Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Karangwangi
Desa Karangwangi terlihat dari kejauhan seperti lukisan lama yang mulai pudar: rumah-rumah panggung kayu yang miring karena angin laut, dermaga reyot yang sudah diperbaiki berkali-kali, dan ombak yang bergulung pelan tapi tak pernah berhenti. Bau garam dan ikan asin menyambut mereka sebelum mereka benar-benar masuk desa. Udara terasa lebih berat—bukan karena panas, tapi karena kenangan yang menumpuk di dada masing-masing.
Banda berhenti di pinggir jalan tanah yang menuju rumah Ibu Sari. Bola cahaya emas masih melayang di depannya, tapi sekarang cahayanya lebih redup, seolah tahu bahwa di tempat ini, kekuatan bukan jawaban—cinta dan duka yang lebih penting.
Jatayu berdiri di sampingnya, tangannya memegang lengan Banda pelan. “Kau yakin mau masuk dulu? Ibu Sari pasti sudah tahu ada yang salah. Dia selalu tahu.”
Banda mengangguk. “Aku harus cerita sendiri. Tentang Kirana. Tentang semuanya.”
Bayu berjalan di belakang, membawa tas yang kini terasa lebih ringan tanpa Kirana. Ia tidak bicara banyak sejak makam itu ditinggalkan, tapi matanya terus melirik ke laut—seolah mencari jawaban di ombak.
Mereka berjalan pelan menuju rumah panggung kecil di ujung desa. Anak-anak desa berlari mendekat, tapi berhenti saat melihat wajah mereka bertiga—wajah yang membawa beban yang terlalu berat untuk anak kecil pahami. Ibu Sari sudah berdiri di beranda sebelum mereka sampai. Wanita tua itu memandang mereka dari kejauhan, tangannya memegang kain pembalut seperti biasa, tapi matanya langsung tahu.
“Banda…” suaranya pelan, tapi penuh kekhawatiran. “Kau pulang.”
Banda naik tangga beranda dengan langkah berat. Ia berlutut di depan Ibu Sari, kepala menunduk. “Bu… aku pulang. Tapi aku bawa berita buruk.”
Ibu Sari menyentuh kepala Banda, jarinya gemetar. “Aku sudah tahu dari mimpi semalam. Ada yang pergi. Siapa?”
Banda menarik napas dalam. “Kirana. Dia… dia mati melindungi kami. Di lereng Lawu. Dia memblokir serangan kutukan yang seharusnya menghantam Jatayu… atau aku.”
Ibu Sari diam lama. Lalu ia memeluk Banda erat, seperti memeluk anak kecil yang terluka. “Dia orang baik. Aku hanya bertemu dia sekali, tapi aku tahu. Dia punya hati yang besar.”
Jatayu naik ke beranda, berlutut di samping Banda. Ia meletakkan kalung matahari kecil dari batu api phoenix di tangan Ibu Sari—satu-satunya benda yang mereka bawa dari makam Kirana.
“Ini miliknya,” kata Jatayu, suaranya pecah. “Dia selalu pakai ini. Aku… aku ingin kau simpan. Sebagai tanda bahwa dia tidak pernah benar-benar pergi.”
Ibu Sari memegang kalung itu erat. Air mata jatuh ke telapak tangannya, tapi ia tersenyum tipis. “Terima kasih, Nak. Aku akan simpan di peti ayahmu. Bersama kain biru yang dulu membungkusmu.”
Bayu berdiri di bawah beranda, tidak naik. Ia hanya memandang mereka bertiga dengan mata basah. “Aku… aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi terima kasih sudah izinkan aku ikut. Aku tidak akan pergi sebelum ini selesai.”
Ibu Sari menoleh ke Bayu. “Kau sudah jadi keluarga juga, Bayu. Masuklah. Kita makan dulu. Cerita panjang tidak bisa diceritakan dengan perut kosong.”
Mereka masuk ke rumah kecil itu. Aroma nasi liwet dan ikan asin menyambut seperti pelukan lama. Ibu Sari menyajikan makanan sederhana, tapi setiap suap terasa berat—seolah setiap gigitan adalah pengingat bahwa Kirana tidak lagi ada untuk ikut makan.
Setelah makan, mereka duduk di beranda. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai laut dengan jingga darah.
Banda bicara pelan. “Bu… kami harus pergi lagi. Ke pulau kecil di tengah Laut Banda. Tempat di mana aku lahir. Di sana ada kuil terakhir. Dan mungkin… akhir dari kutukan ini.”
Ibu Sari mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku sudah mimpi itu juga. Ombak besar menelan pulau. Tapi di tengahnya, ada cahaya. Dan kau berdiri di sana… bersama dia.”
Ia menatap Jatayu. “Jaga anakku, Nak. Dia keras kepala seperti ayahnya, tapi hatinya lembut seperti ibunya.”
