Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALAU MAU UANG, YA KERJA!
Maira terbangun dari tidurnya saat adzan subuh berkumandang. Suara lembut itu menyelinap masuk lewat celah jendela, menyingkirkan sisa-sisa kantuk yang menggantung di pelupuk matanya.
Perlahan tangannya meraba pelan sisi ranjang di sebelahnya. Terasa kosong dan dingin.
Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang samar dalam gelap.
“Seperti biasa..." Gumamnya lirih, napasnya keluar dalam desahan kasar.
Sudah menjadi kebiasaan setiap kali mereka bertengkar—suaminya tak akan pulang. Ia akan memilih menginap di rumah ibunya dan meninggalkan Maira.
Jika sudah begini, mau tak mau ia akan ke rumah mertuanya dan membujuk suaminya agar mau pulang ke rumah bersama dengannya, selalu seperti itu.
Tidurnya semalam tak pernah benar-benar lelap. Kadang ia terbangun, berharap suaminya memiliki inisiatif sendiri untuk kembali ke rumah tanpa harus ia bujuk. Tapi harapannya tak pernah terjawab. Bahkan hingga adzan memanggilnya untuk bangun, kamarnya masih terasa sunyi.
Dengan gerakan malas, Maira meraih ikat rambut dari atas nakas. Ia mengikat rambutnya dengan cepat dan kasar—seolah ingin melampiaskan rasa lelah yang tak kunjung reda.
Segera ia paksakan kakinya melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu untuk membasahi wajahnya.
Ia kembali ke kamar dan membentangkan sajadah, menghadap kiblat, dan memulai shalat Subuh dengan gemetar kecil di jemarinya.
Doanya lirih, tapi penuh harap: “Ya Allah… Kalau memang rumah tangga ini masih bisa diperbaiki, beri kami jalan. Tapi kalau memang semua sudah ditakdirkan berbeda, beri aku kekuatan untuk menerima dan melangkah…”
Air matanya menetes, jatuh di atas sajadah. Satu… dua… lalu mengalir pelan tanpa suara. Ini bukan pertama kalinya ia menangis dalam sujud. Ia cukup merasa lelah untuk semuanya.
_____
Maira duduk di ruang makan dengan menyantap roti panggang dan juga segelas jus apel. Gerakan tangannya pelan, malas, tapi cukup tegas menunjukkan bahwa ia tak sedang ingin diajak bicara.
Sementara itu, dari dapur terdengar suara panci bergesekan. Bu Susi baru saja selesai memasak mi instan yang ia tuang ke dalam dua mangkuk.
Setelahnya, ia membangunkan Danu dan juga Pak Bowo—suaminya. Seperti biasa, pagi di rumah itu tidak pernah benar-benar hangat.
Maira terus melanjutkan makannya tanpa berniat menyapa siapa pun. Semakin hari, dirinya semakin jengah dengan tingkah Bapak dan juga adik tirinya yang selalu bergantung padanya seolah ia adalah tulang punggung mereka.
“Mai…” Panggil Bu Susi sambil meletakkan mangkuk di meja, tepat di hadapan Danu dan Pak Bowo yang baru saja duduk.
Maira tidak menjawab. Matanya hanya terpaku pada roti panggang yang sudah tinggal separuh.
“Besok uang bulanan Ibu ditambah dong, Mai..." Ucap Bu Susi tanpa rasa bersalah, seolah melupakan kejadian perdebatan kemarin antara ia dan juga Maira.
Namun Maira tetap tak bereaksi, ia terus mengunyah dan diam-diam mengatur napas agar tidak terpancing emosi.
Bu Susi melirik ke arah Pak Bowo yang duduk di sebelahnya. Pandangan mereka bertemu, lalu Pak Bowo mengedipkan mata, memberi isyarat agar Bu Susi melanjutkan pembicaraan.
“Kebutuhan Ibu makin banyak, Mai. Uang yang kamu kasih tiap bulan kurang… apalagi harga-harga sekarang naik semua." Tambahnya, nada suaranya dibuat setenang mungkin, tapi tetap terdengar menyebalkan di telinga Maira.
Lagi, Maira memilih diam. Ia mengambil gelas jusnya dan menenggak habis isinya.
“Mai… kamu dengar Ibumu, kan?” Kali ini giliran Pak Bowo yang angkat suara. Nada suaranya terdengar menekan, seolah menantang Maira untuk segera menjawab.
Maira akhirnya meletakkan gelasnya di atas meja. Pelan, ia menoleh dan menatap Pak Bowo lalu ke arah Bu Susi.
“Sarapan tiap hari cuma mi, nggak pernah masak terus selalu beli makanan di luar, ya wajar kalau uang yang aku kasih kurang..." Sindir Maira terang-terangan.
