Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencuri Api di Balik Topeng
Gelombang panas yang menerpa wajah mereka saat memasuki Ruang Tungku Utama seratus kali lebih ganas daripada di lorong.
Ruangan ini adalah sebuah kawah raksasa di dalam perut gunung. Di bawah sana, lautan magma mendidih, melepaskan gelembung-gelembung gas beracun yang meletup dengan suara plop yang mengerikan.
Di tengah danau magma, terdapat sebuah pulau batu hitam kecil. Di atas pulau itu, sebuah api berwarna putih keperakan—Api Surgawi: Tulang Dingin—menari-nari indah namun mematikan.
Namun, perhatian Han Luo tidak tertuju pada api itu.
Matanya tertuju pada pertarungan sengit di atas jembatan batu yang menghubungkan pintu masuk dengan pulau tengah.
Seorang pria berpakaian hitam ketat, wajahnya tertutup topeng besi (Mata-mata), sedang bertarung mati-matian melawan penjaga makam.
Penjaganya bukan manusia. Itu adalah Golem Magma setinggi empat meter. Tubuhnya terbuat dari batu obsidian yang dialiri lava. Setiap pukulannya membuat jembatan batu itu retak.
"Orang itu kuat!" seru Long Tian, menutupi wajahnya dari hawa panas. "Aura Qi-nya... dia bukan Murid Luar! Dia setidaknya Pondasi Menengah!"
Han Luo mengangguk. "Dia penyusup tingkat tinggi. Mungkin dia yang membunuh murid-murid lain."
Pria bertopeng itu bergerak lincah. Dia menggunakan teknik pedang bayangan yang aneh.
"Mati kau, tumpukan batu!" teriak pria itu.
Dia melempar sebuah jimat peledak es ke dada Golem.
BOOM!
Bagian dada Golem membeku sesaat, lalu retak karena perubahan suhu mendadak. Golem itu meraung, mundur selangkah.
Pria itu melihat celah. Dia tidak mencoba membunuh Golem. Dia melesat melewati Golem, menuju pulau tengah untuk mengambil Api Surgawi.
"Dia akan mendapatkannya!" teriak Long Tian panik. "Saudara Han, kita harus menghentikannya!"
"Tenang," Han Luo menahan bahu Long Tian. "Lihat tanganku."
Han Luo mengulurkan tangan kirinya ke depan, telapak tangan terbuka.
Di balik lengan bajunya yang lebar, Raja Ulat Sutra Mimpi Buruk merayap keluar. Mata tanduk kristalnya bersinar ungu redup.
"Serang," bisik Han Luo.
Ulat itu tidak menembakkan benang fisik. Ia menembakkan gelombang suara frekuensi tinggi yang tak terdengar telinga manusia, tapi langsung menghantam otak target.
Teknik Bawaan: Gema Mimpi Buruk.
Di atas jembatan, pria bertopeng itu sudah hampir mencapai api. Tangannya terulur, memegang botol penyegel khusus.
Tiba-tiba, pandangannya kabur.
Dalam penglihatan pria itu, jembatan batu di depannya tiba-tiba runtuh. Di bawahnya, lautan magma meledak, memunculkan wajah iblis raksasa yang hendak menelannya.
"Tidak!" pria itu berteriak histeris.
Karena refleks ilusi itu, dia melompat ke samping untuk "menghindar".
Masalahnya: Jembatan itu tidak runtuh. Dan lompatan ke samping itu... membawanya langsung ke udara kosong di atas magma yang asli.
"Apa?!" Pria itu sadar ilusi itu hilang saat dia merasakan gravitasi menariknya. "Tidak! Tidak!"
Dia mencoba bermanuver di udara, tapi Golem Magma tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Golem itu mengayunkan tinju batu raksasanya seperti pemukul lalat.
BAM!
Hantaman telak. Tulang rusuk pria itu hancur seketika. Tubuhnya terlempar seperti bola kain, menabrak dinding kawah dengan suara krek yang muak didengar, lalu jatuh merosot ke pinggiran batu yang aman (sayangnya tidak jatuh ke magma).
Dia masih hidup, tapi sekarat.
"Sekarang!" teriak Han Luo.
Han Luo tidak lari ke arah api. Dia lari ke arah pria itu.
"Long Tian! Tahan Golem itu sebentar! Aku akan menyelamatkan orang itu dan mengambil barangnya!"
"Tahan Golem?!" Long Tian melongo. "Tapi..."
"Kau punya Sepatu Langkah Angin milik Liu Ming, kan? Gunakan! Lari berputar saja, jangan lawan!"
