"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Main Dulu Sebentar
Juan hampir menjatuhkan tablet di tangannya saat mendengar Alex mengatakan bahwa dia akan menikah hari ini. Jadwal pagi ini harus diundur dan Juan datang ke apartemen sang bos.
Tiba di sana Juna makin ternganga saat mengetahui bahwa calon istri bosnya adalah Dea.
DEA.
DEA
YA DEA!
Sekretaris yang juga dia kenal sejak pertama kali wanita itu bekerja di perusahaan Alex.
Tapi Bagaimana bisa hal semacam ini terjadi. Sumpah, Juan sangat tidak menyangka. Sebelum tiba di apartemen, Juan pikir Alex akan menikahi wanita yang terakhir dekat dengannya, yaitu Serine. Mungkin Serine tiba-tiba hamil karena itulah Alex membuat nikah dadakan untuk tanggung jawab.
Tapi ternyata dugaan tersebut salah besar. Kini dia malah melihat Dea yang jadi calon istri bosnya. Padahal selama ini Juan juga tahu tidak pernah ada hubungan apapun diantara keduanya.
Juan menoleh ke Dea, lalu kembali ke Alex, lalu ke Dea lagi. Matanya berkedip cepat seperti komputer error.
“Tuan,” katanya hati-hati, “ini masih pagi," ucap Juan, berpikir mungkin pemikiran Alex masih kacau sampai tak sadar membuat keputusan menikah dengan Dea. Jadi Juan ingin menyadarkannya.
“Itu sebabnya kita kejar waktu,” jawab Alex.
Juan menelan ludah. “Tuan serius akan menikah dengan Dea?”
Dea tersenyum tipis, senyum orang yang sudah menyerah pada takdir. “Selamat, Juan. Kamu baru saja jadi saksi hidup kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Juan mendekat, berbisik panik. “Dea, ini bercanda kan?”
Dea menggeleng pelan. “Kalau bercanda, pria itu tidak mungkin bicara pakai nada suara psikopat seperti itu.”
Alex melirik mereka. “Aku dengar apa yang kalian bicarakan," ucap Alex.
Juan langsung berdiri tegak.
Namun begitu Alex menjauh untuk mengambil minum, Juan langsung mencengkeram lengan Dea.
“KAMU KENAPA?” bisiknya keras. “Ini Alex! Bos kita! Playboy nasional!”
“Aku juga sadar.”
“Kamu dipaksa?”
Dea menatap Juan. “Kalau aku bilang iya, kamu bisa menyelamatkanku?”
"Tidak.”
“Nah, itu jawabanmu.”
Juan mengusap wajah. “Aku cuma mau pastikan, kamu tidak dijual ginjal atau semacamnya.”
“Belum,” jawab Dea. “Masih tahap penjualan harga diri.”
Juan menatapnya iba. “Aku ikut doa ya.”
Tak lama kemudian, seorang petugas pencatatan sipil dan pemuka agama datang ke apartemen.Prosesnya begitu singkat sampai Dea merasa seperti sedang menandatangani paket langganan internet.
Pagi ini Ananda Dea Putri tanpa didampingi oleh satupun keluarganya akhirnya menikah dengan sang boss. Pernikahan yang bagusnya sakral kini justru terasa menakutkan bagi Dea.
Namun diantara semua rasa takut itu, Dea kembali teringat dengan penghianatan sang kekasih dan sepupunya. Bahkan kedua manusia bejat itu sudah berencana untuk menjadikan Dea sebagai pencari uang bagi mereka.
Disaat Dea sibuk bekerja, Barry dan Gisel akan bersenang-senang.
mengingat Semua fakta menyakitkan tersebut, membuat Dea berpikir bahwa pernikahan ini tak ada apa-apanya. Dia hanya perlu melayani Alex, selebihnya Dea justru bisa bersenang-senang bergelimang banyak uang.
Pengucapan janji suci berlangsung cepat. Juan menyebutkan nama tanpa ragu sedikitpun, seolah dia sudah terbiasa menikah.
Selesai pengucapan janji suci, orang-orang pergi meninggalkan apartemen. Di sana kini hanya menyisahkan Alex, Dea dan Juan lagi.
Duduk bersama di ruang tengah, "Kita buat kontraknya sekarang," ucap Alex dan Juan siap mencatat poin demi poin.
“Poin satu pernikahan bersifat rahasia," ucap Dea, terbiasa memimpin rapat jadi dia yang memulai penentuan kontrak ini.
“Ya," jawab Alex.
“Poin dua, tidak ada tuntutan cinta.”
“Setuju.”
“Poin tiga, Aku tetap bekerja sebagai sekretaris."
Alex mengangguk. “Justru itu inti penyamarannya.”
Alex menatap Juan. “Cetak sekarang.”
“Siap, Pak.” Ia membuka laptop, jemarinya bergerak lincah. Suara printer tak lama kemudian memecah keheningan ruang tengah apartemen itu. Dea duduk diam di sofa, tangannya terlipat di pangkuan.
Juan mengambil kertas yang masih hangat, “Ini kontraknya.”
Alex langsung mengambil dan membacanya sekilas, lalu menyerahkannya pada Dea. “Baca baik-baik. Kalau ada yang mau ditambah.”
Dea menerima kertas itu. Matanya menyapu baris demi baris. “Poin empat,” gumamnya. “Tidak ada pihak ketiga selama kontrak berlangsung.”
Alex mengangguk. “Itu wajib.”
Dea menatapnya. “Termasuk mantan-mantan Tuan.”
“Terutama mantan-mantan,” jawab Alex tanpa ragu.
Juan menahan senyum. “Wah, berat juga ya, Pak.”
Alex melirik tajam dan Juan langsung menutup mulut.
Dea melanjutkan membaca. “Poin lima. Jika salah satu pihak melanggar, kontrak bisa dibatalkan tanpa tuntutan.”
“Ya."
“Poin enam, Fasilitas finansial ditanggung penuh oleh pihak suami.”
"Iya."
“Aku mau tambah satu poin,” kata Dea.
Alex mengangguk. “Sebutkan.”
“Tidak ada perlakuan kasar. Tidak ada paksaan di luar kesepakatan kontrak,” ucap Dea.
“Setuju.”
Juan menambahkan poin-poin itu, lalu mencetak ulang kontrak.
“Silakan tanda tangan,” kata Juan sambil menyodorkan pulpen.
Alex menandatangani lebih dulu lalu disusul oleh Dea. Kontrak tanpa batas waktu karena hanya Alex yang bisa mengakhirinya.
Juan menatap kedua tanda tangan itu bergantian. “Sudah resmi, sah secara hukum dan kontrak.”
Alex berdiri. "Pergilah," usianya pada Juan.
Dea langsung bergidik mendengarnya, seolah kini Alex sudah siap untuk memangsanya. Padahal sisa sakit semala masih sedikit Dea rasakan.
Setelah Juan pergi, Alex melangkah mendekat ke Dea. Kali ini jaraknya cukup dekat, tapi tidak menyentuh.
“Kita tinggal di apartemen ini,” katanya. “Atau kalau mau, kita atur tempat lain.”
Dea menatapnya. “Kita satu rumah?”
Alex mengangguk. “Tentu saja."
Dea terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Baiklah, kita tinggal di sini saja. kalau begitu saya mau pulang sebentar, mengambil baju dan beberapa barang."
"Oke, tapi sebelum pergi main dulu sebentar denganku."
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..