NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.Peperangan di utara.

Di tempat lain.

Angin di Perbatasan Utara tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia hanya berganti nada.

Kadang melolong seperti serigala kelaparan, kadang mendesah panjang seperti orang tua yang lelah hidup terlalu lama.

Pagi itu, angin membawa bau besi.

Bau darah.

Bau tanah yang diacak-acak oleh puluhan pasang kaki bersenjata.

Kabut tipis belum sepenuhnya naik ketika dua warna berbeda saling bertabrakan di dataran berbatu dekat jurang Sungai Han.

Merah tua dan hitam.

Merah tua milik Pasukan Perbatasan Utara Negeri Qi.

Hitam milik prajurit Negara Wu yang menyusup diam-diam semalam, berharap kabut menjadi sekutu mereka.

Mereka salah.

Karena di perbatasan ini, kabut bukan sekutu siapa pun.

Kabut hanya memperlambat kematian.

Suara baja beradu memekakkan telinga.

Dentang pedang, jeritan pendek, napas yang terpotong sebelum sempat menjadi teriakan.

Di tengah kekacauan itu, seorang pria tua berdiri dengan pedang panjang yang sudah kehilangan kilau.

Jubah perangnya robek di bahu. Darah mengalir dari pelipis sampai ke leher.

Namun matanya masih tajam.

Terlalu tajam untuk orang seusianya.

Jenderal Xin.

Sang penjaga utara yang namanya membuat Negara Wu menunda serangan selama tiga tahun terakhir.

Kini, ia dikepung.

Enam prajurit Wu mengitarinya dalam lingkaran setengah hati.

Mereka tahu siapa yang mereka hadapi.

Mereka tahu pria tua ini sudah membantai lebih banyak rekan mereka dibanding musim dingin yang membunuh pasukan mereka.

Tapi mereka juga tahu satu hal lain—

Ia kelelahan.

Napas Jenderal Xin berat.

Setiap ayunan pedangnya masih mematikan, tetapi tidak lagi secepat dulu.

Dua prajurit Wu maju bersamaan.

Ia menebas satu, menusuk perut yang lain, namun lututnya sedikit goyah saat menarik pedang kembali.

Mereka melihat celah itu.

Tiga orang menyerbu sekaligus.

Satu tombak hampir menembus sisi rusuknya.

Hampir.

Karena tiba-tiba sesuatu melintas seperti kilat baja.

CLA..NG!

Tombak itu terbelah dua sebelum menyentuh kain perang Jenderal Xin.

Semua kepala menoleh.

Dan angin, yang tadi melolong, mendadak diam.

Dari balik kabut tipis, seorang pria berjalan mendekat.

Langkahnya tidak tergesa.

Tidak panik.

Tidak seperti seseorang yang masuk ke medan perang.

Lebih seperti seseorang yang pulang ke rumah.

Seragamnya merah tua yang sama, namun jauh lebih bersih.

Bukan karena ia belum bertempur—

melainkan karena darah belum sempat menempel.

Pedang baja panjang di tangannya memantulkan cahaya pucat pagi.

Wajahnya tegas, garis rahangnya keras, mata gelap yang tidak menunjukkan apa-apa selain niat membunuh yang tenang.

Xin Hong Lin.

Putra tunggal Jenderal Xin.

Komandan termuda di Perbatasan Utara.

Dan nama yang dibisikkan musuh dengan nada setengah takut, setengah percaya takhayul.

Iblis Utara.

Salah satu prajurit Wu mundur selangkah tanpa sadar.

“Dia…”

“Hong Lin…” Jenderal Xin menggeram pelan, bukan marah—lebih seperti lega yang enggan diakui.

Hong Lin tidak menjawab.

Matanya menyapu medan dengan cepat.

Menghitung.

Menilai.

Menyimpulkan.

Tujuh belas musuh tersisa di radius dekat.

Empat di belakang batu.

Tiga memanah dari ketinggian.

Dua mencoba menyelinap ke sisi ayahnya.

Sisanya ragu.

Keraguan adalah hal paling berbahaya di medan perang.

Karena Hong Lin tidak pernah ragu.

Ia melangkah.

Dan dunia seperti terlambat satu detik mengikuti gerakannya.

Pedangnya berayun.

Tidak liar.

Tidak kasar.

Terlalu presisi untuk disebut brutal.

Satu tebasan.

Satu leher.

Ia tidak berhenti.

Tubuhnya berputar, pedang memotong udara, lalu memotong daging.

Prajurit Wu kedua bahkan tidak sempat mengangkat senjata.

