Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CCTV berjalan
Mario dan Anggika baru saja masuk ke area pasar malam ketika seseorang menyapa dari belakang.
“Eh, Mas Mario!”
Mario menoleh.
“Oh, Pak Andi. Bapak juga ke sini?”
Pak Andi, rivalnya dalam pemilihan kepala desa, tersenyum tipis.
“Ya, sekalian menyapa warga. Lagi kampanye kecil-kecilan,” katanya setengah bercanda.
Matanya beralih ke Anggika.
“Ini calon istri kamu, ya?”
“Iya, Pak,” jawab Mario mantap. “Insyaallah sebentar lagi resmi.”
Pak Andi mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada meremehkan,
“Saya sih kurang yakin dia nanti bisa jadi Ketua Ibu PKK. Tugasnya nggak ringan, lho.”
Anggika tersenyum sopan, meski hatinya panas.
“Insyaallah saya bisa belajar, Pak. Kalau niatnya baik untuk membantu warga, pasti ada jalannya.”
Pak Andi terkekeh.
“Wah, sudah siap juga rupanya. Ngomong-ngomong, visi misi kamu apa, Mario? Kalau saya jadi lurah, saya akan permudah urusan BPJS, bansos lancar semuanya dapat merata, warga sakit bisa naik mobil saya gratis. Jalan-jalan rusak langsung saya benahi.”
Mario mengangguk menghargai.
“Program yang bagus, Pak. Kalau saya, fokusnya memajukan desa secara menyeluruh. Perbaikan jalan, peningkatan sekolah dan pendidikan, pemberdayaan UMKM, dan yang paling penting—mendengar langsung keluh kesah masyarakat.”
Pak Andi menghela napas.
“Ah, Mas Mario… warga kita ini tanpa uang kadang susah buat nyoblos. Realitanya begitu.”
Mario tersenyum tenang.
“Saya paham itu, Pak. Tapi saya ingin mereka memilih karena percaya pada visi dan kerja saya, bukan karena amplop.”
“Berani juga kamu,” sindir Pak Andi.
“Bukan berani, Pak,” jawab Mario tegas. “Saya cuma ingin menjabat dengan bersih. Kalau dari awal sudah pakai uang, nanti saat menjabat pasti tergoda untuk korupsi demi balik modal. Saya nggak mau seperti itu.”
Anggika melirik Mario diam-diam.
Nada bicaranya berbeda—lebih dewasa, lebih tegas.
Pak Andi terdiam sesaat, lalu tersenyum kaku.
“Ya sudah, kita lihat saja nanti di hari pemilihan.”
“Siap, Pak. Semoga yang terbaik untuk desa,” balas Mario sopan.
Setelah Pak Andi pergi, Anggika berbisik pelan,
“Baru kali ini kamu kelihatan keren.”
Mario menoleh dengan alis terangkat.
“Baru kali ini?”
Anggika mendengus.
“Iya. Biasanya nyebelin.”
Mario tertawa kecil.
“Yang penting kamu tetap milih nomor dua, ya.”
Anggika menyenggol lengannya.
“GR banget. Aku belum tentu nyoblos kamu.”
Mario mendekat sedikit.
“Tapi kamu calon istri lurah, lho.”
Anggika memutar mata, tapi senyumnya sulit disembunyikan.
Seorang warga mendekat sambil tersenyum ramah.
“Mas Mario, mau kampanye juga ke sini?”
Mario menggeleng santai.
“Bukan, Pak. Saya mau naik kora-kora ini sama calon istri saya.”
Warga itu terkekeh.
“Saya kira mau bagi-bagi amplop kayak Pak Andi tadi.”
Mario tersenyum tipis.
“Nggak, Pak. Saya datang cuma mau senang-senang dan ketemu warga. Soal pilihan, biar bapak-bapak dan ibu-ibu yang menilai sendiri.”
Warga itu mengangguk puas.
“Bagus, Mas. Visi misi kamu saya suka. Semoga nanti jalannya nggak melenceng kalau sudah jadi lurah. Jujur saja, saya lebih condong ke Mas Mario daripada Pak Andi atau Pak Basuki… walaupun amplopnya sudah saya terima kemarin,” katanya pelan sambil tertawa kecil.
Mario ikut tersenyum.
“Terima kasih, Pak. Doakan saja yang terbaik untuk desa kita.”
“Sip, silakan duluan. Mau naik, kan?”
“Iya, Pak. Permisi dulu.”
Mario dan Anggika naik ke wahana kora-kora.
“Kamu yakin mau duduk di atas?” tanya Mario.
“Iya, biar sekalian,” jawab Anggika sok berani.
Wahana mulai bergerak pelan, lalu makin tinggi.
Beberapa menit kemudian—
“Mario…!” Anggika refleks memegang lengan pria itu.
“Kenapa?” Mario menoleh santai.
“Aku takut!” Anggika langsung memeluk pinggangnya ketika ayunan makin tinggi.
Mario tersenyum kecil.
“Peluk yang kencang aja. Jangan sampai lepas.”
“Aku serius ini!” Anggika memejamkan mata.
Mario tertawa pelan.
“Tadi katanya berani.”
Dalam hati Anggika justru makin panik.
Kenapa jantungnya berdetak kencang banget? Dia takut juga ya? Atau… jangan-jangan serangan jantung?