Han Luo mendorong Long Tian ke arah jembatan, lalu dia sendiri melesat ke arah pria yang sekarat itu.
Long Tian, dengan keberanian bodohnya, mengaktifkan sepatu botnya dan berlari ke jembatan untuk memancing perhatian Golem. "Hei! Batu jelek! Sini!"
Golem itu berbalik, mengejar lalat baru yang mengganggu.
Sementara itu, Han Luo mendarat di samping pria bertopeng itu.
Pria itu terbatuk darah, topeng besinya penyok. Dia melihat Han Luo datang.
"Tolong..." bisiknya lemah. "Aku... aku adalah utusan Tetua Agung... tolong aku..."
Han Luo berlutut di sampingnya. Dia memasang wajah khawatir.
"Utusan Tetua Agung? Ah, syukurlah. Bertahanlah, Senior."
Tangan Han Luo meraba dada pria itu, seolah memeriksa luka. Tapi sebenarnya, tangannya bergerak cepat mencopet Cincin Penyimpanan dan Botol Penyegel Api dari saku pria itu.
"Kau... apa yang kau lakukan?" mata pria itu membelalak saat menyadari cincinnya hilang.
Han Luo mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu. Wajah khawatirnya lenyap, digantikan senyum dingin.
"Tetua Agung titip salam," bisik Han Luo. "Dia bilang kau terlalu ceroboh."
"Kau... kau..."
Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Han Luo menekan titik saraf mematikan di lehernya dengan jarum beracun yang tersembunyi di jari.
Jleb.
Pria itu kejang sekali, lalu mati. Matanya melotot tak percaya.
"Senior! Senior!" Han Luo berteriak keras (akting untuk didengar Long Tian). "Tidak! Dia sudah mati!"
Han Luo berdiri, memasukkan hasil jarahan ke sakunya sendiri.
Di jembatan, Long Tian sedang berteriak-teriak dikejar Golem. "Saudara Han! Cepat! Aku tidak kuat lagi!"
Han Luo menatap ke arah pulau tengah. Api Surgawi masih di sana.
Dia bisa mengambilnya sekarang. Botol penyegel sudah ada di tangannya (dari mayat si mata-mata).
Tapi... Golem itu terlalu dekat. Dan jika dia mengambil api itu, seluruh gunung berapi ini mungkin akan meletus karena ketidakstabilan energi.
"Tidak sepadan mati di sini," putus Han Luo.
Dia melihat retakan di langit-langit gua. Bebatuan mulai jatuh. Pertarungan tadi merusak struktur gua.
"Long Tian! Mundur! Gua ini mau runtuh!"
Han Luo berlari ke arah jembatan, bukan untuk ke pulau, tapi untuk menarik Long Tian.
"Tapi apinya!" teriak Long Tian.
"Nyawa lebih penting daripada api! Lari!"
Han Luo melempar Bom Asap ke wajah Golem.
POOF!
Golem itu meraung bingung.
Han Luo dan Long Tian berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar, meninggalkan Api Surgawi yang kesepian dan mayat mata-mata yang mulai terbakar oleh panasnya lantai.
Mereka berlari melewati lorong, melewati jebakan yang sudah non-aktif, hingga akhirnya menyembul keluar dari pintu batu di hutan kabut.
BRUK!
Di belakang mereka, pintu batu itu tertutup kembali, tertimbun oleh reruntuhan lorong yang ambruk.
Mereka berdua terbaring di tanah berlumpur, napas memburu.
"Kita... selamat..." Long Tian tertawa hampa. "Sayang sekali apinya..."
Han Luo juga terengah-engah, tapi tangannya meraba Cincin Penyimpanan di sakunya.
Di dalam cincin itu, dia menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada api mentah.
Sebuah gulungan kuno berjudul: [Metode Penjinakan Api Surgawi Tanpa Rasa Sakit].
Dan sebuah Peta Lokasi Reruntuhan Kedua.
"Api itu tidak lari ke mana-mana, Long Tian," batin Han Luo. "Dia hanya menunggu tuannya yang sudah siap. Dan tuan itu adalah aku."
Han Luo menoleh ke Long Tian.
"Ayo kembali ke kemah Liu Ming. Kita laporkan bahwa kita menemukan mayat 'Penyusup Jahat' di dalam. Itu akan menjadi alibi sempurna."
Misi Lembah Naga berakhir dengan kekacauan, kematian, dan keuntungan besar bagi satu orang.
Dan orang itu bukanlah protagonis.
selalu ditunggu lanjutannya 💪💪💪👍👍👍