"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 10
"Mari Bibi bantu, Non ...," tawar Bi Nan yang melihat istri Tuan Muda nya sedang bergelut dengan peralatan dapur.
Yiyue menoleh sekilas sambil tersenyum. "Tidak usah Bi, biar saya saja yang masak. Mulai sekarang, saya yang akan memasak untuk suami kulkasku," tolak Yiyue.
"Tapi Non, saya takut jika Tuan Muda tahu dan dia pasti murka," balas Bi Nan memberitahu.
"Dan saya orang pertama yang akan melindungi Bibi. Jangan takut Bi, saya pastikan suami kulkasku itu bakalan jinak dan tidak murka lagi." Yiyue berusaha meyakinkan Bi Nan jika Qiaoyan tidak akan memarahinya.
"Baiklah Non. Kalau Nona butuh sesuatu, panggil Bibi ya. Bibi mau lanjutin pekerjaan Bibi dulu." Bi Nan terpaksa mengiyakan keinginan istri Tuan Muda nya itu.
🥕🥕🥕
"Gimana Bi, enak nggak?" tanya Yiyue pada Bi Nan yang mulai mencicipi masakan Nona Mudanya.
"Enak Non. Ini mah lebih enak dari koki yang biasa masak buat Tuan Muda." Bi Nan mengangguk mantap membuat Yiyue tersenyum senang saat mendengar pujian dari wanita paruh baya itu.
"Makanlah Bi. Ajak para pelayan makan bersama ya," seru Yiyue sambil menyerahkan sebuah mangkuk besar berisi makanan penuh hasil masakannya.
"Ingat Bi, jangan sampai dibuang ya. Saya mau ke atas dulu, mau menemani suami kulkasku makan." Lanjutnya yang memperingati Bi Nan agar menghabiskan makanan yang telah dia buat.
Bi Nan pun terkekeh mendengar ucapan istri Tuan Muda nya itu. Sungguh Bi Nan tak percaya jika Yiyue berani menjuluki Tuan Mudanya dengan sebutan suami kulkas. Selama ini tak ada seorang pun yang berani melawan apalagi sampai mengatai seperti itu, sudah pasti mereka akan dapat amukan dari Tuan Mudanya.
"Baik Non, terimakasih." Bi Nan mengangguk tersenyum sambil menerima mangkuk dari Yiyue.
Setelah itu, Yiyue berjalan menuju lantai atas sambil membawa nampan yang berisi makanan juga susu yang telah dia buat untul suami kulkasnya. Untuk sementara waktu, Yiyue tidak memberikan obat pada suaminya. Dia harus memastikan lebih dulu, apakah obat yang selama ini dikonsumsi oleh suaminya aman atau tidak.
Sebenarnya Yiyue sudah mulai paham akan bagaimana karakter suami kulkasnya itu, yang memang Qiaoyan bukan sosok lelaki yang kejam ataupun dingin. Hanya saja karena keterbatasan fisiknya hingga membuat lelaki itu merasa kesepian.
Awalnya, sempat membuat Yiyue sedikit takut dengan sikap dingin suaminya itu. Namun, berjalannya waktu dia pun mulai memahami karakter suami kulkasnya itu yang ternyata tidak seburuk dia kira. Dan membuat Yiyue yakin bahwa dirinya bisa membuat suaminya hidup kembali seperti sedia kala, tentunya dengan suasana yang baru.
🥕🥕🥕
Saat ini Yiyue sedang berada di depan kamar suaminya, perlahan dia membuka pintu kemudian menutupnya pelan. Yiyue melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana suami kulkasnya itu yang sedang terlelap, sebelum akhirnya gadis cantik itu meletakkan nampan di atas nakas.
Manik dark hazel itu menatap lurus pada wajah tenang suaminya. Dia menggeleng pelan melihat sang suami masih terlelap di alam mimpi, padahal dia cukup lama berkutat di dapur beranggapan bahwa dirinya kembali sudah pasti suami kulkasnya itu sudah bangun. Tapi, ternyata tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Tuan ...." Dengan keberanian tinggi Yiyue memegang lengan besar tangan suaminya.
"Ayo bangun, mari makan. Kasihan cacing dalam perutmu, dia sudah menangis minta jatah," celetuk Yiyue berbisik tepat di telinga Qiaoyan.
Detik itu juga manik mata Qiaoyan terbuka lebar saat mendengar bisikan yang justru terdengar menggoda di telinganya.
Qiaoyan beralih menatap pada gadis cantik di sampingnya yang begitu dekat. Tatapannya turun pada bibir mungil istri kecilnya itu. Bibir merah muda yang dilapisi dengan lip balm tipis itu, terlihat begitu seksi dan menggoda. Qiaoyan menelan salivanya dengan kasar, entah kenapa hanya menatapnya saja seolah dia ingin merasakan bibir mungil itu.
Refleks tangan besar Qiaoyan terulur meraih tengkuk leher Yiyue, membuat gadis cantik itu terjatuh di atas dada bidangnya.