Ruangan seketika mendadak sunyi. Danu yang tadi sempat tersenyum kecil kini hanya bisa menunduk, pura-pura fokus menyendok mi di mangkuknya.
Bu Susi mendecak pelan, merasa tersindir.
“Ya wajar Ibu jarang masak, Mai. Ibu udah tua, pinggang Ibu juga sakit kalau berdiri lama-lama…” Selorohnya, berusaha membela diri.
Pak Bowo ikut angkat suara, nada suaranya sedikit meninggi. “Kamu itu jangan ngomong gitu sama Ibumu, Maira. Mungkin Ibumu ada keperluan lain, makanya dia minta uang tambahan…”
“Ibu atau Anda yang butuh uang tambahan?!” Potong Maira cepat, nadanya tajam, tak bisa lagi ia tahan kekesalannya.
Pak Bowo dan Bu Susi saling menatap, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Maira. Kata-kata tajam itu terasa seperti tamparan di pagi hari.
Maira yang selama ini dikenal baik dan selalu mengiyakan permintaan mereka, tiba-tiba berubah. Sikapnya tak lagi ramah, tatapannya tajam, dan ucapannya tak lagi disaring.
Wanita itu memang sudah merenungkan semuanya sejak semalam. Ia mulai menyadari betapa selama ini dirinya terlalu lunak dan bersikap lembek pada keluarganya.
Satu kesalahan besar telah ia lakukan yaitu membiarkan ibunya, bapak tirinya, dan adik tirinya tinggal bersamanya di rumah yang seharusnya menjadi tempat nyaman antara dirinya dan Farid, sang suami.
Apalagi setelah kejadian kemarin saat sikap ibunya yang dengan santainya justru membela perbuatan Danu—adik tirinya yang nyatanya sudah mengambil dan menjual beberapa barang elektronik di rumahnya.
“Kalau memang butuh uang tambahan, minta suami Ibu ini untuk kerja!” Sentak Maira tajam, mengalihkan pandangannya ke arah Pak Bowo.
Ucapan itu seperti petir di siang bolong. Pak Bowo terdiam, wajahnya memerah namun tak mampu berkata-kata. Napasnya memburu, tapi lidahnya kelu. Ia belum pernah sekalipun direndahkan seperti itu oleh Maira.
Sementara Bu Susi menatap tak percaya, seolah tak mengenali lagi anak yang ia lahirkan sendiri.
Maira berdiri dari kursinya, mengambil napas dalam-dalam. Ia berjalan menjauh, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan menoleh.
“Oh iya… Ibu sudah bilang kan ke Danu, kalau dia nggak boleh tinggal di sini lagi?” Suaranya tegas, mata tajam menatap ke arah adik tirinya yang tengah menyeruput mi dengan cuek, seolah ia tak mempunyai kesalahan. “Bisa-bisa semua barang di rumah ini habis dijual sama dia nanti kalau masih tinggal disini."
Danu sontak menghentikan suapannya. Wajahnya seketika kaku, tapi Maira tak peduli. Ia menyindir terang-terangan dan tanpa basa-basi.
“Aku mau pulang kerja nanti Danu—anak Ibu itu harus sudah pergi dari sini!" Lanjut Maira dengan tenang namun tegas.
Suasana meja makan berubah semakin tegang. Tak ada yang berani menyahut. Bahkan suara mi yang diseruput Danu pun tak terdengar lagi.
Maira melangkah menuju kamar, mengambil tas kerja dan kunci mobilnya. Tanpa sepatah kata tambahan, ia keluar rumah dengan kepala tegak dan pintu yang ditutup mantap.
“Kenapa anak kamu itu!” Bentak Pak Bowo, wajahnya memerah karena merasa direndahkan oleh anak tirinya.
“A… aku nggak tahu, Pak. Baru kali ini dia bersikap seberani itu.” Ujar Bu Susi yang juga masih tampak tak percaya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Maira.
Danu yang sejak tadi diam kini angkat suara, nada suaranya penuh kekhawatiran. “Bu, ini gimana kalau aku udah nggak boleh tinggal di sini lagi?”
Raut wajah Bu Susi tampak terlihat cemas.
“Mungkin… mungkin mbakmu—Maira memang masih kesal sama perbuatan kamu kemarin. Gimana kalau kamu sementara waktu tinggal di rumah Mbak Dini dulu? Paling juga nanti kalau marahnya udah reda, kamu bisa balik ke sini.”
Namun Danu langsung merengek seperti anak kecil. “Nggak mau ah aku, Bu! Di rumah Mbak Dini panas, nggak ada AC. Nggak enak di sana!”
"Ya mau gimana lagi, ini untuk sementara aja Danu..." Ujar Bu Susi mencoba menenangkan putra kesayangannya itu.