Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kesibukan kuliahku.
Hari-hariku mulai dipenuhi jadwal yang tidak memberi ruang untuk bernapas terlalu lama.
Pagi hingga sore—kelas, presentasi, laporan, diskusi yang tak pernah benar-benar selesai.
Malam—perpustakaan, layar laptop, kopi yang mendingin tanpa kusadari.
Aku kembali menjadi mahasiswa sepenuhnya.
Atau setidaknya, aku mencoba.
Namun setiap kali aku duduk di bangku kuliah, pikiranku tidak pernah benar-benar ada di sana. Di sela catatan dosen dan slide presentasi, bayangan Haruka selalu menyelip—wajahnya yang pucat di pagi hari, napasnya yang berat, dan caranya menatap dunia seolah ia sudah terlalu lama berdamai dengan kemungkinan terburuk.
Kami jadi jarang bertemu.
Bukan karena menjauh.
Tapi karena hidup menuntut kami di dua medan yang berbeda.
Ia dengan dunianya yang keras dan gelap.
Aku dengan lorong kampus yang terang—namun entah kenapa terasa sama dinginnya.
Pesan darinya selalu singkat.
"Sudah makan?"
"Pulang jangan terlalu malam."
*Jangan lupa jaket."
Tidak ada kata manis.
Tidak ada pengakuan besar.
Namun justru itu yang membuatku semakin khawatir.
Karena aku tahu—
Haruka Sakura bukan tipe pria yang menjaga orang lain jika ia tidak sedang bersiap menghilang.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba saat aku keluar dari gedung fakultas. Aku berdiri di bawah kanopi, memandangi tetesan air yang jatuh tanpa ragu—seolah dunia tidak pernah peduli siapa yang basah, siapa yang kedinginan.
Ponselku bergetar.
Haruka:
"Kamu masih di kampus?"
Aku mengetik cepat.
Aku:
Iya. Hujan deras.
Beberapa detik berlalu.
Lalu pesan masuk lagi.
Haruka:
"Aku jemput."
Dadaku langsung menegang.
Aku:
Jangan. Kamu capek. Lagian hujan.
Jawabannya datang lama. Terlalu lama.
Lalu satu kalimat muncul...
Haruka:
Aku tidak apa-apa.
Kalimat itu selalu membuatku takut.
Karena dari mulut Haruka, “tidak apa-apa” sering berarti sebaliknya.
Ia datang setengah jam kemudian. Jaketnya basah, rambutnya lembap, napasnya sedikit tersengal meski ia berusaha menyembunyikannya. Aku ingin marah. Ingin menyuruhnya pulang. Tapi saat mataku bertemu matanya—aku kalah.
“Kamu kenapa memaksakan diri?” tanyaku di dalam mobil, suaraku lebih pelan dari yang kuinginkan.
“Aku hanya menjemputmu,” jawabnya singkat.
“Kamu tidak sehat.”
Ia tersenyum tipis. “Kamu juga tidak.”
Aku terdiam.
Ia benar.
Sejak kesibukan kuliah mengambil alih hidupku, aku mulai menyadari sesuatu yang pahit:
mencintai seseorang yang rapuh berarti selalu hidup dengan rasa bersalah—
bersalah karena pergi mengejar masa depan,
bersalah karena takut ia tidak akan menunggumu sampai kau kembali.
Mobil melaju pelan di bawah hujan. Wiper bergerak teratur, seperti detak waktu yang tidak bisa kami hentikan.
“Alya,” katanya tiba-tiba.
“Hm?”
“Jika suatu hari aku tidak bisa menjemputmu lagi,” ucapnya datar, terlalu datar,
“pastikan kamu tetap datang ke kampus. Tetap hidup seperti rencanamu.”
Tanganku mencengkeram tas.
“Kamu tidak boleh bicara seperti itu.”
Ia tidak menoleh.
“Aku hanya ingin kamu siap."
"karna waktu kita bersama hanya 3 tahun, dan setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu"
Aku menatapnya, lalu berkata dengan suara yang pelan tapi tegas,
"ya! aku tau itu"
“Dan aku ingin kamu tetap bernapas. Setiap hari. bahkan nanti kalau kita sudah menjadi asing".
Ia akhirnya menoleh.
Ada senyum kecil di sana. Rapuh. Tapi nyata.
“Kamu menyandera hidupku sekarang,” katanya.
“Bagus,” jawabku. “Berarti kamu masih punya sesuatu yang harus dipertahankan.”
Hujan terus turun.
Dan di tengah kesibukan kuliah, tumpukan tugas, dan hari-hari yang melelahkan.
aku belajar satu hal:
Cinta kami bukan tentang selalu bersama.
Melainkan tentang tetap bertahan di dunia masing-masing—tanpa menyerah pada ketakutan bahwa waktu akan mencuri salah satu dari kami lebih dulu.