Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tips Lima Ratus Ribu
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
...(24 tahun)...
Begitu aku buka mata, aku dengar suara sirene di sekitar lingkunganku. Hal kayak begini, akan jadi biasa kalau kalian tinggal di Gang Royal. Ini salah satu daerah paling miskin, kumuh, dan berbahaya di Penjaringan Jakarta Utara, tapi aku sudah belajar buat bertahan hidup di sini. Dan nahasnya, ini rumah aku.
Udaranya pengap karena panas awal musim kemarau, membuatku menyibak selimut.
AC nya pasti rusak lagi.
Aku harus bilang sama penjaga gedung soal pemanas yang bermasalah dan AC yang rusak, pembicaraan yang enggak pernah aku nantikan.
Aku juga harus bikin rencana buat beli selimut baru, soalnya tinggal beberapa bulan lagi masuk musim hujan dan pemanas di apartemen ini enggak pernah bisa diandalkan.
Aku juga harus bicara sama Poppy soal ambil shift tambahan biar bisa bayar tagihan listrik yang nunggak.
Ya Tuhan. Uang sewa sudah telat sejak minggu lalu.
Sambil menghela napas capek, aku menyeret diri keluar dari kasur.
Mengubek-ubek laci lemari buat cari baju, aku ke kamar mandi dan buka keran shower. Sambil sikat gigi, aku berdoa airnya hangat, tapi begitu aku taruh tangan di bawah pancuran, zonk.
Berarti aku harus minta uang muka ke Poppy, atau aku harus mandi air dingin dua minggu ke depan.
Aku lepas celana dalam dan kaus tidur favoritku, lalu masuk ke bawah air dingin dan menggigil sambil buru-buru keramas dan mandi. Aku terus berlompat-lompat pindah kaki, semoga itu bisa membuatku hangat, dan begitu selesai, aku langsung kabur dari shower es itu.
Aku ambil handuk yang sudah memutih dan mengeringkan badan secepat kilat sebelum pakai jeans dan kaus.
Ya Tuhan.
Aku menggigil kedinginan sambil lari balik ke kamar, pakai kaus kaki dan sepatu bot.
Begitu aku sudah rapi, aku lari ke dapur buat cek masih ada kopi atau nggak. enggak nemu apa-apa, aku buka kulkas dan minum seteguk jus jeruk terakhir.
Biar enggak ketemu Marion, pengelola gedung, sampai aku punya uang buat bayar sewa, jadi aku buka jendela ruang tamu dan naik ke pagar besi buat turun lewat tangga darurat.
Begitu aku turun, tetangga aku, Nasrin, buka jendela dan menyembulkan kepalanya keluar.
"Jangan kabur. Mama kamu bisa pingsan di lorong!"
Aku geleng kepala dan lanjut turun sambil menjawab, "Bukan urusan aku, Nasrin."
"Dia Mama kamu," teriaknya. "Baunya kayak mayat."
Cuma karena perempuan itu melahirkan aku bukan berarti apa-apa. Biarkan saja dia tidur di lorong sampai Marion mengusir dia.
Begitu sampai di gang, aku menengok ke atas dan lihat Nasrin sedang geleng-geleng kepala sebelum nutup jendela.
Sahara, perempuan yang melahirkanku ke dunia ini, enggak pernah menjadi ibu buat aku.
Waktu aku masih kecil, Nasrin selalu pastikan aku punya makanan, sementara Sahara mabuk atau teler. Perempuan itu enggak punya naluri keibuan sama sekali dan cuma jadi duri di hidup aku.
Aku sampai harus pasang kunci tambahan di pintu depan buat mengusir dia. Dia tetap saja menerobos masuk dan nyolong barang-barang aku buat bayar dosis berikutnya atau utang di bar.
Sambil menyilangkan tangan di dada, aku geleng kepala dan jalan ke Burger Bangor, yang jadi sumber penghasilan kedua aku. Aku selalu kerja shift dari jam dua belas sampai tujuh sebelum pergi ke Perusahaan Balet, tempat aku kerja shift malam sebagai petugas kebersihan.
