Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lensa yang Membuka Hati
Alvaro Rayhan selalu meyakini bahwa kamera lebih tulus dibandingkan manusia. Melalui lensa, ia dapat merekam segala sesuatu tanpa perlu menguraikan, tanpa basa-basi, dan tanpa memikirkan kata-kata yang tepat. Foto tidak menuntutnya untuk berbicara dengan cerdas. Foto hanya meminta sensitivitas.
Sejak menyelesaikan pendidikan tinggi, kehidupan Alvaro tak pernah terpisah dari kamera. Ia sering bangun pagi dengan sedikit rasa pegal di punggung karena semalaman mengedit gambar, dan tidur larut malam dengan lampu meja menyala serta secangkir kopi yang rasanya sudah pahit atau dingin. Ia bukanlah seorang fotografer ternama. Belum saat ini. Namun cukup dikenal di kalangan kecil—di beberapa kafe, merek lokal, dan klien pernikahan sederhana yang kadang muncul dan kadang menghilang.
Pada hari itu, seperti biasa, Alvaro berjalan di trotoar Jakarta dengan kamera menggantung di leher. Sinar matahari siang terasa malas, langit terlihat pudar, dan udara dipenuhi debu. Ia baru saja selesai memotret sebuah bangunan tua untuk proyek pribadinya. Gedung itu akan segera direnovasi, dan Alvaro ingin menyimpan gambarnya sebelum benar-benar menghilang.
Ia berhenti di sebuah kafe kecil di ujung jalan. Kafe ini bukanlah tempat mewah dengan desain mahal atau menu yang aneh. Tempatnya sederhana, dindingnya sedikit terkelupas, tetapi jendelanya besar, membiarkan cahaya masuk dengan indah. Itu sudah cukup bagi Alvaro.
Bel kecil di pintu berbunyi saat ia melangkah masuk.
“Selamat siang,” sapanya seorang wanita.
Alvaro mengangguk dengan singkat. “Siang. Satu Americano ya. ”
Ia duduk di dekat jendela, membuka tasnya, dan mengeluarkan laptop. Kebiasaan lama. Kafe adalah tempat kerjanya yang kedua. Ia menyalakan laptop dan mulai memindahkan file foto, tenggelam dalam dunianya sendiri.
Hingga tanpa disadari, ia mengangkat pandangan.
Sosok wanita itu berdiri di belakang mesin kopi. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai menjuntai di wajahnya. Apron cokelat melilit tubuhnya yang ramping. Gerakannya lincah tetapi tidak terburu-buru, seolah ia benar-benar menikmati pekerjaannya.
Ada sesuatu yang membuat Alvaro berhenti dari layar laptopnya.
Bukan hanya karena kecantikannya yang mencolok. Bukan juga senyumnya yang tampak dibuat-buat seperti pegawai kafe lain yang pernah ia temui. Ada ketenangan dalam sikapnya, terlihat kelelahan yang tulus di matanya, dan entah mengapa, ini terasa… dekat.
“Permisi... ini americano-nya kak. ”
Suara itu membuat Alvaro sedikit terkejut. Ia baru menyadari perempuan itu sudah ada di depannya, menaruh cangkir di atas meja.
“Oh—iya. Makasih yaa” jawabnya agak ragu.
Wanita itu tersenyum singkat. “Sama-sama kak. ”
Senyum itu. Tipis, tidak berlebihan, namun cukup membuat hati Alvaro bergetar aneh. Bukan detak kencang ala film, melainkan seperti ada sesuatu yang bergerak perlahan di dalam dirinya.
Ia mengamati punggung perempuan itu ketika dia kembali ke area kasir. Tangan Alvaro otomatis meraih kamera. Ia tidak berencana untuk memotret wajahnya. Ia tahu itu tidak sopan. Namun cahaya yang jatuh di area kasir, bayangan mesin kopi, dan siluet perempuan tersebut—semuanya terasa tepat.
Klik.
Satu foto. Diam-diam.
Alvaro menurunkan kameranya, mengamati layar kecil di belakang kamera. Hasilnya sederhana. Tidak ada fokus pada wajah. Hanya bayangan, cahaya, dan suasana. Tetapi entah kenapa, foto itu membawa kehidupan.
Ia menghela napas, menyesap kopi. Kehangatan menyebar perlahan.
“Kenapa gue bisa kayak gini, ya,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia mencoba untuk kembali bekerja, tetapi konsentrasinya terganggu. Sesekali, pandangannya melirik ke kasir. Wanita itu sibuk melayani pelanggan lain, mencatat pesanan, tersenyum kecil, dan terkadang mengangguk.
Bukan sesuatu yang sangat penting. Namun cukup untuk mengubah hari Alvaro.
Setelah hampir satu jam, ia mematikan laptopnya. Ia menyadari dirinya hanya menciptakan berbagai alasan untuk tetap bertahan di situ. Akhirnya, ia berdiri dan mendekati kasir.
“Kak? ” kata wanita itu sambil melirik.
“Ini… kopinya enak banget,” ungkap Alvaro, merasa ucapannya terkesan bodoh. Tapi tetap ia paksakan.
Wanita itu tertawa pelan. “Makasih banyak kak. Kami pake biji kopi lokal. ”
“Serius? ” Alvaro mengangguk, pura-pura tertarik. “Iya, pantesan aja. ”
Suasana diam sejenak. Alvaro hampir pergi ketika perempuan itu berkata, “Kakaknya sering ke sini? ”
Alvaro terdiam sejenak. “Baru pertama kali. ”
“Oh... pertama kali yaa. ” Perempuan itu kembali tersenyum. “Semoga bukan terakhir kalinya yaa. ”
Kalimat yang sederhana. Namun cukup membuat Alvaro melangkah keluar kafe dengan senyuman tipis yang bahkan tidak ia sadari.
