Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Kesunyian Yang Membawa Duka
Pada akhirnya satu hari lagi yang melelahkan fisik dan batin Lunaris pun berhasil dia lewati.
Malam ini terasa lebih hening dari biasanya. Suara jangkrik yang biasanya bersahutan tertutup oleh rintik hujan yang mulai mereda, menyisakan suara tetesan air dari atap seng yang berkarat.
Lunaris berdiri di depan gerbang kayu kecil rumahnya yang sudah miring. Ia menatap bangunan mungil itu dengan tatapan kosong.
Rumah itu gelap gulita. Tidak ada cahaya kuning hangat yang biasanya merembes dari celah jendela ruang tamu.
"Ibu belum pulang," Pikir Lunaris. Ada rasa lega yang dingin menjalar di dadanya.
Biasanya, jam sembilan malam adalah waktu standar bagi ibunya, Nova, untuk menginjakkan kaki di rumah setelah seharian memeras keringat di kediaman mewah keluarga Luxe—keluarga Aaron.
Masih ada sekitar empat puluh lima menit lagi. Setidaknya Lunaris memiliki waktu yang cukup untuk menghapus jejak penderitaannya hari ini.
Ia meraba bagian bawah pot bunga krisan yang sudah layu di atas meja teras. Jarinya menemukan kunci logam dingin di sana.
Dengan gerakan cepat, ia membuka pintu dan segera menyalakan lampu. Cahaya bohlam yang remang-remang menerangi ruang tamu kecil mereka yang rapi meski sangat sederhana.
"Aku pulang," Bisik Lunaris pada ruangan yang kosong. Hanya keheningan yang menyahut.
Tanpa membuang waktu, Lunaris masuk ke kamarnya. Ia meletakkan ranselnya yang kotor dan paper bag dari Aaron di atas kasur. Tubuhnya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas; setiap sendi terasa kaku dan perih.
Lunaris mengambil handuk, lalu bergegas ke kamar mandi kecil di bagian belakang rumah.
Di bawah guyuran air dingin, Lunaris memejamkan mata. Ia menggosok kulitnya dengan kasar, seolah-olah ia bisa meluruhkan rasa malu karena telah dipermalukan di sekolah. Ia mencuci seragam lamanya yang penuh noda darah dan tanah, serta baju olahraganya yang sempat ditarik paksa oleh Bracia. Ia menyikat kain itu dengan tenaga yang tersisa, berharap noda-noda itu hilang, namun di dalam hatinya ia tahu—beberapa noda tidak akan pernah bisa bersih sepenuhnya.
Tiga puluh menit kemudian, Lunaris sudah mengenakan kaus tipis yang bersih. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai meneteskan sisa air ke bahunya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap tas pemberian Aaron yang masih tersandar diam di sana.
Perlahan, ia mengeluarkan seragam baru itu. Kainnya terasa sangat halus, jauh lebih mahal dari seragam yang pernah ia miliki. Wangi toko kelas atas langsung menyeruak, memenuhi kamar kecil yang biasanya hanya berbau sabun murah itu.
Tiba-tiba, rasa sesak menghantam dadanya. Bukan karena luka fisik, tapi karena rasa bersalah yang mendadak muncul seperti hantu.
Pikirannya berputar kembali ke kejadian tadi pagi. Sebelum ia berangkat sekolah, ia sempat berdebat sengit dengan ibunya.
"Apa ibu mengambil makanan sisa dari rumah keluarga Luxe lagi?" Tanya Lunaris. Suaranya berubah tajam, setajam pecahan kaca.
Nova yang sedang menuangkan susu ke gelas tersentak kecil. "Luna... ini masih sangat bagus. Sayang sekali kalau dibuang."
"Jadi benar Ibu memungut sisa mereka lagi?"
"Kenapa Ibu selalu mau menerima sisa mereka? Mereka menghina Ibu setiap hari, Nyonya Luxe menganggap Ibu seperti sampah, dan Ibu masih tersenyum menerima sisa makanan mereka?!"
Ibunya hanya terdiam, senyumnya luntur, dan matanya memancarkan kesedihan yang tak terkatakan. Tapi Nova tidak membalas. Ia hanya mengelus tangan Lunaris dan berkata lirih, "Hanya ini yang bisa Ibu lakukan agar anak Ibu tidak lapar."
Sekarang, Lunaris menatap seragam pemberian Aaron dengan rasa benci pada dirinya sendiri.
