NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Cuan Pertama

Banyu bukan petani bodoh. Dia tahu betul, sawi "sultan" macam ini tidak akan dihargai pantas kalau dijual di pasar becek. Ibu-ibu nawarnya sadis, bisa-bisa cuma laku lima ribu perak seikat.

Target pasarnya jelas: Hotel Bintang Lima.

Hanya tempat-tempat mewah yang berani bayar mahal demi kualitas bahan baku. Kalau dia bisa menembus dapur hotel elit, jalur distribusinya bakal aman seumur hidup.

Dengan gerobak motor bututnya, Banyu meluncur ke Hotel Grand Gardenia, hotel paling mentereng di kota ini. Katanya sih, pejabat negara kalau kunker pasti nginep di sini.

Tentu saja, Banyu sadar diri. Dia tidak lewat lobi depan yang penuh marmer. Dia memutar ke pintu samping, tempat loading dock logistik dapur.

"Selamat siang, Pak Satpam!" sapa Banyu ramah pada petugas keamanan yang mukanya sekaku tembok. "Boleh numpang masuk? Mau ketemu orang dalem."

Satpam itu menatap Banyu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Celana jeans belel, kaos oblong, dan gerobak sayur. Jelas bukan tamu VIP.

"Cari siapa?" tanya si Satpam curiga.

"Cari Executive Chef," jawab Banyu mantap, sok akrab dengan istilah perhotelan.

Satpam itu melongo sebentar, lalu tertawa meremehkan. "Chef Gunawan maksud lu? Lu ada janji? Kenal?"

Banyu menggeleng jujur. "Gak kenal, gak ada janji. Tapi saya mau nawarin sayur premium. Dijamin Chef Gunawan bakal suka."

Wajah Satpam langsung berubah galak. "Halah, sales lagi! Pergi sana! Kita gak terima sales jalanan. Di sini semua supplier udah kontrak resmi. Hus hus!"

"Yah, Pak, jangan gitu dong. Liat dulu barangnya, Pak. Ini bukan sayur kaleng-kaleng," bujuk Banyu.

"Bodo amat! Mau sayur emas kek, kalau gak ada janji ya gak boleh masuk! Lu minggir, jangan ngalangin jalan, ntar ada truk masuk!"

Saat mereka sedang ribut-ribut, sebuah mobil kijang box mundur perlahan ke arah pintu masuk. Dari arah dalam, keluar seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan seragam koki putih bersih yang necis, tapi mukanya kusut kayak baju belum disetrika.

Itu Chef Gunawan, penguasa dapur Grand Gardenia.

"Woi, ada apa ini ribut-ribut? Truk ikan mau masuk tuh, jangan dihalangin!" teriak Chef Gunawan galak.

Satpam buru-buru menunjuk Banyu. "Ini Chef, ada tukang sayur maksa mau ketemu Bapak. Udah saya usir masih ngeyel."

Mata Banyu berbinar. Kesempatan emas!

Dia langsung menerobos blokade Satpam dan menghampiri Chef Gunawan. "Siang, Chef! Maaf ganggu sebentar. Saya Banyu, petani lokal. Saya bawa sawi kualitas impor, Chef harus liat!"

Chef Gunawan mendengus, hendak mengusir. Tapi tangan Banyu lebih cepat. Dia menyingkap terpal gerobaknya.

Sreeet!

Tumpukan sawi hijau raksasa yang berkilau di bawah matahari langsung terekspos.

Mata Chef Gunawan yang tadinya sipit karena ngantuk, langsung melotot. Sebagai koki profesional puluhan tahun, dia punya insting tajam soal bahan baku. Sawi ini... beda. Warnanya terlalu sempurna, batangnya terlalu montok.

"Ini... lu nanem sendiri?" tanya Chef Gunawan, suaranya melunak.

"Asli taneman sendiri, Chef. Organik, tanpa pestisida. Varietas rahasia. Rasanya? Beuh, Chef cobain sendiri deh. Kalau gak enak, saya kasih gratis segerobak."

Tawaran Banyu cukup berani. Chef Gunawan menimbang sebentar. Kebetulan, minggu depan ada jamuan makan malam untuk delegasi kementerian, dan dia masih pusing cari menu sayuran yang stand out tapi tetap lokal.

"Oke. Bawa masuk satu iket. Kita tes masak sekarang," perintah Chef Gunawan.

Banyu menyeringai lebar. "Siap, Chef!"

---

Di dapur hotel yang sejuk dan stainless steel semua, Banyu berdiri menunggu dengan pede. Koki bawahan menumis sawi itu dengan bumbu minimalis: bawang putih dan garam. Sengaja, biar rasa aslinya keluar.

Begitu matang, Chef Gunawan mencicipi sehelai daun.

Kunyahan pertama. Hening. Kunyahan kedua. Matanya terpejam. Kunyahan ketiga. Dia menggebrak meja dapur.

Brak!

