Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Suara Sang Putri
Angin menerpa wajahku saat kami berayun tinggi di atas kota.
Di bawah, Alubarna masih dalam kekacauan—jalanan penuh dengan pejuang yang masih saling serang, bangunan terbakar, asap hitam mengepul ke langit. Dari ketinggian ini, aku bisa melihat keseluruhan medan pertempuran seperti peta yang hidup.
Ribuan orang. Saling membunuh. Karena kebohongan satu orang.
"Lihat itu," Vivi berbisik di belakangku, suaranya pecah. "Mereka semua rakyatku. Semua dari mereka—pemberontak maupun tentara—mereka semua orang Alabasta."
Aku tidak menjawab. Tidak ada kata-kata yang tepat.
THWIP!
Kami berpindah web, berayun semakin dekat ke menara jam di pusat kota. Sanji, Nami, Usopp, dan Robin mengikuti dari bawah—berlari menyusuri jalanan sambil menghindari pertempuran.
Satu web lagi.
Dua web lagi.
Dan kami mendarat di platform sempit di puncak menara jam—ketinggian yang cukup untuk melihat dan dilihat dari seluruh penjuru Alubarna.
Vivi melepaskan pegangannya dari bahuku dan melangkah ke tepi platform. Angin kencang menerbangkan rambutnya ke belakang.
Di bawah, sejauh mata memandang, pertempuran masih berlangsung.
Beberapa menit kemudian, Sanji tiba di bawah menara—dia menendang dua agen Baroque Works yang mencoba menghalangi, lalu berlari masuk ke menara. Nami, Usopp, dan Robin menyusul.
Langkah kaki di tangga. Lalu mereka semua muncul di platform.
"Gila juga tingginya," Usopp mengintip ke bawah dan langsung mundur lagi. "Aku tidak suka ketinggian."
"Kau baru ingat sekarang?" Nami bertanya kering.
"Vivi," Robin berbicara. "Kau punya waktu sedikit. Pertempuran di bawah semakin intens. Harus sekarang."
Vivi mengangguk.
Dia berdiri di tepi platform, menatap kota yang terbakar.
Aku bisa melihat bahunya naik turun—mengambil napas dalam.
Lalu dia berteriak sekeras yang dia bisa.
"DENGARKAN AKU!"
Suaranya menggema di atas kota.
Beberapa orang di bawah menoleh ke atas—tapi pertempuran kebanyakan masih berlanjut. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak kekacauan.
"Tidak cukup keras," Nami berkata. Dia langsung mengeluarkan Clima-Tact. "Aku punya ide."
Dia mulai memanipulasi udara di sekitar menara—menciptakan semacam corong angin yang akan memperkuat dan menyebarkan suara ke segala penjuru.
"Ini tidak sempurna," Nami mengakui sambil berkonsentrasi. "Tapi harus cukup. Coba lagi, Vivi. Teriak sekeras yang kau bisa."
Vivi mengambil napas lebih dalam.
Dan kali ini—
"RAKYAT ALABASTA! INI AKU—NEFERTARI VIVI! PUTRI KALIAN! TOLONG DENGARKAN AKU!"
Suaranya—diperkuat oleh manipulasi udara Nami—bergema di seluruh kota seperti lonceng raksasa.
Di bawah, pertempuran mulai melambat.
Kepala-kepala menoleh ke atas.
Satu demi satu, orang-orang berhenti bertempur—bukan semua sekaligus, tapi seperti gelombang yang menyebar dari pusat ke pinggir.
"Itu Putri Vivi?"
"Di atas menara jam!"
"Putri masih hidup!"
Vivi tidak berhenti. Sekarang dia punya perhatian mereka.
"AKU TAHU KALIAN SEMUA LELAH! AKU TAHU KALIAN SEMUA MARAH! PEMBERONTAK—AKU TAHU KALIAN MENDERITA! TENTARA—AKU TAHU KALIAN HANYA MENJALANKAN TUGAS!"
Suaranya bergetar—bukan karena takut, tapi karena emosi yang dia coba tahan.
"TAPI KALIAN SEMUA TERTIPU! OLEH SATU ORANG YANG MEMANFAATKAN PENDERITAAN KALIAN UNTUK AMBISINYA SENDIRI!"
Hening yang semakin meluas di bawah. Semakin banyak yang berhenti.
"CROCODILE! SIR CROCODILE—YANG KALIAN SEBUT PAHLAWAN ALABASTA—DIALAH YANG MENCIPTAKAN SEMUA INI! DIALAH YANG MENCURI AIR DARI SUMBER-SUMBER KALIAN! DIALAH YANG MENYEBARKAN KEBOHONGAN BAHWA AYAHKU—RAJA KALIAN—YANG BERSALAH! DIA YANG MERACUNI PIKIRAN KALIAN SELAMA BERTAHUN-TAHUN SUPAYA KALIAN SALING MEMBENCI!"
