Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Mengantar Pulang
"Mas?" Rani mengerutkan keningnya, Adimas menghentikan mobilnya dan sedikit menepi.
"Sudah sadar sekarang?" tanya Adimas makin sewot, Rani menggelengkan kepalanya.
"Tahu nggak, dalam Al-Qur'an tercantum begini, Surat Al-Baqarah ayat 191 berbunyi wal-fitnatu asyaddu minal qatl, artinya dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan juga ada di ayat 217 yang berbunyi wal-fitnatu akbaru minal qatl, yang artinya dan fitnah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan." Rani menghela napas, Adimas terdiam sejenak. Adakah orang mabuk yang bisa bicara dengan sejelas itu? Dia bahkan mengatakan dengan jelas dari Al-Qur'an.
"Jangan bawa Al-Qur'an bila sedang mabuk." Adimas menatap Rani lagi dengan tajam.
"Haaa, siapa lagi yang lagi mabuk, hah! Buat emosi saja Anda ini, ya!" pekik Rani. "Aku tidak dengar kamu karena lagi dengar ngaji, nih dengar sendiri!" Rani memasukkan earphone yang semula dipakainya ke telinga Adimas. Sontak mata Adimas terbelalak menyadari kesalahannya.
"Dan tahu nggak apa yang Anda tadi buang, hah! Itu adalah air mineral yang sengaja saya beli dari minimarket, sudah sedikit lagi mau saya habiskan itu. Motor saya kehabisan bensin dan botol tadi buat menampung bensin untuk motor saya!" Kesal lagi Rani, Adimas mengedipkan matanya beberapa kali.
"Apa kedap-kedip mata begitu, cacingan, hah!" kasar lagi Rani, Adimas menghela napas kasar.
Amarahnya yang tadi meledak-ledak seketika luluh, bagai api tersiram air. Rani menyilangkan tangannya di dada dan cemberut dengan wajah super masam.
"Maaf, saya tidak tahu," ucap Adimas. Rani mengambil earphone yang masih di telinga Adimas dengan kasar.
"Nih dengar hadis riwayat Abu Dawud, dia berkata sesungguhnya kebodohan adalah penyakit dan obatnya adalah bertanya. Jadi kalau nggak tahu ya tanya dulu, jangan asal nuduh! Sekarang Anda sudah membunuh saya satu kali, jangan mengelak, ini adalah fakta karena dosa dan itu lebih kejam dari pembunuhan," ucap Rani memutar bola matanya.
"Kamu pintar agama ya?" tanya Adimas berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya iyalah, harus. Minimal meski nggak terlalu baik saya mau belajar jadi orang baik dan memperbaiki diri. Bukan malah asal tuduh sembarangan." Kesalnya lagi, Adimas menghela napas kasar dan kembali melajukan mobilnya.
"Mau ke pom bensin?" tanya lagi Adimas dengan sedikit lembut, Rani masih cemberut.
"Maaf, saya sungguh tidak tahu," ucap Adimas lagi, Rani tak menjawab.
"Saya traktir beli es krim atau cokelat, katanya itu bisa meredakan amarah," ucap lagi Adimas, Rani memalingkan wajahnya.
"Nanti saya antar lagi ke tempat motornya mogok, ya?" Masih saja dalam posisinya Rani. Kesal dan sangat kesal, seenaknya saja difitnah memang siapa yang rela.
"Di mana motornya?" tanya lagi Adimas. Rani memberikan ponselnya pada Adimas memperlihatkan lokasi sepeda motornya dari GPS, dia masih belum bicara.
"Oke," Adimas mengacak rambut Rani, namun Rani masih tak peduli dan malah menggunakan earphone lagi.
Adimas tersenyum, gadis dengan rambut cokelat dan kelakuan tomboy seperti Rani ternyata memiliki sisi lain yang sungguh berbeda dari yang Adimas pikirkan. Wajahnya yang nampak tengil dan nakal, kelakuannya yang selalu di luar perkiraan ternyata memiliki sisi lain yang manis, dan memang Rani cukup membuat Adimas terkesima.
Adimas melajukan mobilnya ke arah pom bensin terdekat, dan terdiam sejenak. Dia harus menggunakan apa untuk menampung bensin itu?
