Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENU UTAMA: STEAK DAGING MONSTER TINGKAT RAJA
"GROAAAAAAARRR!"
Kera Iblis Api Neraka itu tidak membuang waktu. Begitu kakinya menyentuh tanah arena, dia langsung melompat setinggi sepuluh meter. Tubuh raksasanya yang terbungkus api meluncur turun bagaikan meteor jatuh, mengincar kepala Feng dengan tinju berapi sebesar gentong air.
"Mati!" teriak Ketua Balai Penegak Hukum dari podium VIP dengan mata berbinar penuh harap.
"Lari, Feng!" jerit Tetua Agung Yue, mencengkeram rantai Buntel dengan wajah pucat.
Tapi Feng tidak lari. Dia berdiri diam di tempat, mendongak menatap bola api raksasa yang jatuh ke arahnya. Matanya menyipit, bukan karena takut, tapi karena silau.
"Sistem, analisis suhu apinya. Cukup buat bikin steak *medium rare* tidak?"
SISTEM MERESPON CEPAT: SUHU PERMUKAAN 800 DERAJAT. SEMPURNA UNTUK MEMBAKAR LEMAK JAHAT. TAPI TUAN DISARANKAN MENAHAN NAPAS AGAR BULU HIDUNG TIDAK HANGUS.
"Siap."
DUAAAAARRRR!!!
Ledakan api yang dahsyat mengguncang seluruh arena. Pasir putih beterbangan ke udara, menciptakan awan debu panas yang menutupi pandangan. Gelombang kejutnya bahkan membuat murid-murid di barisan depan tribun terbatuk-batuk.
"Hahaha! Tamat riwayatnya!" seru Long Chen yang duduk di tribun peserta. "Tidak ada murid tanpa Qi yang bisa selamat dari hantaman langsung Monster Raja!"
Patriark di kursi tertinggi menyipitkan mata emasnya. Dia tidak tersenyum. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Getaran di tanah tadi... tidak terasa seperti daging yang hancur, melainkan seperti besi yang menghantam besi.
Perlahan, debu mulai menipis.
Di tengah kawah kecil bekas hantaman itu, Kera Iblis masih dalam posisi meninju tanah. Namun, wajah monster itu terlihat bingung. Dia mencoba menarik tangannya, tapi tangannya tertahan.
"Aduh, Mas Kera. Salam kenalnya hangat sekali," terdengar suara santai dari balik kepulan asap.
Semua orang terbelalak.
Feng berdiri tegak di sana. Satu tangannya yang terangkat ke atas sedang menahan kepalan tinju raksasa sang monster. Telapak tangan Feng yang kecil terlihat konyol menahan tinju sebesar itu, tapi kakinya bahkan tidak bergeser satu inci pun.
"B-bagaimana mungkin?!" teriak Ketua Balai Penegak Hukum, berdiri dari kursinya. "Dia menahan serangan fisik Monster Raja dengan satu tangan?!"
Feng menepis debu di bahunya dengan tangan yang satunya. Jubahnya sedikit hangus di bagian lengan, tapi kulitnya? Mulus tanpa luka bakar.
"Sistem, aktifkan Mode Koki Barbar," perintah Feng dalam hati. "Daging ini alot sekali ototnya. Harus dilemaskan dulu."
SISTEM: MODE KOKI BARBAR AKTIF. KONSUMSI KALORI MENINGKAT 200%. TARGET: MELEMASKAN SERAT OTOT LAWAN DENGAN PUKULAN BERUNTUN.
Feng menatap Kera Iblis yang masih bengong itu. Dia tersenyum lebar, senyum yang membuat monster itu tiba-tiba merinding ketakutan.
"Sini, Mas. Kita pijat dulu biar dagingnya empuk," ucap Feng.
Feng melompat. Bukan melompat mundur, tapi melompat maju, memanjat lengan berbulu api monster itu dengan kecepatan kilat.
"Hiiiiaat!"
Feng mendaratkan pukulan pertamanya tepat di bisep kanan si Kera.
BUK!
Suaranya tumpul dan berat.
"GROAAHK?!" Kera Iblis itu menjerit kaget. Rasa sakit yang aneh menjalar dari lengannya. Rasanya bukan seperti dipukul, tapi seperti dagingnya dicincang dari dalam.