Di bawah, kerumunan semakin besar dan semakin diam.
Pemberontak dan tentara berdiri berdampingan—masih dengan senjata di tangan, tapi tidak ada yang menyerang.
Semua mendengarkan.
"AKU TIDAK BISA MEMBUKTIKAN SEMUANYA SEKARANG! AKU TIDAK BISA MENUNJUKKAN SEMUA BUKTI DALAM SATU MENIT! TAPI AKU MINTA SATU HAL DARI KALIAN—"
Suaranya pecah.
Tapi dia tidak berhenti.
"PERCAYA PADAKU. SATU KALI SAJA. AKU ADALAH VIVI—PUTRI YANG TUMBUH BERSAMA KALIAN, YANG BERMAIN DI JALAN-JALAN KOTA INI WAKTU KECIL, YANG MENCINTAI NEGERI INI DENGAN SELURUH HIDUPNYA—"
Air matanya mengalir.
Tapi suaranya justru semakin kuat.
"ALABASTA BUKAN TENTANG RAJA ATAU PUTRI ATAU PEMBERONTAK! ALABASTA ADALAH KALIAN SEMUA! DAN SELAMA KALIAN MASIH SALING MEMBUNUH—CROCODILE MENANG! SELAMA SATU ORANG ALABASTA MEMBUNUH ORANG ALABASTA LAIN—DIA MENANG!"
Platform menara jam bergetar sedikit karena angin kencang.
Vivi melangkah lebih ke tepi—hampir tidak aman tapi dia tidak peduli.
"JADI KUMOHON—HENTIKAN! BUKAN KARENA PERINTAH PUTRI KALIAN! TAPI KARENA KALIAN SEMUA ADALAH SAUDARA! KARENA DARAH YANG TUMPAH HARI INI ADALAH DARAH KELUARGA SENDIRI!"
Suaranya habis.
Tidak ada lagi kata-kata.
Hanya tangisan yang dia tidak bisa tahan lagi.
Vivi menutupi wajahnya dengan tangan, bahunya terguncang.
Dan di bawah—
Keheningan.
Keheningan yang bukan karena tidak ada yang mendengar.
Keheningan karena terlalu banyak yang tersentuh untuk bersuara.
Aku tidak bisa melihat wajah satu per satu orang di bawah dari ketinggian ini. Tapi aku bisa melihat—senjata mulai diturunkan. Satu per satu. Lalu semakin banyak. Lalu sekaligus.
Seseorang di kerumunan bawah berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar jelas—tapi nadanya bukan amarah.
Diikuti teriakan lain. Dan lain. Dan lain.
Bukan teriakan perang.
Teriakan yang terdengar seperti tangisan. Seperti lega. Seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk panjang.
"Mereka berhenti," Usopp berbisik tidak percaya. Air matanya juga mengalir. "Mereka benar-benar berhenti bertarung."
Nami tidak berkata apapun. Dia hanya menangis diam-diam sambil tetap mempertahankan manipulasi udaranya.
Sanji berdiri dengan punggung bersandar di dinding menara, menatap langit. Satu tangannya menutupi matanya.
Robin menatap kerumunan di bawah dengan ekspresi yang akhirnya bisa kubaca—sesuatu yang mungkin, dalam bahasa orang lain, disebut terharu.
Aku mendekati Vivi yang masih menutupi wajahnya.
"Vivi."
Dia tidak merespons.
"Vivi, lihat ke bawah."
Perlahan, dia menurunkan tangannya.
Menatap kota di bawah.
Melihat ribuan orang yang sudah tidak lagi saling menyerang. Yang berdiri diam atau duduk di jalanan atau memeluk orang di sebelah mereka—entah kawan lama atau musuh tadi yang kini tidak lagi musuh.
Tidak sempurna. Tidak semua sekaligus berhenti. Masih ada beberapa titik pertempuran kecil di kejauhan.
Tapi jauh lebih sedikit dari tadi.
Dan semakin sedikit setiap detiknya.
"Mereka mendengarmu," kataku pelan.
Vivi menatap kota itu dengan mata yang masih basah tapi semakin jelas.
"Belum selesai," bisiknya. "Masih banyak yang harus dilakukan. Crocodile harus dibawa ke hadapan keadilan. Ayahku harus dibebaskan. Kebenaran harus disebarluaskan ke seluruh Alabasta—bukan hanya kota ini."
"Aku tahu," aku mengangguk. "Tapi lihat dulu apa yang sudah kau lakukan."
Vivi menatapku sebentar.
Lalu menoleh kembali ke kota.
Dan untuk pertama kali sejak aku mengenal dia—Vivi tersenyum tanpa air mata. Senyum yang utuh dan tidak bercampur dengan rasa takut atau rasa bersalah.
Senyum seseorang yang baru saja melakukan hal yang benar.
