Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 PESONA SANG MODEL DAN BUNGA-BUNGA DI HATI OLIVE
Minggu, 11 Mei 2025, Musim Semi
Cahaya matahari musim semi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Olivia Elenora Aurevyn. Pagi itu terasa jauh lebih manis daripada pagi-pagi sebelumnya. Olive, yang biasanya langsung terjaga demi Alex, kali ini memilih untuk membenamkan wajahnya di balik bantal sutranya sambil berguling-guling kecil. Bayangan kejadian semalam di pesta dansa terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang sangat menyenangkan untuk dinikmati.
Setiap sentuhan Liam di pinggangnya, bisikan hangat pria itu yang menjanjikan ketulusan, hingga bagaimana Liam menggendong Alex dengan begitu protektif, membuat jantung Olive berdegup kencang hanya dengan mengingatnya. Pipinya memanas, warna kulit porcelain-nya kini merona merah muda alami.
"Apa dia benar-benar serius?" gumam Olive pada langit-langit kamarnya yang mewah.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Sebuah notifikasi pesan masuk membuat senyumnya merekah lebar.
Liam: "Selamat pagi, Olive. Kuharap tidurmu nyenyak. Jangan lupa sarapan, aku tidak ingin Kupu-Kupu Emasku kelelahan hari ini. Sampaikan salamku untuk Jagoan Kecil."
Olive memekik pelan, menendang-nendang udara di bawah selimutnya. Rasanya sangat konyol, namun ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta. Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, ia mulai mengetik balasan. Tentu saja, sebagai seorang Aurevyn, ia harus tetap menjaga harga diri sedikit.
Olive: "Selamat pagi. Tidurku cukup nyenyak. Terima kasih pengingatnya, Tuan Monarch. Sampaikan juga salamku pada pekerjaanmu yang menumpuk itu."
Setelah mengirim pesan "jual mahal" tersebut, Olive segera melompat turun dari tempat tidur. Ia mandi dengan perasaan riang, bersenandung pelan sambil memilih pakaian. Pilihan hari ini jatuh pada one set rajut berwarna lavender yang sangat cocok dengan kulit cerahnya. Ia menyisir rambut long layered-nya dan merapikan see-through bangs-nya hingga terlihat sempurna.
Saat Olive menuruni tangga menuju ruang makan, aroma kopi kasmir dan roti panggang yang lezat sudah memenuhi udara. Di meja makan, seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul. Bramasta sedang membaca koran digital, sementara Bunda Feli sibuk menyuapkan potongan buah ke mulut Alex yang tampak sudah rapi.
"Wah, anak Bunda terlihat sangat ceria pagi ini," goda Bunda Feli saat melihat Olive duduk di kursinya.
"Tentu saja, Bunda. Cuaca hari ini sangat bagus," jawab Olive beralasan, meski Brian yang duduk di seberangnya hanya mendengus geli karena tahu persis penyebab aslinya.
"Olive," panggil Bramasta dengan nada serius namun hangat. "Hari ini kamu tidak usah repot repot membawa Alex ke Butik. Karena Bunda berniat membawa Alex keluar seharian."
Feli mengangguk, mengelus rambut Alex. "Iya, Sayang. Bunda ingin mengenalkan Alex secara lebih luas kepada teman-teman sosialita Bunda. Selama ini Alex terlalu banyak bersembunyi. Sudah saatnya dunia tahu betapa menggemaskannya cucu pertama Aurevyn ini."
Alex tampak bersemangat. "Alex mau jalan-jalan bersama Nenek?"
"Iya, Alex pintar. Kita akan pergi ke klub berkuda dan mungkin makan es krim di dermaga," jawab Feli.
Olive mengangguk paham. "Tidak apa-apa, Bunda. Luna sudah mengirim pesan bahwa dia sudah membuka butik sejak pagi tadi. Aku juga sepertinya sedikit sibuk hari ini di Butik. Alex, jangan nakal ya dengan Nenek?"