Kalau aku beruntung, Poppy bakal izinin aku kerja shift pagi juga.
Siapa pula yang butuh tidur, kalau tagihan numpuk?
Begitu aku sampai di kedai, kelihatan tempatnya lebih ramai dari biasanya.
Poppy melihatku dari tempat dia menyiapkan pesanan. Tobias, si koki, juga menyapaku.
Poppy langsung menyuruhku, "Urus area Nurma sekalian area kamu. Dia enggak masuk hari ini."
"Oke," jawabku sambil jalan cepat ke belakang buat menyimpan tas di loker.
Aku ambil celemek, mengikatnya di pinggang, lalu ambil buku catatan dan pensil.
Begitu mulai kerja, beberapa jam ke depan tempat ini kayak rumah sakit jiwa. Suara piring beradu, burger mendesis, pesanan diteriakkan dan dibalas, semuanya bercampur sama bau minyak goreng.
Aku enggak mengerti kenapa aku masih mandi sebelum shift ini, karena tiap pulang aku tetap merasa lengket.
Begitu ada jeda mengantar pesanan pelanggan, aku ke konter dengan senyum ragu. Mata Poppy langsung ke aku, dan sambil mengernyit dia bilang, "Kamu maunya apa, Eva? Kalau mau libur, lupain. Kita lagi kekurangan orang!"
"Jadi kamu bakal senang kalau aku perlu kerja shift tambahan pagi."
Dia tetap fokus ke uang yang lagi dia ambil dari mesin kasir buat dimasukkan ke brankas.
"Berapa lama?"
"Permanen, kalau bisa."
Dia akhirnya melihatku, dan aku menangkap kilatan khawatir yang jarang muncul itu.
"Kamu kerja malam di tempat tari itu dan sore di sini. Kapan kamu tidurnya?"
Aku senyum lebih lebar dan angkat dagu. "Tidur itu cuma buat orang mati."
Dia menatapku lama banget sebelum akhirnya bilang, "Aku izinin kamu kerja setengah shift, pagi."
"Tapi .…"
Dia menggeleng tegas.
"Cuma jam sembilan sampai dua belas. Aku enggak mau kamu tewas di kedai aku."
"Oke. Itu lebih baik daripada enggak sama sekali."
Sekelompok pekerja bangunan datang, dan karena aku harus balik bekerja, aku telan gengsi dan bertanya, "Aku bisa minta uang muka buat dua minggu ke depan?"
Mata Poppy menyipit ke arahku, membuatku menambahkan, "Tolong. Kamu tahu kan aku kerjanya rajin."
"Aku bukan bank, Eva!" gumamnya sambil mengambil sejumlah uang yang aku butuhkan dari tumpukan uang di tangannya.
Aku merasa lega, tapi cuma sebentar karena ini cuma solusi sementara. Ujung-ujungnya aku tetap bokek, dan mau sekeras apa pun aku bekerja, aku enggak bisa keluar dari kemiskinan tempat aku lahir.
Begitu Poppy kasih uangnya, aku tersenyum penuh terima kasih.
"Makasih."
Dia menunjuk ke arah bilik dan meja. "Balik kerja!"
Aku masukkan uangnya ke saku celemek sambil mencatat pesanan,menghitung total, dan berharap dengan bayar setengah tagihan listrik, mereka mau menghidupkan kembali.
Setidaknya aku bisa bayar uang sewa yang telat ke Marion.
Sesaat sebelum shift aku selesai, aku menemukan tip lima ratus ribu di salah satu mejaku. Aku berjoget kecil saking senangnya, karena itu artinya aku bisa beli kopi dan selimut tambahan buat musim hujan, lalu memasukkan sisanya buat bayar listrik.
Aku coba mengingat siapa yang duduk di meja itu, tapi hari ini aku sudah melayani terlalu banyak orang, jadi aku menyerah dan memutuskan buat berterima kasih atas kebaikan pelanggan itu.
JD penasaran Endingnya