Ia makin menyadari detak kuat di dadanya sendiri, aroma maskulin Mario yang bercampur angin malam membuat wajahnya panas.
“Mario… kamu deg-degan?” bisiknya.
“Deg-degan kenapa?” Mario balik bertanya.
“Jantung kamu kencang banget.”
Mario mendekatkan wajahnya sedikit.
“Itu jantung ku berdetak kencang karena kamu bukan karena sakit jantung, Gi.”
Anggika membuka mata perlahan.
“Hah?”
“Itu karena kamu yang nempel ke aku.”
Anggika langsung melepaskan pelukannya, wajahnya memerah.
“Ihhh gak mungkin banget!”
Mario tertawa puas.
“Pegangan lagi, nanti jatuh.”
Anggika mendengus, tapi tetap meraih lengan Mario lagi saat kora-kora melambung tinggi di bawah gemerlap lampu pasar malam.
Kora-kora berhenti. Begitu turun, Anggika langsung menutup mulutnya.
“Hoek… hoek…”
Mario sigap memegang bahunya.
“Makanya tadi sok berani duduk paling atas. Sekarang mual, kan?”
“Perutku rasanya kayak dikocok… pusing banget…” keluh Anggika lemas.
Mario memijat tengkuknya pelan.
“Tarik napas dulu. Pelan-pelan.”
“Hoek… jangan ngomel dulu…”
“Iya, iya. Nih minum dulu,” Mario menyodorkan botol air. “Biar perutmu enakan.”
Anggika meneguk sedikit.
“Makasih…”
Belum sempat suasana tenang, seorang ibu-ibu yang tadi melihat mereka mendekat sambil berbisik ke temannya tapi cukup keras terdengar.
“Eh Mas Mario, cepet-cepet nikahnya bukan karena mau nyalon lurah aja kan? Jangan-jangan Mbak Anggika sudah hamil?”
Anggika langsung tersedak.
“Hah?! Hamil??”
Mario menoleh, wajahnya menegang.
“Hamil dari mana, Bu? Dia mual karena habis naik kora-kora.”
Ibu itu tersenyum penuh arti.
“Ah, jangan bohong, Mas. Kami paham kok pergaulan anak muda zaman sekarang. Tapi Mas ini kan calon lurah, harus jaga nama baik.”
Anggika langsung berdiri tegak walau masih pucat.
“Bu, mohon maaf. Saya tidak hamil. Saya mual karena wahana itu terlalu tinggi.”
Mario mengangguk tegas.
“Betul, Bu. Kami tahu batasan. Justru karena saya calon lurah, saya harus jaga sikap.”
Ibu itu terkekeh kecil.
“Ya sudah kalau begitu. Semoga cepat nikah saja biar nggak jadi bahan gosip.”
Setelah ibu itu pergi, Anggika menghela napas panjang.
“Ya ampun… baru mual sedikit langsung dikira hamil.”
Mario menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Kalau benar hamil gimana?”
Anggika melotot.
“Mario!”
Mario tertawa kecil.
“Bercanda. Tapi lihat kan? Jadi istri calon lurah itu nggak gampang. Sedikit saja orang bisa salah paham.”
Anggika terdiam sejenak, lalu mendesah.
“Berarti kamu harus benar-benar menang. Biar aku nggak cuma dikenal sebagai ‘yang dikira hamil di pasar malam.’”
Mario tersenyum lembut.
“Tenang. Kalau pun suatu hari kamu mual lagi, pastikan itu karena alasan yang resmi.”
Anggika memukul lengan Mario pelan.
“Mesum!”
Mario tertawa, lalu merangkul bahunya pelan saat mereka kembali berjalan menyusuri pasar malam yang masih ramai.
Anggika masih terlihat gelisah.
“Gimana kalau Bapak sama Emak sampai dengar gosip barusan?”
Mario menoleh tenang.
“Mereka nggak akan percaya gosip murahan begitu.”
“Kamu nggak ngerti,” desah Anggika. “Omongan orang desa itu kayak CCTV berjalan. Satu orang lihat, besoknya satu kampung tahu… lusa sudah beda versi ceritanya.”
Mario mengangkat alis.
“Segitunya?”
“Iya!” Anggika mengangguk cepat. “Tadi cuma mual karena kora-kora. Besok bisa jadi ceritanya aku pingsan karena hamil tiga bulan.”
Mario menahan senyum.
“Tiga bulan langsung? Cepat amat perhitungannya.”
“Ini serius!” Anggika memukul lengannya pelan. “Air gosip itu ngalir terus, makin lama makin keruh.”
Mario berhenti melangkah, menatapnya lebih lembut.
“Dengar ya. Selama aku tahu yang sebenarnya, dan kamu tahu yang sebenarnya, itu cukup.”
“Cukup buat kamu,” balas Anggika lirih. “Tapi buat orang tua kita?”
Mario menghela napas.
“Kalau ada yang berani ngomong sembarangan, biar aku yang jelasin. Kamu nggak usah mikirin semuanya sendirian.”
Anggika terdiam, lalu menatapnya sekilas.
“Kamu serius mau pasang badan?”
Mario tersenyum tipis.
“Aku kan calon suamimu. Masa kalah sama gosip?”