Kami turun dari menara jam.
Di jalanan bawah, situasi sudah sangat berbeda dari ketika kami naik. Pemberontak dan tentara kerajaan masih berdiri terpisah—masih ada ketegangan, masih ada curiga—tapi tidak ada yang menyerang.
Beberapa tentara kerajaan langsung berlutut saat melihat Vivi turun dari menara.
"Yang Mulia Putri!"
"Putri Vivi!"
Vivi menghentikan langkah, menatap mereka.
"Kalian tidak perlu berlutut," katanya. "Yang kalian perlu lakukan sekarang adalah membantu yang terluka. Kawan dan lawan sama-sama. Bawa mereka ke tempat yang aman."
Tentara itu ragu. "Tapi—pemberontak—"
"Mereka rakyat Alabasta juga," Vivi memotong tegas. "Lakukan seperti yang aku katakan."
Tentara itu mengangguk dan langsung bergerak.
Aku melihat dari sudut mata—beberapa pemberontak yang mendengar perintah Vivi itu saling pandang. Ada yang masih curiga. Ada yang ragu. Tapi ada juga yang perlahan menurunkan senjata dan mulai membantu yang terluka di sekitar mereka—entah tentara atau sesama pemberontak.
Masih jauh dari damai sempurna.
Tapi dimulai.
"Robin," Vivi menoleh ke arah wanita itu. "Kau bilang kau tahu pola penyebaran agen Baroque Works. Masih ada agen yang aktif?"
Robin berpikir sejenak. "Beberapa. Tapi tanpa Crocodile dan para Officer Agent... mereka tidak akan bertahan lama. Mereka hanya Millions dan Billions biasa. Tanpa komando, mereka akan kabur atau menyerah."
"Pastikan mereka tidak membuat masalah lebih lanjut," Vivi berkata.
Robin mengangguk. "Aku akan mengurus itu."
Dia menoleh ke arahku sebentar sebelum pergi. "Jaga Putrimu."
"Dia bukan—" aku mulai memprotes tapi Robin sudah berjalan pergi dengan tenang, beberapa pasang tangan bermunculan dari punggungnya—kemampuan Hana Hana no Mi—memanjang ke berbagai arah.
"Maksudnya apa tadi?" tanya Usopp bingung.
"Jangan tanya," jawabku.
Sanji sudah sibuk mengarahkan beberapa warga sipil yang ketakutan ke tempat yang lebih aman. Nami membantu seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya—anak itu menangis ketakutan dan Nami berlutut untuk menenangkannya dengan suara lembut yang kontras dengan karakter normalnya.
Usopp—setelah memastikan tidak ada kamera—diam-diam membantu seorang pria tua yang terjatuh dan tidak bisa berdiri sendiri.
Aku menatap semua ini.
Kru ini—kru yang aku bergabung karena kebetulan dan mungkin sedikit takdir—
Mereka bukan hanya bajak laut kuat.
Mereka orang baik.
Spider Sense ku tiba-tiba berdering ringan—bukan bahaya, lebih seperti peringatan halus.
Aku menoleh.
Seorang anak kecil—mungkin delapan atau sembilan tahun, bajunya compang-camping karena pertempuran—berdiri di depanku dan menatapku dengan mata bulat.
"Kak," katanya pelan. "Kak yang tadi ada di menara sama Putri Vivi?"
Aku berlutut supaya sejajar tingginya. "Iya."
"Putri Vivi benar-benar ada? Dia benar-benar kembali?"
Pertanyaan yang sederhana. Tapi beratnya luar biasa.
"Dia ada," jawabku. "Dan dia tidak akan pergi lagi."
Anak itu menatapku sebentar—lalu menoleh ke arah Vivi yang sedang berbicara dengan beberapa tentara di kejauhan.
Dan anak itu menangis.
Bukan menangis ketakutan. Bukan menangis kesakitan.
Menangis lega—tangisan seorang anak yang sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan dan baru saja mendapat secercah harapan.
Aku menepuk kepalanya pelan. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan.
"Kenji!"
Aku berdiri dan menoleh. Vivi melambaikan tangan dari kejauhan—ekspresinya serius.
"Kita harus ke istana! Ayahku masih di sana!"
Aku mengangguk.
Lalu menoleh ke anak kecil itu satu kali lagi.
"Pergi cari orang tuamu ya. Sudah aman sekarang."
Anak itu mengangguk sambil menyeka air matanya.
Aku berlari ke arah Vivi.
Masih ada pekerjaan yang belum selesai.
Raja Cobra masih di istana.
Crocodile harus diamankan sebelum sadar.
Dan Luffy—kapten kami yang mengalahkan seorang Shichibukai dengan tubuh hampir hancur—masih terbaring di alun-alun.
Tapi untuk pertama kalinya sejak kami tiba di Alabasta—
Aku merasakan bahwa ini semua akan baik-baik saja.