"Siap, Mama!" seru Alex dengan tangan memberi hormat, membuat seisi meja makan tertawa.
Siang hari di butik Aurevyn Couture berjalan cukup lancar. Meski hari Minggu, banyak pelanggan yang datang hanya untuk mengambil pesanan custom mereka yang sudah jadi. Luna tampak sangat cekatan melayani mereka, sementara Olive memilih untuk fokus di meja sketsanya, mengerjakan beberapa pesanan baru yang masuk setelah kesuksesan pesta semalam.
Saat butik mulai agak sepi sekitar pukul dua siang, Luna tampak sedikit jenuh. Ia menoleh ke arah Olive yang masih asyik dengan pensil warnanya.
"Olive, bolehkah saya menyalakan televisi sebentar? Saya ingin mendengar berita dunia hiburan, rasanya sepi jika hanya ada suara gunting," tanya Luna sopan.
"Tentu, Luna. Pakai saja," jawab Olive tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
Televisi di sudut ruangan menyala, menampilkan sebuah acara berita hiburan terhangat di Monako. Layar menampilkan sosok seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut pirang platinum dan gaun yang sangat terbuka.
"Berita teratas hari ini, model internasional Thalia yang baru saja kembali dari Paris dikabarkan tengah berada di Monako selama satu minggu terakhir. Thalia yang baru saja menjalani serangkaian prosedur kecantikan di wajahnya ini kini menjadi trending topik. Kabar burung mengatakan kedatangannya ke Monako adalah untuk mengejar kembali cinta lama seorang penguasa keamanan dunia..."
Luna yang sedang duduk di kursi kasir tiba-tiba mendengus keras. Ia melipat tangannya di dada dengan ekspresi kesal. "Duh, kenapa berita isinya wanita ini terus sih?"
Olive menoleh sedikit, tertarik. "Kenapa, Luna? Dia cantik, kan?"
Luna mencibir, bibirnya maju beberapa senti. "Cantik apanya, Olive? Itu wajah penuh plastik. Maaf saja ya, tapi aku bisa melihat aura orang. Senyumannya itu sangat palsu, seperti dibuat-buat hanya di depan kamera. Matanya sama sekali tidak memancarkan kebaikan."
Olive tertawa renyah mendengar kejujuran asistennya itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Luna bicara agak pedas. "Oh, benarkah? Kau bisa membaca aura sekarang?"
"Serius, Olive!" Luna berdiri dan menunjuk layar televisi. "Lihat cara dia menatap kamera. Sangat ambisius dan... licik? Entahlah, aku merasa dia tipe orang yang akan melakukan apa saja demi keinginannya. Dan lagi, siapa 'penguasa keamanan dunia' yang dimaksud berita itu? Jangan bilang dia mengincar Tuan Liam?"
Tawa Olive pecah, ia meletakkan pensilnya dan ikut menatap layar. "Monako ini kecil, Luna. Gosip menyebar lebih cepat daripada cahaya. Thalia memang pernah dikabarkan dekat dengan Liam beberapa tahun lalu saat Liam masih sering berada di London dan Paris untuk urusan militer. Tapi Liam tidak pernah mengonfirmasinya."
"Tetap saja! Aku tidak suka auranya. Dia terlihat seperti rubah yang berbulu domba," ketus Luna.
Olive menggeleng-gelengkan kepala, merasa lucu karena Luna justru lebih protektif terhadap hubungannya dengan Liam daripada dirinya sendiri. "Sudahlah, Luna. Fokus saja pada pekerjaan kita. Aura palsu atau tidak, dia tetap model terkenal. Kita lihat saja sejauh mana rubah itu bisa beraksi di Monako."
Meskipun Olive berkata begitu dengan santai, di dalam hatinya ada sedikit rasa penasaran yang terusik. Kedatangan Thalia dan rumor tentang "mengejar cinta lama" jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, apalagi setelah Liam baru saja meresmikan hubungan mereka semalam.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