NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata di Dalam Rumah

Sasha tidak tidur malam itu. Bukan karena takut gelap, tapi karena merasa gelap itu menatap balik.

Jam di dinding kamar berdetak pelan, tapi di telinganya terdengar seperti dentuman yang terlalu keras. Ia duduk di tepi ranjang dengan lampu mati, tirai tertutup rapat seperti yang Gio perintahkan. Ponselnya ia genggam erat, seolah benda kecil itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.

Di luar, angin menggesek dedaunan. Di dalam, pikirannya menggesek kenyataan.

Dia bisa melihat kamu.

Kalimat Gio terus berulang di kepalanya.

Tok.

Sasha menegang. Suara kecil itu sangat kecil. Seperti sesuatu menyentuh kaca. Ia menoleh perlahan ke arah jendela.

Tok.

Lagi-lagi, suara ketukan itu terdengar kembali. Napasnya tercekat. Ia berdiri pelan, mendekat satu langkah, lalu berhenti. Tirai tertutup. Ia tidak bisa melihat apa pun di luar. Tapi suara itu jelas berasal dari sana.

Tok.

Sasha mundur cepat. Ia membuka pintu kamar pelan dan hampir berlari ke lorong. Di saat bersamaan, pintu kamar Gio terbuka. Mereka bertemu di tengah lorong dengan wajah sama-sama tegang.

“Kamu dengar?” bisik Sasha.

Gio mengangguk sekali. Tanpa banyak bicara, ia berjalan cepat ke kamar Sasha. Membuka tirai dengan satu tarikan keras.

Semua terlihat kosong, tak ada siapa pun. Taman juga gelap. Tidak ada apa pun. entah mengapa raut wajah Gio tidak terlihat lega. Ia membuka jendela sedikit, memeriksa bagian luar bingkai kaca dengan senter ponselnya. Sasha melihatnya membeku.

“Apa ada sesuatu?” tanya Sasha pelan.

Gio tidak langsung menjawab. Ia mengarahkan senter ke titik kecil di sudut kaca. Ada sebuah benda menempel di sana. Bentuknya kecil berwarna hitam. Nyaris tak terlihat, membuat jantung Sasha langsung berdegup kencang.

“Itu apa…?”

Gio melepas benda itu perlahan.

Sasha bisa melihat jelas sekarang. Benda itu seperti sensor kecil. Atau… kamera mikro membuat tubuh Sasha terasa dingin.

“Itu bukan milik rumah ini,” kata Gio pelan.

“Berarti…”

“Berarti ada yang menempelkannya di sini.”

Sasha memegang mulutnya.

Kamar ini, tempat dimana ia menangis, tempat ia berganti baju, dan tempat dimana ia merasa paling nyaman sendirian. Mungkinkah semuanya sudah dilihat.

“Apa dia melihatku?” suaranya pecah.

Rahang Gio mengeras. “Mulai sekarang, kamu pindah ke kamar sebelahku.”

Sasha menatapnya.

Gio sudah mengeluarkan ponsel, menelpon seseorang dengan suara rendah dan cepat. Perintah. Tegas. Tanpa emosi.

Dalam lima belas menit, dua teknisi keamanan datang. Mereka menyisir kamar Sasha dan menemukan tiga alat serupa. Satu di ventilasi, satu di lampu tidur, dan satu lagi… di balik lukisan di dinding.

Sasha terduduk di kursi dengan wajah pucat.

“Ini sudah dipasang cukup lama,” kata salah satu teknisi.

“Berapa lama?” tanya Gio.

“Bisa berminggu-minggu. Mungkin lebih.”

Sasha merasa mual mendengar itu, berarti sejak awal. Ya, sejak ia masuk rumah ini. Seseorang sudah menonton rutinitas dirinya.

“Semua kamar diperiksa. Sekarang,” perintah Gio.

Sasha menatapnya.

“Bagaimana mereka bisa masuk?” bisiknya.

Gio tidak menjawab dan itu jauh lebih menakutkan. Karena hanya ada satu kemungkinan. Orang itu tidak masuk dari luar. Orang itu… sudah ada di dalam.

Pukul dua pagi, rumah Wijaya tidak lagi terasa megah. Ia terasa seperti labirin yang penuh rahasia. Semua staf dibangunkan, semua orang diperiksa dan ditanya.

Sasha berdiri di samping Gio di ruang tengah saat satu per satu staf dikumpulkan. Wajah-wajah yang selama ini terlihat biasa, kini terasa mencurigakan. Asisten rumah tangga, Koki, Satpam, dan Sopirkarena semua bisa saja jadi pelaku.

“Tidak ada yang keluar masuk tanpa sepengetahuanku,” kata kepala keamanan.

Gio menatapnya tajam. “Kalau begitu, seseorang di sini membantu mereka.”