Di luar, suara kendaraan kembali menggema di telinganya. Jakarta tetap seperti biasa. Namun perasaannya berbeda.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan bayangan tentang kafe kecil itu. Cahaya dari jendela, suara bel pintu, dan senyuman tipis di balik apron cokelat. Ia merasa aneh. Ia bukan tipe orang yang mudah tertarik. Terutama hanya dari sebuah pertemuan singkat.
Malam hari, Alvaro kembali membuka laptop. Ia mengedit foto-foto bangunan tua, lalu tanpa disadari membuka folder lain. Foto kafe itu muncul di layar.
Ia menatapnya cukup lama.
“Aneh,” gumamnya.
Ia tidak tahu nama wanita itu. Tidak tahu apapun tentang hidupnya. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, Alvaro merasa ingin mengenal seseorang—bukan hanya untuk difoto, tetapi untuk dikenal.
Pada hari-hari selanjutnya, Alvaro kembali mengunjungi kafe itu.
Awalnya, ia beralasan pada dirinya sendiri. Kopinya memang enak. Cahaya jendelanya cocok untuk bekerja. Lokasinya juga strategis. Namun, ia tahu alasan sebenarnya.
Wanita tersebut masih bekerja di situ.
Kali ini, Alvaro datang lebih pagi. Kafe masih sepi. Wanita itu sedang merapikan meja, rambutnya terlihat sedikit berantakan, wajahnya tampak alami tanpa riasan yang berlebihan.
“Selamat pagi,” sapa Alvaro.
“Selamat pagi,” jawabnya. “Americano lagi? ”
Alvaro tersenyum. “Iya. ”
“Oh, jadi kemarin bukan kebetulan,” katanya sambil menyunggingkan senyum kecil.
Alvaro menggaruk tengkuknya. “Kayaknya enggak. ”
Wanita itu menyerahkan kopi. “Aku Aurellia. ”
Nama itu terasa lembut di telinga Alvaro, seolah menempel.
“Alvaro,” jawabnya. “Fotografer. ”
“Ah, pantesan aja kemarin kakaknya bawa kamera,” balasnya.
Alvaro mengangguk. “Udah jadi kebiasaan. Senjata fotografer yaa kamera, ”
Mereka tertawa kecil. Tidak ada rasa canggung, tidak berlebihan. Hanya dua orang yang mulai saling mengenal.
Ketika Alvaro kembali ke mejanya, ia menyadari satu hal: hidupnya bisa jadi tidak akan sama lagi.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya akan berkembang. Namun satu hal pasti—hari yang biasa itu telah membuka sesuatu di dalam hatinya.
Dan semua itu diawali dari sebuah lensa.
Alvaro kembali duduk di kursinya, tetapi kali ini suasananya berbeda. Kopi yang dipegangnya masih sama, pahit dan hangat, namun dadanya terasa lebih berat. Dia membuka laptopnya, lalu menutupnya kembali. Tidak ada satu pun dokumen yang benar-benar ingin ia kerjakan.
Matanya beberapa kali melirik ke arah kasir, memastikan Aurellia masih berada di sana. Dan setiap kali mata mereka bertemu secara tidak sengaja, Aurellia selalu memberikan senyuman kecil, seakan ingin meyakinkan Alvaro bahwa dia baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Aurellia datang menghampirinya sambil membawa kain lap. “Kak Alvaro, ya? ”
“Iya,” jawab Alvaro cepat, sedikit terkejut karena namanya diingat.
“Aku mau bersihin meja sebentar, boleh? ”
“Oh, silakan,” katanya sambil sedikit menggeser barang-barangnya.
Aurellia membersihkan meja dengan gerakan yang tenang. “Kakak biasanya foto apa? ” tanyanya dengan santai, seolah itu adalah pertanyaan biasa.
“Macem-macem si,” jawab Alvaro. “Gedung-gedung tua, jalanan, orang-orang… pokoknya yang keliatan sepele. ”
Aurellia berhenti sejenak. “Jadi kakak suka hal-hal sepele? ”
Alvaro tersenyum. “Justru yang sepele seringkali paling tulus. ”
Aurellia mengangguk pelan, tampak sedang memikirkan sesuatu. “Aku enggak begitu paham tentang foto,” katanya jujur, “tapi aku menikmati banget kalo liat hasilnya. Rasanya kayak… melihat dunia dari perspektif yang berbeda. ”
Pernyataan itu membuat Alvaro terdiam sejenak. Ia tidak menyangka bahwa kalimat yang sederhana itu bisa membuatnya merasa dimengerti.
“Kalo Aurellia sendiri? ” tanyanya akhirnya.
“Aku? ” Aurellia tersenyum kecil. “Aku cuma kerja di sini. Bikin kopi, sapa orang. Enggak terlalu ribet. ”
“Kadang yang keliatan sederhana malah sangat berarti,” kata Alvaro perlahan.
Aurellia menatapnya sebentar lalu memberikan senyuman yang lebih hangat daripada sebelumnya. “Makasih, Kak Alvaro. ”
Saat Aurellia kembali ke kasir, Alvaro menyadari satu hal dengan jelas: perkenalan mereka mungkin singkat, obrolannya biasa saja, tetapi ada rasa nyaman yang berkembang tanpa disadari. Bukan rasa yang membara, bukan juga sebuah janji. Hanya perasaan bahwa ia ingin kembali, ingin duduk di meja yang sama, dan ingin mengenal perempuan itu sedikit demi sedikit—tanpa merasa terburu-buru.
Dan untuk pertama kalinya, Alvaro merasa tidak masalah jika sebuah foto tidak pernah ia ambil, selama momen itu tetap tersimpan di dalam hatinya.