"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA YANG MENYAMAR JADI RONGSOKAN
Ibu Bagas membelai lembut rambut tipis bayi itu, matanya tak lepas dari wajah mungil yang kini mulai tenang. "Siapa namanya, Gas?" tanyanya lembut, seolah takut suaranya akan memecah kedamaian sesaat di ruang tamu itu.
"Kanaya, Bu," jawab Bagas pelan. Mendengar nama itu, ibunya tersenyum kecil, "Nama yang cantik. Kanaya..."
Bagas tertunduk, matanya menyisir lantai ubin yang bersih, sangat kontras dengan lantai semen rumah petaknya yang selalu berdebu. Namun, saat pandangannya beralih ke meja sudut di dekat kursi goyang ayahnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, tergeletak sebuah tas kain sederhana yang sangat familiar.
Selama setahun terakhir, saat ia masih berjualan bakso dan hidup susah di gang sempit, sering kali ada orang asing yang datang ke rumahnya. Orang itu selalu menitipkan tas serupa berisi baju bayi, susu, makanan bergizi, bahkan kadang amplop cokelat berisi uang tanpa nama pengirim. Bagas selalu mengira itu adalah bantuan dari dinas sosial atau mungkin rekan lama yang kasihan padanya.
Kini, melihat tas yang sama persis berada di atas meja ayahnya—lengkap dengan jenis jahitan dan warna yang identik—Bagas tersadar. Matanya memanas. Semua bantuan misterius itu, semua perhatian diam-diam yang membuatnya mampu bertahan selama ini, berasal dari sini. Dari rumah ini.
Ia melirik ayahnya yang masih pura-pura sibuk dengan koran di sudut ruangan. Pria tua itu tetap memasang wajah kaku dan dingin, namun Bagas kini menyadari bahwa di balik seragam polisi yang pernah ayahnya pakai dan kata-kata tajamnya, ada kasih sayang yang tak pernah padam. Ayahnya tidak pernah benar-benar membuangnya. Ayahnya menjaganya dari kejauhan, memastikan cucunya tidak kelaparan meski anaknya sedang dihukum oleh pilihannya sendiri.
"Pa..." suara Bagas tercekat di kerongkongan. Ia menyadari betapa sombongnya ia selama ini, merasa berjuang sendirian padahal doa dan uluran tangan ayahnya selalu ada di belakangnya.
Ayahnya berdehem keras, menyadari arah pandangan Bagas. "Jangan lihat-lihat meja itu. Itu cuma barang rongsokan yang mau dibuang," ketus ayahnya, suaranya terdengar sedikit serak, berusaha keras menjaga wibawanya yang mulai runtuh. "Ibu, bawa anak itu ke kamar. Kasih dia susu yang benar, jangan dikasih air tajin terus."
Bagas hanya bisa terdiam dengan air mata yang menetes satu demi satu ke pangkuannya. Ayahnya tahu segalanya. Ayahnya tahu Kanaya pernah diberi air tajin saat Bagas benar-benar tidak punya uang.
"Terima kasih, Pa," bisik Bagas tulus. "Terima kasih sudah jaga kami... meskipun Bagas nggak tahu diri."
Ayahnya melipat korannya dengan kasar, lalu berdiri. Sebelum melangkah masuk ke kamar, ia berhenti sejenak di samping Bagas tanpa menoleh. "Besok pagi, pakai baju yang rapi. Ijazahmu itu jangan cuma jadi pajangan. Kalau kamu memang laki-laki, buktikan kamu bisa kasih kehidupan yang layak buat Kanaya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi."
Suasana hangat yang baru saja terbangun seketika pecah saat pintu depan terhempas terbuka. Mbak Maya, kakak pertama Bagas, berdiri di ambang pintu dengan wajah yang merah padam. Sebagai anak tertua yang memilih untuk tidak menikah dan tetap tinggal demi mengurus kedua orang tuanya, Mbak Maya adalah orang yang paling merasakan pahitnya kehancuran keluarga saat Bagas pergi lima tahun lalu.
Begitu matanya menangkap sosok Bagas yang duduk lesu di ruang tamu, emosinya memuncak. Ia membanting tas kerjanya ke atas meja hingga menimbulkan suara dentang yang keras. "Mau apa kamu datang ke sini, Gas? Hah? Masih punya muka kamu?" bentak Mbak Maya, suaranya melengking tajam memenuhi ruangan.
Bagas tersentak dan langsung berdiri, namun lidahnya terasa kelu. "Mbak... aku..."
"Mau bawa masalah lagi?" potong Mbak Maya cepat, langkahnya mendekat dengan penuh amarah. "Lima tahun kamu hilang, tidak pernah kasih kabar, bikin Ibu menangis tiap malam sampai jatuh sakit. Sekarang begitu hidupmu hancur dan istrimu kabur, kamu datang ke sini mau jadi beban lagi? Kamu pikir rumah ini tempat penampungan pecundang?"
"Maya, sudah! Ada anak kecil di sini!" seru Ibunya mencoba menengahi sambil mendekap Kanaya yang kembali terbangun dan mulai merengek ketakutan mendengar suara bentakan itu.
"Jangan dibela terus, Bu! Bagas ini harus sadar!" Mbak Maya menunjuk wajah Bagas dengan telunjuk yang bergetar. "Dulu kamu sombong sekali, Gas. Bilang tidak butuh keluarga, bilang cinta itu segalanya. Sekarang mana istrimu yang kamu puja-puja itu? Mana janji-janjimu dulu? Kamu cuma datang ke sini untuk merusak ketenangan Papa dan Ibu yang sudah mulai tua!"