"Ran?" Adimas menyentuh tangan Rani, namun gadis itu sudah tidak bergerak. Dia ketiduran, suara merdu terdengar dari earphone miliknya. Adimas menghela napas kasar, dia tidak tega membangunkan Rani yang kelelahan.
Adimas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, dia juga mengambil kunci motor Rani dari tas gadis itu yang bila sudah tidur dia tidak akan ingat dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, kebo dalam wujud manusia, begitulah Rani saat tidur.
"Kenapa, Bos?" Seorang pria mengetuk kaca mobil Adimas, seorang pria berambut pirang dengan setelan baju montir.
"Kamu tahu minimarket ini?" Adimas memperlihatkan GPS yang ada di ponsel Rani, pria itu mengangguk.
"Di sana ada motor warna merah, ada gambar Sailor Moon di bagian belakang motornya. Ini kuncinya, motornya kehabisan bensin dan tolong isi. Angkut saja motornya, bawa ke bengkel, besok akan ada orang yang ambil," ucap Adimas, pria itu mengangguk patuh.
"Oke, aman. Eh, itu cewek, Bos?" tanyanya, Adimas menatap Rani yang tertidur membelakanginya.
"Dia ketiduran," ucap Adimas, pria itu kembali mengangguk saja dan pergi dari hadapan Adimas.
Adimas memang memiliki banyak bengkel, dan salah satu bengkelnya kebetulan tak jauh dari lokasi saat ini berada. Menjadi guru hanya legalitas saja, Adimas juga jual beli motor dan mobil bekas. Jadi uangnya mengalir dari mana-mana.
Adimas meraih ponsel Rani kembali, untung saja di sana ada GPS yang tercantum, Rumah Kesayangan, yang merupakan kediaman Rani. Adimas melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah perumahan sederhana, Adimas menatap sekeliling mencari nomor yang tepat hingga sebuah rumah berukuran 9×6 meter tampak dari jalan, rumah itu sudah sedikit direnovasi dengan membuat satu kamar di bagian atas dan penjemuran.
Adimas mengetuk pintu rumah itu, seorang wanita berhijab besar keluar. Wajahnya sangat teduh, dia tampak terburu-buru dan terkejut saat melihat Adimas berada di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum, Bu. Maaf, saya wali kelasnya Rani. Rani tertidur di mobil saya, motornya kehabisan bensin di jalan," jelas Adimas. Ibu Rani tersenyum.
"Oh, Pak Adimas ya? Rani banyak cerita tentang Pak Adimas. Bangunkan saja Raninya, siapa yang mau angkat dia? Berat," ucapnya, Adimas menatap sekeliling.
"Papahnya Rani jadi TKI di Arab, Pak, jadi kita hanya tinggal berdua," tambahnya lagi, Adimas akhirnya tersenyum.
"Biar saya yang bawa dia masuk, kasihan dia agaknya sangat kelelahan, Bu. Ibu tolong tunjukkan jalan ke tempat tidurnya saja," ucap lagi Adimas, ibu Rani mengangguk.
"Baik, Pak, mangga," ucapnya. Adimas membuka pintu tempat Rani tertidur, wajahnya nampak teduh. Adimas mengangkat Rani. Ternyata tidak terlalu berat, bahkan Adimas mungkin bisa mengangkat Rani hanya dengan satu tangan saking ringannya.
Adimas membawa Rani masuk ke dalam rumahnya, ibu Rani mempersilakan Adimas masuk dan membawa Rani ke lantai dua di mana kamar Rani berada. Kamar yang sangat berbeda dengan kamar-kamar gadis pada umumnya.
Dipenuhi dengan banyak rakitan, dari mulai robot mainan. Bahkan ada robot di dekat pintu yang bila pintu dibuka akan langsung menyambut orang yang masuk itu.
"Selamat datang, Rani. Sudah malam, waktunya mandi dan tidur. Jangan lupa makan dan salat witir. Selamat istirahat, Rani," ucap robot itu. Adimas tersenyum dan membaringkan Rani di tempat tidurnya.
Lampu tidur otomatis menyala saat Rani tertidur di sana, lampu yang semula terang berubah redup. Mesin pembersih yang ada di kamar itu juga sudah dimodifikasi. Adimas semakin kagum dengan Rani, dia mungkin tak berprestasi di sekolah, namun dia memiliki keahlian yang mungkin lebih unggul dari mereka yang berprestasi.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang