NovelToon NovelToon
OFF SCRIPT LOVE

OFF SCRIPT LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.

Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.

“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.

Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kacang Ijo

Tama menyimpang dua kantong keresek berisi aneka cemilan itu ke kursi belakang kemudian kembali melajukan mobilnya. "Semakin sulit didapat makin seru. Sejauh ini nggak ada satu cewek pun yang nggak bisa gue dapetin. Lo juga cuma tinggal nunggu waktu aja." gumamnya.

Pulang di jam segini bagi Tama masih sangat terlalu awal. Sebelum pindah ia bahkan nyaris tak pulang, apalagi jika mamanya sedang ada pekerjaan di luar yang membuatnya tak bermalam di rumah maka hal yang sama pun akan ia lakukan. Mamanya di rumah saja ia masih bisa keluar dengan leluasa. Tama definisi apa pun yang ia inginkan pasti tercapai. Di suruh tidur ia masuk kamar dengan patuh tapi selang 30 puluh menit saat dirasa mamanya sudah tidur ia akan keluar dengan leluasa dan pulang pagi menjelang. Mamanya kira anaknya bangun sangat pagi padahal dia sama sekali tak tidur.

Namun senakal-nakalnya seorang Tama, ia tetap patuh pada mamanya. Bagi Tama, Mamanya adalah orang yang paling mengerti dia, selalu meyakini dalam setiap kenakalan yang ia lakukan ada alasannya, berbeda dengan sang papanya yang selalu memarahinya secara langsung setiap kali ia pulang membawa surat panggilan dari BK. Kini ia membelokan kendaraannya ke sebuah bangunan yang masih dalam proses finishing. Tama masuk setelah menyapa beberapa orang pekerja yang ia lewati.

"Udah pulang? gimana sekolah baru di hari pertama?" tanya mamanya, Raya. Wanita itu menyelesaikan pemasangan gaun di manekin kemudian menghampiri putranya.

"Biasa aja, Ma. Upacara terus bersih-bersih, pulang deh."

"Awas yah jangan neko-neko di sekolah baru. Tunjukin kalo anak mama ini bisa berubah jadi lebih baik."

"Neko-neko gimana sih, Ma? dari dulu juga aku ini anak baik kok." kilah Tama.

"Anak baik mana yang hampir tiap bulan mamanya di panggil ke BK?" ucap Raya.

"Anak baik mana yang bikin mamanya bohong ke cewek-cewek yang datang ke rumah hm?" lanjutnya.

"Atau anak baik mana yang keluar tengah malem pas mamanya udah tidur dan pulang subuh?" Tama semakin diam dibuatnya.

"Apa harus mama sebutin lagi yang lainnya hm?" Raya menatap lekat putranya.

"Kamu kira karena selama ini mama diem berarti mama nggak tau gitu?" pungkasnya.

Tama tersenyum enteng, seoalah tanpa dosa. "Kenapa sih nggak pura-pura aja terus, Ma. Pura-pura nggak tau gitu."

"Itu sih maunya kamu!" Raya menjewer telinga putranya.

"Ceritain ayo yang lengkap gimana hari pertamanya? mama takut kamu tuh nggak nyampe sekolah."

"Ya ampun mama! Kalo mama nggak percaya telepon aja wali kelas aku. Tadi aku udah ngasih kontak mama ke wali kelas, katanya buat dimasukin ke grup wali murid." jawab Tama.

"Aku bahkan udah ketemu sama cewek pilihan mama." lanjutnya.

"Wah, gimana anaknya? cantik kan?" Raya begitu antusias.

Tama mengangguk, "tapi agak cuek. Aku aja ditinggalin. Padahal dia udah aku bawa ke UKS karena pingsan waktu upacara. Minta anterin pulang juga tapi pas di tengah jalan dia minta beliin minum. Pas aku balik anaknya udah nggak ada."

