Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pusaka yang Terbangun
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam pembantaian yang memusnahkan eksistensi Klan Kristal. Chen Kai bukan lagi bocah sepuluh tahun yang meronta ketakutan. Kini, ia berdiri sebagai pemuda dengan tatapan sedalam sumur tua—dingin, gelap, dan tak terjamah.
Di paviliun pelatihan yang terisolasi, Chen Kai bergerak seperti bayangan di antara pilar-pilar batu. Setiap ayunan pedang kayunya menciptakan getaran Qi yang tajam. Dengan satu sentakan pergelangan tangan, ia melepaskan tebasan horizontal.
Sring!
Sebuah pohon besar di tepi lapangan terbelah menjadi tiga bagian dengan potongan yang sangat presisi, seolah-olah dipotong oleh laser.
"Chen Xo... di mana kau sekarang?" desisnya pelan, napasnya teratur namun berat. "Selama dua ribu lima ratus lima puluh lima hari, aku tidak pernah sedetik pun melupakan wajahmu. Setiap tebasan ini adalah untuk jantungmu."
Tiba-tiba, sebuah aura kewibawaan yang luar biasa menekan atmosfer di sekitar paviliun. Chen Kai tidak menoleh, ia sudah mengenali langkah kaki itu. Seorang pria dengan jubah naga bersulam emas dan mahkota giok di kepalanya berjalan mendekat.
"Kaisar Langit," sapa Chen Kai tanpa sedikit pun nada emosi. Ia berbalik dan memberi hormat sekadarnya. "Kenapa penguasa tertinggi Kekaisaran repot-repot datang ke tempat terpencil ini? Apakah ada titah?"
Kaisar Langit tersenyum tipis, matanya menatap pohon yang baru saja tumbang. "Kau berbakat, Kai. Sangat berbakat. Tapi jika kau berpikir kekuatanmu sekarang sudah cukup untuk menyeret kakakmu ke hadapan keadilan, kau salah besar. Jarak antara kau dan dia masih sejauh langit dan bumi."
Rahang Chen Kai mengeras. Kalimat itu menghantam egonya.
"Mendaftarlah ke Akademi Kekaisaran Langit," lanjut Kaisar. "Belajarlah di sana. Tempa dirimu bersama para jenius lainnya."
"Akademi?" Chen Kai menyarungkan pedangnya dengan kasar. "Saya tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan dengan anak bangsawan. Saya lebih suka berlatih sendiri daripada harus berpura-pura ramah di tengah keramaian."
Kaisar Langit mendekat, meletakkan tangannya di pundak Chen Kai—sebuah gerakan yang hanya dilakukan pada orang yang sangat dekat. "Jangan biarkan kemarahan membutakan logikamu. Di akademi, kau akan mendapatkan akses ke teknik-teknik tingkat tinggi yang tidak bisa kau pelajari sendirian. Dan ingat satu hal... Chen Xo dulu adalah lulusan terbaik di sana. Jika kau ingin melampauinya, kau harus memahami jalan yang pernah ia tempuh."
Chen Kai terdiam. Nama itu selalu menjadi pemicu yang efektif.
"Pikirkan baik-baik, Kai. Datanglah ke istana jika kau sudah siap. Aku akan selalu membukakan pintu untuk putra dari sahabat baikku." pungkas Kaisar sebelum berbalik dan menghilang di balik gerbang paviliun.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Chen Kai tidak bisa tidur dengan tenang. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap botol kecil berisi pil penenang di tangannya.
"Aku tahu benda ini merusak fokusku dalam jangka panjang... tapi setidaknya, aku butuh sedikit ketenangan." gumamnya sambil menelan satu pil tanpa air.
Namun, obat itu tetap tak mampu mengusir iblis di kepalanya. Begitu matanya terpejam, bayangan itu kembali. Chen Xo yang menyeringai di tengah lautan api, pedang yang menembus dada ayahnya, dan jeritan ibunya yang terputus.
"Hahaha! Ini semua salahmu karena kau lemah! Kau terlambat, Kai! Jadilah kuat, lalu bunuh aku jika kau sanggup!"
"ARGH!"
Chen Kai tersentak bangun. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Napasnya terengah-engah, tapi alih-alih ketakutan, ia justru tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar mengerikan.
"Hahaha... teruslah datang, Mimpi Buruk. Kau adalah bahan bakar terbaik untuk dendamku."
Ia bangkit, tidak berniat tidur lagi. Langkahnya menuju ke sebuah peti hitam besar yang tersembunyi di sudut kamar. Dengan kunci khusus, ia membukanya. Di dalamnya, terbaring sebuah pedang dengan sarung berwarna perak transparan.
Pedang Kristal Abadi. Pusaka tertinggi Klan Kristal yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin klan. Saat jemari Chen Kai menyentuh gagangnya, pedang itu bergetar hebat. Cahaya biru keputihan yang menyilaukan meledak, memenuhi ruangan, seolah-olah senjata itu baru saja menemukan tuannya yang sah setelah sekian lama tertidur.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi Chen Kai yang lemah," ucapnya mantap sambil mengamati kilauan pedang di tangannya. "Aku adalah sisa terakhir dari kehancuran ini. Aku adalah sang Pendekar Kristal."
Keesokan paginya, dengan pedang pusaka terikat di punggungnya, Chen Kai berjalan melintasi koridor istana dengan langkah yang mengguncang lantai marmer. Ia berdiri di hadapan Kaisar Langit yang sedang duduk di singgasananya.
"Saya menerima tawaran Anda," ucap Chen Kai dengan suara lantang yang menggema di aula utama. "Saya akan masuk ke Akademi Kekaisaran Langit... dan mengambil semua kekuatan yang tersedia di sana."
Kaisar Langit tersenyum puas. "Bagus. Maka, biarkan dunia melihat bahwa Klan Kristal belum benar-benar padam."