NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Pinggir Amerta

Sinar matahari menyelinap di antara celah tebing tinggi, memantul pada permukaan sungai yang mengalir tenang dan dalam. Di depan rumah yang besar. Seorang wanita berteriak.

"Putih!"

"Saya, Ibu," jawab Putih pelan. Dia jalan ke rumah dengan membawa bakul berisi pakaian yang sudah dicuci dari sungai.

"Ibu? Panggil aku Nyonya Besar!"

"Baik, Nyonya Besar."

"Lihat tumpukan kain di sudut dapur itu. Itu adalah pakaian sutra kesayanganku dan kain-kain milik kakakmu yang baru saja kotor terkena debu saat dia mengamuk tadi," ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah tumpukan kain merah marun dan cokelat.

"Jangan biarkan para pelayan menyentuhnya. Bahan-bahan itu sangat halus. Aku hanya percaya padamu untuk mencucinya di sungai. Pastikan tidak ada satu pun serat yang rusak," lanjutnya.

"Nyonya, Nona Putih baru saja selesai mencuci pakaian," ucap Melati yang tadinya di belakang Putih, jadi berjalan ke depan.

"Lancang! Kamu hanyalah pelayan rendahan, berani sekali membantahku!" Tangan wanita itu bersiap untuk memberikan tamparan.

Namun, ditahan oleh Putih yang langsung berbicara, "Nyonya Citra, saya mohon, jangan, saya paham betul dengan tugas saya."

"Berani sekali kamu memanggil namaku." Tangan Citra yang tadinya terangkat jadi menurun. "Sudahlah, lupakan saja, aku malas mengotori tanganku untuk pelayan rendahan," ujarnya sinis menatap Melati ketika melontarkan kalimat 'pelayan rendahan'.

Rosie yang mendengar itu dengan mata terpejam. Dia ingin memprotes, ingin mengatakan bahwa itu tidak manusiawi, tapi tenggorokannya masih terasa kaku. Dia hanya bisa mendengar langkah Putih yang patuh, seolah perintah itu adalah sebuah kehormatan besar.

Sungai Amerta pagi itu mulai dipenuhi oleh para perempuan dari pemukiman bawah. Mereka biasanya mencuci di bebatuan yang landai, tempat air mengalir cukup deras untuk menghanyutkan buih sabun lerak.

Putih berjalan perlahan menuruni tangga tanah, memanggul bakul kayu berisi kain-kain mewah. Di belakangnya, Melati mengikuti dengan wajah yang merah padam.

"Nyonya benar-benar keterlaluan! Sejak fajar tangan Nona direndam air sungai, sekarang disuruh kembali lagi?" protes Melati yang hanya dibalas senyuman Putih.

"Nona, biarkan saya saja yang membawa itu," pinta Melati saat mereka sampai di pinggir sungai. "Apa gunanya saya menjadi pelayan pribadi Nona jika Nona sendiri yang harus turun ke air dan melakukan pekerjaan kasar seperti ini?"

Putih meletakkan bakul itu di atas sebuah batu datar yang cukup mencolok, tempat di mana banyak mata bisa melihatnya dengan jelas. Dia mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan, membuat helai rambutnya yang sedikit berantakan terlihat semakin menyedihkan.

"Jangan, Melati. Ini adalah pakaian kesayangan Ibu dan Kakak Merah," ucap Putih dengan nada yang lembut, tapi cukup kencang untuk didengar oleh dua orang wanita di batu sebelah. "Ibu sudah berpesan bahwa pakaian ini tidak boleh disentuh oleh tangan lain. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, apalagi saat Ayah sedang tidak ada di rumah."

"Tapi Nona, lihat tangan Nona! Kulit Nona sudah mulai memucat karena terlalu lama terkena air dingin semalam saat menjaga Nona Merah," desak Melati. "Jika Nona terus begini, Nona bisa jatuh sakit. Biarkan saya yang mencucinya. Saya akan melakukannya dengan sangat hati-hati."

"Tidak boleh!" Putih bersikeras, jemarinya mulai membasahi selembar kain sutra merah milik Rosie. "Maafkan aku jika aku terdengar keras, Melati. Namun jika Ibu atau Kakak tahu ada orang lain yang menyentuh pakaian ini, bukan hanya aku yang akan mendapatkan masalah besar, tapi kamu juga pasti akan kena imbasnya. Aku tidak mau kamu dihukum karena kelalaianku."

Melati menggigit bibirnya, tampak sangat terpukul. Dia merebut kain itu dari tangan Putih dan mulai menggosoknya dengan gerakan yang sedikit kasar, menunjukkan rasa frustrasinya.

"Pelan-pelan, Melati! Jangan digosok seperti itu!" pekik Putih pelan, matanya berkaca-kaca.

"Saya hanya merasa tidak berguna, Nona!" Melati mulai menangis, sebuah tangisan yang tampak sangat tulus. "Mengapa mereka begitu jahat? Mengapa Nona yang selalu diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri? Padahal Tuan Besar adalah orang yang paling terhormat di kerajaan ini!"

Putih ikut meneteskan air mata, dia memegang tangan Melati dan mengambil kembali kain itu. Di sekeliling mereka, bisik-bisik mulai menjalar seperti api yang tertiup angin di musim kemarau.

"Lihat itu ... bukankah itu Putih Sekar dari Kediaman Jati Jajar?" bisik seorang wanita paruh baya kepada temannya.

