Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Alecio ... aku ingin pulang!” teriak Sandrina berjalan di belakang pria itu.
Namun, Alecio tetap cuek dengan suara teriakan Sandrina. Setiap hari pria itu mendengar kalimat yang sama. Dia memilih terus berjalan menuju ruang kerjanya di gedung utama.
“Mau sampai kapan kamu menahan aku di sini, Alecio?!" Sandrina terus meracau tak kenal lelah.
Alecio dengan santai membuka pintu ruang kerjanya, lalu duduk manis. Dia membuka beberapa amplop besar berisi informasi penting dari para bawahannya.
“Sudah seratus hari aku di sini. Aku bosan dan ingin pulang ke Indonesia."
Seratus hari, angka itu disebut Sandrina dengan dramatis seperti sedang menghitung masa hukuman penjara.
“Seratus hari, Alecio!” seru Sandrina sambil berdiri di tengah ruang kerja gedung utama, kedua tangan berkacak pinggang. “Seratus hari aku di sini! Ini bukan kastil, ini tahanan rumah versi Eropa!”
Alecio yang sedang duduk santai membaca berkas hanya mengangkat satu alis tanpa benar-benar terganggu. “Kau punya kamar besar, makanan enak, dan taman luas. Banyak orang membayar mahal untuk itu.”
“Aku tidak mau bayar! Aku mau pulang!” balas Sandrina dengan logat Indonesia yang semakin kental kalau sedang kesal.
Sandrina mulai ceramah panjang, seperti biasa. “Aku ini warga negara Indonesia yang merdeka, paham? Aku bukan tanaman hias yang ditaruh di kastilmu! Aku punya keluarga! Punya teman! Punya warung favorit!”
Alecio menutup map pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, antara hiburan dan kekaguman.
“Warung favorit? Apa itu” tanya Alecio penasaran.
“Yes! Tempat beli seblak dan es campur! Kamu nggak ngerti seblak 'kan? Of course you don’t! Kamu taunya pasta, pasta, pasta!” Sandrina mengibaskan tangan dramatis.
Lalu tiba-tiba Sandrina berganti bahasa. “I want to go home, Alecio! This is kidnapping with good interior design!”
Alecio hampir tertawa.
Sandrina belum selesai. “Sampeyan ki piye to!” lanjutnya dalam bahasa Jawa dengan wajah merah. “Aku iki wong, dudu kucing sing iso dipelihara neng kastilmu!”
Alecio mengerutkan kening. “Sekarang kau sedang mengutukku atau menyatakan cinta?”
Sandrina ternganga. “Apa?!”
“Aku tidak mengerti setengah dari yang kau katakan. Tapi nadanya sangat agresif.”
Sandrina mendengus keras. “Intinya aku mau pulang!”
Alecio bangkit perlahan, mendekatinya. “Dan bagaimana caranya?”
“Naik pesawat!”
“Dengan apa?” tanya Alecio santai.
“Dengan tiket!”
“Kau akan membeli tiket dengan apa? Senyum manismu?”
Sandrina langsung terdiam. Otaknya yang suka loading, tidak bisa diharapkan untuk berpikir cepat saat ini.
Alecio melanjutkan dengan suara datar namun penuh tekanan. “Paspor, kartu identitas, visa—semuanya hilang waktu kau datang ke sini.”
Wajah Sandrina langsung berubah. “Oh, tidak! Aku pula dengan itu semua.”
Alecio menyilangkan tangan. “Secara hukum, kau sekarang bisa disebut imigran gelap.”
Sandrina menelan ludah. “Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Alecio berjalan memutar pelan di sekeliling Sandrina seperti jaksa yang hendak membacakan dakwaan. “Jika kau keluar dari kastil ini dan tertangkap tanpa dokumen resmi, kau bisa langsung ditahan.”
“Ditahan? Maksudnya ...?”
“Masuk penjara.”
Dua kata itu jatuh seperti palu hakim. Sandrina membeku. “Penjara Italia?”
Alecio mengangguk pelan. Ia menahan senyum tipis karena ekspresi Sandrina benar-benar seperti anak kecil yang baru sadar tidak mengerjakan PR selama satu semester.
