Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Lorong Bawah Tanah
Napas Elara tersengal hebat, seolah paru-parunya dipenuhi serpihan kaca setiap kali ia menarik udara lembap di lorong rumah sakit itu. Ia mendekap buku bersampul kulit hitam yang baru saja ia rebut seakan nyawanya sendiri tersimpan di antara lembaran kertas tua yang rapuh itu.
Pak Darto berlari di depannya, langkah kakinya yang pincang terdengar tidak beraturan namun entah bagaimana tetap gesit membelah kegelapan. Pria tua itu tidak menoleh ke belakang, tetapi tangannya yang keriput terus memberi isyarat agar Elara mempercepat langkah.
"Jangan berhenti, Nduk! Dia bisa mencium ketakutanmu!" seru Pak Darto dengan suara parau yang tertahan.
Elara memaksakan kakinya untuk terus bergerak, mengabaikan rasa perih di betisnya yang sempat terbentur meja besi di ruang arsip tadi. Suara langkah kaki Dr. Arisandi terdengar menggema di kejauhan, ketukan sol sepatu kulit yang lambat namun konstan, seperti detak jam kematian yang menghitung mundur sisa waktu mereka.
Lorong RSU Cakra Buana di malam hari berubah menjadi labirin yang menipu mata, dengan bayangan-bayangan panjang yang tercipta dari lampu neon yang berkedip sekarat. Dinding-dinding bercat putih kusam itu tampak mengelupas, memperlihatkan lapisan bata merah yang basah seolah gedung ini sedang berkeringat dingin.
Mereka berbelok tajam ke arah sayap timur, melewati deretan bangsal kosong yang pintunya tertutup rapat namun menyisakan celah gelap di bawahnya. Aroma antiseptik yang tajam perlahan mulai bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang lebih busuk, seperti aroma bunga kamboja yang layu di pemakaman lama.
"Pak, kita mau ke mana? Pintu keluar ada di arah sebaliknya!" Elara akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan panik.
Pak Darto berhenti mendadak di depan sebuah pintu besi berkarat yang bertuliskan 'DILARANG MASUK - BAHAYA STRUKTUR', lalu menatap Elara dengan mata yang memancarkan ketakutan sekaligus tekad. Keringat dingin mengalir di pelipis pria tua itu, bercampur dengan debu yang menempel di wajahnya.
"Kita tidak bisa keluar lewat lobi, Arisandi sudah menutup semua akses dengan 'penjaga' miliknya," jawab Pak Darto sambil merogoh saku celananya dengan tangan gemetar.
Elara mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan 'penjaga', namun bulu kuduknya meremang seketika saat lampu di lorong itu mati total. Kegelapan menyelimuti mereka dalam sekejap, menyisakan cahaya remang dari lampu indikator pintu darurat yang berwarna merah darah.
"Dengar, Elara," bisik Pak Darto seraya mengeluarkan sebuah kunci kuno berbahan kuningan yang tampak berat. "Buku yang kamu pegang itu bukan sekadar catatan medis pasien gila. Itu adalah 'Perjanjian Tanah'."
Suara tawa rendah terdengar menggema dari ujung lorong tempat mereka datang, suara yang terdengar santun namun memiliki resonansi yang tidak wajar. Dr. Arisandi tidak berteriak atau berlari, ia hanya berjalan santai, namun bayangannya di dinding tampak memanjang secara tidak logis hingga menyentuh langit-langit.
"Elara... Pak Darto... menyerahlah," suara Dr. Arisandi mengalun lembut, sehalus beludru namun setajam silet. "Kalian tidak bisa membawa lari apa yang sudah menjadi milik fondasi gedung ini."
Pak Darto memutar kunci itu di lubang pintu besi dengan paksa, menimbulkan bunyi berdecit yang menyakitkan telinga. Pintu itu terbuka perlahan, menghembuskan angin dingin yang berbau lumut dan genangan air statis dari kedalaman gedung.
"Masuk! Cepat!" perintah Pak Darto sambil mendorong bahu Elara.
