Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA SI KARIN
"Meskipun dia dilindungi oleh kakek atau sesepuhnya tapi tidak bisa merasakan aku kan? Karena memang hanya kamu yang spesial bagiku," ujar si hantu setelah mendengar penjelasan teman Salsa ini. Rasanya Salsa malas sekali harus dikuntit hantu, ya memang cuma satu kalau setelah ini rombongan gimana. Salsa tak mau, alamnya dan alam si hantu berbeda tak perlu disamakan, atau patut mencampuri satu sama lain.
"Lagian kenapa sih harus aku!" gumamku sembari menusuk bakso dengan sebal, sedangkan si hantu terkikik geli.
"Kamu diikuti hantu, Sal?" tebak Devita, kepala Salsa hendak mengangguk, namun tangan si hantu langsung menahan kepala Salsa, dan menggerakkan kepala Salsa untuk menggeleng.
"Orang kalau sampai diikuti hantu, berarti orang itu spesial, mungkin punya kebiasaan baik, sehingga si hantu yang matinya kurang baik, atau masih ada hutang untuk dibayar akan memilih orang spesial begitu," jelas Devita yang sudah diberi tahu oleh orang tuanya terkait masalah alam ghaib.
"Masa' sih?" Salsa mulai merinding, dipikir-pikir ia punya kebiasaan baik apa ya, sampai si hantu memilih dirinya dari sekian banyak orang.
Omongan Devita cukup membuat Salsa berpikir keras memikirkan kebiasaaan apa, nanti kalau sudah ketemu gak bakal Salsa melakukan lagi. Sumpah, rasanya diikuti hantu itu gak enak banget, ya tentu saja takut dengan wajah pucatnya, belum lagi kalau dia mengajak obrol dan secara spontan kita menjawab, lah lama-lama orang menganggap gila dong, dan Salsa tak mau itu terjadi.
Alhasil, dia pun sudah punya keputusan untuk menggandeng sang mama agar menemaninya mewawancari si hantu.
"Nanti malam tidur di kamar papa lagi?" sindir papa saat makan malam, sudah beberapa hari hampir seminggu Salsa tidur di kamar orang tuanya. Keluhannya masih sama ada hantu di kamar Salsa.
Tentu saja papa jengkel lama-lama pada putrinya, beliau kan juga pengen bermesraan dengan istri, ini malah ada Salsa yang nyempil. Aish. Sudah berulang kali papa bilang, gak ada hantu. Itu hanya halusinasi Salsa saja.
Tuh kan, tidak ada yang percaya, Salsa makin sebal sama si hantu ini. Mana dia merasa gak berdosa sama sekali main nemplok di kamar Salsa berhari-hari begini.
Salsa sendiri sudah bulat, ia akan melibatkan sang mama untuk bernegosiasi, meski mama tak bisa melihat hantu, tapi setidaknya ada di samping Salsa, saat introgasi berlangsung.
Mama setuju saja, biar Salsa juga bisa kembali ke kamarnya. Ya ampun ini sudah mahasiswa loh, masa' iya masih tidur di kamar orang tuanya. Saat Salsa tak ada kuliah siang, ia langsung pulang. Terpaksa ia tak ikut teman-temannya lihat film di bioskop, demi misi interview si hantu.
Sungguh, Salsa tak pernah mengira bisa dipilih jadi manusia baik versi hantu. Ya elah, sesama teman Salsa saja gak seterang-terangan ini menganggap Salsa baik.
Bersama buah, es degan, batagor dan juga rujak buah, Salsa dan mama sudah duduk di kasur, menarik meja kecil untuk meletakkan segala camilan untuk diskusi.
"Tu, aku mau berdamai," ujar Salsa sembari menatap si hantu. Mama menahan tawa, si bungsu tampak serius, tapi panggilan Tu terkesan kok lucu amat sih. Memangnya mereka sampai detik ini belum berkenalan? Ah lucunya keistimewaan putrinya ini. Mama pura-pura bermain ponsel saja sembari memakan camilan. Tugas beliau hanya mendampingi tanpa intervensi.
"Kita gak pernah musuhan," jawab si hantu. Salsa hanya memutar bola mata malas. Ya memang gak musuhan, tapi kan kehadiran si hantu membuat Salsa tak nyaman di kamarnya sendiri. Dia sadar gak sih. Ah, Salsa lupa, si hantu mana peka perasaan manusia.