“Penjara di sini tidak seperti yang kau lihat di drama,” lanjut Alecio dengan nada tenang namun sengaja dibuat lebih dalam. “Penjaganya keras. Para tahanan tidak ramah.”
Sandrina mulai panik. “Aku cuma mau pulang ....” Nada bicaranya berubah lirih.
Alecio menatapnya lekat-lekat, lalu menambahkan dengan nada dingin yang sengaja dilebihkan, “Dan seorang gadis asing tanpa dokumen, sendirian, bisa menjadi sasaran empuk.”
“Sasaran apa?” suara Sandrina mengecil.
Alecio mendekat sedikit. “Dipaksa bekerja keras. Diperlakukan semena-mena. Bahkan—”
Ia berhenti sebentar, sengaja memberi jeda dramatis. “Bisa saja dimanfaatkan secara gratis, oleh para tahanan lainnya.”
Sandrina memucat. “Dimanfaatkan bagaimana maksudmu?”
Alecio menatapnya serius. “Wajah kamu cukup cantik untuk menarik perhatian yang salah.”
Wajah Sandrina langsung kehilangan warna. “Kau bilang aku bisa dijadikan pelacur gratis oleh mereka semua?” Suaranya bergetar.
Alecio sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti agar gadis itu tidak nekat keluar sendiri. Namun, melihat mata Sandrina yang mulai berkaca-kaca, hatinya mendadak terasa seperti diremas.
“Aku hanya menjelaskan kemungkinan terburuk,” katanya lebih pelan.
Sandrina mundur satu langkah. “Ya Allah, aku cuma mau pulang, bukan masuk tempat kriminal.” Ia mulai meracau lagi.
“Ya ampun, ayah dan ibu pasti belum mikir aku diculik mafia Italia! Terus kalau aku masuk penjara, aku nggak bisa bahasa Italia lancar, aku cuma bisa bilang grazie sama gelato.”
Alecio menahan tawa yang hampir lolos. Dia selalu suka melihat Sandrina yang seperti saat ini.
Sandrina menatapnya dengan mata setengah marah setengah takut. “Kamu ini jahat banget, tahu nggak sih?”
“Aku realistis.”
“Kamu psikopat elegan!”
Alecio akhirnya tersenyum tipis. “Elegan, setidaknya.”
Sandrina memukul dadanya pelan. “Aku ini muslimah! Aku bukan … bukan … yang kamu bilang tadi!”
“Aku tahu,” jawab Alecio cepat, nada suaranya berubah lebih lembut. “Justru karena itu aku tidak akan membiarkanmu keluar tanpa perlindungan.”
Sandrina terdiam.
Alecio melanjutkan, “Jika kau ingin pulang, kita harus mengurus dokumen baru. Itu tidak instan.”
“Berapa lama?” tanyanya pelan.
“Beberapa bulan, mungkin lebih.”
Sandrina langsung mengeluh lagi. “Ya Tuhan, seratus hari sudah seperti seratus tahun!”
“Sebenarnya bisa dibuat cepat,” ucap Alecio dengan nada melemah.
“Kalau gitu cepat lakukan itu,” ucap Sandrina antusias.
“Tapi, ada syaratnya.” Alecio menatap mata Sandrina.
“Apa syaratnya?!” tanya Sandrina tidak sabar.
“Menjadi ... istriku,” jawab Alecio dan Sandrina diam mematung.
Tak lama kemudian Sandrina spontan tertawa, walau masih ada sisa ketegangan di wajahnya.
“Cukup, jangan bercanda berlebihan Alecio! Kita ini terlalu banyak perbedaan dan tidak akan pernah bisa sama.”
Kali ini Alecio yang gantian terdiam. Kemudian, pria itu tersenyum tipis. “Ya, makannya bersabar lah tinggal di sini sampai kamu punya dokumen baru.
Namun entah kenapa, di tengah ancaman penjara dan drama imigran gelap, ada sesuatu yang membuat kastil itu tidak lagi terasa seperti penjara.
Mungkin karena setiap kali Sandrina berteriak dalam tiga bahasa sekaligus, ada satu pria yang diam-diam menikmati suaranya. Bagi Alecio, seratus hari itu bukan hukuman, melainkan awal dari sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu