo dengan suara tercekat. "Tidak ada lagu lain. Aku menghancurkan semua pita rekaman di Salford."
"Tapi Marcus tidak," bisik Elara. "Marcus atau label rekamannya pasti menyimpan salinan digital di cloud server yang tidak kita jangkau. Dan sekarang, entah bagaimana, para 'Seekers' itu berhasil meretasnya atau membelinya."
Pilihan Terakhir
Situasi kini berbalik. Mereka bukan lagi melarikan diri dari masa lalu, melainkan berpacu dengan waktu sebelum fragmen terakhir dari jiwa Arlo dieksploitasi secara global. Jika lagu itu bocor, Arlo tidak akan pernah bisa sembuh. Ia akan selamanya menjadi "nabi" yang dibicarakan orang-orang di kafetaria, sebuah monumen penderitaan yang abadi.
"Elara," Arlo memegang tangan Elara yang sedang gemetar di atas keyboard. "Aku harus melakukan satu hal terakhir. Bukan sebagai Arlo Sang Arsitek, tapi sebagai aku."
"Apa maksudmu?"
"Kita akan pergi ke kantor label rekaman itu besok pagi. Bukan untuk menuntut, bukan untuk bersembunyi. Aku akan memberikan mereka apa yang mereka inginkan, tapi dengan syarat."
Elara menatap mata Arlo yang dalam. Di sana, ia melihat bayangan pria yang pernah ia cintai sepuluh tahun lalu—seorang musisi yang hanya ingin lagunya didengar tanpa beban dunia.
"Syarat apa, Arlo?"
Arlo tersenyum, sebuah senyuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus awal yang baru. "Syarat bahwa setelah lagu ini selesai, 'About You' tidak lagi menjadi milikku atau milik mereka. Lagu itu akan menjadi milik kebisingan."
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