"Aku ini sangat munafik," Maki Lunaris dalam hati.
Pagi tadi ia marah besar karena ibunya membawa makanan sisa dari rumah keluarga Luxe, tapi malam ini, ia justru menerima seragam dari anak majikan ibunya. Ia membenci keluarga Luxe karena nyonya Luxe selalu menghina ibunya yang merupakan pelayan, ia membenci kekayaan mereka yang membuat mereka merasa berhak menginjak orang miskin, namun di titik terendahnya, ia tetap gak bisa menolak dan bergantung pada pemberian anak mereka yang selalu mengatasnamakan pertemanan mereka sejak kecil.
"Maafkan aku, Bu..." Gumamnya pelan. "Tadi pagi aku keterlaluan."
Lunaris menatap jam dinding. Pukul 21.15.
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Biasanya, di menit seperti ini, ia akan mendengar suara pagar rumah yang berderit atau langkah kaki ibunya yang terdengar letih namun teratur. Tapi di luar sana, jalanan tetap sunyi. Hanya ada suara angin yang melolong rendah.
Rasa menyesal tadi pagi berubah menjadi kegelisahan yang aneh. Lunaris berdiri, berjalan menuju jendela depan dan menyibak tirai sedikit. Jalanan di depan rumahnya kosong. Lampu jalan yang remang-remang membuat bayangan pohon terlihat seperti tangan-tangan hitam yang menggapai.
"Mungkin busnya terlambat, batinnya mencoba menenangkan diri." Lunaris mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Namun, ada sesuatu yang salah. Udara di dalam rumah itu tiba-tiba terasa sangat dingin, dan perasaan tidak enak—firasat buruk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—mulai merayap naik dari perut ke tenggorokannya. Seolah-olah alam semesta sedang menahan napas sebelum sebuah hantaman besar datang menghancurkannya.
Lunaris kembali duduk di tepi kasur, memegang erat ponsel lamanya yang layarnya retak, menunggu satu pesan atau suara ketukan pintu yang akan menyelamatkannya dari kegelapan ini.
Lunaris kembali menggelengkan kepalanya pelan mencoba mengalihkan firasat buruk yang entah datang darimana. Lunaris memilih untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan menunggu ibunya pulang hingga tanpa sadar Lunaris tertidur.
Rasa kantuk yang berat akhirnya memenangkan pertarungan melawan kegelisahan. Lunaris tertidur dengan posisi menyandar di kepala ranjang.
.
.
.
Entah sudah berapa lama Lunaris tertidur, rasa baru beberapa menit mata Lunaris terpejam saat ia merasakan tubuhnya yang tiba-tiba diguncang pelan.
Antara sadar dan tidak, Lunaris merasakan sebuah sentuhan dingin namun lembut di bahunya. Guncangan itu sangat pelan, seolah sang pemberi sentuhan takut akan menghancurkan tubuhnya yang rapuh.
"Luna..."
Suara itu. Suara yang selalu menjadi melodi paling menenangkan di telinga Lunaris.
"Luna, bangun, Sayang."
Lunaris mengerang pelan, kelopak matanya terasa berat seperti tertempel lem. Perlahan, ia membukanya. Pandangannya masih buram, terdistorsi oleh sisa kantuk dan cahaya remang kamar, namun ia bisa melihat siluet seorang wanita duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ibu? Ibu baru pulang?" Suara Lunaris parau. Ia berusaha mendudukkan diri, menggosok matanya untuk memperjelas penglihatan.
Saat pandangannya fokus, jantung Lunaris berdegup aneh. Ibunya, Nova, duduk di sana. Namun, ada yang berbeda. Ibunya tampak jauh lebih cantik malam ini. Kerutan kelelahan yang biasanya menghiasi sudut matanya hilang. Wajahnya tampak bercahaya, bersih, dan senyumnya... senyum itu terasa begitu manis sekaligus menyakitkan untuk dipandang.
"Maaf, apa Ibu mengganggu tidur kamu?" Tanya Nova lembut.
"Tidak. Aku cuma... aku nungguin Ibu," Jawab Lunaris. Ia merasa heran, ibunya masih memakai baju kerja yang biasanya kotor atau berbau deterjen. Tapi kali bajunya terlihat bersih.
Nova tampak tenang, seolah semua beban dunia sudah terangkat dari pundaknya.
