Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - Kedekatan yang Kembali
..."Kadang seseorang tidak perlu mengatakan banyak, cukup hadir dengan tulus, dan hati yang lama terasing akan mulai percaya lagi."...
Happy Reading!
Malam itu, Shaira merasa kurang enak badan. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya lemas. Sejak sekolah mengumumkan akan kembali ke tatap muka, banyak hal yang harus dipersiapkan—padahal hanya tersisa satu semester sebelum lulus. Salah satunya adalah surat izin yang harus ditandatangani orang tua, bahkan materai harus ditempel sebagai bukti sah. Semua itu terasa resmi, sedikit membebani, apalagi tubuhnya tak fit.
Shaira menatap tumpukan kertas di mejanya, menghela napas panjang. Setiap langkah terasa berat, tapi ia tahu urusan ini harus selesai sebelum hari pertama tatap muka. Malam yang dingin membuatnya malas keluar rumah, dan tubuhnya yang lelah enggan digerakkan. Ia menoleh ke jendela, menatap remang lampu jalan yang berpendar samar. Hati kecilnya berharap bisa menyelesaikan semuanya dari kamar saja.
Sebelum memutuskan, Shaira merebahkan diri sebentar di kursi, menutup mata, mencoba menenangkan kepala yang pusing. Ia membayangkan hari pertama tatap muka nanti: teman-teman, guru, suasana sekolah yang ramai, dan—tentu saja—Raven. Ia menarik napas panjang. “Sabar dulu, Shaira… jangan terlalu berharap,” gumamnya pelan.
Tak lama, ia bangun, menepuk-nepuk meja dengan tangan lemah, dan menatap tumpukan kertas lagi. Tiba-tiba pikirannya melayang ke beberapa bulan terakhir: malam tahun baru, ngobrol santai dengan Raven, bercanda ringan, atau bahkan saat ia hanya duduk diam di dekatnya, merasa diperhatikan. Semua itu terasa hangat, tapi sekaligus membingungkan. Shaira sadar, hatinya mulai luluh sedikit, tapi ia harus berhati-hati.
Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan menata meja, menyingkirkan catatan yang berserakan, dan memandangi secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin. Minum teh perlahan sambil menatap layar laptop yang menyala, ia mencoba menyusun strategi.
Bagaimana caranya mengurus surat izin tanpa keluar rumah? Bagaimana agar tidak terlalu merepotkan Raven, yang kini terlihat lebih dewasa dan peduli tanpa banyak bicara?
Setelah berpikir sebentar, Shaira akhirnya membuka ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan:
“Raven, boleh nitip print surat izin sekolah aku nggak? Aku lagi kurang enak badan, males keluar rumah…”
Beberapa detik terasa lama sebelum balasan muncul:
“Gak masalah, Shaira. Sekalian aku mampir beliin obat juga, ya?”
Shaira tersenyum tipis, merasakan hangatnya perhatian itu. Ia membalas cepat:
“Eh… makasih ya. Tapi nanti aku bayar deh semua biayanya. Aku gak mau merepotin.”
“Gak merepotin, Sha. Santai aja, aku kan lagi di luar bareng sepupuku, jadi sekalian gitu,” balas Raven singkat, tapi cukup membuat Shaira lega. Senyum tipis itu bertahan di wajahnya beberapa detik, sebelum ia menatap jendela lagi, menunggu malam yang dingin terasa sedikit hangat.
Sejak beberapa minggu terakhir, cara mereka bicara perlahan berubah—dari formal menjadi santai, memakai “aku–kamu”. Hal kecil itu membuat percakapan terasa lebih hangat, lebih dekat, dan Shaira sering tersenyum sendiri, sadar bahwa sedikit perubahan bisa membuat jarak yang dulu terasa canggung kini terasa nyaman dan akrab.
Tiba-tiba Shaira membayangkan Raven yang pasti sedang menemani sepupunya jalan-jalan di kota. Ia merasa bersalah sendiri—mestinya ia nggak usah merepotkan Raven malam-malam, waktu yang seharusnya santai dan menyenangkan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat membayangkan Raven mungkin kesal atau terganggu.
Suara mobil Raven terdengar beberapa saat kemudian. Shaira segera bangun, sedikit ragu, dan membuka pintu teras. Raven menatapnya dengan senyum hangat, melambai sambil menurunkan kaca mobil.
