Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedua Kalinya!!
Finn, yang sejak tadi duduk dengan nyaman di samping Deon, tiba-tiba menegang. Ia tidak yakin apakah itu hanya perasaannya saja, tetapi jelas ada sesuatu yang tidak beres. Ia menyenggol Deon dengan siku secara tiba-tiba, suaranya rendah namun mendesak saat ia berbicara, "Bro, dia berjalan ke arah kita."
Deon sedikit memutar kepalanya, matanya menyipit ketika ia menyadari dengan tepat siapa yang dimaksud Finn. Yang berjalan kearah mereka adalah Charlotte, gadis yang dengan mudah mencuri perhatian di mana pun ia berada.
Deon, yang selalu tenang, tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya tersenyum saat Charlotte semakin mendekat. Ketika akhirnya ia berdiri tepat di hadapannya, Charlotte membalas senyum itu, matanya berkilau penuh kenakalan.
Deon sedikit memiringkan kepalanya saat berbicara, suaranya terdengar menggoda. "Kau memang tahu cara mencuri perhatian, ya?"
Ucapan singkat itu saja sudah cukup untuk mengirimkan gelombang kejut lain ke seluruh lapangan.
Semua orang yang menonton dari pinggir lapangan ternganga, pikiran mereka berusaha memproses keanehan yang mereka saksikan.
Deon.
Deon Wilson.
Deon Wilson yang sama yang menjadi pusat ratusan rumor, yang jarang menghadiri acara sekolah, yang dikenal ceroboh dan melakukan apa pun yang dia inginkan—sedang berbicara dengan Charlotte.
Dan dia tersenyum padanya.
Bisik-bisik langsung pecah di antara para siswa.
"Ini pasti cuma lelucon, kan?"
"Mustahil. Maksudku, iya, Deon memang tampan, tapi wajah saja tidak cukup. Kau butuh kepercayaan diri. Kau butuh nyali."
"Kau lihat cara dia tersenyum padanya? Kapan terakhir kali Charlotte tersenyum seperti itu pada siapa pun?"
Perang emosi tanpa suara itu terus berlanjut.
Kecemburuan.
Ketidakpercayaan.
Kebingungan.
Dan kemudian, tepat saat semua orang mengira keadaan tidak mungkin menjadi lebih gila lagi—Charlotte melangkah lebih jauh.
Dengan percaya diri, ia menatap Deon dan, dengan suara yang terdengar jelas ke seluruh lapangan, berkata, "Bagaimana kalau kita jadikan pertunjukan ini sepenuhnya milik kita?"
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi—sebelum siapa pun sempat memproses kata-katanya—ia bergerak.
Tepat di depan semua orang, ia duduk di pangkuan Deon, melingkarkan kedua lengannya dengan erat di leher Deon.
Helaan napas kaget serentak menyapu kerumunan.
Sesuatu yang mustahil baru saja terjadi di depan mata mereka.
Nick, yang sejak tadi menonton santai dari lapangan tanpa mengharapkan sesuatu yang luar biasa, merasakan seluruh dunianya hancur hanya dalam hitungan detik.
Mulutnya terbuka saat pikirannya berusaha memahami apa yang sedang ia lihat.
Gadis yang sama yang telah ia kejar begitu lama—gadis yang sama yang diinginkan setiap pria di sekolah, kini duduk di pangkuan Deon.
Dan Deon?
Deon tidak hanya duduk diam begitu saja.
Seolah ingin menambahkan iri semua orang, Deon mengeratkan cengkeramannya di pinggang Charlotte, menariknya lebih dekat.
Nick hampir tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat, jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya.
Lapangan menjadi sunyi seketika.
Dan kemudian, Nick sangat marah.
Wajahnya berubah dipenuhi amarah saat ia melangkah maju, suaranya menggema di seluruh lapangan.
"Dia pasti memaksanya!" teriaknya, "Tidak mungkin dia melakukan ini dengan kemauannya sendiri!"
Deon, yang tengah menikmati momen itu, hampir tidak menghiraukan ledakan amarah Nick pada awalnya. Namun ketika ia mendengar langkah yang agresif mendekat, ia menghela napas dalam hati sebelum sedikit memutar kepalanya untuk menatap sosok yang datang mendekat.
Wajah Nick sangat marah, matanya terkunci kearah Deon.