Namun, binar di mata Nova tiba-tiba berubah. Kehangatan itu meredup menjadi sebuah tatapan yang berat, sarat akan kesedihan yang mendalam. Senyumnya masih ada, tapi kini terasa menyesakkan, seolah ia sedang menahan ribuan kata yang tak mampu terucap.
Nova mengulurkan tangan, mengusap pipi Lunaris dengan punggung jarinya. "Waktu terasa cepat sekali ya, Luna? Rasanya baru kemarin Ibu menggendongmu, sekarang anak Ibu sudah besar... sudah cantik sekali."
Lunaris terdiam, merasakan sentuhan ibunya yang terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. "Ibu bicara apa sih?"
"Ibu bangga sekali padamu. Kamu anak yang mandiri, kamu kuat menghadapi semuanya sendirian," Lanjut Nova, suaranya mulai bergetar. "Tapi, Luna... Ibu minta maaf. Ibu benar-benar minta maaf karena sudah menjadi ibu yang gagal. Ibu tidak bisa memberimu rumah yang layak, tidak bisa melindungimu dari orang-orang jahat, dan tidak bisa membahagiakanmu seperti ibu lainnya."
"Nggak, Bu! Jangan bicara begitu!" Lunaris menyela dengan cepat, hatinya mendadak perih. Ia menggenggam tangan ibunya erat-earat. "Semua yang Ibu kasih sudah lebih dari cukup. Ibu bukan ibu yang gagal. Aku yang seharusnya minta maaf karena sering mengeluh. Tolong, jangan bilang begitu lagi."
Nova hanya tersenyum sedih dan mengangguk pelan. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjadi anak yang kuat untuk Ibu. Tapi mulai sekarang... mungkin hidupmu akan menjadi sedikit lebih sulit. Dan maaf, Ibu tidak bisa menemanimu lebih lama lagi di sini."
Darah Lunaris seolah membeku. "Maksud Ibu apa sih? Emangnya Ibu mau pergi ke mana? Kenapa Ibu bicara seolah kita mau berpisah? Kalau Ibu mau pergi, bawa aku juga, Bu. Aku nggak mau di sini sendirian!"
Nova tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menangkup wajah Lunaris dengan kedua tangannya. Ibu jari Nova bergerak lembut di bawah mata Lunaris, menyapu sesuatu yang basah di sana. Lunaris tertegun; ia bahkan tidak sadar sejak kapan air matanya mulai luruh.
"Tegar ya, Luna. Kamu harus kuat," bisik Nova.
"Ibu! Jawab aku! Ibu mau ke mana?!" Lunaris mencoba memeluk ibunya, namun tangannya terasa seperti merengkuh udara dingin.
Tiba-tiba, pemandangan di depannya mulai tidak masuk akal. Sosok Nova mulai memudar, warnanya perlahan-lahan menjadi transparan seperti asap yang tertiup angin. Cahaya yang tadi memancar dari wajahnya kini tampak menyatu dengan kegelapan kamar.
"Ibu? Ibu, kenapa begini?! Ibu!" Lunaris berteriak histeris, tangannya menggapai-gapai, berusaha menangkap ujung baju ibunya yang kian menghilang.
"Ibu tidak benar-benar pergi, Luna... Ibu selalu di sini..." suara Nova terdengar seperti gema dari tempat yang sangat jauh, sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar lenyap menjadi butiran cahaya yang padam.
"IBU!!!"
Lunaris tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia melihat sekeliling dengan liar.
Kamar itu sepi. Gelap. Hanya ada suara detak jam dinding yang membosankan.
Tidak ada Nova di tepi tempat tidurnya. Tidak ada wangi bunga krisan segar yang menjadi wangi khas dari ibunya. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam dan rasa sesak yang tertinggal di dadanya.
"Mimpi?" bisik Lunaris, suaranya gemetar. Ia menyentuh pipinya, dan jari-jarinya merasakan sisa kelembapan. Ia benar-benar menangis dalam tidurnya.
Saat itulah, suara ketukan pintu depan terdengar. Bukan ketukan lembut ibunya yang biasa, melainkan ketukan yang keras, berwibawa, dan menuntut.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi. Kamu dari pihak kepolisian. Apakah ada orang di dalam?"
Dunia Lunaris seolah berhenti berputar. Mimpi itu bukan sekadar mimpi—itu adalah sebuah salam perpisahan yang tidak pernah Lunaris inginkan.