"Kurang keras!" Feng memukul lagi.
BUK! BUK! BUK!
Tiga pukulan beruntun di tempat yang sama. Lengan kanan Kera Iblis itu seketika lemas, terkulai jatuh ke samping seolah tulangnya berubah jadi jeli.
"Nah, bagian sayap kanan sudah empuk," komentar Feng layaknya seorang tukang daging di pasar. "Sekarang bagian dada!"
Monster itu panik. Dia mencoba menepis Feng dengan tangan kirinya, tapi Feng bergerak lincah seperti kutu loncat. Feng meluncur ke dada monster itu, lalu melakukan serangkaian tamparan cepat.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
"Empuk! Empuk! Harus empuk!" racau Feng sambil terus menampar dada bidang monster itu.
Setiap tamparan Feng mengandung getaran tenaga dalam murni—bukan Qi, tapi gelombang kejut fisik yang menghancurkan ikatan otot tanpa merusak kulit luar.
Kera Iblis itu mundur terhuyung-huyung. Dia meraung marah, menyemburkan api neraka dari mulutnya langsung ke wajah Feng.
WUUUSSHHH!
Feng tidak menghindar. Dia malah menarik napas panjang, lalu meniup balik api itu.
HUUUUUUH!
Tiupan angin dari paru-paru Feng yang diperkuat sistem memiliki tekanan badai. Api neraka itu terdorong balik masuk ke tenggorokan si Kera.
"UHUK! UHUK!" Kera Iblis itu terbatuk, asap hitam keluar dari hidung dan telinganya. Dia tersedak apinya sendiri!
"Jangan main api, Mas. Nanti gosong sebelum matang," tegur Feng sambil menggelengkan kepala.
Di tribun penonton, suasana hening mencekam. Ribuan murid menatap kejadian di arena dengan mulut menganga. Mereka datang untuk melihat pembantaian, tapi yang mereka lihat justru... sesi masak-memasak yang brutal?
"Dia... dia sedang apa?" bisik seorang murid baru dengan wajah ngeri. "Kenapa dia memijat monster itu?"
"Itu bukan memijat, Bodoh!" sahut senior di sebelahnya dengan suara gemetar. "Dia menghancurkan organ dalam monster itu tanpa melukai kulitnya! Itu teknik tingkat tinggi!"
Buntel yang terikat di kursi VIP di samping Tetua Agung Yue mulai menggila.
"Kyuk! Kyuk! KYUUUUUK!" (Itu bagianku! Sisakan paha bawahnya!)
Buntel menarik-narik rantai emasnya sampai kursi yang diduduki Tetua Agung Yue ikut bergeser.
"Diam, Buntel!" desis Tetua Agung Yue, menahan naga itu dengan susah payah. Tapi mata indahnya tak bisa lepas dari sosok Feng di arena. *Anak ini... dia benar-benar monster berbentuk manusia,* batinnya kagum sekaligus ngeri.
Di arena, Kera Iblis itu sudah kehilangan kesabarannya. Harga dirinya sebagai Raja Hutan hancur lebur dipermainkan oleh manusia kecil ini. Matanya berubah menjadi merah darah sepenuhnya. Bulu-bulu apinya memanjang dan berubah warna menjadi biru—api terpanas.
"GRAAAAAAA!"
Monster itu mengamuk. Dia tidak lagi memukul sembarangan. Dia memusatkan seluruh energinya untuk meledakkan diri. Tanah di sekitar arena mulai meleleh menjadi magma cair.
"Gawat!" teriak Wasit Arena. "Dia mau meledakkan inti jiwanya! Pasang perisai penonton!"
Para Tetua panik membuat dinding energi.
Tapi Feng justru terlihat senang. "Wah, dia menaikkan suhu kompornya sendiri. Bagus, bagus. Biar cepat matang."
SISTEM: PERINGATAN. TARGET DALAM FASE KRITIS. LEDAKAN ENERGI AKAN MENGHANGUSKAN DAGING HINGGA MENJADI ARANG DALAM 3 DETIK.
REKOMENDASI: MATIKAN KOMPOR SEKARANG JUGA.
"Ah, jangan sampai gosong!" Feng panik. "Sayang kalorinya!"
