NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Kontrak di Atas Luka

    ​Rumah besar itu kini terasa semakin mencekam bagi Saliha. Sejak hinaan keji yang dilontarkan Bu Ratna dan Tari tadi, Saliha benar-benar membatasi ruang geraknya.

     Ia seperti narapidana yang hanya berani bernapas di dalam selnya sendiri. Baginya, setiap jengkal lantai menuju lantai atas adalah ranjau yang siap meledak dan menghancurkan harga dirinya yang tinggal seujung kuku.

     ​Tuduhan 'ibu susu untuk Daviko' masih terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang menyayat nurani. Saliha bersumpah, ia tidak akan menginjakkan kaki di kamar Daviko lagi, dengan alasan apa pun.

     Artinya ia harus tega membiarkan Kaffara menangis meskipun kehausan atau tidak betah karena popok basah.

     Saliha lebih baik menunggu Bi Tita yang mengambil Kaffara, lalu menyerahkan padanya, tanpa ia harus mengambilnya dari kamar Daviko.

     ​"Oeeekkk... Oeeekkk...."

     ​Suara tangisan Kaffara membelah kesunyian sore itu. Di kamar bawah, Saliha meringkuk di sudut kasur, tangannya menutup telinga rapat-rapat. Air matanya mengalir deras.

     Namun, hatinya menjerit. Nalurinya sebagai ibu susu mendorongnya untuk segera berlari ke atas, merengkuh tubuh mungil itu dan menenangkannya.

     Akan tetapi, logika dan rasa malunya menahan langkahnya dengan kuat.

     "​Tidak, Saliha. Jangan ke sana. Nanti mereka akan memfitnahmu lagi. Kamu hanya sampah di rumah ini bagi mereka," bisik batinnya pilu.

     ​Tak lama kemudian, Bi Tita masuk dengan napas terengah-engah, menggendong Kaffara yang wajahnya sudah memerah karena terlalu lama menangis.

     ​"Mbak Saliha... tolong, Mbak. Den Kaffara tidak mau diam, dia kehausan. Tadi di atas ada Non Tari, tapi Den Kaffara malah makin kencang tangisnya saat digendong dia," ucap Bi Tita dengan nada memohon.

     ​Saliha segera menyambut bayi itu dengan tangan gemetar. Begitu berada di pelukan Saliha, tangisan Kaffara perlahan mereda, berubah menjadi isak kecil yang menyayat hati.

     Saliha mendekapnya erat, mencium kening bayi itu berkali-kali. "Maafkan Ibu, Sayang... maafkan Ibu," bisiknya lirih.

     ​Di ruang tengah, Tari yang menyaksikan Bi Tita membawa Kaffara turun hanya bisa berdecih sinis.

     Ia duduk di sofa sambil mengikir kukunya, berpura-pura tidak peduli meski hatinya terbakar cemburu melihat ikatan batin antara bayi itu dengan Saliha.

     ​"Cih, munafik sekali wanita itu. Tadi pura-pura tidak mau naik, sekarang sok jadi pahlawan. Dia hanya cari perhatian saja, Bu," ucap Tari pada ibunya yang duduk di sampingnya.

     ​Sikap Saliha yang mendadak "mogok" ke lantai atas rupanya tidak luput dari perhatian Daviko.

     Pria itu menyadari ada yang berubah. Saliha tidak lagi terlihat atas, tidak lagi masuk ke kamarnya untuk sekadar merapikan box bayi. Hal itu ia lakukan sejak hinaan mantan mertuanya tadi.

     Kini, Bi Tita yang sibuk berlari ke atas, mengambil Kaffara lalu memberikannya pada Saliha.

     ​Daviko merasa terusik. Ada rasa kesal yang membuncah di dadanya. Ia tidak suka Saliha mencampur adukkan harga diri dengan tugasnya di rumah ini. Ia tidak mau tugas Saliha terhambat gara-gara rasa emosional sesaat.

     Baginya, Saliha seharusnya cukup profesional untuk mengabaikan ucapan Tari dan tetap menjalankan tugasnya.

     ​Dengan langkah tegap yang berdentum di lantai marmer, Daviko berjalan menuju kamar bawah. Ia mendorong pintu kamar Saliha tanpa mengetuk, sebuah kebiasaan yang menunjukkan betapa ia tidak menganggap privasi Saliha itu penting.

     ​Di dalam, ia mendapati Saliha sedang duduk menyandar di kepala tempat tidur, sedang memberikan ASI pada Kaffara.

     Cahaya sore yang masuk dari jendela kecil memperlihatkan wajah Saliha yang sembab dan sisa-sisa air mata di pipinya.

     ​Daviko berdiri di depan pintu, melipat tangan di dada dengan wajah sedingin es.

     ​"Saliha," panggilnya dengan suara bariton yang berat.

     ​Saliha tersentak, hampir saja ia melepaskan dekapannya pada Kaffara. Ia menunduk dalam, tidak berani menatap mata pria yang dulu sangat dipujanya itu.

    "I-iya, Pak."