Darah menyembur, hangat, pekat.

Hong Lin maju lagi.

Seorang prajurit mencoba menusuk dari samping.

Hong Lin menangkis tanpa melihat, lalu menusuk balik ke bawah ketiak baju zirah.

Jeritan pendek.

Jatuh.

Ia terus berjalan.

Tidak ada teriakan perang.

Tidak ada amarah.

Wajahnya datar.

Seolah ini bukan pembantaian, hanya pekerjaan rutin yang harus diselesaikan sebelum sarapan.

Dua pemanah di atas batu menembak bersamaan.

Hong Lin bergerak ke samping satu langkah.

Anak panah pertama meleset.

Yang kedua—ditangkis dengan sisi pedang, terpental dan berputar jatuh ke jurang.

Ia menghilang dari pandangan sesaat.

Lalu muncul di atas batu.

Bagaimana ia sampai di sana tidak ada yang melihat.

Satu pemanah terbelah dari bahu sampai dada.

Yang lain dipukul dengan gagang pedang sampai jatuh pingsan sebelum ditendang ke bawah.

Di bawah, prajurit Wu mulai panik.

Formasi mereka pecah.

Dan di perbatasan, formasi yang pecah berarti kematian yang cepat.

“Bunuh dia!” teriak salah satu komandan Wu.

Mereka menyerbu bersama.

Lima orang.

Pedang dan tombak dari berbagai arah.

Hong Lin melompat turun dari batu, mendarat tepat di tengah mereka.

Pedangnya bergerak seperti garis cahaya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata.

Ketika ia berhenti, hanya satu yang masih berdiri—dan itu karena ia belum sadar bahwa perutnya sudah terbuka.

Prajurit itu melihat ke bawah, terhuyung, lalu roboh pelan.

Sunyi.

Hanya angin yang kembali bernapas.

Dan suara darah menetes dari ujung pedang Hong Lin ke tanah berbatu.

Jenderal Xin menghela napas panjang.

“Kau terlambat,” katanya parau.

Hong Lin berjalan mendekat, menyeka pedangnya ke kain baju musuh tanpa ekspresi.

“Ayah masih hidup. Artinya aku tidak terlambat.”

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang hangat tersembunyi di dalamnya.

Jenderal Xin mendengus kecil. “Sedikit saja,nyawa ayahmu ini akan hilang.”

Hong Lin menoleh sedikit, memeriksa luka di pelipis ayahnya.

“Ini perlu dijahit.”

“Ini cuma goresan.”

“Ini goresan yang bisa membunuh kalau infeksi.”

Jenderal Xin terdiam.

Ia menatap anaknya.

Dan untuk sesaat, bukan jenderal yang melihat komandan.

Melainkan ayah yang melihat putranya tumbuh terlalu cepat di medan perang yang terlalu kejam.

“Kenapa kau turun sendiri?” tanyanya pelan.

Hong Lin menatap dataran yang kini penuh mayat.

Kabut mulai naik, memperlihatkan jelas hasil pertarungan.

“Karena mereka berani mengepungmu.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun mata gelapnya mengeras seperti batu es.

“Dan aku tidak suka itu.”

Jenderal Xin tertawa pendek, lalu batuk karena terlalu banyak menghirup udara dingin.

“Iblis Utara…” gumamnya.

Hong Lin tidak membantah.

Ia sudah terlalu sering mendengar julukan itu.

Dari musuh.

Dari prajuritnya sendiri.

Bahkan dari rakyat di desa perbatasan.

Iblis.

Karena tidak ada emosi di wajahnya saat membunuh.

Karena ia tidak pernah ragu.

Karena ia tidak pernah mundur.

Karena ia selalu datang tepat saat keadaan paling buruk.

Namun tak satu pun dari mereka tahu—

ia bukan tidak punya emosi.

Ia hanya menyimpannya sangat dalam.

Di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.

Angin kembali berdesah.

Hong Lin tiba-tiba menoleh ke arah selatan.

Jauh.

Sangat jauh.

Arah yang tidak ada hubungannya dengan pertempuran ini.

Jenderal Xin memperhatikan. “Apa?”

Hong Lin menyipitkan mata.

Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang aneh di dadanya.

Seperti getaran halus.

Seperti… panggilan.

Ia tidak mengerti.

Hanya rasa tidak nyaman yang lewat begitu saja.

“…Tidak apa-apa,” katanya akhirnya.

Namun di langit jauh di selatan, di atas Desa Ying yang tenang—

petir baru saja menggelegar di pagi yang cerah.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!