Feng melompat tinggi ke udara, melampaui kepala Kera Iblis itu. Di udara, dia mengepalkan kedua tangannya menjadi satu, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
Otot punggung Feng mengembang hingga merobek jubah bagian belakangnya.
"Maaf ya, Mas Kera. Saya harus mematikan apinya secara paksa," ucap Feng dingin.
"Jurus Rahasia Level Nol: Pukulan Palu Maling Ayam!"
Feng mengayunkan kedua tangannya ke bawah, menghantam ubun-ubun monster raksasa itu dengan gaya gravitasi penuh ditambah berat badan hasil makan di kantin tadi.
DUAAAAAAAKKKK!!!
Suara tengkorak keras bertemu tinju Feng terdengar mengerikan.
Kera Iblis itu tidak sempat berteriak. Matanya mendadak juling ke atas. Lidahnya menjulur keluar. Api biru di tubuhnya padam seketika seperti lilin ditiup angin topan.
Tubuh raksasa setinggi lima meter itu ambruk ke depan.
BOOOOOOM!
Tanah arena bergetar hebat. Gelombang debu kembali menyapu penonton. Patriark harus menahan cangkir tehnya agar tidak tumpah.
Ketika debu menghilang, pemandangan di tengah arena membuat semua orang menahan napas.
Kera Iblis itu terkapar tak berdaya, pingsan total dengan benjolan besar berasap di kepalanya. Dan Feng... Feng sedang duduk santai di atas perut buncit monster itu, memegang pergelangan tangan monster tersebut seolah sedang memeriksa denyut nadi.
"Hmm... nadinya masih ada. Bagus, dagingnya masih segar," gumam Feng, lalu dia menepuk perut monster itu. "Teksturnya juga sudah empuk. Pas sekali."
Wasit Arena terbang mendekat dengan ragu-ragu. Dia menatap monster yang biasanya membunuh tim elit dalam sekejap mata itu kini tak berkutik di bawah pantat Feng.
"P-pemenangnya... Murid Luar Feng!" teriak Wasit dengan suara serak.
Hening sejenak, lalu...
"WOOOOOOOOAHHH!!!"
Tribun meledak. Sorak-sorai bercampur makian dari mereka yang kalah taruhan membahana.
"Dia menang! Level Nol mengalahkan Monster Raja!"
"Uangku! Uang jajanku bulan ini habis!"
"Hebat! Hidup Feng!"
Feng berdiri di atas perut monster itu, melambaikan tangan ke arah penonton. Tapi matanya bukan mencari pujian, melainkan mencari seseorang di deretan panitia.
"Pak Wasit! Pak Wasit!" panggil Feng sambil melompat turun.
"Y-ya, Peserta Feng?" tanya Wasit hormat.
Feng nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Dia menunjuk tubuh Kera Iblis yang pingsan itu.
"Ini kan hadiahnya buat saya, kan? Monster yang kalah jadi milik pemenang?"
"Eeh... secara teknis... iya, biasanya bangkainya boleh diambil untuk material senjata," jawab Wasit bingung.
"Sip!" Feng bertepuk tangan girang. Dia lalu berteriak lantang ke arah tribun penonton, suaranya menggema ke seluruh penjuru arena.
"WOY! ADA YANG BAWA KECAP MANIS DAN PANGGANGAN BESAR TIDAK?! SAYA BUTUH JUGA LADA HITAM DAN GARAM KASAR! CEPAT! SAYANG KALAU DAGINGNYA KEBURU DINGIN!"
Seluruh stadion hening kembali.
Patriark di kursi VIP tersedak tehnya sendiri.
Long Chen membenturkan kepalanya ke tembok tribun.
Dan Tetua Agung Yue hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu setengah mati.
"Kyuk! Kyuk!" Buntel di kejauhan merespons panggilan itu dengan semangat membara, menyemburkan api ke udara tanda setuju.
Pesta barbeque terbesar dalam sejarah sekte baru saja akan dimulai. Namun, Feng tidak menyadari, di balik bayangan tribun penonton, sepasang mata merah mengintainya dengan nafsu membunuh yang jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun.
Sosok berjubah hitam itu menyeringai, memegang sebuah jarum beracun yang berkilau hijau di kegelapan.
"Makanlah sepuasmu, Bocah... karena itu akan menjadi perjamuan terakhirmu sebelum racun Sembilan Ular Neraka ini melelehkan ususmu..."