Charlotte, merasakan ketegangan itu, ikut menoleh, ekspresinya sangat bingung saat bertemu dengan tatapan marah Nick.
"Lepaskan tangan kotormu darinya!" bentak Nick.
Deon, yang tetap tenang seperti biasa, sedikit memiringkan kepalanya, alisnya berkerut seolah ia benar-benar bingung.
Lalu, dengan nada sengaja diperlambat dan mengejek, ia berbicara.
"Siapa anjing yang menggonggong begitu keras?" katanya, dengan nada menghina. "Tidak bisakah kau lihat aku sedang sibuk menikmati momen ini bersama pacarku?"
Kata-kata itu menghantam seperti bom.
Nick berkedip.
Dua kali.
Pikirannya terhenti sejenak saat otaknya berusaha memulihkan diri.
Apakah dia baru saja disebut anjing?
Apakah Deon baru saja menyebut Charlotte sebagai pacarnya?
Wajahnya menggelap, rahangnya mengatup begitu keras hingga giginya terasa nyeri.
"Kau memaksanya," tuduh Nick, "Apa kau bahkan tahu hukuman bagi orang yang memaksa seorang wanita? Dia bahkan tidak menginginkanmu!"
Deon hanya tersenyum. Dan saat ia membalas tatapan penuh amarah Nick, hanya ada satu pikiran yang melintas di benaknya. ‘Ini akan menyenangkan.’
Deon sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, ekspresinya tak terbaca saat ia menatap Nick yang berdiri di hadapannya. Ketegangan ini membuat para siswa di sekitar yang tadinya antusias menonton pun tanpa sadar menahan napas.
Lalu, Deon berbicara lagi, "Kau pikir begitu, ya?"
Nick, yang masih marah, mengepalkan tinjunya sebelum mengangguk tajam. "Ya," katanya melalui gigi yang terkatup. "Jadi, biarkan dia pergi.”
Nick terlalu dibutakan oleh amarah, hingga gagal menyadari kebenaran yang sedang terjadi tepat di depan matanya. Deon bukanlah orang yang memaksa Charlotte duduk di pangkuannya. Tidak ada yang menyuruhnya melingkarkan lengannya di leher Deon.
Namun Nick menolak untuk melihatnya.
Pada awalnya, Deon tidak bergerak. Ia hanya menatap Nick cukup lama, ekspresinya sedikit terhibur, sebelum ia mengangkat tangannya dari pinggang Charlotte, menariknya sepenuhnya.
Nick mengembuskan napas dalam, kilasan lega melintas di wajahnya. ‘Akhirnya.’
Ia mengira Charlotte akan segera berdiri sekarang karena Deon tidak lagi menahannya. Mungkin ia terlalu malu untuk bergerak sebelumnya. Namun sekarang setelah ia bebas, ia akan—
Pikiran Nick terhenti tiba-tiba.
Charlotte tidak bergerak.
Ia bahkan tidak bergeser sedikit pun.
Sebaliknya, dalam sebuah gerakan yang mengirimkan gelombang kejut ke kerumunan yang sudah terpana, ia meraih tangan Deon, lalu menuntunnya kembali tepat ke pinggangnya—dengan tegas.
Saat itu terjadi, helaan napas kaget serentak menyebar di antara para siswa.
Finn, yang sejak tadi sudah merasa hampir pingsan dari semua yang terjadi, merasakan penglihatannya kabur sesaat. Kepalanya berputar. Tubuhnya bergoyang.
Masih ada bagian kecil dalam dirinya yang sebelumnya meragukan Deon yang mengatakan dia pergi ke rumah Charlotte. Ia mengira Deon hanya bercanda.
Tapi sekarang? Semuanya sudah jelas.
Bukan hanya karena Charlotte menolak untuk bergerak—melainkan bagaimana ia melakukannya.
Cara ia mengambil tangan Deon, meletakkannya kembali di pinggangnya, dan menahannya di sana tanpa ragu—itu bukan tindakan seseorang yang dipaksa melakukan apa pun.
Setelah melihat itu, Nick untuk pertama kalinya, ragu.
Pikirannya berusaha untuk memproses apa yang baru saja terjadi, tetapi sebelum ia sempat mengumpulkan pikirannya, Charlotte mendekatkan diri kearah Deon, bibirnya menyentuh telinga Deon saat ia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
"Abaikan saja dia," ucapnya. "Dia tidak penting."