"Ma, bisa nggak sih aku nggak usah jagain dia? anak mama nih kayak yang cuma dimanfaatin aja." kesalnya, mengingat kejadian tadi. Seumur-umur seorang Tama baru kali ini dimanfaatkan, padahal kan biasanya dia yang memanfaatkan orang lain. Terutama cewek-cewek untuk membantu mengerjakan tugas sekolahnya.

"Karma itu. Soalnya kamu aja suka manfaatin cewek-cewek, sekarang gantian." ejek Raya, "pokoknya mama nggak mau tau,kamu tetep harus jaga dia."

Huh! Tama menghembuskan nafas kasar, "aku usahain, Ma. Tapi nggak janji deh." jawabnya kemudian beranjak bangun dari duduk.

"Mau kemana lagi? mama belum selesai ngomong ini!"

"Main, Ma."

"Jam 9 harus udah di rumah!" Tegas Raya.

"Nego dikit, jam 10 yah, Ma? Aku perlu keliling-keliling kota ini buat ngafalin jalan." Tama mengambil tangan Raya dan menyalaminya sebelum pergi.

"Jam 10 yah." Tama mengangguk setuju.

Tama mengendarai mobilnya menyusuri berbagai jalan alternatif yang bisa ia gunakan untuk pergi sekolah sekaligus mengukur jarak tempuh yang paling efisien. Mencari tempat nongkrong yang nyaman juga merupakan salah satu tujuannya yang lain. Namun nampaknya ia membutuhkan rekomendasi dari warga lokal dari pada mengandalkan rating di internet, karena sering kali hal itu bisa dimanipulasi.

Setelah merasa lumayan bosan, Tama berhenti di depan mini market. Melihat air mineral membuatnya mengingat Kara yang meninggalkannya dengan alasan air mineral. Tama tak jadi mengambil botol air tersebut, beralih mengambil kopi kaleng di showcase sebelahnya. Di depan kasir ia juga menunjuk rokok di belakang kasir.

"Masih sekolah aja udah ngerokok." terdengar sindiran dari konsumen yang antri di belakangnya.

Tama menoleh sekilas pada dua gadis berseragam putih biru dengan rabut kuncir tujuh dan papan nama yang menggantung di lehernya. Dekapan gadis itu penuh dengan beberapa bungkus kacang ijo, sementara gadis lainnya sibuk dengan catatan di tangannya.

"Gula sama santennya kurang tuh, ntar di marahin emak nggak bisa bikin bubur kacang ijo." balas Tama yang kemudian pergi begitu saja, tak peduli si gadis melotot padanya.

Tama duduk santai di kursi depan mini market sambil menyesap rokoknya. Tak lama dua gadis berseragam putih biru itu keluar dengan heboh. Tama hanya bisa menertawakannya, sepertinya mereka sedang repot dengan kegiatan MPLS sampe sesore ini masih berkeliaran. Satu gadis sudah pergi menaiki taksi sementara sisanya malah berjalan ke arahnya.

"Bang, kosong kan? Sasa duduk sini yah." ucapnya yang sudah meletakan belanjaan di meja.

"Duduk aja." jawab Tama singkat.

"Bang, jangan ngerokok deh, asepnya ke Sasa nih." protesnya.

Tama melirik tak suka, "ini tempat umum, suka-suka gue lah."

"Iya sih suka-suka Abang, tapi kan nggak harus ngasih penyakit ke orang sekitar. Abang yang ngerokok tapi Sasa yang lebih beresiko sakit." cerocos Sasa.

Ck! Tama menatap kesal kemudian mematikan rokoknya. Ia beralih meneguk kopi kalengnya.

"Kopi juga nggak sehat loh, Bang. Mending air mineral aja." lagi-lagi gadis itu berkomentar.

"Suka-suka gue lah!"

"Eh dibilangin juga. Ini tuh bentuk kepedulian." jawab Sasa seraya membuka kemasan kacang ijonya.

"Terserah." ketus Tama. Ia kini memilih memainkan ponselnya, mencari informasi nomor Lengkara. Cukup lama bermain ponsel, Tama melirik sekilas karena gadis kecil yang sedari tadi begitu bawel tiba-tiba jadi tenang.