"Benar. Kasihan sekali anak itu. Ayahnya baru berangkat pagi sebelumnya ke Balai Dagang, dan sekarang dia sudah harus mencuci sendiri pakaian kakaknya," sahut yang lain dengan nada prihatin.

"Apakah Merah memang sejahat yang dikatakan orang-orang?" tanya seorang gadis muda dengan suara pelan.

"Sst! Jangan terlalu keras. Ibunya itu sangat peduli pada nama baik. Tapi lihat saja buktinya, mana ada anak saudagar kaya yang mencuci di sungai umum kalau bukan karena dipaksa?" timpal wanita berbaju lurik cokelat. "Sudahlah, tidak usah terlalu banyak bergosip, nanti terdengar sampai telinga penjaga mereka. Kita doakan saja semoga Putih diberikan kekuatan menghadapi kakaknya yang kabarnya mulai hilang akal itu."

Sambil terus mengucek kain, Putih membiarkan air matanya jatuh menyatu dengan sungai. Dia berharap pengabdian dan rasa sakitnya ini bisa melunakkan hati ibu dan kakaknya, agar tidak lagi dianggap sebagai orang asing di rumahnya sendiri.

Rosie berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan tubuhnya, tapi raganya terasa seberat timah. Jangankan beranjak, sekadar mengangkat kelopak mata pun dia tidak mampu.

Di tengah kesadarannya yang samar, dia masih bergelut dengan kenyataan pahit bahwa dirinya terjebak di dunia asing yang tidak dikenali. Pikirannya terus menyangkal, sangat yakin ini hanyalah mimpi buruk yang panjang.

Karena itu, memilih untuk kembali memejamkan mata rapat-rapat, berharap saat terbangun nanti, sudah kembali ke dunianya sendiri. Namun, meski dia telah berkali-kali mencoba tidur dan terjaga, kenyataan tidak berubah. Setiap kali membuka mata, langit-langit kayu yang sama tetap menyambutnya, menegaskan bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Satu hari yang lalu. Di gerbang depan Kediaman Jati Jajar. Udara subuh yang menusuk tulang menyelimuti sosok pria yang berdiri dengan jubah sutra cokelat keemasannya.

Tuan Jati Jajar tampak tegap, meski napasnya sesekali terdengar berat. Di hadapannya, beberapa ekor kuda gunung sudah siap dengan muatan peti-peti kayu berisi cengkeh, kayu manis, dan kapulaga kualitas terbaik.

"Aku harus berangkat sekarang, Citra," ucap pria itu kepada istrinya. "Urusan di Balai Dagang kali ini akan menyita waktu cukup lama. Persediaan rempah untuk kebutuhan istana tidak boleh terlambat satu hari pun."

Citra mengangguk pelan, jemarinya yang lentik merapikan kerah baju suaminya dengan gerakan yang tampak begitu penuh perhatian. "Hati-hatilah di jalan, Kakang. Aku akan menjaga rumah dan kedua putri kita dengan baik," balasnya dengan suara lembut yang hanya dia tunjukkan di depan suaminya.

Putih berdiri tidak jauh di belakang ibunya, menunduk santun dengan kemben putih gading yang tampak sedikit pudar di bagian bahu. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan tatapan sedih yang seolah menyiratkan bahwa dia akan sangat merindukan sosok ayahnya.

Sementara itu, Merah berdiri bersandar pada pilar gerbang dengan tangan bersedekap. Tidak ada raut sedih, apalagi air mata. Dia hanya menatap iring-iringan kuda ayahnya dengan pandangan kosong dan bibir yang sesekali mencibir tipis.

Saat ayahnya menoleh untuk memberikan lambaian terakhir, Merah justru membuang muka, seolah keberangkatan itu bukanlah hal penting baginya. Sikap dingin dan tidak acuh itu membuat ayahnya hanya bisa menghela napas panjang, kian meyakini kabar burung bahwa putri sulungnya itu memang kian sulit dikendalikan.

Begitu iring-iringan kuda itu menghilang di balik belokan jalur tebing, suasana di Kediaman Jati Jajar berubah seketika. Kelembutan di wajah Nyai Citra menguap, digantikan oleh garis wajah yang kaku dan dingin.

"Jangan khawatir, aku akan menjaga anak kita, Merah."

1
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
kapan sih topeng palsunya putih ketahuan sama rosie?
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 nanti
total 1 replies
sang senja
sebagai wanita modern jangan mau di tindas dong Rosi
sang senja
bagus Thor
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 boleh
total 3 replies
lin sya
thor koq updatenya lama trus cuma 1 bab sdikit kali, saya tdk puas bacanya /Smile/
lin sya: iya kk author 👍😄
total 2 replies
MayAyunda
keren 👍
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: makasih 😍
total 1 replies
Marine
semangat author
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 😍 makasih udh mampir
total 1 replies
Indira Mr
masuk ke tubuh bawang merah😭😭
Indira Mr
sama 😭😭😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 sangat relate
total 1 replies
venezuella
jangan kontrak, ayo ikut aku pf lain yang lebih oke daripada ini, bawa cerita ini disana
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: iya udah
total 13 replies
Senjaa
d dunia iniii man phm sih ros 😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Chuckle/
total 1 replies
Senjaa
kurang bnyk up nya ni
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Hey/
total 1 replies
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕
Aku nitip note di sini yak!

Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh

Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/
Hani Hanita
Rosie walo keras tp ad luucux jg ya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
bru x ini nemu crita yg bagus bgt, lanjut thorrr
Senjaa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!