Deon tersenyum.
Dan kemudian—ia menciumnya.
Saat bibir mereka bertemu, waktu seolah berhenti.
Selama satu detik penuh, tidak ada apa-apa.
Tidak ada suara. Tidak ada helaan napas kaget. Tidak ada reaksi.
Hanya hening.
Seluruh lapangan, yang sebelumnya dipenuhi bisikan, gumaman, dan seruan pelan, senuanya terdiam saat mereka menonton dengan mata membelalak tak percaya.
Charlotte tidak ragu. Ia tidak menarik diri. Ia tidak menegang karena terkejut.
Sebaliknya, tangannya naik, menyusup ke rambut Deon saat ia membalas ciumannya, sama sekali tidak terganggu oleh puluhan pasang mata yang tertuju pada mereka.
Finn, yang sejak tadi sudah berusaha untuk tetap sadar, akhirnya menyerah sepenuhnya. Matanya terbalik, dan dengan suara kecil yang nyaris tak terdengar, ia pingsan karena sangat terkejut.
Para siswa lainnya pun tidak jauh berbeda.
Kebanyakan dari mereka terlihat seolah otaknya berhenti berfungsi sepenuhnya.
Salah satu gadis yang menonton, dengan suara lemah dan linglung, bergumam, "Apa mereka... Sudah berpacaran?"
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena tidak ada yang tahu.
Yang mereka tahu hanyalah bahwa Charlotte— gadis yang tak pernah menunjukkan minat pada siapa pun—sedang duduk di pangkuan Deon, lengannya melingkari di keberny, bibirnya menempel pada bibir Deon.
Nick berdiri membeku.
Fakta bahwa semua itu terjadi tepat di depan matanya—hanya beberapa inci dari wajahnya—terasa seperti penghinaan terbesarnya.
Jantungnya berdegup kencang, tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya.
Dan kemudian—
Ia marah besar.
Tanpa peringatan, Nick menerjang ke depan, meraih lengan Charlotte dan menariknya menjauh dari Deon, mengehentikan ciuman mereka dengan paksa.
Kepala Charlotte langsung menoleh ke arahnya, ekspresinya berubah menjadi amarah seketika.
"Apa masalahmu?!" bentaknya.
Nick hampir tidak sempat bereaksi sebelum Charlotte mendorongnya dengan keras.
Dorongan itu membuatnya terhuyung ke belakang, kakinya terpeleset di tepi tangga yang menurun dari tribun.
Untuk sesaat, waktu membeku.
Lengan Nick terayun saat keseimbangannya goyah, tubuhnya miring ke belakang.
Helaan napas kaget menyapu kerumunan saat semua orang menyadari—
Dia akan jatuh.
Namun tepat ketika hal terburuk tampak tak terelakkan, tangan Nick terjulur, mencengkeram pagar pembatas di detik terakhir.
Napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang saat ia menarik dirinya ke depan, hampir saja berhasil menyeimbangkan diri.
Keheningan berat menyelimuti lapangan.
Rasa lega itu hampir bisa dirasakan.
Meski Nick bersikap menyebalkan, tidak ada yang ingin melihatnya terjatuh dari ketinggian itu.
Namun rasa itu tidak bertahan lama, karena pada detik berikutnya sesuatu menghantam kepala Nick.
Cepat.
Kuat.
Itu adalah kaki Deon.
Tidak ada yang sempat melihatnya bergerak.
Sebelumnya, dia masih duduk santai, namun saat ini ia sudah berdiri, kakinya menghantam wajah Nick dengan brutal.
Kepala Nick tersentak ke samping, mulutnya terbuka tanpa suara saat ia terhempas, tubuhnya kehilangan kendali.
Dan kemudian—ia jatuh.
Berguling keras menuruni tangga, tubuhnya menghantam setiap anak tangga saat ia terjatuh.
Untuk kedua kalinya— Nick terguling menuruni tangga yang sama.
Dan seperti sebelumnya— Deonlah yang melakukannya.
Semua orang sangat terkejut melihat itu, tidak ada yang berani berbicara dan bergerak.
Satu-satunya suara hanyalah erangan kesakitan Nick yang menggema dari kejauhan saat ia terkapar di bawah, tubuhnya bergerak lemah.
Dan di puncak tangga, Deon berdiri menatap ke bawah— Lalu menyeringai.
semangat terus bacanya💪💪