“Hai, Shaira. Ini titipan kamu. Cek dulu, ada yang kurang gak?” ucapnya tenang.
Shaira mengangguk cepat, senyum tipis tersungging di wajahnya, malu-malu. “Hai… makasih ya, udah mau repot malam-malam gini.”
Raven menggeleng ringan. “Gak repot sama sekali, Sha. Semua udah beres, tinggal aku kasih ke kamu.”
Ia menyerahkan tas berisi surat izin, materai, obat, dan mie ayam hangat yang masih mengepul. Shaira menatap tas itu, terkejut sekaligus tersipu. Perhatian kecil itu membuat hatinya berdebar lembut.
“Ah… makasih banget, Raven. Maaf ya… merepotkan,” ucap Shaira, menyentuh tas sebentar. Sepupunya Raven hanya tersenyum diam, memperhatikan tanpa banyak kata.
Raven menatapnya, matanya tenang. “Beneran gak merepotkan, Shaira. Aku senang aja bisa bantu.”
Shaira menundukkan kepala, tersenyum tipis, lalu mengambil satu bungkus mie ayam. Bau hangat rempahnya membuat perutnya nyaman, sekaligus membuatnya sadar bahwa perhatian kecil bisa terasa begitu hangat. Sekalipun interaksi singkat, Shaira merasa dekat dengan Raven—lebih dekat daripada yang ia duga setelah masa-masa canggung dulu.
“Ini… langsung dimakan, jangan sampai dingin ya,” ucap Raven, santai tapi peduli.
“Bakal langsung aku makan kok,” jawab Shaira, membuka bungkus dengan hati-hati, hanya mengintip sedikit.
Setelah memastikan Shaira menerima semuanya, Raven menyalakan mobil dan memberi isyarat pamit. “Yaudah, aku pulang dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa chat aja.”
Shaira melambaikan tangan, tersenyum. “Iya… hati-hati di jalan ya.”
Raven menyalakan mobil, melambai sekali lagi, lalu menghilang. Shaira menatap mobil itu pergi, hatinya hangat. Malam yang dingin terasa tidak terlalu menusuk; perhatian kecil Raven, ketulusan yang tak banyak bicara, membuatnya lega. Ia juga menyadari Raven kini lebih dewasa dalam men-treat dirinya, berbeda dari saat mereka awal dekat di kelas satu SMA.
Shaira membawa tas itu masuk ke kamar, menaruh semua dengan rapi di meja. Ia membuka bungkus mie, menyeruput kuah hangat, dan merasa sedikit lebih baik. Tubuhnya yang tidak enak badan kini mulai terasa hangat, bukan hanya karena makanan, tapi karena kepedulian sederhana yang diterimanya.
Ia duduk di kursi, memegang surat izin dan materai, menatapnya sebentar. Rasanya aneh tapi menyenangkan—bagaimana seseorang bisa membuat hati merasa diperhatikan tanpa kata-kata manis, hanya melalui tindakan yang tepat pada waktu yang tepat.
Shaira sadar, meski lebih dari setahun mereka tidak bertemu dan terasa asing, beberapa bulan terakhir pertemuan mereka canggung, kini kedekatan itu kembali hadir—hangat, tulus, dan terasa begitu nyata.
Lampu kamar dan suara malam yang sepi membuat Shaira merenung. Kadang perhatian kecil bisa membuat hati yang sedang kurang fit merasa dihargai. Tanpa bicara panjang, tanpa janji atau kata manis berlebihan, ia merasa dekat dengan Raven malam itu.
Malam itu, Shaira menyadari hal penting: hal sederhana—mie hangat, obat tanpa diminta, atau materai siap pakai—bisa menjadi cara seseorang menunjukkan kepedulian.
Kadang hubungan tidak kembali lewat kata-kata, tapi lewat kepedulian yang datang di waktu yang tepat.
Ia tersenyum tipis, menutup malam dengan hati hangat, merasakan kedekatan lama yang kembali hadir. Tanpa kata-kata berlebihan, tanpa janji, ia tahu satu hal: perhatian tulus selalu terasa, dan malam itu adalah bukti nyata.
"Raven — perhatian yang tak banyak bicara."
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/