Cup
Mata Yiyue membulat sempurna saat dia merasakan benda kenyal tak bertulang itu mendarat sempurna di bibir mungilnya, lembut, namun menuntut. Seketika jantung Yiyue berdetak kencang seolah ingin keluar dari sarangnya.
Tanpa izin, Qiaoyan langsung m***m*t bibir mungil Yiyue dengan lembut. Lelaki itu memejamkan matanya, menikmati ciuman hangat mereka berdua. Melihat Yiyue yang enggan membuka mulutnya, Qiaoyan pun berinisiatif menggigit bibir bawah Yiyue sebagai perintah agar sang istri membuka mulutnya, sebuah isyarat penuh tuntutan yang tak bisa ditolak. Saat pertahanan Yiyue runtuh, tentu saja Qiaoyan tak ingin menyia-nyiakan begitu saja. Secepat kilat lelaki itu memasuki mulut sang istri, seolah ingin menyatu seutuhnya. Dengan lembut Qiaoyan mengabsen setiap rongga mulut istri kecilnya itu, mencari kenikmatan dan menyesap rasa manis di bibir sang istri.
Sementara Yiyue yang masih polos, dia tertegun mendapat serangan mendadak dari suami kulkasnya itu. Jujur, Yiyue bingung apa yang harus dia lakukan? Mengingat dirinya yang sama sekali tak memiliki pengalaman dalam hal itu, tentu saja dia masih kaku. Terlebih ini adalah kali pertamanya dia dicium dan disentuh oleh laki-laki. Selama ini, dunianya hanya disibukkan oleh belajar dan sekolah. Yiyue sama sekali tak memberi ruang kepada siapapun untuk mendekatinya, hingga sampai lulus SMA pun dia tidak memiliki kekasih.
Di sisi lain, Qiaoyan masih setia me**m*t bibir mungil istri kecilnya, seolah dia begitu enggan melepaskan bibir yang telah membuatnya candu. Dulu, saat dia menjalin kasih dengan Ruo Wei sering kali Qiaoyan melahap habis bibir ranum kekasihnya itu. Tapi anehnya Qiaoyan merasakan hal yang berbeda, rasanya tidak secandu seperti bibir istri kecilnya itu yang memberikan sensasi luar biasa.
Sebuah aliran listrik terasa menyengat dalam tubuhnya, membuatnya terbakar gairah seolah ingin melakukan hal lebih dari sekedar ciuman. Namun, Qiaoyan sendiri masih bisa menahan dahaga yang dia miliki meskipun sudah tujuh tahun ini Qiaoyan tak merasakan hal itu lagi.
Tampak keduanya berciuman lama, Yiyue sendiri refleks menggunakan nalurinya untuk membalas ciuman suami kulkasnya itu. Entah kenapa mendadak tubuhnya merespon sentuhan suaminya seperti ada magnet sendiri yang membuatnya melakukan itu.
Dengan berat hati Qiaoyan melepas pagutannya setelah merasakan sang istri yang kehabisan napas. Jauh dalam lubuk hatinya, lelaki itu masih ingin menikmati bibir seksi Yiyue yang telah membuatnya candu untuk lebih dalam lagi mengeksplornya.
Qiaoyan berdecak kesal sambil menatap wajah cantik istri kecilnya. "Kau payah sekali, ciuman mu begitu buruk." Tangan besar Qioayan terulur mengusap lembut bibir Yiyue yang basah karena ulahnya.
"A- apa yang kau lakukan Tuan?" Segera mungkin Yiyue menjauhkan tubuhnya dari suami kulkasnya itu. Dia tak ingin jika hal sama terulang kembali seperti tadi.
Sungguh dia menyayangkan dan merutuki kebodohannya karena telah melepaskan ciuman pertamanya itu untuk lelaki yang sama sekali tak mencintainya. Meskipun Qiaoyan telah sah menjadi suaminya, tapi dia tak ingin jika lelaki itu mengambil ciuman pertamanya begitu saja. Karena sejatinya dia ingin memberikan ciuman itu hanya untuk seseorang yang mencintainya, mau menerimanya sebagai sosok istri dalam hidupnya. Bukan hanya sekedar status di atas kertas saja, saat masa tenor telah habis dia langsung dibuang.
Qiaoyan sendiri terlihat santai, diam tak menyahut ucapan istri kecilnya sama sekali. Seketika wajah dingin itu kembali pada setelan awal seperti biasanya, seolah tak terjadi sesuatu diantara mereka.
"Makan dulu Tuan, ini sudah malam," seru Yiyue suami kulkasnya. Entah kenapa dia masih merasa gugup, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat dari sarangnya.
Qioayan hanya berdehem saja, sebelum kemudian dia menyandarkan tubuh besarnya pada heardboard.
"Apa kau bisa makan sendiri Tuan?" Yiyue memiringkan wajahnya menatap wajah datar suaminya. Tercetak jelas gurat ketakutan pada wajah cantik Yiyue, takut jika suami kulkasnya kembali mengamuk yang sudah menjadi rutinitasnya.
"Suapi." Titahnya terdengar dingin yang tak ingin mendapatkan penolakan.
'Ck dasar manja! Sudah besar masih saja minta disuapi.'
.
.
.
🥕Bersambung🥕