Bagas tertunduk dalam, setiap kata kakaknya seperti sembilu yang menyayat hatinya. Ia tahu ia layak mendapatkan makian itu. "Aku tahu aku salah, Mbak. Aku ke sini cuma mau titip Kanaya sebentar... aku mau cari kerja," bisik Bagas parau.
"Titip? Enak benar mulutmu!" Mbak Maya tertawa sinis, matanya berkaca-kaca karena rasa kecewa yang mendalam. "Kamu yang berbuat, kami yang harus repot mengurusnya? Papa sudah pensiun, Ibu sudah sepuh. Kamu itu sarjana perhotelan tapi kerjamu cuma bisa bikin malu keluarga. Pergi kamu, Gas! Sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar dari sini!"
"Maya! Cukup!" suara berat Ayahnya menginterupsi dari arah pintu kamar. Ayahnya berdiri di sana, menatap kedua anaknya. Meski tatapannya masih dingin, ada otoritas yang tidak bisa dibantah. "Biarkan dia di sini semalam. Papa yang izinkan."
Mbak Maya menoleh ke arah Ayahnya dengan tidak percaya, napasnya masih memburu. "Tapi Pa, dia sudah mengkhianati kita!"
"Papa tahu," jawab Ayahnya pendek, lalu matanya beralih ke Bagas yang masih menunduk tak berdaya. "Masuk ke kamarmu yang dulu. Bersihkan badanmu. Bau rokok dan debu jalananmu itu bisa bikin cucu Papa sakit."
Mbak Maya mendengus kasar, ia menyambar kembali tasnya dan melangkah masuk ke kamarnya sendiri sambil membanting pintu dengan keras, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tamu. Bagas hanya bisa mematung, menyadari bahwa meski pintu rumah sudah terbuka, pintu hati kakak perempuannya masih terkunci rapat oleh rasa kecewa dan luka yang ia goreskan lima tahun lalu.
Bagas melangkah masuk ke kamar lamanya yang masih tertata rapi, seolah waktu berhenti di sana sejak lima tahun lalu. Namun, suasana hangat itu terusik oleh isak tangis Kanaya yang tak kunjung reda. Bayi itu tampak gelisah, mungkin merasa asing dengan sekelilingnya atau merindukan dekapan yang biasanya ada.
"Ssttt... sayang, jangan nangis ya. Tidur ya, Nak... nanti Bude marah kalau Kanaya berisik," bisik Bagas sambil menimang putrinya dengan sisa tenaga yang ada. Suaranya bergetar, ada ketakutan nyata bahwa tangisan Kanaya akan memicu kembali kemarahan Mbak Maya yang baru saja meledak di ruang tamu.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Bagas menoleh cepat, mengira itu kakaknya yang datang untuk mengusir mereka, namun ternyata sosok Ibunya yang muncul di balik celah pintu.
"Belum tidur, Gas? Masih nangis si kecil?" tanya Ibunya lembut sambil melangkah masuk dan menutup pintu dengan sangat pelan, seolah sedang melakukan misi rahasia.
Bagas menghela napas panjang, matanya tampak sangat lelah. "Iya, Bu. Dari semenjak ibunya pergi, dia merengek terus. Mungkin dia cari Ibunya, atau mungkin dia tahu kalau Ayahnya ini sedang susah," jawab Bagas pahit.
Ibunya mendekat, lalu dengan gerakan cepat merogoh saku daster dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tampak tebal. Ia meraih tangan Bagas dan menekankan amplop itu ke telapak tangannya. "Simpan ini, Gas. Cepat simpan sebelum Mbakmu lihat. Ini dari Bapakmu," bisik Ibunya sungguh-sungguh.
Bagas terpaku menatap amplop itu. "Dari Bapak, Bu? Tapi tadi Bapak bilang..."
"Bapakmu itu keras di mulut, tapi hatinya hancur lihat kamu begini," potong Ibunya pelan. "Dengarkan Ibu. Besok pagi-pagi sekali, sebelum Mbakmu bangun untuk berangkat kerja, kamu pergi ke rumah Mas Anto, kakakmu yang di Tegal. Ibu tadi sudah telepon istrinya. Ibu bilang, titipkan Kanaya di sana sementara waktu sampai Mbakmu bisa menerima keadaan dan mau melihat Kanaya di sini. Ipar kamu sudah setuju. Biarkan Kanaya di sana sampai kamu benar-benar dapat kerja dan punya pegangan."
Bagas terdiam, matanya berkaca-kaca menatap Ibunya. Rencana ini adalah pelampung di tengah samudra bagi Bagas. Tegal tidak sejauh itu, dan Mas Anto selalu menjadi penengah yang lebih tenang dibandingkan Mbak Maya.
"Ibu sudah atur semuanya. Bapak juga tahu soal ini, makanya dia kasih uang ini untuk ongkos dan keperluan Kanaya di sana," lanjut Ibunya sambil mengelus pipi Kanaya yang mulai tenang. "Kamu fokus cari kerja pakai ijazahmu itu. Buktikan ke Mbakmu, terutama ke Bapak, kalau kamu bukan laki-laki yang menyerah begitu saja. Kanaya biar jadi urusan Ibu dan Mas Antomu untuk sementara."
Bagas menggenggam amplop itu erat, merasakan kasih sayang orang tuanya yang ternyata tak pernah benar-benar terputus meski ia telah membuang restu mereka. "Terima kasih, Bu. Sampaikan terima kasih Bagas ke Bapak. Bagas janji... Bagas akan jemput Kanaya lagi dengan keadaan yang lebih baik."