Jatayu mengangguk. “Aku janji. Sampai akhir.”
Malam itu, mereka tidur di rumah kecil itu—Banda di kamar lama, Jatayu di tikar dekat beranda, Bayu di ruang tengah. Tapi tidur tidak mudah datang. Banda terbangun tengah malam, mendengar suara ombak yang semakin keras dari luar.
Ia keluar ke beranda. Jatayu sudah ada di sana, memandang laut yang gelap.
“Kau tidak bisa tidur juga?” tanya Banda pelan.
Jatayu menggeleng. “Aku mendengar suara Kirana. Bukan suara sungguhan. Tapi… seperti bisikan. Dia bilang ‘lindungi dia’. Seperti dia masih di sini.”
Banda memeluk Jatayu dari belakang. “Dia masih di sini. Di dalam kita.”
Mereka diam sejenak, hanya mendengar ombak.
Tiba-tiba, laut bergolak lebih hebat. Ombak besar naik dari kejauhan, membentuk wajah samar Naga Tanah lagi—mata hijau beracun menyala di kegelapan.
“Kalian pikir pulang ke rumah akan menyelamatkan kalian?” suaranya menggema seperti guntur. “Kalian bawa cahaya. Tapi cahaya hanya membuat kegelapan lebih lapar.”
Ombak itu meluncur ke pantai—bukan ombak biasa, tapi ombak hitam pekat yang membawa tangan-tangan lumpur. Mereka menyambar ke arah rumah panggung.
Banda langsung bergerak. Ia melompat dari beranda, tangannya mengulur ke laut. Air laut naik mengikuti gerakannya, membentuk dinding ombak bening yang menghalangi tangan lumpur itu. Ombak bertabrakan—air bening vs air hitam—uap pekat meledak di udara.
Jatayu melompat ikut, goloknya menyala merah terang. Api Phoenix membentuk badai yang membakar tangan-tangan lumpur yang lolos dari dinding air. Lumpur mengering dan retak, tapi tangan baru terus muncul.
Bayu keluar dari rumah, membawa tombak ikan tua milik ayah Banda. “Ibu Sari di dalam! Lindungi rumah!”
Ibu Sari muncul di pintu, tangannya memegang kain biru tua yang dulu membungkus Banda bayi. “Pergi! Aku bisa jaga rumah ini!”
Tapi ombak hitam semakin besar. Satu tangan lumpur menyambar ke arah Ibu Sari.
Banda berteriak. Ia mendorong kekuatan Naga Laut penuh—ombak raksasa naik dari laut, menghantam tangan itu hingga hancur menjadi lumpur. Tapi kekuatan itu membuat dadanya sakit—kutukan berbisik lagi, lebih keras: “Bunuh dia. Bunuh Phoenix itu. Hanya dengan darahnya kau bisa selamatkan desa ini.”
Banda jatuh berlutut di pasir, tangannya gemetar. Jatayu berlari ke sampingnya, memeluknya erat.
“Lawan itu, Banda. Ingat Kirana. Ingat Garini. Ingat kita.”
Bola cahaya emas yang melayang tiba-tiba menyala terang. Cahaya putih memancar, menyelimuti desa. Ombak hitam surut perlahan, tangan-tangan lumpur mengering dan runtuh menjadi abu.
Wajah Naga Tanah muncul terakhir kali di permukaan laut, lalu menghilang dengan raungan terakhir.
Desa kembali tenang. Ombak kembali normal.
Ibu Sari turun dari beranda, memeluk Banda dan Jatayu. “Kalian selamatkan kami.”
Banda bangkit pelan, napasnya tersengal. “Belum selesai. Dia akan kembali. Lebih kuat. Di pulau itu.”
Jatayu mengangguk. “Kita berangkat pagi ini. Sebelum dia bangkit lagi.”
Bayu memandang laut. “Aku ikut. Sampai akhir.”
Ibu Sari tersenyum lelah. “Pergilah. Bawa cahaya itu pulang. Dan pulanglah hidup-hidup.”
Mereka berpelukan di beranda kecil itu—pelukan yang penuh janji dan duka.
Saat matahari terbit, mereka berjalan ke dermaga. Perahu kecil ayah Banda sudah siap—layarnya diperbaiki semalam oleh penduduk desa yang berterima kasih.
Banda berdiri di haluan, bola cahaya emas di depannya menunjuk ke laut lepas.
Jatayu berdiri di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Banda.
Bayu mengemudikan perahu.
Dan di kejauhan, pulau tersembunyi mulai terlihat samar—tempat di mana kutukan dimulai… dan mungkin di mana ia akan berakhir.
Ombak Laut Banda bergulung menyambut mereka.
Dan di dalam dada Banda, bisikan terakhir Naga Tanah terdengar samar:
“Selamat datang pulang, Raja Laut. Di sini… kau akan kehilangan segalanya.”