"Ya udah gini deh. Aku mau tanya, siapa nama kamu?" tanya Salsa berusaha tak sebal pada si hantu.
"Namaku Karina, panggil saja Karin!" Salsa mengangguk, merekam nama si hantu dalam alam bawah sadarnya.
"Kenapa kamu sampai menampakkan diri ke aku?" tanya Salsa lagi. Untuk pertanyaan ini, mama sedikit melirik pada sang putri, mulai percaya kalau Salsa memang bisa melihat hantu, dan hantu tersebut berada di kamarnya.
"Aku mau menuntut tanggung jawab dari seorang dosen."
"Tanggung jawab apa? dan di kota ini banyak dosen, jelas aku tak tahu dosen siapa dan di mana mengajarnya?" tanya Salsa mulai serius menanggapi pernyataan Karin.
"Aku menjadi simpanan si dosen." Karin mulai menceritakan latar belakang dia bisa bersama seorang dosen.
"Simpanan?" tanya Salsa memastikan. Karin hanya berdecak sebal, belum cerita utuh sudah dipotong Salsa.
"Bisa diam gak, dengarkan cerita lengkap aku dong," protes Karin dan membuat Salsa meringis.
"Oke, silahkan cerita!" ujar Salsa tak lupa mulai mencicipi camilan juga, mengalihkan ketegangan. Mama masih diam saja, tapi beliau sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Aku kenal Mas Amar di sebuah cafe, saat itu aku menyuguhkan kopi pesanan Mas Amar. Pertemuan pertama dia biasa saja layaknya customer dan pelayan cafe, lambat laun aku penasaran dia sering menghabiskan waktu di cafe, bahkan sampai cafe akan tutup. Alhasil aku mengajak obrol Mas Amar, ada yang bisa dibantu, atau ada yang mau dipesan lagi, hingga dia memanggilku dan minta ditemani minum kopi di cafe itu. Sejak itu, kami berhubungan hanya sebagai tempat curhat saja. Kita bertukar nomor ponsel.
Teman cafeku sih sudah memperingatkan jangan sampai terlibat jauh, namun aku tak mengindahkan. Hingga akhir tahun kemarin, saat liburan semester ganjil dan aku masih kelas XII. Aku diajak liburan ke Bali, kami di sana 3 hari 2 malam. Namanya saja aku anak orang gak punya, diajak ke Bali tentu saja mau saja. Apalagi orang tuaku, fokus pada pekerjaan saja. Tak bertanya lebih bersama siapa aku ke Bali.
Singkat cerita, saat di Bali aku kaget karena aku harus sekamar dengan Mas Amar cuma dia meyakinkan aku, bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Tapi Mas Amar ternyata tak bisa dipercaya, saat malam aku sudah terlelap. Dia mulai meraba bagian sensitifku, aku pikir itu mimpi, tapi saat dia mulai melumat area depanku, aku terbangun. Aku kaget setengah mati, tapi dia langsung menciumku dan ya sebagai remaja aku diperlakukan begitu aku terpancing. Aku meladeni saja, apalagi dia bilang akan tanggung jawab bila aku hamil.
Bodoh ya. Kami melakukan hubungan suami istri, aku terlena, sampai kita melakukan hampir tiap hari di sela-sela liburan. Dia tak memakai pengaman. Aku juga tidak tahu soal kb, karena aku remaja polos kan.
"Memang remaja polos dan remaja bodoh itu beda tipis," ucap Salsa jutek, dan membuat Karin cemberut. "Terus?"
Sampai balik dari Bali, pertemuan kita intens, apalagi saat aku pulang sekolah, ada waktu sekitar tiga jam sebelum aku bekerja di cafe. Aku menuju apartemennya. Tapi menunggu chat dari dia sih, dan kami kembali melakukan tanpa ada kb atau pengaman, keluar dalam juga. Percaya deh, Sal. Kalau sudah pernah melakukan begitu, kamu pasti ketagihan.
Salsa hanya menggelengkan kepala, dia tidak bodoh, dia alumni siswa jurusan IPA jadi tahu bagaimana teori reproduksi itu. Dia tidak akan mendekati pergaulan seperti Karin, enak sesaat tapi menyesatkan masa depan. Jangan sampai!!