Ruangan itu langsung hening, Sasha memperhatikan satu hal. Seorang asisten rumah tangga perempuan terlihat sangat pucat. Tangannya gemetar dan tatapan Sasha bertemu dengannya. Perempuan itu langsung menunduk.

“Namamu siapa?” tanya Sasha tiba-tiba.

Semua orang menoleh padanya.

“R-Rina, Nyonya,” jawabnya pelan.

“Kamu sudah kerja di sini berapa lama?”

“Dua tahun.”

“Kamu pernah masuk ke kamar saya?”

Rina terlihat panik. “Hanya untuk bersih-bersih, Nyonya.”

Gio memperhatikan dengan seksama.

“Besok pagi, semua staf diganti sementara,” katanya dingin.

Wajah-wajah itu langsung berubah.

“T-tapi Pak—”

“Semua,” ulang Gio.

Sasha menelan ludah. Kalau pelakunya memang di dalam rumah ini… Berarti orang itu sangat dekat, sangat sabar dan sangat tenang.

Menjelang subuh, Sasha duduk di kamar Gio. Bukan karena diminta, tetapi karena ia tidak berani sendirian.

Gio duduk di kursi seberang, laptop terbuka, menonton rekaman CCTV dengan begitu fokus. Entah mengapa, iba-tiba tangannya berhenti.

“Lihat ini,” katanya.

Sasha mendekat. Di layar terlihat lorong kamar Sasha. Rekaman tiga malam lalu. Tepat pukul 01.47, terihat seseorang berjalan pelan dengan wajahnya tertutup topi dan masker. Tapi seragamnya jelas dengan seragam staf rumah.

Sasha menahan napas ketika melihat layar laptop Gio mendapati orang itu berhenti di depan kamar Sasha seraya mengeluarkan sesuatu dari saku. Lalu masuk ke dalam kamarnya selama tujuh menit dan keluar lagi dengan berjalan santai. Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Siapa itu?” bisik Sasha.

Gio memutar ulang.

"Tolong zoom... Zoom lagi," titah Sasha begitu penasaran.

Wajah Sasha terlihat sedikit membeku.

“Itu bukan Rina…”

Gio menatap layar tanpa berkedip.

“Itu satpam malam.”

Sasha merasa kepalanya pusing, orang yang selama ini membuka gerbang untuknya, orang yang menyapanya setiap pagi.

"Orang itu..." Sasaha tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Gio langsung berdiri. “Dia sudah tidak ada di pos.”

“Apa?”

“Sejak tadi malam.”

Darah Sasha terasa mendidih dan mulai kesal mendengar hal itu. Bukankah itu berarti… Dia tahu mereka menemukan kamera itu hingga dia kabur.

Tapi bukan itu yang membuat Gio terlihat benar-benar marah. Gio menunjuk layar.

“Dia tidak bekerja sendiri.”

Sasha mengikuti arah jarinya. Di detik sebelum satpam itu masuk ke kamar, kamera menangkap satu hal. Ia menerima pesan di ponselnya hingga Sasha menatap Gio.

“Kamu bisa lacak?”

Gio mengangguk pelan. “Kalau pengirimnya ceroboh.”

Dan di saat itulah ponsel Sasha bergetar lagi.

Nomor tidak dikenal.

Sasha dan Gio saling pandang. Perlahan, Sasha mengangkat.

“Halo…”

Suara yang sama, begitu tenang dan dingin.

“Kamarmu nyaman, Sasha?”

Darahnya langsung membeku.

Gio mendekat, mendengarkan.

“Sayang sekali sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi.”

Sasha tidak bisa bicara.

“Aku suka melihat kamu menangis di lantai malam pertama itu.”

Air mata Sasha langsung jatuh membuat Gio meraih ponsel itu dari tangannya.

“Siapa kamu?” suara Gio rendah dan berbahaya.

Pria di seberang tertawa pelan.

“Kamu terlambat, Gio.”

Klik.

Telepon mati mendadak mati membuat tubuh Sasha gemetar.

Gio memandang layar ponsel Sasha. Lalu perlahan, sangat pelan, wajahnya berubah. Bukan tatapan marah ataupun kaget. Tapi… sadar. Sangat sadar.

“Apa?” tanya Sasha dengan suara kecil.

Gio menoleh padanya dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Sasha melihat sesuatu yang benar-benar mengerikan di mata Gio.

Pengakuan.

“Aku tahu suara itu,” katanya pelan.

Jantung Sasha, seolah berhenti berpaku.

“Siapa?”

Gio menatapnya tanpa berkedip.

“Itu orang yang seharusnya tidak mungkin melakukan ini.”

Sasha menahan napas.

“Siapa, Gio?”

Gio menjawab pelan. Nama yang membuat seluruh tubuh Sasha langsung dingin.

“Rafael.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!