"Lo ngapain?" Tama mengernyitkan kening melihat gadis di seberang mejanya sedang komat kamit sambil memindahkan biji kacang ijo satu persatu.

Tama berusaha menahan Tama meski akhirnya pecah juga, "lo ngitungin kacang ijo?" ledeknya.

"Ya ampun parah dah!" Tama yang tak sengaja menyenggol meja membuat kacang ijo yang sudah Sasa hitung tercecer, bahkan sebagian berhamburan ke bawah meja. Gadis itu mendelik kesal padanya.

"Sorry sorry gue nggak sengaja." ucap Tama masih dengan tawanya.

"Maaf yah, nggak sengaja sumpah." karena gadis itu masih terus menatap kesal padanya, Tama berinisiatif untuk mengganti kacang ijo yang berantakan.

"Gue beliin yang baru tenang aja. Mau berapa bungkus?" lanjutnya.

Sasa menghela nafas panjang, kemudian cemberut pada Tama.

"Ini bukan masalah mau ganti apa nggak nya yah Bang!" sentak Sasa.

"Masalahnya Sasa udah ngitung sampe seribu biji barusan. Butuh seribu lebih lagi biar pas jadi sejumlah tahun ini!'

"Pokoknya nggak mau tau Abang harus itungin ulang dari awal!"

"Waduh!" Tama terkejut mendengar permintaannya.

"Gue beliin yang baru nggak usah diitung, buat MPLS kan? tenang aja kagak bakal di itung juga sama panitianya." Tama memberi solusi. Yang benar saja, memangnya dia kurang kerjaan sampai harus ngitungin biji kacang ijo.

"Nggak mau! pokoknya itungin!" tegas Sasa yang mulai mengumpulkan kembali kacang ijonya, ia bahkan membuka satu kemasan baru dan mendorongnya ke arah Tama.

"Bagi dua aja biar cepet, Sasa seribu Abang seribu." jelasnya.

"Buruan! Atau Sasa aduin ke orang tua. Nih Sasa udah punya foto Abang." lanjutnya seraya memfoto Tama dan buru-buru menyimpan kembali ponselnya.

Ck! ia kembali berdecak untuk kesekian kalinya. Melawan bocah di depannya tentu akan buang-buang waktu. Akhirnya ia menghitung biji kacang ijo dengan asal supaya gadis di depannya itu diam.

"Udah kayak orang kurang kerjaan aja gue." batin Tama.

1
Rita
emang😂
Rita
awas hbs mkn tenaga lbh2 😂
Rita
😂😂😂😂😂😜
Rita
abang ktmu gede Kara k2😜😂😂😂
Dwisya Aurizra
si micin tuh biang rusuh, nyebelin tp ngangenin awas loh tam sebentar LG Lo bakal kecintaan sama si micin
Ummah Intan
boong banget si micin
Ummah Intan
cie cie ..jutek jutek perhatian
Ummah Intan
Dirga emang bucin brutal ma kara
Septi
cieee.. manis katanya 🤭
Septi
kalau inget Dirga inget di ledekin papa Rama, soal minum susu tiap hari. beda konsep yang diomongin papa mertua sama yang dialamin Dirga 😂😂🤭
Septi
siapa lagi yang nyuekin Sasa kalau bukan Tamarin🤣🤣
Septi
orang kayak Sasa nggak bakalan punya keruwetan hidup🤭
Septi
kok kita samaan Sa, cita-citanya 🤣🤣
👑yosha💣
semangat mengejar cinta y micin ......
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣
Defvi Vlog
bagus. ceritanya aku suka🥰👍
MACA
abang2 yg di tipu bocil🤭🤭
MACA
drama ini...turunan kaleng
MACA
tatap terus bang...tayap...
MACA
pokknya pepet terus cin...jangan kasih kendor si tamarin
MACA
kagetlah...g jualan bakso...koq tiba2 ada yg manggil abang🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!