"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3. warung sembako
Nadira dan Elsa menuruni anak tangga dengan tergesa. mereka ingin melihat apa yang barusan pecah dilantai bawah. Rumah ini berlantai dua dimana kamar utama dan kamar Elsa berada. Disudut seberang kamar Elsa merupakan kamar kosong
"apa yang pecah tadi mbok?" tanya Nadira
"oh ini nduk, nggak tau kok tiba-tiba gucinya pecah sendiri. tadi simbok lagi nyuci gelas eh tau-tau gucinya jatuh" ucap simbok
"masa sih bisa jatuh sendiri padahal nggak ada angin juga, aneh ya" cetus Elsa
"tidak ada yang aneh! Mungkin ada tikus lewat tadi makanya kesenggol pecah" ucap seorang pria paruh baya yang berjalan agak pincang
"loh paklek darimana kok bajunya kotor semua?" tanya nadira yang heran
"ini saya habis mencangkul tanah belakang nduk, biar kalo ujan airnya langsung ngalir keluar" ucap paklek Saruji
"loh bukannya kata simbok-" Elsa tidak melanjutkan kata-katanya karena ditarik oleh Nadira menuju kamar
"kami istirahat duluan ya mbok, paklek" ucap Nadira
"Kenapa sih Nad?" tanya Elsa setelah mereka sampai di kamar
"nggak papa, kita sholat habis itu tidur besok kita bahas" ucap Aurora mengeluarkan mukenahnya dan sajadah.
Elsa yang melihat sahabatnya yang seperti menyembunyikan sesuatu pun hanya diam. Ia tahu jika Nadira mengetahui apa yang tidak ia ketahui. Sahabatnya memiliki keistimewaan yang dapat melihat atau menembus hal-hal ghaib.
.
keesokan paginya, Nadira dan Elsa keluar jalan-jalan disekitar kampung setelah sarapan. mereka perlu beradaptasi dengan warga sini, terutama Elsa yang selalu jutek dengan orang baru
"eh nduk-nduk cah ayu, mau kemana?" tanya seorang ibu yang umurnya tiga puluhan
"kami mau jalan-jalan disekitar sini bude" ucap Nadira ramah
"oohh kamu yang tinggal dirumah Simbah Saryati ya" tanya ibu itu
"iya bude, kok bude tau ya" jawab Elsa yang mencoba ramah
"iya, soalnya suami saya yang ngojekin nduk-nduk tadi malam" jelas ibu ibu itu yang membuat nadira dan Elsa ber-oh ria
"baiklah saya tak duluan ya, mau kesawah" pamit ibu itu
"iya Bu, mari" ucap Nadira dan Elsa serempak
"Mbah kamu terkenal ya Nad?" tanya Elsa
"dulu Mbah putri sama Mbah Kakung ku itu juragan sawit disini, tanahnya juga banyak. kampung sini maju juga dulu karena Mbah Kakung mau mengurus pembangunan kampung sini sama masuknya listrik juga" jelas Nadira yang dibalas anggukan oleh Elsa
Tanpa sengaja Nadira melihat seseorang dibalik pohon dekat kebun sawit seberang sana. ia menajamkan matanya untuk memastikan apakah itu manusia atau makhluk halus yang usil
"ah masa siang gini ada setan" batin Nadira
Ia pun tak mempedulikan lagi bayangan itu dan melanjutkan langkahnya bersama Elsa. Tujuan mereka adalah warung sembako karena ingin membeli keperluan dapur. kebetulan dapur dirumah Simbah kehabisan bahan dan simbok tidak kuat untuk berjalan jauh. sedangkan paklek pagi-pagi udah pergi ke ladang.
"Nad, susah juga kalo nggak ada kendaraan. Kalo ada apa-apa agak jauh kan enak kalo ada motor" ucap Elsa
"iya Sa, sebenarnya aku juga mikir gitu. Dirumah Simbah nggak ada kendaraan karena dulunya simbahku dua-duanya lebih suka jalan kaki"
"gimana kalo aku beli, ntar simpen aja disini buat jaga-jaga kalo kesini lagi" usul Nadira
"bisa juga tuh" Elsa setuju
mereka sampai di warung sembako buk Mutia. Buk Mutia sendiri dulunya teman sekelas ayah Nadira. Orangnya baik dan ramah, ibu Nadira dulunya mendapat teman pertama disini ya ibu Mutia ini
"assalamu'alaikum Bu, mau belanja" panggil Nadira
"wa'alaikumsalam eh iya mbak, mau belanja apa?" tanya Bu Mutia
"saya mau beli bahan dapur Bu, ini daftarnya" ucap Aurora sambil memberikan catatan. Ia suka lupa jika belanja. meskipun keperluan sendiri ia pun akan lupa, jadi lebih baik dicatat
"eh tunggu, kamu ini... Kamu Nadira kan? Anaknya Wijaya sama Naira!" ucap Bu Mutia
"hehe iya Bu ini saya Nadira"
"ya Allah nduk, kamu udah gede sekarang cantik lagi, kamu kapan sampai sini" Bu Mutia memeluk Nadira erat
"baru tadi malam Bu, ini teman Dira namanya Elsa" Nadira mengenalkan Elsa
"oohh iya, jadi nduk berdua disini tinggal dimana?" tanya Bu Mutia
"dirumah Simbah Bu" jawab Nadira yang membuat Bu Mutia tegang
Nadira dan Elsa menyadari perubahan wajah Bu Mutia, namun mereka tak bertanya kecuali Bu Mutia sendiri yang bicara.
"nduk, sebaiknya kalian nginep ditempat lain aja jangan dirumah itu" ucap Bu Mutia
"kenapa memangnya Bu?" tanya Elsa penasaran
"ibu tidak bisa memberi tahu dengan jelas, namun. semenjak meninggalnya Simbah Saryati, rumah itu seperti tempat larangan" jelas bu Mutia
"tempat larangan gimana Bu?" tanya Nadira
"rumah itu-" ucapan Bu Mutia terhenti ketika paklek Saruji datang
"eh paklek apa udah mau pulang?" tanya Nadira
"belum, ini saya kehabisan rokok mau beli" ucap paklek Saruji sambil menatap Bu Mutia dengan tajam
Nadira yang peka dengan keadaan sekitarnya pun paham jika bu Mutia takut dengan paklek Saruji
"terus gimana Bu?" tanya Elsa yang masih penasaran
"ngga ada apa-apa, yang penting kalian hati-hati dan jaga diri. Ini belanjaannya semuanya seratus tujuh puluh ribu" ucap Bu Mutia dan terburu-buru masuk setelah menerima uang dari Nadira
Paklek Saruji sendiri sudah pergi lagi karena hanya membeli rokok saja
"kok aneh ya Nad" ucap Elsa
"nggak aneh kok, itukan rumah tua pastilah ceritanya macem-macem" ucap Nadira
Ketika mereka hendak keluar dari warung, seorang pria dingin baru turun dari motornya. Nadira melihat ke arah pria itu, begitu juga dengan pria itu. Namun ia hanya cuek dan masuk kedalam
"tuh cowok mukanya kek tembok ya Nad, datar banget" celetuk Elsa yang diganggu tawa oleh Nadira
"sepertinya aku menemukan orang yang tepat, meski dia perempuan namun jika tangguh maka akan sangat membantu" gumam seseorang dibalik tirai rumahnya. Ia memandang kepergian dua gadis tadi hingga tak lagi nampak dari pandangannya