"Edan!" seru Chef Gunawan. "Ini sawi apa buah? Manis bener! Renyahnya dapet, juicy-nya dapet. Gak ada bau tanah sama sekali!"

Semua asisten koki kaget melihat bosnya seantusias itu.

"Gimana, Chef? Lulus?" tanya Banyu santai.

"Lulus apanya? Ini mah Cum Laude!" Chef Gunawan menatap Banyu serius. "Lu jual berapa?"

Banyu sudah riset harga pasar. Sawi biasa paling lima ribu sekilo. Sawi organik di supermarket mahal bisa dua puluh ribu.

"Lima puluh ribu sekilo, Chef. Pas."

Para asisten koki melongo. Lima puluh ribu buat sawi? Itu harga daging ayam!

Tapi Chef Gunawan tidak berkedip. Untuk kualitas begini, harga segitu masih masuk akal buat hotel bintang lima. "Oke. Gue ambil semua yang lu bawa hari ini."

"Mantap!" Banyu girang, tapi otaknya langsung hitung cepat. "Di gerobak ada sekitar 115 kilo, Chef. Saya buletin aja jadi 100 kilo ya, diskon perkenalan. Jadi total lima juta pas."

Chef Gunawan tertawa. "Boleh juga lu, anak muda. Pinter ambil hati. Yaudah, deal. Gue kasih kartu nama gue. Besok-besok kalau panen lagi, langsung WA gue. Jangan jual ke hotel sebelah!"

Banyu menerima kartu nama itu dengan dua tangan. "Siap, Chef. Grand Gardenia prioritas utama saya."

---

Keluar dari hotel, Banyu memegang amplop tebal berisi uang tunai lima juta rupiah.

Buat orang kaya, mungkin ini uang receh. Tapi buat Banyu yang biasa dapet untung seribu perak per koran, ini duit segunung. Dulu butuh setengah tahun buat ngumpulin segini, sekarang cuma butuh dua minggu nanam sawi!

"Duit ini gak boleh ngendon. Harus diputer!"

Tujuan pertama: Toko HP. Banyu beli HP Android China yang speknya lumayan garang seharga 1,5 juta. Kamera bagus, RAM gede, baterai badak. Penting buat foto produk dan komunikasi sama Chef Gunawan.

Tujuan kedua: Pasar Batu Akik. Ini investasi paling krusial. Banyu menghabiskan 2,5 juta buat beli berbagai jenis batu giok dan akik mentah. Dia harus bereksperimen batu mana yang paling disukai si Kendi buat ningkatin produksi Cairan Ajaib.

Sisa uang: Satu juta. Cukup buat bayar tunggakan kos, modal bibit baru, dan makan enak seminggu.

---

Sorenya, Banyu pulang dengan gerobak kosong dan senyum lebar.

Pak Rahmat dan Bu Yati sudah menunggu di teras kayak orang tua nunggu anaknya pulang sekolah.

"Gimana, Ny? Laku gak?" tanya Bu Yati cemas. "Tadi Ibu liat kamu bawa banyak banget, takut gak abis."

Banyu memarkir motornya. "Ludes, Bu. Diborong hotel Grand Gardenia."

"Alhamdulillah!" Bu Yati tepuk tangan. Dia mendekat, berbisik penasaran. "Dapet berapa, Ny? Ada sejuta?"

Banyu nyengir. "Lebih dikit lah, Bu."

"Dua juta?" mata Bu Yati membulat.

Banyu mengangguk samar. "Sekitar segitu lah, Bu. Cukup buat bayar kos tiga bulan ke depan."

Sebenarnya lima juta, tapi Banyu gak mau bikin heboh. Dua juta aja udah bikin Bu Yati girang bukan main.

"Wah, hebat kamu! Kalau sebulan panen dua kali, udah empat juta dong? Itu mah gaji manajer!" seru Bu Yati bangga.

Tepat saat itu, Rudi lewat mau masuk kamar. Dia mendengar percakapan itu.

Langkah Rudi terhenti. Wajahnya langsung keruh.

Empat juta? Gaji dia sebagai staf admin cuma UMR tiga juta koma sekian, itu pun potong pajak dan BPJS. Masa dia kalah sama tukang sayur lulusan SMA?

Darah Rudi mendidih. Apalagi mengingat Laras yang kemarin memuji-muji sawi Banyu. Rasa iri dan dengki merayapi hatinya, mengubah wajahnya jadi menyeramkan.

Rudi masuk kamar dan membanting pintu.

"Liat aja lu, Banyu," desis Rudi di balik bantal. "Gue gak bakal biarin lu seneng di atas penderitaan gue. Gue bakal cari cara buat jatuhin lu!"

1
Nugroho Sodiq
harusnya dibalik thor..waktu di dlm kendi yg cepet, tapi dunia asli lmbat..biar cepet panen..😄
DipsJr: iya ya... nanti sy revisi lagi. 🤭
total 1 replies
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
isnaini naini
gimana pak tomat busuk...kapok lu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!