     ​"Jangan pernah abaikan anakku hanya karena kamu sibuk mempertahankan harga dirimu yang tidak seberapa itu," ucap Daviko tanpa ampun. Kata-katanya tajam, menghujam tepat ke ulu hati Saliha.

     ​Saliha meremas kain bedong Kaffara. "Saya tidak mengabaikannya, Pak. Saya hanya... saya tidak ingin ada fitnah lagi. Saya tidak mau dianggap wanita gatal yang lancang masuk ke kamar Bapak."

     ​Daviko melangkah satu langkah lebih dekat, bayangannya menutupi tubuh mungil Saliha. "Dengar baik-baik. Tugasmu di sini fokus pada Kaffara. Tidak peduli kamu sakit hati atas tudingan mantan mertuaku atau Tari, itu urusanmu. Aku tidak membayar kamu untuk bermain drama tersakiti."

     ​Saliha mendongak sebentar, matanya yang basah menatap Daviko dengan sorot yang hancur.

"Tapi saya manusia, Pak. Saya punya perasaan. Tudingan mereka sangat menjijikkan...."

     ​"Diam!" potong Daviko tegas.

     "Ingat, kamu di sini masih terikat kontrak. Jika kamu tidak mentaati aturan dan membiarkan anakku menangis hanya karena egomu, maka aku tidak akan segan-segan membawamu ke jalur hukum." Daviko menjeda ucapannya sejenak.

     "Kamu tahu aku bisa melakukan apapun, Saliha. Kamu terikat kontrak enam bulan, dan sebelum itu selesai, kamu harus tunduk dengan tugas ini."

     ​Saliha terdiam. Kata 'tuntut' dan 'kontrak' terasa seperti rantai yang melilit lehernya. Ia mengangguk pelan, kepalanya kembali menunduk. Meskipun sebenarnya ia ingin bicara kalau saat ini dirinya sangat serba salah.

     Tangan Saliha mengusap dadanya yang terasa sangat sesak, seolah pasokan oksigen di kamar sempit itu mendadak hilang.

​"Saya mengerti, Pak," bisik Saliha pasrah.

     Bahkan untuk membela diri dari fitnah yang menghancurkan martabatnya sebagai wanita pun, ia seakan tidak diberikan ruang.

     ​"Bagus. Mulai besok, aku tidak mau melihat Bi Tita yang repot naik turun tangga hanya karena kamu mempertahankan harga diri. Jika Kaffara menangis, kamu yang ke atas. Mengerti?"

     ​"Iya, Pak."

     ​Daviko berbalik dan pergi. Namun langkahnya terhenti sejenak. Ia melihat betapa bahu Saliha yang bergetar karena menahan tangis. Ada secuil rasa bersalah yang muncul di sudut hatinya, namun ego dan dendam masa lalunya jauh lebih besar. Ia segera menepis rasa itu dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata lagi.

     ​Sementara itu, di ruang tamu, Tari sedang mempersiapkan serangan berikutnya. Ia sengaja berdandan sangat cantik sore itu.

     Begitu melihat Daviko keluar dari kamarnya, ia segera menghampirinya dengan senyum manis yang dibuat-buat.

     ​"Mas Daviko... lihat deh, Tari bawakan kopi kesukaan Mas. Tari buatkan sendiri lho, terlalu manis tidak?" Tari menyodorkan cangkir porselen dengan gerakan yang sangat dekat, seolah sengaja ingin kulit mereka bersentuhan.

     ​Daviko menerima cangkir itu dengan kaku. "Terima kasih, Tari."

     ​"Mas, aku kepikiran... kasihan Mas Daviko harus mengurus Kaffara sendirian. Kalau Mas butuh teman bicara atau butuh bantuan buat belanja keperluan Kaffara, aku siap kok setiap hari ke sini. Aku tulus ingin bantu Mas," ucap Tari sambil menatap Daviko dengan pandangan yang sarat akan maksud tertentu.

     ​Bu Ratna yang memperhatikan dari jauh tersenyum puas. Ia tahu, rencananya untuk menjodohkan Tari dengan Daviko mulai berjalan.

     Bagi mereka, menyingkirkan Saliha hanyalah masalah waktu. Mereka ingin Daviko kembali ke pelukan keluarga mereka, dengan Tari sebagai pengganti Amara.

     ​Di kamar bawah, Saliha mendengar tawa kecil Tari dari ruang tengah. Ia memeluk Kaffara semakin erat. Air matanya jatuh mengenai pipi bayi itu. Ia merasa dunianya benar-benar sudah berakhir.

     Di depan sana ada wanita yang ingin merebut posisi ibu bagi Kaffara dengan cara yang licik, sementara ia, ibu susu yang tulus, justru diperlakukan lebih rendah dari pelayan.

     ​"Aku hanya alat, Sayang... hanya alat penyambung nyawa untukmu," isak Saliha pelan, ia menenggelamkan wajahnya di antara aroma bayi Kaffara yang wangi, satu-satunya penghibur di tengah neraka yang ia jalani setiap hari.

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!