Elara terhuyung masuk ke dalam kegelapan di balik pintu, kakinya mendarat di anak tangga beton yang licin. Ia menoleh ke belakang tepat saat Pak Darto membanting pintu besi itu kembali dan menguncinya dari dalam, memisahkan mereka dari sosok Dr. Arisandi yang kini berdiri tepat di depan pintu.
"Dia... dia tidak berusaha mendobrak?" tanya Elara dengan napas tertahan, matanya menatap pintu besi yang kini menjadi satu-satunya penghalang.
"Dia tidak perlu mendobrak. Dia hanya menunggu kita mati di bawah sana," gumam Pak Darto, menyalakan sebuah senter kecil yang cahayanya redup kekuningan.
Mereka kini berada di puncak sebuah tangga spiral yang menuju ke bawah, menuju area yang tidak pernah tercatat dalam denah renovasi modern RSU Cakra Buana. Ini adalah akses menuju Basement Level 4, area yang menurut rumor para perawat senior, adalah bekas bunker kolonial yang sering banjir saat hujan deras melanda Kota Arcapura.
"Buku itu," Pak Darto menunjuk benda di pelukan Elara dengan dagunya. "Lihat halaman 44. Bacalah dalam hati, jangan disuarakan."
Elara ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya mengalahkan ketakutan. Ia membuka buku itu dengan tangan gemetar di bawah sorotan senter Pak Darto. Halaman itu tidak berisi tulisan tangan dokter yang cakar ayam, melainkan sebuah sketsa arsitektur gedung rumah sakit yang ditumpuk di atas rajah-rajah kuno.
Di sana tertulis sebuah kalimat dalam Bahasa Belanda kuno yang tintanya tampak merah kecokelatan, seperti darah yang mengering: *'Fundamentum est Sanguis'* — Fondasinya adalah Darah.
"Dr. Arisandi bukan sekadar kepala rumah sakit," jelas Pak Darto sambil mulai menuruni anak tangga dengan hati-hati. "Dia adalah keturunan dari arsitek yang membangun tempat ini. Dan dia butuh buku itu untuk menyelesaikan apa yang kakeknya mulai."
"Ritual?" tanya Elara, suaranya nyaris tak terdengar, merasa dunia logikanya sedang runtuh perlahan.
"Renovasi abadi," koreksi Pak Darto. "Gedung ini 'memakan' pasien untuk tetap berdiri kokoh di atas tanah rawa Arcapura yang labil. Dan buku itu adalah daftar menunya."
Mereka terus menuruni tangga yang terasa tak berujung. Suara tetesan air terdengar semakin jelas, *tes... tes... tes...*, bergema di dinding beton yang sempit. Udara di sini terasa berat, menekan dada Elara seolah gravitasi bekerja dua kali lebih kuat.
Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin jauh dari dunia permukaan yang aman. Elara bisa merasakan getaran halus di dinding tangga, seolah-olah gedung besar di atas mereka sedang bernapas, atau mungkin mendengkur dalam tidurnya yang gelisah.
Tiba-tiba, Pak Darto berhenti. Senter di tangannya menyorot ke sebuah genangan air hitam di dasar tangga. Di permukaan air itu, pantulan wajah mereka tidak terlihat, melainkan pantulan wajah-wajah lain yang pucat dan menatap kosong.
"Kita sudah sampai di Level 4," bisik Pak Darto, suaranya bergetar hebat. "Ingat, Elara, apa pun yang kamu lihat di lorong ini, jangan pernah menatap matanya secara langsung."
Elara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia mendekap buku itu semakin erat, menyadari bahwa benda itu kini bukan hanya sekadar barang bukti, melainkan perisai sekaligus kutukan yang membawanya masuk ke perut bumi Kota Arcapura.
Di kejauhan, di balik kegelapan lorong bawah tanah yang tergenang air setinggi mata kaki itu, terdengar suara gesekan logam yang menyeret lantai. Suara itu bukan berasal dari atas, melainkan dari kedalaman lorong di depan mereka, menyambut kedatangan tamu yang tak diundang.
"Jalan terus," perintah Pak Darto, meski kakinya sendiri tampak enggan melangkah. "Hanya ada satu jalan keluar sekarang, dan itu ada di ujung tergelap tempat ini."